Beberapa hari ini moodku sedang membaik. Bukan tanpa alasan aku bisa bahagia seperti ini. Karena menurutku perlahan Rendra berubah lebih perhatian padaku.
Selesai mengerjakan pekerjaan rumah, aku mulai membuka laptop untuk melanjutkan naskah novel baruku. Usai berkutat dengan laptop, sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang. Karena tidak ada lagi yang bisa ku kerjakan. Rasanya aku ingin pergi kerumah mertuaku.
Aku menekan layar ponsel dan mencari kontak suamiku lalu mengubunginya.
"ada apa sayang?"
"mas, aku mau ke rumah Ibu sama Ayah ya?"
"nanti saja bersamaku.."
"kerjaanku sudah selesai semua, aku bosan dirumah. Dan aku juga rindu pada mereka karena sudah lama tak bertemu. Kalau tunggu sama kamu nanti lama lagi. Boleh ya?"
"ya sudah kamu kesana sama supir ya. Aku ada meeting sampai sore jadi tida bisa menemani kamu kesana. Nanti selesai meeting baru aku jemput."
"iya.hehe.. Kamu yang semangat kerjanya sayang.."
"iya sayang, terima kasih ya..."
Aku pun menutup telpon dan segera berangkat menuju rumah mertuaku.
Setelah mengucapkan salam beberapa kali, pintu rumah pun akhirnya dibuka. Kulihat wajah Ibu mertuaku tersenyum sumringah menyambut kedatanganku. Aku pun membalasnya dengan senyum hangat.
"Eh nak Mira sudah datang rupanya... ayo masuk sayang."
Aku mengikuti Ibu mertuaku masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana kabarnya Bu?"
"Alhamdulillah baik, kamu gimana sama Rendra? Baik-baik saja kan?"
"iya Alhamdulillah kami baik-baik saja kok Bu. Oh ya Ayah dimana?"
"Biasalah Ayah sedang memancing bersama dengan teman-temannya. Kebetulan kamu datang kesini, Ibu senang jadi ada yang menemani dirumah."
"hehe... Ibu sudah makan?"
"Ibu belum makan soalnya mau tunggu Ayah pulang. Memangnya kenapa?"
"yaudah aku masak buat kalian ya?"
Ucapku tersenyum kecil.
"gimana kalau kita masak bersama saja?"
Aku mengangguk dengan semangat. Lalu kami berdua pun masak bersama.
Tak lama masakan matang, Ayah mertua pulang kerumah.
"wah wangi apa nih? Sedap sekali wanginya?"
Ucap Ayah sambil menaruh alat pancing diluar rumah dan berjalan menuju dapur dengan membawa sebuah ember kecil yang berisi ikan tangkapannya.
Aku menghentikan aktivitas di dapur sejenak dan beranjak menemui Ayah. Ia tersenyum melihatku datang mengunjungi mereka.
"Eh ada nak Mira... kamu sendirian saja kesini? Rendra mana?"
"iya Pak aku sendiri, Rendra kan sedang kerja. Aku cuma mau mengunjungi kalian saja sebentar kok."
"hmm... anak itu, istrinya saja tahu kalau kami disini sudah rindu. Ini malah tidak peka."
"hehe... nggak gitu kok Pak. Tentu Rendra juga rindu pada kalian. Dia hanya belum bisa mengunjungi kalian karena dia sedang melaksanakan kewajibannya sebagai suamiku untuk mencari nafkah. Ini memang aku saja yang sedang rindu dan ingin bertemu dengan kalian. Lain kali aku akan kesini bersama Rendra ya Yah..."
Ucapku mencoba mencairkan suasana.
"Rendra sangat beruntung punya istri seperti kamu nak. Ya sudah, kita makan dulu yuk."
Ucap Ibu Rendra yang sedang menyiapkan piring di meja makan.
Kami pun makan bersama.
"aku yang beruntung karena memiliki kalian. Karena kalian sangat menyayangiku seperti anak kalian sendiri. Terima kasih Bu... Pak..."
Batinku.
Setelah makan, kami menonton tv bersama. Saat menonton, aku sesekali menguap sambil menutup mulutku dengan punggung tanganku. Ibu Rendra yang menyadari kalau aku mengantuk pun menyuruhku untuk tidur.
"nak Mira kamu tidur disini saja ya."
Ucap Ibu mertua yang mengarahkanku pada kamar Rendra dulu.
"baiklah, terima kasih ya Bu..."
Lalu aku pun masuk ke dalam kamar Rendra.
Kamarnya tertata rapi dan nyaman meskipun ia laki-laki. Aku duduk di tepian kasur. Karena penasaran aku mulai melihat-lihat ke sekitar ruangan. Aku melihat meja kamarnya dipenuhi oleh tumpukan buku. Dan tiba-tiba pandanganku terfokus pada sebuah bingkai yang berisi 2 buah foto di meja itu. Terlihat di foto yang pertama ada Rendra yang sedang merangkul seorang perempuan berwajah pucat. Dan satu lagi foto wisuda Rendra sambil merangkul seorang perempuan dengan wajah yang berbeda dari foto sebelumnya.
"siapa 2 perempuan ini? Kenapa Rendra tak pernah cerita padaku? Apa aku tanyakan saja pada Ibu? Ah tapi lebih baik aku tanyakan langsung saja padanya nanti."
Batinku sambil menatap bingkai foto yang kini kupegang.
