Hari ini aku berencana pergi berlibur bersama istriku. Setelah kemarin mendapat pukulan telak dari Herdian, aku tak ingin kalah darinya. Aku sebagai suami ingin membuat istriku bahagia.
Tidak seperti kemarin, kali ini aku memilih pergi liburan keluar negeri. Dengan membawa koper yang lumayan besar. Kali ini aku benar-benar berniat untuk bulan madu bersamanya. Tujuan wisata kali ini adalah ke Jepang. Butuh waktu sekitar 7 jam untuk kesana.
Saat sampai disana, kebetulan sedang dalam musim semi. Istriku selalu bercerita kalau ia sangat menyukai musim semi. Ia juga ingin melihat bunga sakura bermekaran. Kami berencana berlibur selama satu minggu.
Setelah sampai di bandara, kami langsung menyewa mobil untuk segera pergi menuju hotel yang sudah di booking sebelumnya. Aku sengaja memilih hotel dengan nuansa rumah tradisional khas Jepang.
"mas aku senang sekali bisa kesini. Akhirnya bisa menghirup udara musim semi disini dan melihat bunga sakura bermekaran."
"anggap saja ini hadiah untuk ulangtahunmu dan juga bulan madu kita."
"terima kasih sayang."
Ucap Mira sambil memelukku.
Sesampainya di hotel, kami tertidur pulas tak sempat jalan-jalan. Mungkin karena jetlag setelah melalui penerbangan yang cukup lama. Ini juga adalah kali pertama pergi ke luar negeri bersama.
Saat bangun, ternyata hari sudah gelap. Ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku mencoba membangunkan istriku. Aku ingin mengajaknya pergi ke festival kembang api yang kebetulan ada hari ini. Sebelumnya aku sempat tahu gara-gara melihat brosur festival saat check in tadi.
"sayang bangun..."
"hmm... mau kemana mas?"
Ucap Mira dengan suara serak khas bangun tidur.
"kita jalan-jalan sebentar keluar yuk."
"ayo..."
Ucap Mira dengan mata yang masih tertutup.
"haha kamu ini, jadi tidak jalan-jalannya? Kalau tak mau aku saja yang jalan sendiri biar bisa lihat yang bening-bening."
Candaku untuk menggoda Mira.
Matanya langsung terbuka dan menatapku tajam tetapi sesekali mengerjap, matanya terlihat sayu dan merah membuatku tertawa melihatnya seperti itu.
"kamu pergi tanpa aku, maka aku pun langsung pergi ke bandara."
"hei aku cuma bercanda, mana mungkin aku meninggalkan istriku yang cantik sendirian disini. Ayo makanya bangun, nanti keburu mulai lho festival kembang apinya."
"Hah? Benarkah? Ya sudah aku siap-siap dulu."
"kita ke bawah yuk, kata yang punya penginapan mereka mau meminjamkan yukata untuk kita."
"ayo!"
Kami pun berjalan bersama. Sedikit risih dengan sendal khas Jepang (Geta), tapi rasanya seru juga. Saat sampai disana sudah sangat ramai sekali dengan pengunjung. Kami semakin erat berpegangan tangan. Aku senang sekali melihat Mira menggunakan yukata merah yang dipakainya. Terlihat anggun dan cantik sekali. Aku baru sadar kalau ia memiliki sisi cantik alami seperti itu.
"sayang..."
"iya kenapa mas?"
"malam ini kamu cantik sekali."
Wajahnya memerah lalu memukulku pelan. Aku tahu dia merasa sangat malu. Melihatnya tersipu malu seperti itu malah membuatku semakin gemas untuk menggodanya.
"apaan sih mas, malu tahu..."
"untuk apa malu? Lagi pula orang di sekitar tak akan mengerti bahasa kita kan?"
"oh iya ya.hehe... Kita kesana yuk."
Ucap Mira sambil menunjuk bianglala yang cukup besar.
Kami pun melangkah pergi lagi. Sesuai dengan permintaan Mira, kami pun pergi ke bianglala itu. Setelah membeli tiket, kami pun naik ke salah satu bianglala itu. Kebetulan karena acara kembang api nya belum dimulai, kami memutuskan naik wahana ini untuk menikmati pemandangan malam dari ketinggian.
"Mira, apa kamu senang?"
"iya mas, aku senang sekali."
Ucapnya sambil tersenyum girang.
"pemandangannya bagus ya, tapi tak seindah wajahmu."
"haha apaan sih mas, gombal deh."
Ucap Mira yang tertawa lalu mencubit perutku.
"aduh kok di cubit sih? Kan aku jujur."
"hehe iya sayang, kamu juga tampan sekali. Pemandangan malam yang indah ini masih kalah sama wajahmu."
Ucap Mira sambil tersenyum manis.
"kenapa selama ini aku menyia-nyiakan Mira yang nyatanya sangat tulus mencintaiku? Maafkan aku Mira, aku terlalu lambat menyadari itu. Aku hanya tak ingin kehilangan lagi seseorang yang ku cintai. Entah kenapa konsekuensi dari perasaan cintaku ini seringkali berakhir dengan kehilangan."
Aku pun mencoba menggenggam tangan Mira. Ia sedikit tersentak saat aku menggenggam tangannya. Tapi beberapa detik kemudian air mukanya berubah menjadi teduh disertai senyuman hangat yang meluluhkan hatiku.
"Mira... aku mencintaimu."
Aku bisa melihat kilatan bahagia di mata Mira. Mungkin selama ini, kata cinta dariku lah yang ia tunggu-tunggu. Mungkin selama ini ia selalu menunggu bibir ini terbuka untuk mengucapkan kata yang sangat sulit terungkap olehku. Dan sedetik kemudian, matanya mulai meleleh oleh air mata. Melihatnya menangis bahagia seperti itu, membuat hatiku makin terenyuh. Membuatku merasa bersalah di satu sisi, namun makin membuatku jatuh cinta padanya. Perlahan ku usap air matanya dengan ibu jariku. Kedua tanganku kini telah menangkup pipinya yang basah.
"sayang, jangan menangis ya. Aku ingin membuatmu bahagia. Tersenyumlah untukku."
"maaf sayang, aku menangis bukan karena sedih. Tapi karena aku bahagia sekali. Akhirnya aku mendengar kata itu keluar dari mulutmu sendiri. Aku juga mencintaimu sayang."
Aku pun mencium dahinya cukup lama lalu memeluknya, semakin memeluknya dengan erat. Rasanya tak ingin berpisah darinya selamanya. Tak mau momen ini menghilang, selamanya berada dalam ingatanku.
Kembang api pun mulai menyala, kami melihat pemandangan malam yang dihiasi oleh kembang api.
Selesai pergi ke festival, kami pun kembali ke hotel.
"sayang, bagaimana kalau kita merencanakan untuk punya buah hati?"
Mira hanya tersenyum dan mengangguk perlahan.