Kakiku bergetar melihat pemandangan itu. Kenyataan bahwa orang yang kucintai selama ini mencintai orang lain sungguh membuat hatiku sesak. Aku segera menjauh dari ruangan itu. Tak sampai 5 menit pergi dari ruangan itu, aku sudah berada di depan rumah sakit. Langkahku semakin gontai hingga tak sadar tubuhku telah di serempet oleh sebuah mobil.
Saat ku membuka mata, ku dapati diriku sudah berada didalam ruangan. Tentu itu artinya aku kembali ke rumah sakit suamiku. Namun bukannya dia yang berada disampingku saat ini, aku malah melihat Herdian tengah menungguku dengan cemas. Beberapa kali ia bolak balik berjalan sambil menggigit kukunya, hingga akhirnya aktivitasnya terhenti saat ia melihatku siuman.
"kamu nggak apa-apa Mira?"
Aku meringis kesakitan dan refleks memegang kepalaku.
"kamu istirahat saja dulu."
"kenapa aku bisa ada disini?"
"aku yang membawamu kesini, tadi aku lihat kamu di serempet mobil didepan rumah sakit ini."
"aku ingin pulang."
Kataku sambil mencoba bangun dari tidurku.
Lalu tiba-tiba saja pintu terbuka, Rendra setengah berlari ke arahku dan langsung memelukku dengan posesif. Aku berusaha untuk mendorongnya, namun usahaku sia-sia karena ia terlampau kuat menahan pelukannya padaku.
Melihat hal itu, Herdian segera ingin pergi dari ruangan itu. Namun langkahnya terhenti.
"Herdian, tunggu... tolong antar aku pulang kerumah."
Rendra dan Herdian kaget mendengar perkataanku.
"Tidak ! Kau harus istirahat ! Untuk apa kamu minta antar padanya?"
Ucap Rendra masih menahanku dalam pelukannya.
Aku diam tak merespon perkataan Rendra.
"Herdian, tolong antar aku pulang sekarang!"
Ucapku dengan meninggikan suara.
"tidak, lebih baik kau pulang bersama suamimu saja. Aku akan langsung pulang sekarang."
Ucap Herdian lalu beranjak pergi dari ruangan.
Setelah Herdian pergi dari ruangan, Rendra melepaskan pelukannya.
"ada apa denganmu? Kenapa kamu bisa terserempet mobil? Dan kenapa meminta pulang bersama lelaki itu?"
Aku masih diam dan tak memandang wajah Rendra.
"hei jawab aku Mira?! Kenapa diam saja?"
Ucap Rendra mulai meninggikan suara.
Bibirku masih tak bergeming. Aku berbaring kembali sambil menutupi tubuhku dengan selimut lalu membelakangi Rendra.
"baiklah bila kau ingin sendiri dulu, aku akan keluar supaya kau bisa menenangkan dirimu."
Rendra berjalan keluar ruangan. Ia kemudian berusaha mencari Herdian, lalu menemukan lelaki itu sudah berada di depan rumah sakit
"Kau kenapa masih saja menemui istriku hah?!"
Ucap Rendra kesal yang membuat langkah Herdian kembali terhenti.
"salahkan dirimu sendiri kenapa bisa ceroboh sekali dan membuat istrimu luka seperti itu!"
"Kau tak perlu mengalihkan pembicaraanku, jawab saja pertanyaanku!"
"Kenapa bisa ia menangis sesenggukan seperti itu sampai tak sadar ada mobil yang melintas di depannya hah?! Kau camkan baik-baik perkataanku, kalau sampai kau menyakitinya lagi aku tak akan segan-segan merebut Mira darimu !"
Ucap Herdian dengan kesal lalu mendorong Rendra dan beranjak pergi.
Sedangkan Rendra terdiam mencerna kata-kata Herdian tadi.
"menangis? Dan kenapa Mira bisa berada disini?"
Rendra pun berjalan kembali menuju ruangannya untuk mengambil tas dan bersiap-siap pulang membawa istrinya. Sesampainya diruangan, ia terkejut melihat kotak makan diatas meja kerjanya. Ia pun membawa kotak makan itu dan kembali lagi ke ruangan Mira.
Rendra masih mendapati istrinya berbaring disana. Ia perlahan mendekati Mira. Ia tahu kalau istrinya tidak tidur.
"Mira, apakah kamu yang membawa bekal makan ini? Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah membuatkan ini untukku. "
Mira masih bersikukuh pada pendiriannya untuk diam.
"aku makan ya..."
Lalu tiba-tiba Mira terbangun dan segera mengambil kotak makan itu.
"tidak, ini bukan untukmu."
"lalu kenapa bisa ada di ruanganku? Sudah sini aku makan ya, kamu kan sudah capek memasak ini untukku. Masa tidak aku makan?"
Mira tak menjawab, ia membuka kotak makan itu lalu memakan bekal buatannya sendiri.
"apa aku tak boleh memintanya sedikit? Sepertinya sushi itu sangat enak."
Ucap Rendra berusaha mendekat wajahnya padaku.
Mira mulai memasukkan beberapa sushi ke dalam mulutnya hingga penuh.
"kamu imut sekali, aku senang melihatmu makan lahap seperti itu."
Mira masih saja diam. Hingga membuat Rendra menghela napas dengan kasar.
"rasanya aku seperti berbicara dengan tembok. Dari tadi kamu diam saja sayang, kenapa?"
