Sudah hampir sebulan aku menjadi istri Rendra. Namun aku dan dia hanya sebatas tinggal satu atap, tak lebih. Selebihnya hanya memasak untuknya, beres-beres rumah, dan menunggu ia pulang kerumah dengan membawa setumpuk pekerjaan. Semakin hari aku merasa kalau pernikahan ini tidak benar. Bahkan selama ini ia belum pernah menyentuhku.
***
Aku masih terdiam di dalam mobil, begitu juga dengan Rendra. Sesekali aku mengusap air mataku yang keluar. Tak berapa lama kami sampai dirumah. Aku membuka pintu mobil dan berjalan masuk begitu saja tanpa memperdulikan Rendra di belakangku. Ia pun segera menyusul langkahku dan merangkul diriku yang ingin pergi ke kamar. Aku masih diam.
"Mira... maafkan aku."
Lagi-lagi aku masih terdiam meski hatiku sebenarnya sangat berkecamuk. Aku hanya tertunduk.
"Mira..."
Ucap Rendra sambil berlutut di hadapanku yang duduk di pinggiran kasur.
"apa kau mencintaiku?"
Seketika Rendra membeku, tangannya yang sedari tadi menggenggamku erat, kini melonggar. Wajahnya yang sedari tadi tegak menatapku, kini malah tertunduk.
"kenapa kau tak menjawabnya?"
Rendra masih terdiam.
"baiklah, aku mengerti. Ceraikan aku sekarang juga !"
Air mataku kini meleleh kembali.
Sedangkan Rendra terkejut mendengar perkataanku. Matanya kini menatapku dengan tajam.
"Kenapa kau berbicara seperti itu !"
Bentaknya padaku.
"kenapa kau tak mau cerai dariku? Bukankah sudah jelas kalau kau menikahiku hanya karena kasian kan? Apa kau tahu selama ini aku tersiksa? Aku ini kau anggap apa Ren ?!"
"Mira... ma.. maafkan aku."
Ucap Rendra terbata tanpa mengubah pandangannya padaku.
"aku ingin pisah darimu !!!"
Bentakku pada Rendra mengeluarkan semua emosi yang ku pendam selama ini.
Aku mencoba melepaskan genggaman tangan Rendra, tapi sia-sia ia lebih kuat dariku.
"Jangan pernah berkata seperti itu Mira ! Aku mohon Mira. Jangan buat aku seperti ini, aku tak ingin kau menangis."
Pinta Rendra yang malah semakin menggenggam erat tanganku hingga membuatku meringis kesakitan.
"lepaskan aku ! Aku ingin pergi ! Aku ingin cerai darimu !"
Aku semakin terisak.
"MIRA ! Sudah kubilang jangan berkata seperti itu !"
Rendra beranjak bangun lalu mengambil sebuah vas bunga dan membantingnya hingga pecah berkeping-keping. Ia pun pergi keluar kamar dan membanting pintu dengan sangat keras.
Aku yang sedari tadi terisak seketika terdiam. Kini tanganku gemetar karena merasa takut dan tertekan melihat Rendra seperti itu. Tak lama terdengar suara mobil dinyalakan, aku segera berlari keluar rumah dan melihat mobil sudah berjalan dengan laju yang cepat.
"Rendra ! Jangan pergi ! Rendra !!!"
Aku berteriak kencang namun tak digubris sama sekali. Mobil itu tetap tak berhenti.
"apa dia benar-benar akan pergi dari hidupku? Kenapa aku bodoh sekali malah membuat dia pergi dariku seperti ini? Aku mencintaimu Rendra, aku tak ingin kau pergi..."
Aku pun melangkah gontai ke dalam rumah.
Masuk ke kamar aku membereskan pecahan vas bunga yang tadi di banting oleh Rendra. Mungkin karena keadaanku sedang kacau, aku malah tak sengaja melukai tanganku sendiri saat membereskan pecahan kaca itu.
"Kenapa harus seperti ini !"
Teriakku frustasi sambil memegang jari telunjukku yang sudah mengalir darah segar.
Beres membersihkan pecahan vas bunga tersebut, aku menuju ruang tamu berharap Rendra akan segera kembali. Aku mencoba menghubungi Rendra tetapi ponselnya non aktif. Aku duduk di bangku dengan tatapan kosong. Aku merasa putus asa, Rendra kembali atau tidak aku akan tetap menunggunya disini.
Berjam-jam aku duduk menunggu Rendra pulang, namun ia masih belum pulang juga. Tubuhku yang mungkin sudah merasa lelah membuatku tertidur.
Hampir tengah malam Rendra baru pulang kembali kerumah. Ia melihatku dengan keadaan yang sangat kacau. Mata sembab, rambut berantakan, tangan berbalut perban dan tertidur di bangku menunggu suaminya pulang. Rendra mengelus rambutku perlahan dan menatap wajahku sebentar. Ia pun segera menggendongku ke kamar karena tak tega melihatku tidur terlalu lama disana.
Malam kini berganti dengan pagi yang cerah. Rendra membangunkanku perlahan.
"Mira... bangun."
Aku perlahan membuka mata, aku langsung refleks memeluk suamiku itu. Aku bahagia karena ia tidak benar-benar pergi dariku, aku ingin menganggap kejadian kemarin hanyalah sebuah mimpi.
"jangan pergi lagi..."
Ucapku sambil menangis.
"iya... aku nggak akan pergi darimu."
Ucap Rendra melepas pelukanku sambil mengusap air mata yang mengalir di pipiku.
Rendra pun mengambil piring yang sedari tadi ia taruh di meja dekat kasur.
"makan ya?"
Aku menatap bingung Rendra.
"iya ayo makan, aku suapin ya?"
Lanjut Rendra sambil tersenyum hangat padaku.
"kamu masak ini sendiri? Kenapa kau memasak untukku?"
Tanyaku yang tak sadar kalau tanganku terluka.
"iya aku masak sendiri, aku tak ingin menyakiti tangan istriku yang sedang terluka ini. Kau tau betapa beruntungnya dirimu memiliki diriku. Sudah tampan jago memasak pula."
Ucapnya dengan bangga sambil memegang tanganku yang terluka.
"kamu ini, bisa-bisanya narsis seperti itu..."
Ucapku terkekeh geli mendengar ia berkata seperti itu dan memukulnya pelan.
"wah istriku tersenyum. Betapa manisnya, aku jadi ingin berlama-lama menatapnya ."
Ucap Rendra sambil menopang wajahnya dengan kedua tangannya itu.
Wajahku langsung memerah, aku pun menutup wajahku.
"katanya kau mau menyuapiku?"
"oh iya aku sampai lupa haha... kamu sih kenapa harus tersenyum manis seperti itu padaku?"
Ucap Rendra sambil mengerucutkan bibirnya dengan manja.
"ah kamu bikin aku malu saja. Sudah cepat katanya mau menyuapiku."
"haha iya, kita makan sepiring berdua ya sayang biar romantis. Ayo.. aaa..."
Saat Rendra menyuapiku, ia mulai bertanya padanya.
"tanganmu kenapa?"
"aku terkena beling saat membereskan vas bunga semalam."
"maaf ya, gara-gara aku..."
Belum sempat Rendra melanjutkan kata-katanya, aku sudah lebih dulu menutup mulutnya dengan jari telunjukku.
"sstt... udah suapin aku lagi ya, aku lapar."
"hehe.. iya sayang ."
Dia pun mencubit pipiku dengan gemas.
Aku pun sarapan bersama dengan suamiku di kamar. Rasa sakit yang kemarin aku rasakan, rasanya menghilang begitu saja. Pagi ini aku sangat senang suamiku begitu perhatian padaku. Ini adalah salah satu momen impianku, aku ingin disuapi dan dimanja oleh suamiku. Romantis.
Selesai sarapan, Rendra pun bersiap-siap pergi ke kantor. Lagi-lagi aku melihat kerah kemejanya sedikit berantakan. Aku perlahan mendekat pada Rendra dan mencoba untuk merapikan kemejanya. Kali ini ia tak menghindariku, ia diam ditempat dan mempersilahkanku untuk merapikan kemeja yang ia pakai. Saat selesai merapikan dan ingin menjauh darinya, ia menahanku dan mencium keningku. Aku memejamkan mata sejenak, rasanya bahagia sekali.
"aku berangkat ya sayang..."
Ucap Rendra sambil tersenyum hangat padaku. Aku pun membalas senyuman yang ia berikan.