Dari Kejauhan

1170 Words
Aku masih dalam pelukan Rendra. Hatiku masih belum bisa menerima kenyataan yang ada. Aku ingin berpisah dengannya, tapi di sisi lain aku juga tak ingin kehilangan dia. "antar aku kesana." "kemana?" "ke tempat Risa. Aku ingin melihatnya." "kenapa kau ingin bertemu dengannya?" "kenapa? Apa ada hal yang mengganggumu jika aku kesana?" "hmm... ya sudah. Lusa saja ya kita kesananya? Kamu harus istirahat dulu sekarang." Aku mengangguk dan kemudian beristirahat kembali bersama suamiku. *** Siang itu aku dan suamiku berkunjung ke tempat Risa. Saat kami masuk, sudah ada orangtua Risa yang menunggunya disana. "nak Rendra sudah datang rupanya. Kamu bersama istrimu ya?" Ucap Ibu Risa dengan ramah. "iya Bu, kenalkan ini Mira." Ucap Rendra memperkenalkanku pada orangtua Risa. "cantik sekali kamu nak, senang sekali bisa bertemu denganmu Mira. Silahkan duduk." "iya bu, terima kasih." Ucapku sambil tersenyum. "kami sangat senang karena kalian sudah mau repot-repot kesini untuk menjenguk Risa." Ucap Ayah Risa yang juga berada disana. "aku mau ke toilet dulu sebentar ya..." Bisik Rendra padaku. Aku pun refleks menahan lengan Rendra. "sudah tak apa nak, kamu disini saja dulu bersama kami. Paling Rendra hanya sebentar." Ucap Ibu Risa padaku. Rendra pun pergi dari ruangan dan kini hanya tinggal aku bersama dengan orangtua Risa. Jujur saja aku merasa canggung. Tapi kemudian, Ibu Risa menghampiriku dan duduk disampingku. Ia mulai menggenggam tanganku. "Mira, kamu tenang saja ya nak. Kami sudah memberi restu pada hubungan kalian. Karena kami juga sudah tak berharap banyak pada kesembuhan Risa. Sudah beberapa tahun ini dia masih mengalami koma. Kami juga yang menyuruh Rendra untuk segera menikah. Dan kami bersyukur, akhirnya dia menemukan wanita lain dan bisa menikah. Ibu tak tega kalau melihatnya terus-terusan menunggu Risa." "iya bu. Aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untuk mas Rendra." "terima kasih ya nak. Kamu tak perlu takut kalau Rendra akan meninggalkanmu, karena Ibu tahu ketika Rendra sudah mengambil keputusan dia tidak akan main-main." Tak lama Rendra pun datang kembali ke ruangan. Kami pun mengobrol sejenak lalu segera pamit pulang. Di perjalanan kami berdua sama-sama diam. Lalu Rendra pun mencoba memecah keheningan. "Sayang?" "hmm?" "kamu ngga apa-apa kan?" "iya aku ngga apa-apa kok? Kenapa?" "kamu ngga berpikir yang aneh-aneh kan?" "ngga kok, tadi Ibu Risa sempat bilang padaku kalau kamu itu tidak akan main-main padaku. Tapi aku tidak tahu itu benar atau tidak." "apa yang dikatakan oleh Ibu Risa benar kok. Jadi bagaimana perasaanmu sekarang setelah mengetahui ini?" "untuk saat ini hatiku sudah lumayan lega." "Alhamdulillah kalau begitu. Sudah ya, aku tidak mau lagi melihat kamu menangis di depan lelaki lain. Apalagi itu karena ku. Kalau ada sesuatu bicarakan saja padaku jangan kau simpan sendiri." "baiklah, aku akan berusaha." Lalu sebuah pesan masuk, Mira mengecek ponselnya. Herdian : "Mira, apa kita masih bisa berteman?" Rendra yang sedari tadi fokus menyetir, pandangannya teralihkan dan menoleh sesekali saat istrinya sibuk memainkan ponsel. "siapa sayang?" "Herdian mas." "dia kirim pesan apa padamu?" "dia bilang apakah aku masih bisa berteman dengannya?" Rendra pun menepikan mobil. "ck... sayang jangan percaya pada kata-katanya itu ya. Kamu tidak perlu membalas pesan itu, kecuali tentang pekerjaan." "tapi mas..." "kau mau mendengarkan aku atau tidak?" Rendra menatapku dengan tajam. "tapi dia kan memang temanku saat sekolah mas. Lagi pula dulu sebelum aku tahu tentang Risa, kau malah sembunyi-sembunyi bertemu dengannya di belakangku." "sayang, itu berbeda situasinya." "berbeda apanya? Situasi kita sama-sama sudah menikah mas. Bahkan aku tidak melarangmu untuk menengok Risa setelah tahu hal itu. Kau egois sekali !" Ucapku melempar pandangan keluar jendela. Rendra hanya bisa menghela napas