"pikir saja sendiri !"
"akhirnya kamu bicara juga sayang. Baiklah bila itu bisa membuatmu tenang. Aku lebih senang kamu mencaci maki diriku daripada terus melihatmu diam seperti tadi."
"iya kau itu bodoh ! Aku benci padamu !"
Ucapku sambil memukul Rendra lalu mulai menangis.
Ia pun menarikku dalam pelukannya.
"iya iya aku bodoh. Karena aku bodoh, boleh aku bertanya? Hal bodoh apa yang telah aku lakukan padamu?"
Mira tak menjawab dan malah semakin keras tangisannya.
"sudah jangan menangis lagi sayang. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini."
Ucap Rendra mengusap rambutku mencoba menenangkanku.
"aku ingin pulang... Aku tidak ingin disini."
Ucapku pelan.
"iya, kita pulang ya sekarang. Aku sudah membawa tasku."
Kami pun pulang kerumah. Rendra dengan hati-hati menuntunku berjalan kedalam kamar. Aku pun segera berbaring kembali. Setelah menaruh obat di nakas, Ia pun duduk disampingku.
"Rendra apa kau mencintaiku?"
Ucapku tiba-tiba.
Ia terlihat terkejut dengan pertanyaanku.
"kenapa kau bertanya hal itu sayang?"
"apa benar foto wisudamu itu hanya bersama dengan seorang teman?"
Rendra semakin terlihat gelisah saat aku bertanya hal itu.
"sebaiknya kau istirahat saja. Aku tidak ingin mengganggumu."
Ucap Rendra lalu beranjak bangun dari tempat tidur.
"jadi benar dia. Kenapa kau tidak bersamanya saja dan menceraikanku?"
Ucapku yang mulai bergetar menahan tangis.
Langkah Rendra terhenti.
"MIRA !"
"kenapa? aku lihat kau masih sangat mencintai dan mengkhawatirkannya?"
Rendra akhirnya kembali menghadapku.
"Apa yang kau lihat Mira?"
Ucapnya sambil memegang bahuku.
"kenapa kau berbohong padaku kalau dia hanya teman? Ah... aku baru sadar kenapa sikapmu seperti ini padaku, karena ternyata kau mencintai wanita itu. Seharusnya aku sadar diri dan tak perlu masuk dalam kehidupanmu."
Ucapku lirih dan mulai tertunduk.
Sekali lagi Rendra menghela napas secara kasar lalu menarik daguku perlahan agar bisa melihatnya.
"kau mau mendengarkan penjelasanku dulu?"
Aku menggelang dan mengalihkan pandanganku ke arah lain.
"Mira dengarkan aku dulu sayang. Aku menikah denganmu bukan karena main-main. Aku serius padamu."
Ucap Rendra mencoba meyakinkanku.
"Kalau kau serius menikah denganku, kenapa kau masih peduli padanya? Padahal dia itu bukan siapa-siapamu, sedangkan aku ini istrimu. Orang yang seharusnya lebih kau pedulikan ! Bahkan saat makan malam saat itu saja kau malah memilih pergi menemui wanita itu dan meninggalkanku sendirian !"
Bentakku kesal padanya.
"Mira ! Tolong mengerti keadaanku. Aku melakukan itu agar kau tidak tersakiti."
"Aku selalu mencoba mengerti padamu, tapi apa kau pernah mengerti diriku? Lebih baik aku tersakiti daripada harus menerima kebohonganmu seperti ini !"
"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Tapi aku ingin kau berjanji tidak akan pergi meninggalkanku setelah ku ceritakan semuanya."
Aku diam.
"Aku dulu mempunyai seorang adik, dia Dinda. Sebenarnya dia meninggal bukan karena penyakit yang ia derita, tetapi karena bunuh diri. Dia melakukan hal itu karena aku tak dapat menepati janji padanya. Bukan karena aku sengaja, tapi saat itu di hari yang sama aku harus melakukan operasi mendadak dan membuatku lupa akan janjiku. Aku sangat terkejut melihatnya terbujur kaku dengan mulut yang berbusa saat menemukannya di kamar. Dan hal itu membuatku depresi selama beberapa tahun. Aku merasa diriku lah yang menjadi penyebab ia meninggal."
Mata Rendra mulai memerah saat bercerita tentang adiknya.
"Hingga akhirnya Risa datang dalam hidupku. Ia membantuku meyakinkanku kalau hal itu sudah menjadi bagian dari takdir. Awalnya aku hanya berteman dengannya, tapi kemudian aku jatuh cinta padanya. Belum sempat aku mengatakannya, kami malah mengalami sebuah kecelakaan. Dan dia berakhir koma sampai sekarang. Jujur saja, aku menikahimu karena aku tak mau kejadian pada adikku dulu terulang kembali. Meski saat ini aku belum mencintaimu, tapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu. Ku mohon mengerti lah keadaanku ini Mira."
Ucap Rendra yang kini sudah menangis dihadapanku.
"intinya kau menikah denganku karena kasian kan? Aku yakin setelah Risa sadar kau akan menceraikanku dan pergi dari hidupku."
"tidak. Karena kau istriku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu meski ia sudah sadar. Aku mohon kau jangan pernah lagi mengatakan cerai. Beri aku waktu dan kesempatan untuk membuktikan kesungguhanku."
Ucap Rendra yang kini terlihat sangat memohon padaku.