Setelah melihat foto itu, aku pun memilih untuk beristirahat tanpa berpikir macam-macam tentang foto yang ku lihat tadi.
Hari kini sudah sore, aku bersiap untuk pulang kerumah. Saat berjalan keruang tamu, ternyata Rendra sudah berada disana. Ibu Rendra menyiapkan kotak makan untuk kami bawa pulang.
"kamu bawa ini ya buat makan malam. Hati-hati pulangnya..."
Ucap Ibu Rendra sambil memberikan bungkusan kotak makan padaku.
"kami pulang dulu ya Bu.. Pak..."
Ucap Rendra dan aku.
Kami pun pamit pulang.
Saat diperjalanan pulang, aku mulai membuka percakapan.
"Mas Ren...?"
"hmm...?"
jawabnya sambil tetap fokus menyetir.
"aku boleh tanya sesuatu?"
"tanya apa?"
"aku tadi melihat sebuah bingkai foto, disitu ada fotomu bersama dengan 2 wanita yang berbeda. Foto pertama kau bersama wanita yang berwajah pucat dan satu lagi foto wisudamu. Boleh ku tahu mereka siapa?"
Rendra terdiam sejenak, ia terlihat ragu untuk berbicara.
"Kau lihat foto itu dimana? Apa kau tadi ke kamarku?"
"Aku lihat itu dikamarmu karena tadi tidur disana. Ibu yang menyuruhku."
Wajahnya terlihat sedikit gugup menerima pertanyaan dariku.
"kau tak mau memberitahuku?"
Tanyaku lagi.
"wanita yang berwajah pucat itu adikku. Dia meninggal beberapa tahun yang lalu karena leukimia. Dan foto yang satu lagi itu foto wisudaku bersama dengan seorang teman."
"Oh jadi kamu punya seorang adik. Apakah adikmu seumuran denganku?"
"iya dia seumuran denganmu."
Setelah mendengar penjelasan Rendra aku hanya mengangguk dan tak bertanya apa-apa lagi.
***
Keesokan harinya, aku berencana untuk memberikan kejutan untuk suamiku. Hari ini aku akan membuat bekal makan dan membawanya ke kantor Rendra. Dengan rasa semangat aku membuat bekal itu di dapur. Aku mulai memotong gulungan sushi yang terbungkus rumput laut dan memasukkannya dengan rapi pada kotak makan. Setelah selesai membuat beberapa jenis makanan, aku pergi membawa kotak bekal berwarna pink itu menuju mobil.
Sesampainya dirumah sakit aku berjalan perlahan menuju ruangan Rendra. Namun belum sempat aku sampai diruangan Rendra, langkahku terhenti mendengar nama Rendra disebut oleh beberapa perawat disana. Bukan bermaksud menguping pembicaraan, aku pun bersembunyi di balik dinding dan mendengar percakapan mereka.
"ah kamu baru sih ya disini, katanya wanita itu hampir menikah lho dengan Pak Rendra."
"hah? yang benar?"
"iya katanya ketika Pak Rendra mau melamar wanita itu, tiba-tiba saja mereka mengalami kecelakaan. Saat itu Pak Rendra hanya mengalami luka ringan tapi malangnya wanita itu malah koma sampai sekarang. Terlihat sekali kalau Pak Rendra masih sangat mencintai wanita itu. Kemarin saja saat kondisi wanita itu menurun, aku lihat Pak Rendra terburu-buru datang melihat keadaannya walaupun sudah larut malam."
"terus kenapa bisa menikah dengan istrinya yang sekarang ini? Aku jadi kasihan sama istrinya."
"kalau itu juga aku tidak tahu."
Deg. Perasaan yang serasa disayat pisau tajam kini kurasakan. Perih. Mataku sudah bergenang air mata. Karena sudah terlanjur mendengar pembicaraan tadi, aku harus terlihat seperti tak terjadi apa-apa. Aku mulai berjalan kearah mereka untuk menanyakan ruangan Rendra.
"Permisi suster, ruangan Pak Rendra di sebelah mana ya?"
Ucapku sambil tersenyum kearah mereka.
Ku lihat dua perawat itu terlihat gugup setelah melihatku.
"ah I... Ibu Mira ya... hmm... ruangan Pak Rendra ada di ujung sebelah kanan Bu. Tapi kelihatannya Pak Rendra sedang tak diruangan."
"Apa suster tahu dia kemana?"
"Biasanya jam segini ia sedang ke lantai 3 untuk mengecek beberapa pasien Bu..."
"Baiklah, terima kasih ya."
Aku pun melangkah pergi menuju ruangan Rendra untuk menaruh bekal makan yang kubawa. Karena penasaran Rendra sedang apa, aku pergi menuju lantai 3.
Sesampainya di lantai 3, aku berjalan perlahan mencoba menangkap sosok suamiku. Mataku mengedarkan pandangan ke pintu dan celah jendela kecil disetiap ruangan. Satu dua ruangan masih belum ketemu, hingga akhirnya aku tak percaya dengan apa yang ku lihat.
Kulihat Rendra menangis menatap sesosok wanita yang terbaring lemah. Benar saja apa yang kudengar dari perawat tadi. Pandangan Rendra itu tak pernah kulihat, pandangan mata yang menunjukkan kasih sayang mendalam. Ternyata wanita itu adalah wanita yang kulihat dalam foto.