kasar. "baiklah. Tapi bila dia minta bertemu denganmu, aku melarangnya. Kecuali masalah pekerjaan dan itu pun harus ada orang lain yang menemani." "kau juga, mulai sekarang tak perlu lagi menengok Risa dirumah sakit. Bagaimana?" "tapi Mira..." "tidak ada tapi-tapi. Kalau kau mau aku dengarkan, dengarkan aku dulu." "baiklah, akan kuturuti permintaanmu." *** "mba Mira, selamat ya akhirnya novel mba yang pertama launching juga." "terima kasih mba Siska. Bagaimana kalau kita makan-makan setelah ini?" "apa saya boleh ikut?" Tanya Herdian. "hmm.. boleh... hari ini saya yang akan traktir kalian." "jangan, biar saya saja." "jangan Pak, lagipula kan saya yang sedang launching novel. Sudah saya saja yang bayar untuk hari ini." "apa kamu lupa hari ini ada apa?" "lupa? Memangnya ini hari ada apa?" "ada launching novel kamu lah..." Ucap Herdian tersenyum melihatku yang penasaran. "oh iya benar juga.hehe..." Kami makan bersama untuk merayakan launching novel pertamaku, tapi tidak dalam benak Herdian. Seusai makan, Herdian mengantarku pulang kerumah. Tentu Siska masih berada di dalam mobil juga saat ia mengantarku. Tak lama mereka pergi, tiba-tiba ada kurir paket datang. "dengan Ibu Mira?" "iya betul." "ini paket untuk Ibu." "terima kasih." Aku pun kembali masuk ke dalam rumah. Bungkusan cokelat itu kini sudah berada di tanganku. Aku mulai membuka bungkusan paket tersebut. Terlihat lah kotak putih berukuran sedang, aku pun membuka tutup kotak itu. "wah ini kan boneka alpaka kesukaan aku." Ucapku yang langsung tersenyum senang. Saat aku mengangkat boneka itu, ku lihat ada secarik kertas di dalam kotak tersebut. Mira selamat ulang tahun. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu dari jauh. Herdian. "Ulang tahun?" Ucapku yang bingung dan langsung mengecek ponsel. Benar saja, ternyata hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku baru ingat, kalau saja Herdian tidak bilang mungkin aku akan lupa hari ini hari adalah hari istimewa untukku. Tak lama kemudian, Rendra datang dengan wajah yang lelah. "mas mau makan apa?" "aku akan memakan apapun yang kamu masak sayang. Aku mau mandi dulu ya." Ucap Rendra menghampiriku lalu mengecup dahiku. "baiklah, aku akan segera masak untukmu." "Oh ya itu boneka siapa? Kok aku baru lihat?" "hmm.. ini .. ini dari Herdian." Ucapku ragu "Herdian? Kenapa kamu terima boneka darinya?" "karena..." "karena apa? kok kamu malah gugup begitu?" "Sudahlah, kamu itu sama sekali nggak peka !" Bentakku pada Rendra lalu segera pergi ke kamar. "aduh salah lagi aku, sudah lapar begini dia malah tidak jadi masak." Batin Rendra sambil mengacak-ngacak rambutnya. Lalu saat Rendra akan ke kamar tidur, ia menemukan sebuah kotak yang berisi secarik kertas di meja tamu. "ulang tahun? Aduh aku ini bodoh sekali ! Pantas saja dia marah padaku." Batin Rendra kesal. Rendra pun segera menuju kamar. Saat mau membuka pintu kamar, ternyata pintu kamar dikunci dari dalam. "sayang, buka pintunya. Maafkan aku." Karena lama tak dibuka, akhirnya Rendra menjadi panik dan buru-buru pergi mengambil kunci cadangan. Setelah mengambilnya ia buru-buru membuka pintu kamar. Terlihat Mira sudah menangis memeluk lututnya. "sayang, maaf ya..." "bahkan ulangtahunku saja kamu tidak ingat mas. Herdian saja yang bukan suamiku malah ingat hari istimewaku ini. Bahkan dia memberi hadiah kesukaanku. Dia selalu tahu apa yang aku sukai dari dulu. Sedangkan kamu..." "iya iya sayang, aku minta maaf. Aku tadi sempat ada masalah di kantor, jadi lupa kalau hari ini adalah harimu." Ucap Rendra yang kini berusaha menghapus air mataku. "aku bahkan tidak pernah tahu hal apa saja yang disukai oleh Mira. Bodoh sekali aku ini. Baiklah Mira, mulai saat ini dan seterusnya kamu akan menjadi prioritas utamaku. Aku akan melakukan hal apapun untuk bisa membahagiakanmu." Batin Rendra yang kini memeluk Mira dengan erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD