Aku Herdian Wijaya, orang bilang aku memiliki paras tampan dan mempesona bagi wanita. Meski banyak wanita yang menyukaiku dan mendekatiku, aku sama sekali tidak tertarik pada mereka. Karena aku memiliki seseorang yang sangat istimewa dihatiku. Dia adalah cinta pertamaku, Mira Dinata. Tapi meski begitu, aku tak pernah berani untuk mendekatinya. Aku rela menjauh darinya dan pergi kuliah keluar negeri agar bisa sukses. Aku ingin datang pada Mira ketika aku sudah benar-benar siap dengan segalanya.
Kedua orangtuaku sudah meninggal dan aku dibesarkan oleh pamanku sejak kecil. Aku mempunyai sebuah perusahaan penerbit buku yang awalnya diberi modal oleh pamanku. Perusahaan ini tadinya hanya sebuah perusahaan kecil, namun akhirnya terus berkembang hingga menjadi perusahaan besar. Aku bisa menjadi sukses seperti ini karena Mira lah yang selama ini menjadi motivasiku. Setelah mempunyai perusahaan sendiri aku membeli sebuah rumah. Kini aku tidak tinggal lagi bersama dengan keluarga pamanku, aku ingin hidup mandiri.
Hari ini aku sedang tidak ke kantor untuk beristirahat sejenak. Saat aku membuka lemari pendingin, aku hanya melihat beberapa botol minuman didalamnya. Karena tidak ada bahan makanan, mau tidak mau aku harus belanja keluar. Padahal aku ingin beristirahat seharian dirumah, tapi apa daya kalau sudah seperti ini. Sebenarnya bisa saja aku memesan makanan secara online, namun aku lebih suka memasak sendiri.
Sore hari aku pergi ke sebuah supermarket yang tidak jauh dari rumah. Aku mulai mengelilingi satu tempat bahan makanan ke tempat yang lain. Saat aku mendorong troli ke arah tempat buah-buahan tiba-tiba saja aku tak sengaja menabrak seseorang.
"hei, kalau jalan lihat-lihat dong!"
Bentak wanita itu yang tak sengaja ku tabrak. Dia masih membelakangiku.
Saat wanita itu berbalik arah ke hadapanku, ia terkejut begitu juga aku.
"Herdian?"
"Mira?"
"apakah ini mimpi? Akhirnya aku bertemu kembali dengannya setelah sekian lama tak bertemu. Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu lagi Mira."
Batinku.
Kami sama-sama terdiam sejenak lalu tertawa.
"sedang apa kau disini Mira?"
"aku sedang jalan-jalan saja.hehe..."
"hmm... bagaimana kabarmu Mira?"
"Alhamdulillah aku baik-baik saja."
Saat aku ingin bertanya lagi, tiba-tiba Mira melihat jam tangannya. Ia terlihat buru-buru ingin pergi.
"Herdian, maaf aku harus segera pulang."
Ucapnya padaku.
"ah baiklah... hati-hati di jalan Mira."
Mira tak menjawab ia hanya mengangguk dan berjalan cepat sambil membawa troli yang sedari tadi ia bawa.
"akhirnya aku menemukanmu lagi Mira. Kali ini aku takkan melepasmu lagi."
Batinku yang melihat Mira pergi menjauh dariku.
Setelah selesai berbelanja, aku pulang kembali kerumah. Selama perjalanan pulang, aku senyum-senyum sendiri sambil menyetir. Layaknya anak remaja yang baru merasakan kasmaran, mungkin itu gambaran yang tepat untuk suasana hatiku saat ini. Aku sangat bahagia karena bisa bertemu kembali dengan Mira.
"Oh ya kenapa aku tidak meminta nomor ponselnya? Bodoh sekali aku ini. Padahal aku sudah lama mencarinya kemana-mana. Kalau begini bagaimana aku bisa bertemu dengannya lagi?"
Batinku sambil membawa 2 kantong plastik yang sudah penuh dengan barang belanjaan kedalam rumah.
***
Esok harinya aku pergi ke kantor seperti biasa. Sesampainya diruangan, aku mulai membuka dan menandatangani beberapa berkas yang ada di meja kantorku. Saat sedang fokus, tiba-tiba telepon kantor berdering. Aku pun mengangkat gagang telpon yang berwarna merah marun itu.
"Pak, penulisnya sudah datang. Bu Siska menunggu Bapak untuk meeting bersama di ruang tunggu A."
"baiklah saya akan kesana."
Aku menutup telepon. Aku tak langsung kesana, aku sedang menyelesaikan beberapa file yang ada di laptopku terlebih dahulu. Selesai mengerjakan file yang ada di laptop, aku bergegas menuju ruang tunggu untuk mulai meeting bersama. Saat masuk kedalam ruangan bersama dengan Siska, aku terkejut dengan apa yang kulihat.
"Oh! Herdian?"
Mira refleks berdiri karena terkejut.
"ternyata ini kamu."
Aku tersenyum dengan mata berbinar.
"Mungkin memang kamu adalah takdirku Mira. Bahkan aku yang lupa minta nomor ponselmu saja kini malah dengan mudahnya bisa bertemu denganmu."
Batinku.
"Oh Mba Mira kenal dengan Pak Herdian?"
Ucap Siska yang melihatku akrab dengan Mira meski baru pertama kali bertemu.
"iya dia kenalan saya."
Jawab Mira singkat.
"silahkan duduk."
Ucapku mempersilahkan Mira.
