Rendra Flashback
Siang itu, aku ada janji makan siang dengan klien di kafe xxx. Karena klienku akan datang terlambat, aku pun pergi kesana lebih dulu.
Sesampainya di kafe, aku segera mencari tempat duduk yang kosong.
Mungkin karena jam makan siang, kafe itu penuh dengan pengunjung.
Saat mataku menjelajahi isi kafe, aku melihat sosok istriku sedang bersama dengan seorang laki-laki.
"sedang apa dia disini? Kenapa hanya berdua? Bersama dengan lelaki pula !"
Batinku kesal.
Aku pun mengeluarkan ponselku untuk segera menghubungi klienku tadi. Aku membatalkan janji dengan klienku saat itu juga.
Beres menelpon, aku langsung menghampiri istriku dengan sangat marah.
Flashback end
Aku melajukan mobil dengan tenang dan suasana di mobil pun begitu hening. Aku ingin berbicara namun sepertinya Mira masih marah padaku. Pandanganku terarah padanya yang sedang mengusap air matanya sesekali.
Sesampainya dirumah, aku memarkirkan mobil dan saat mobil sudah berhenti Mira langsung keluar dari mobil begitu saja. Aku segera mengikutinya dan merangkulnya menuju kamar bersama.
Mira duduk ditepian kasur, aku pun berlutut dihadapannya.
"Mira... maafkan aku."
Ia masih terdiam dan tertunduk.
"Mira..."
Aku masih menatap lekat padanya, lalu tiba-tiba saja ia mulai berbicara.
"apa kau mencintaiku?"
Hatiku langsung tercekat, pandanganku yang sedari tadi melekat padanya kini mulai tertunduk perlahan. Aku tak sanggup melihatnya.
"kenapa kau tak menjawabnya?"
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, karena memang aku tidak mencintaimu Mira. Tapi aku juga tak bisa mengatakan itu padamu, karena pasti akan membuatmu semakin sedih. Maafkan aku karena telah egois padamu."
"baiklah, aku mengerti. Ceraikan aku sekarang juga !"
Ucap Mira kembali.
Aku terkejut mendengar hal itu. Aku kembali menatap Mira.
"Kenapa kau berbicara seperti itu !"
Aku membentaknya dan merasa marah pada diriku sendiri saat ini.
"kenapa kau tak mau cerai dariku? Bukankah sudah jelas kau menikahiku hanya karena kasian? Apa kau tahu selama ini aku tersiksa? Aku ini kau anggap apa Ren ?!"
"Mira... ma.. maafkan aku."
"aku ingin pisah darimu !!!"
Ucap Mira yang ingin melepaskan genggaman tanganku padanya.
"Jangan pernah berkata seperti itu Mira ! Aku mohon Mira. Jangan buat aku seperti ini, aku tak ingin kau menangis."
Aku semakin mempererat genggaman tanganku pada Mira.
"lepaskan aku ! Aku ingin pergi ! Aku ingin cerai darimu !"
Pinta Mira yang semakin terisak.
Aku masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Mira. Entah kenapa kata-kata itu malah membuatku tak bisa menahan emosiku.
"MIRA ! Sudah kubilang jangan berkata seperti itu !"
Ucapku sambil bangkit dari hadapannya lalu melempar vas bunga dengan emosi.
Tanpa pikir panjang aku pun pergi meninggalkan Mira, aku ingin menenangkan diri. Aku butuh waktu untuk sendiri. Aku keluar dari rumah lalu melajukan mobil dengan kencang. Saat masih tak jauh dari rumah, terlihat dari kaca spion Mira berlari memanggilku namun aku tak ingin menghentikan laju mobil ini.
Aku pergi ke sebuah taman yang dekat dengan sebuah danau, mencoba menenangkan pikiranku disana. Aku hanya memandang kosong ke arah danau tersebut. Aku hanya bisa menghela napas kasar dengan air mata yang tertahan. Bayangan saat bersama Risa malah muncul dibenakku.
"Risa kenapa kau harus seperti ini padaku! Aku membutuhkanmu disini, aku ingin kau berada disisiku ! Aku masih sangat mencintaimu, apa yang harus aku lakukan agar kau bisa kembali padaku sekarang?!"
Ucapku yang kini sudah tak bisa lagi menahan air mataku.
