Hari ini Rendra pulang cepat dari kantor, aku sudah menyiapkan makan malam untuknya. Ia seperti biasa makan dengan lahap.
"Mas Ren... apakah aku masih boleh bekerja disana?"
Rendra diam sejenak sambil mengunyah makanannya, ia terlihat berpikir keras.
"hmm... sebenarnya aku tidak suka kamu terus-terusan bertemu dengan Herdian, tapi karena kamu menyukai pekerjaan itu aku akan membolehkannya. Tapi dengan syarat, kau tidak boleh bertemu dengannya."
"Bagaimana bisa aku tidak bertemu dengannya? Aku kan tidak bertemu dengannya setiap hari, aku harus ke kantor hanya pada saat aku meeting dengan Siska. Lagipula aku hanya menganggap Herdian sebagai teman, tidak lebih. Apa kau tidak percaya padaku?"
"ck... baiklah. Coba kamu bicarakan dulu dengan Siska, kalau bisa kamu kirim naskah via online saja. Dan kalau mau bertemu dengan Siska, pastikan kamu hanya bertemu dengannya."
"baiklah, nanti akan coba ku bicarakan."
Ucapku sedikit menghela napas lalu meminum segelas air putih yang berada didepanku.
Melihatku yang sedikit kesal, Rendra mencoba mengalihkan pembicaraan.
"besok aku mau ambil libur, bagaimana kalau kita ke pantai?"
Ucapnya sambil tersenyum melihatku.
"Wah!? Benarkah?"
Ucapku yang langsung sumringah.
"iya sayang aku tidak bercanda, besok kita berangkat pagi-pagi ya."
Aku mengangguk penuh semangat dan tersenyum padanya.
***
Pagi harinya sebelum berangkat, aku menghubungi Siska.
"Mba Siska, maaf kemarin saya pulang duluan karena ada urusan mendadak."
"Oh iya mba nggak apa-apa... Pak Herdian kemarin sudah memberitahu saya."
"Syukurlah. Hmm... Mba, kalau misalnya saya kirim naskah baru via email saja apakah bisa? Dan saat meeting lagi, apakah Pak Herdian akan ikut kembali?"
"boleh mba silahkan. Untuk meeting selanjutnya nanti hanya bersama dengan saya saja kok mba."
"baiklah, terima kasih ya mba."
Aku pun menutup telpon tersebut.
Saat aku sedang menelpon, Rendra sedang merapikan bekal makan di dapur. Selesai menghubungi Siska, aku beranjak ke dapur untuk membantunya.
Rasanya senang sekali akhirnya aku bisa punya waktu berdua dengan Rendra. Bisa dibilang ini adalah kencan pertamaku.
Sesampainya di pantai, kami mulai duduk disekitaran pantai. Karena hari belum terik, kami berjalan-jalan dipinggir pantai sambil berpegangan tangan.
"Mas Ren, kenapa hari ini tiba-tiba mengambil libur?"
"aku hanya ingin mengambil libur saja, lagipula aku belum pernah mengajakmu kencan. Kenapa? Kau tidak suka kencan denganku?"
"bukan begitu, aku malahan senang sekali bisa pergi berdua denganmu. Hanya saja kamu tidak seperti biasanya.hehe.."
"ku kira kau tidak suka kencan denganku. Lagipula kalau bisa membahagiakan istri kan bisa banyak mendapat pahala."
Aku berhenti sejenak, lalu berlari dan berdiri di hadapannya. Langkahnya terhenti.
"hmm.. kalau begitu, aku mau minta sesuatu padamu."
"apa?"
"gendong aku."
Ucapku sambil tersenyum memperlihatkan deret gigiku.
"ah tidak mau, kau kan berat."
Candanya sambil menyilangkan kedua tangannya lalu kepalanya menoleh ke arah lain.
"oh jadi kau bilang aku ini gendut? Baiklah aku akan pulang sekarang juga."
Ucapku sebal sambil mengerucutkan bibirku lalu berjalan melewatinya.
Tiba-tiba saja Rendra langsung menggendongku dari belakang. Aku sangat terkejut. Kepalaku yang kini berada dipundak Rendra, segera minta untuk diturunkan. Tanganku meronta-ronta dipunggungnya.
"turunkan aku! Kau bikin aku kaget saja."
Rendra pun menurunkanku.
"katanya tadi mau di gendong?"
"iya tapi tidak seperti itu, aku takut jatuh."
Ucapku masih sebal sambil menatapnya tajam.
Rendra tertawa melihatku marah seperti itu.
"iya iya maaf... aku jadi gemas melihatmu seperti itu."
Ucapnya sambil mencubit pipi tembamku.
Aku masih kesal. Selagi ia mencubit pipiku, aku masih menatapnya tajam dengan bibir mengerucut.
Ia pun memunggungiku lalu berjongkok.
"ayo naik."
Aku pun naik ke punggungnya dan mengalungkan tanganku dilehernya. Ia mulai berdiri dan berjalan perlahan membawaku ke sekitar pantai. Aku tersenyum senang.
"apa kau senang?"
"iya aku senang sekali.hihi..."
Setelah asik mengelilingi pinggiran pantai sambil digendong, tiba-tiba aku mendengar suara dari perut Rendra.
"kamu lapar?"
Ucapku yang masih digendong oleh Rendra.
"hehe.. iya sayang. Kita ke mobil lagi yuk untuk makan bekal kita."
Aku pun turun dan berjalan berdampingan dengannya ke mobil.
Sesampainya di mobil, Rendra membuka bagasi belakang dan menaruh kotak bekal ditengah-tengah. Kami pun duduk di samping kotak bekal dan mulai makan.
"roti sandwich ini enak sekali. Apa kau punya resep sendiri?"
"iya, ibuku yang mengajari."
"kenapa tidak buka toko saja?"
"kalau aku buka toko, rumah sakit siapa yang mengurus?"
"hehe iya juga. Apa aku saja ya yang membuka toko?"
"wah aku setuju dengan idemu. Dengan begitu kau tidak perlu lagi bertemu dengan Herdian."
"kamu kok begitu sih, kan aku sudah bilang kalau aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya."
"iya iya aku percaya. Sudah makan lagi nih rotinya."
Ucap Rendra sambil menyumpal mulutku dengan roti sandwich lainnya.
Aku menahan tawa dengan mulut yang penuh dengan roti. Rendra pun tertawa melihatku seperti itu.
Selesai makan, aku dan Rendra berjalan ke tempat jualan. Kami pergi ke toko aksesori.
"Mas kamu mau yang mana? Aku mau gelang ini."
Ucapku sambil menunjukkan gelang itu didepan Rendra.
"dari sekian banyak gelang kenapa ia harus pilih gelang yang sama dengan Risa?"
Batin Rendra.
Melihat Rendra malah melamun, aku menggerakkan tanganku didepan wajahnya.
"Mas Ren? Rendra?!"
"Oh iya kenapa sayang?"
"ih dari tadi aku tanya, kamu kok malah melamun sih?"
"Ah gelang itu ya, jangan yang itu aku tidak suka. Cari yang lain saja."
"Oh benarkah? Tapi menurutku ini bagus..."
"kamu mau tanya aku apa nggak? Kalau nggak ya sudah jangan tanya sama aku!"
Ucap Rendra sambil berlalu dariku.
"Lho kok jadi marah? Iya deh iya cari yang lain saja."
Ucapku lalu segera menyusul Rendra ke tempat lain.
Rendra pun memilih gelang yang lain untukmu. Ia mengambil 2 pasang gelang, lalu menunjukkannya padamu.
"yang ini saja ya? Ini lebih bagus. Sepasang lagi."
"hmm baiklah, pilihanmu tidak buruk.hehe..."
"Mba yang ini ya tolong dibungkus."
Ucap Rendra pada pelayan toko.
Tak terasa hari mulai sore. Aku dan Rendra bergegas ke pinggir pantai lagi untuk menikmati sunset.
Kini matahari sudah separuhnya saja yang terlihat, langit disekitaran matahari pun mulai berubah warna. Sore itu sangat indah, melihat matahari terbenam dengan orang yang ku cintai. Satu per satu impian kecilku terwujud. Rasanya bahagia sekali. Aku ingin mengenangnya seumur hidupku.