Lalu kami pun mulai meeting. Siska dan Mira serius membahas novel yang akan diterbitkan. Jujur saja aku malah tak fokus bekerja dan malah memperhatikan Mira diam-diam sedari tadi.
Selesai dengan kesepakatan, Mira pun menandatangani kontrak yang telah dibuat dan Siska pun langsung membereskan berkas-berkas yang ada. Setelah membereskan berkas, aku menyuruh Siska untuk kembali ke ruangan lebih dahulu. Kini hanya aku berdua dengan Mira di ruangan.
"Mira..."
"Oh ya ada apa Herdian?"
Ucap Mira yang masih sibuk menatap ponselnya sambil menoleh sekali padaku.
"Kamu mau langsung pulang?"
"iya aku mau langsung pulang."
Aku lihat Mira sangat sibuk dengan ponselnya, bahkan ia seperti tak menghiraukan aku yang berada didekatnya. Kulihat dia mencoba beberapa kali menelpon seseorang hingga raut wajahnya terlihat kesal. Mungkin dia sedang mencoba menghubungi supirnya pikirku.
"aku antar ya?"
"ah tidak usah, aku sudah memesan taksi. Supirnya juga sudah menunggu. Aku pulang dulu ya."
"taksi? kenapa dia naik taksi? Setahuku dia selalu diantar jemput oleh supir. Ah mungkin dia ada urusan lain."
Batinku.
"Oh baiklah..."
Mira berjalan cepat menuju luar ruangan. Aku pun kembali ke ruangan lalu menelpon Siska untuk datang keruanganku.
"Siska, tolong kesini sebentar."
"baik Pak."
Tak lama Siska datang keruanganku.
"ada apa Pak?"
"besok tolong atur makan siang dengan Mira ya untuk lanjut pembicaraan dengan novelnya. Nanti kamu pesan makan dan temui dia lebih dulu saja. Saya mungkin akan datang terlambat."
"baik Pak."
Siska pun meninggalkan ruanganku.
***
Esok harinya aku pergi menuju kafe xxx untuk meeting sekaligus bertemu dengan Mira. Selama di perjalanan detak jantungku berdegup begitu kencang. Entah kenapa aku merasa gugup karena akan bertemu dengan Mira.
Sampai di kafe xxx, pandanganku menuju ke sekitar kafe untuk mencari keberadaan Mira dan Siska. Beberapa detik kemudian aku sudah menemukan mereka, aku pun berjalan menuju meja mereka.
"maaf saya telat. Sudah mulai diskusinya?"
"belum Pak, kita menunggu Bapak dulu."
Ucap Siska.
"sudah pesan makan?"
"sudah pak, tinggal menunggu diantar saja."
Jawab Siska kembali.
Mira dan Siska terlihat sibuk dengan laptopnya, sesekali mereka berdiskusi lalu mencatat beberapa hal penting.
"saya tinggal sebentar ya, saya mau ke toilet."
Mira mengangguk. Siska pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju toilet.
"Mira, aku senang sekali kita bisa bertemu kembali."
Ucapku mencoba memecah kecanggungan diantara kami.
"iya sudah lama sekali."
"Mira boleh aku menyampaikan sesuatu padamu?"
Mira menghentikan fokusnya pada laptop. Ia mulai melihat ke arahku.
"iya tentang apa?"
"aku menyukaimu..."
Mira membeku, alisnya mengerut dan buru-buru mengalihkan pandangannya.
"maaf Herdian, kamu harus menghilangkan perasaanmu padaku."
Jawab Mira yang sudah menundukkan pandangannya.
"kenapa?"
"karena dia sudah punya suami !!!"
Tiba-tiba ada seorang lelaki yang menggebrak meja.
Aku dan Mira terkejut, kami menoleh ke arah suara tersebut.
"ayo pulang !"
Bentak lelaki itu pada Mira.
Ia langsung menarik tangan Mira dengan kasar. Namun Mira melepas tangan lelaki tersebut, lelaki itu pun pergi meninggalkan Mira dengan keadaan sangat marah.
"Herdian, maaf aku harus pulang sekarang."
Ucap Mira terburu-buru membawa laptop dan tasnya lalu segera menyusul lelaki tadi.
Aku hanya mengangguk pelan masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Tak lama Mira pergi, aku masih terdiam di tempat.
"Apa?! Dia sudah punya suami?"
Batinku dengan hati yang tercabik-cabik.
Tak lama Siska pun kembali dari toilet dan terheran melihat suasana di kafe yang hening dan pandangan semua orang yang tertuju pada padaku.
"apa yang terjadi Pak? Lalu Mba Mira kemana?"
"kamu kembali ke kantor saja sekarang, Mira ada urusan mendadak."
Ucapku sambil berdiri membawa jasku.
"baik Pak."
Aku berjalan cepat menuju parkiran lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kencang. Aku ingin cepat sampai kerumah, rasanya berat sekali menahan rasa sakit dihati ini dari tadi. Saat sudah berada dirumah, aku langsung masuk ke kamar. Mataku yang tadinya hanya memerah, kini sudah tak sanggup lagi menahan air mata yang meluap.
"Mira... aku mencintaimu. Dari dulu sampai sekarang bahkan tak pernah berubah. Aku tak pernah melirik wanita lain, hanya kamu yang ada dihatiku. Kenapa kau tega seperti ini padaku? Lalu apa artinya semua kesuksesan yang kugenggam sekarang kalau kau tak berada disampingku !"
Ucapku frustasi sambil membanting benda apapun yang ada didepan mataku.