Lari atau Terima

1273 Words
Perlahan aku membuka mata, pandanganku mengarah pada langit-langit yang berwarna putih dan bersih. Lalu bola mataku bergulir ke samping yang otomatis membuat kepalaku menolehkan pandangan. Terlihat sebuah ruangan berwarna krim kecokelatan dan jendela besar dengan gorden putih terbuka disamping tempat tidurku. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi. Aku refleks terbangun dengan cepat tetapi kepalaku terasa sangat sakit, aku pun merebahkan kembali tubuhku secara perlahan. Aku baru sadar ada infus ditanganku. Tak lama aku siuman, seorang lelaki masuk bersama seorang perawat. "mba jangan banyak bergerak dulu." Aku melihat lelaki itu dengan seksama, aku merasa tidak asing melihatnya. Aku masih memandang lelaki itu. Lelaki itu memakai kemeja kotak-kotak berwarna kuning. "hei, jangan memandangku seperti itu. Aku tahu kalau aku ini tampan, tapi kau tidak perlu memandangiku terus menerus." "ini bukannya lelaki yang kemarin sore?" Aku pun segera mengalihkan pandanganku, pipiku sedikit memerah karena malu. "sudah jangan malu, aku sudah biasa ditatap seperti itu kok. Aku periksa dulu ya sebentar." Aku memperhatikannya dengan heran, "kenapa orang ini bisa tahu aku sedang malu?" "kenapa? Bingung aku bisa tahu perasaanmu?" Ucapnya santai sambil memeriksaku menggunakan stetoskop yang tergantung pada lehernya. "hei kamu pasti penipu kan?!" Lelaki itu terhenti memeriksaku lalu menyilangkan tangannya, "kamu ini tidak pernah diajari sopan santun dan terima kasih oleh orangtuamu ya? Baiklah aku akan pergi dari sini supaya kamu tidak perlu melihat penipu tampan sepertiku. Jangan lupa minum obatmu." Aku tertunduk mendengar hal itu. Ia pun berjalan menuju keluar ruangan dengan tangan yang ditaruh disaku celananya. "kedua orangtuaku sudah meninggal." Langkah lelaki itu terhenti sebentar, lalu tak lama ia berjalan kembali dan keluar ruangan. "mba, dia itu bukan penipu. Dia dokter disini dan dia yang menolong mba kemarin sore waktu mba pingsan. " Jelas sang perawat padaku sambil menaruh obat dan mengikuti lelaki itu keluar ruangan. Tak terasa air mataku menetes. Tetapi aku tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Teringat perkataan lelaki tadi yang ternyata seorang dokter, aku pun meminum obat tersebut. Setelah meminum obat aku pun tertidur pulas. Beberapa jam kemudian, aku terbangun kembali. Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan jam 4 sore. Kali ini saat aku bangun, aku melihat kumpulan lelaki si penagih hutang. "hei kau tidak perlu mencoba melarikan diri dengan bunuh diri seperti itu. Kalau kau mati, tidak akan ada yang membayar hutang Ayahmu padaku." Kata salah satu lelaki tersebut sambil ingin membelai wajahku. Aku menepis tangan lelaki itu. Lalu lelaki itu mulai bangun dan mencoba untuk menyeretku dari tempat tidur. "anak ini diperlakukan baik malah berani melawanku seperti ini!" Aku pun mencoba melepaskan tarikan tangan lelaki itu dan berteriak. "tolong ! Tolong !!!" Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, terlihat olehku dokter yang tadi memeriksa datang membuka pintu ruangan. Sontak lelaki tadi yang menarik tanganku melepas tangannya. "Ada apa ini?" "Kau siapanya perempuan ini hah? Pacarnya?" "Itu bukan urusanmu, kalau kalian sudah selesai menjenguk silahkan pulang. Tidak perlu mengganggu pasienku !" "Ini urusanku anak muda ! Kau tidak tahu dia itu memiliki hutang yang banyak kan? Dan hari ini aku sedang menagih hutang padanya. Kalau dia tidak membayarnya maka dia harus bekerja padaku!" "Berapa hutangnya?" "haha sombong sekali kau! Baiklah kalau kau mau membayarnya, aku akan sangat senang." Aku mencoba melerai pembicaraan mereka. "Kau tidak perlu ikut campur urusanku!" kataku dengan wajah kesal pada dokter itu. "Ah itu kau dengar sendiri kan? Dia tidak ingin kau membantunya. Sepertinya dia ingin sekali bekerja padaku." Dokter itu berjalan cepat menuju ke arahku. "bisa kah kau diam sebentar?" Dokter itu mendekatkan wajahnya padaku dengan sorot mata yang tajam. Aku gugup dan sedikit melangkah mundur karenanya. Ia pun berbalik arah pada lelaki penagih hutang itu. "sebutkan berapa hutangnya!" "baiklah kalau kau memaksa, kau harus membayar sebanyak 2 milyar." "Baik akan kubayar hutangnya, tapi sebagai gantinya kau tidak boleh mengganggu perempuan ini lagi. Kalau kalian masih mengganggunya, maka aku akan membawa urusan ini