Setelah cukup lama mencoba menenangkan diri aku teringat pada Mira. Aku pun buru-buru pulang kerumah.
"Mira jangan lakukan hal yang aneh-aneh lagi. Ku mohon. Maafkan aku malah meninggalkanmu seperti ini."
Batinku sambil melajukan mobilku dengan kencang menuju rumah, aku takut terjadi sesuatu pada Mira.
Setelah memarkirkan mobil, aku langsung berlari kedalam rumah. Aku melihat istriku sedang terbaring di bangku ruang tamu. Aku sungguh tak tega melihat keadaannya saat ini, aku pun menggendongnya ke kamar agar ia bisa istirahat dengan baik. Aku tak ingin ia sakit.
Keesokan harinya aku bangun lebih awal untuk memasak. Aku ingin memasak sarapan untuk istriku yang tangannya terluka. Aku pergi ke dapur dan mulai mengolah bahan makanan yang ada. Selesai memasak aku membawa sepiring nasi beserta lauk pauknya ke kamar. Aku pun menaruh piring tersebut di meja dekat kasur. Aku mulai membangunkan Mira yang masih tertidur pulas.
"Mira... bangun."
Kulihat Mira mulai membuka matanya perlahan, saat ia menyadari aku ada dihadapannya, ia langsung memelukku.
"jangan pergi lagi..."
Ucapnya sambil menangis.
"iya... aku nggak akan pergi darimu."
Ucapku dan melepas pelukan Mira sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Aku pun mengambil piring yang berisi sarapan pagi ini.
"makan ya?"
Mira menatapku bingung.
"iya ayo makan, aku suapin ya?"
Lanjutku sambil tersenyum hangat padanya.
"kamu masak ini sendiri? Kenapa kau memasak untukku?"
Tanya Mira yang tak sadar kalau tangannya terluka.
"iya aku masak sendiri, aku tak ingin menyakiti tangan istriku yang sedang terluka ini. Kau tau betapa beruntungnya dirimu memiliki diriku. Sudah tampan jago memasak pula."
Ucapku dengan bangga sambil memegang tangannya yang terluka.
"kamu ini, bisa-bisanya narsis seperti itu..."
Ucapnya terkekeh geli mendengarku berkata seperti itu lalu memukulku dengan lemah.
"wah istriku tersenyum. Betapa manisnya, aku jadi ingin berlama-lama menatapnya."
Candaku sambil menopang wajah dengan kedua tanganku.
Wajah Mira memerah, ia pun menutup wajahnya.
"katanya kau mau menyuapiku?"
"oh iya aku sampai lupa haha... kamu sih kenapa harus tersenyum manis seperti itu padaku?"
Ucapku sambil mengerucutkan bibir dengan manja.
"ah kamu bikin aku malu saja. Sudah cepat katanya mau menyuapiku."
"haha iya, kita makan sepiring berdua ya sayang biar romantis. Ayo.. aaa..."
Saat aku menyuapi Mira, aku mulai bertanya padanya.
"tanganmu kenapa?"
"aku terkena beling saat membereskan vas bunga semalam."
"maaf ya, gara-gara aku..."
Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, Mira sudah lebih dulu menutup mulutku dengan jari telunjuknya.
"sstt... udah suapin aku lagi ya, aku lapar."
"hehe.. iya sayang ."
Aku pun mencubit pipinya gemas.
Pagi ini Mira terlihat ceria dengan perlakuanku padanya. Berbeda sekali dengan yang kemarin.
Selesai sarapan, aku bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Ku perhatikan Mira dari tadi menatapku seperti ada yang salah. Lalu ia mendekatiku perlahan, aku paham apa yang ia pikirkan. Saat terakhir kali aku ingin berangkat bekerja ia terlihat kecewa saat aku mencoba menghindarinya.
"baiklah kali ini aku tak ingin menghindarimu. Meski aku belum mencintaimu, aku akan berusaha jadi suami yang baik untukmu."
Batinku lalu membiarkan Mira membenarkan kerah kemejaku.
Saat Mira ingin beranjak menjauh dariku, aku menahan dirinya agar tidak menjauh. Aku mengecup keningnya sebentar sebagai tanda terima kasihku padanya. Setelah itu aku pamit untuk berangkat kerja, terlihat sekali wajah Mira bahagia lengkap dengan senyuman hangatnya.