pada yang berwajib." "haha kau beruntung Mira, kali ini kami akan pamit. Awas saja kalau kau tidak membayar hutangmu, kau tidak akan kulepaskan !" Lalu kumpulan penagih hutang itu pun pergi meninggalkan ruangan. "apa kau sudah gila ?! Kenapa kau malah ikut campur urusanku? Aku tidak ingin belas kasihan darimu !" Bentakku kesal. "menikahlah denganku." Kalimat singkat itu berhasil membuatku terdiam. Aku kaget mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya. "u... untuk apa kau menikahiku? Kau pun tidak tahu apa-apa tentangku !" "aku hanya ingin menikahimu. Kau bisa hidup tenang bersamaku tanpa perlu dikejar oleh para penagih hutang itu." Aku tertunduk, air mataku mulai mengalir. "kau tidak perlu melakukan itu. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi didunia ini, aku perempuan yang menyedihkan dengan banyak hutang. Hidupku ini sudah tak berharga lagi. Tolong hentikanlah candaanmu itu." Ucapku putus asa. "aku serius... Aku yang akan menyiapkan pernikahannya. Itu pun kalau kau setuju. Akan kuberi kau waktu 2 hari untuk berpikir. Tenang saja, hutangmu tetap akan aku lunasi besok meski kau menolak lamaranku ini." Lelaki itu langsung pergi dari ruangan. "Aku masih tidak percaya oleh kata-katanya. Disisi lain kalau pun lelaki itu serius, kenapa dia mau menikah denganku? Dengan keadaanku yang seperti ini?" Esok harinya, seperti biasa perawat datang untuk mengecek kondisi kesehatanku. Tapi kali ini ia tidak bersama dengan dokter itu. "Anu mba, dokter yang biasa datang kemana? Kok dia tidak ikut bersama mba?" "Oh maksud mba dokter Rendra? Memangnya ada apa mba? Kangen ya?hehe..." "ah mba bisa aja... nggak kok, aneh saja biasanya kan dia ikut memeriksa..." "dia sedang ke bank, dengar-dengar ia sedang mengurus keuangan temannya." "beneran mba? Oh ya ngomong-ngomong apakah dia sudah punya istri?" "iya benar tadi pagi dia tulis surat ijin dan bilang sama saya. Wah mba nya suka ya sama dokter Rendra? Nggak apa kok mba, pasien-pasien muda disini juga banyak sekali lho yang naksir dia. Dia itu belum menikah mba, suami idaman sekali deh pokoknya." "mba jangan-jangan naksir juga ya sama dia? hehe... Kok bisa dia dibilang suami idaman?" "saya kan sudah menikah, masa mau menaksir laki-laki lain mba.hehe... Iya soalnya dia itu lulusan terbaik dari universitas ternama, pintar masak, pekerja keras, baik dan juga tampan lagi. Kalau mba mau tahu banyak kenapa nggak kenalan langsung saja sama orangnya?" Aku hanya tersenyum mendengarkan celoteh si mba perawat. "Baiklah sudah selesai, saya permisi dulu ya." Perawat itu pun meninggalkan ruangan. "jadi dia benar-benar membayar hutangku? kenapa? aku masih tidak mengerti... apakah benar orang baik didunia ini masih ada?" Lagi-lagi aku tertidur dengan obat yang diberikan. Aku terbangun saat sore hari. Tak lama aku terbangun, Rendra masuk kedalam ruangan. Saat ia masuk, aku pura-pura tidur. Aku buru-buru memejamkan mataku lagi. "sudah tidak perlu berpura-pura tidur. Bagaimana jawabanmu?" Aku mencoba membuka perlahan mataku yang sebelah, lalu meregangkan tubuhku seolah-olah baru bangun. "aku tidak sedang berpura-pura, aku memang baru bangun tidur kok. Oh ya kalau aku keluar dari rumah sakit ini, bagaimana dengan biaya perawatanku? Aku tidak punya uang, sudah begitu ini kamar VIP. Pasti mahal sekali biayanya." "ck... kau masih saja ribut. Sudah tidak perlu dicemaskan. Jawab saja pertanyaanku." "kau saja tidak tahu namaku." "baiklah kita berkenalan dulu. Namamu siapa? Aku Rendra Ramayanto." "Aku Mira Dinata. Kalau jawabanku iya, kau mau apa?" Jawabku santai karena masih menganggap ucapan Rendra hanya candaan belaka. "aku akan memanggil Ibu dan Ayahku saat ini juga untuk menemuimu." Aku terkejut melihat raut wajahnya yang berubah serius, belum lagi dengan ucapannya yang sungguh-sungguh membuat dinding pembatas dihatiku ini luluh. "iya, aku mau." Segera setelah mendengar jawabanku, Rendra mengambil ponsel yang ada di kantong bajunya. Ia mulai menekan layar ponselnya. "Bu, aku ingin menikah. Calonku sudah menunggu dirumah sakit, namanya Mira Dinata. Ibu kesini sekarang juga ya bersama Ayah." Ucap Rendra dengan serius sambil menaruh ponsel di telinganya dan menatapku. Aku tak menyangka dia benar-benar serius ingin menikah denganku. Disaat semuanya pergi menghilang dariku, dia malah hadir dalam hidupku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD