Melawan dan Berjuang

1286 Words
Setelah pindah dari kosan Laras, aku mulai menjalani kehidupan sendiri di kosan yang baru. Hanya butuh waktu 15 menit berjalan kaki dari kosan ke kedai kopi. Seperti biasa, pagi hari aku sudah berangkat menuju kedai kopi, terlihat Laras sudah berada disana lebih dulu. "Mira kamu kenapa? Apa kamu sedang sakit?" "aku nggak sakit kok, memang kenapa?" "wajahmu pucat sekali. Apa kamu sudah sarapan?" "aku sudah sarapan kok. Mungkin hanya kelelahan sedikit." "lebih baik hari ini kamu istirahat saja dulu, biar aku saja yang menjaga dan nanti akan kusampaikan pada Pak Nugroho." "tidak perlu Laras, aku nggak sakit kok. Tenang saja..." "baiklah, tapi kalau kamu memang sudah tidak kuat bilang padaku, jangan dipaksakan." "iya terima kasih Laras. Ya sudah aku mau membersihkan ruangan tengah dulu ya.." Hari ini sebenarnya kepalaku memang terasa sakit. Tapi aku merasa tidak enak kalau hari ini aku tidak bekerja dan menggantungkan semua pekerjaanku pada Laras. Mau tidak mau aku memaksakan diri untuk bekerja. Seperti biasa, suasana kafe sangat ramai dikunjungi. Aku harus sigap dengan pesanan yang ada. Namun karena kondisi badan yang menurun, membuatku pikiranku tidak fokus. Beberapa kali aku salah memberikan pesanan. Hal itu membuat Laras bertambah khawatir. Akhirnya setelah memaksakan diri, tubuh ini pun sudah mencapai pada batasnya. Laras memaksaku untuk pulang dan istirahat saja. Aku pun menurut dan akhirnya pulang. *** Saat Mira pulang, kumpulan para penagih hutang datang kembali ke kedai kopi tersebut. Melihat hal itu, Laras segera menghampiri dan hendak mengusir orang-orang itu. Namun tiba-tiba niatnya terhenti. "hei gadis manis, apakah kamu ingin mengusir kami?" "Segera pergi dari sini !" "hahaha galak juga, tapi karena aku baik hati maka akan kuberikan sebuah berita baik untukmu. Kudengar Ibumu sedang dirawat dirumah sakit dan butuh pengobatan segera. Kalau kamu mau kita bisa membantumu, tapi tentu itu tidak gratis dan ada syaratnya." "aku tak butuh bantuan kalian ! Dasar lintah darat ! Pergi dari sini sekarang juga !" "baiklah kita tidak akan memaksamu, tapi kalau kau butuh bantuan silahkan hubungi kami. Kami dengan senang hati akan segera membantumu." Ucap salah seorang dari mereka sambil menaruh sebuah kartu nama di meja. Mereka pun pergi dari kedai tersebut. Laras pun menghela napas panjang. "aku memang butuh biaya untuk pengobatan Ibuku, tapi mendengar ada syarat yang diajukan oleh mereka, aku takut hal itu akan menjadi sesuatu yang buruk. Aku harus bagaimana?" Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia pun segera mengangkat telepon tersebut. "iya benar saya Laras. Ada apa mba?" "Ibu anda tiba-tiba dalam keadaan kritis dan harus segera dioperasi hari ini juga. Mohon untuk segera menyelesaikan administrasi agar Ibu anda segera kami tangani." "ba.. baik suster, saya akan segera kesana.." Tangan Laras bergetar mendengar hal tersebut. Dalam hati kecilnya Ia tak ingin kehilangan Ibunya. Saat itu ia tidak dapat berpikir jernih, akhirnya tanpa pikir panjang Laras menghubungi kontak yang diberikan lelaki tadi. Pembayaran administrasi selesai dan Ibunya bisa di operasi hari itu juga. Kini Laras harus menuruti syarat yang diberikan oleh lelaki itu. *** Sudah 2 hari aku tidak masuk bekerja, setelah tubuhku terasa pulih aku mulai berangkat kerja kembali seperti biasanya. Saat keluar dari pintu kosan, aku melihat Laras melambaikan tangannya padaku lalu menghampiriku. "Laras, ada apa? Kok malah datang ke kosan aku?" "hmm... Mira, hari ini kamu nggak perlu datang lagi untuk bekerja." "hah? kenapa?" "Pak Nugroho bilang tidak ingin memperkerjakan kamu lagi karena keributan di kedai kemarin." "Ta... tapi..." Belum sempat aku berkata, Laras memotong pembicaraanku. "maaf ya Mira, aku juga tidak bisa membantumu." "boleh aku bertemu dengan Pak Nugroho?" "dia tidak ingin menemuimu. Mira, maaf aku harus segera pergi ke kedai." Jawab Laras yang terlihat gugup. Langkah Laras terhenti karena aku menarik tangannya, lalu menoleh padaku. "baiklah... Laras terima kasih ya." Laras hanya mengangguk dan pergi dengan terburu-buru. "Mira maafkan aku, aku tidak ingin Ibuku kenapa-kenapa. Maafkan aku harus egois padamu." Batin Laras merasa bersalah pada Mira. Aku masih berdiri didepan pintu kosan. Pandanganku kosong, mencoba mencari jalan keluar dari masalah yang ku hadapi saat ini. Baru saja aku mendapat pekerjaan, kini harus kehilangan pekerjaan. Padahal aku harus memenuhi kebutuhan hidup sendiri dan membayar sisa hutang Ayah. Berhari-hari aku mencoba mencari pekerjaan masih belum dapat juga. Aku kembali ke dalam kosan dengan tangan hampa. Belum lagi, aku tidak pernah mendengar kabar dari Laras. Ia juga tidak pernah datang untuk sekedar main ke kosanku. Aku ingin minta bantuannya, tetapi aku merasa tidak enak kalau harus minta tolong lagi padanya. "Bagaimana aku akan membayar hutang Ayah? Membayar uang kosan saja aku sudah tidak tahu lagi harus membayar dengan apa, bulan ini kalau tidak membayar pasti aku akan langsung di usir." Kini hampir 2 minggu aku mencari pekerjaan tetapi belum ada hasilnya juga. Namun aku masih tak menyerah, hari ini aku mencoba mencari pekerjaan lagi. Aku berjalan mengelilingi beberapa tempat. Dengan ijazah lulusan SMA yang ku miliki, rasanya sangat susah mencari pekerjaan. Bahkan untuk menjadi cleaning service sekalipun. Saat tengah fokus mencari pekerjaan, samar-samar kulihat lelaki yang tidak asing. Dia adalah lelaki si penagih hutang, tak lupa dengan beberapa orang yang mengikuti di belakangnya. Entah bagaimana caranya mereka selalu mudah untuk menemukanku. Mungkin saja mereka menyewa orang untuk membuntutiku kemanapun aku pergi. "hei non Mira yang cantik. Kamu sedang apa? Sedang cari kerja? Ayolah ikut saja denganku, maka kamu tak perlu bekerja susah payah. Aku senang kamu pun juga akan senang." "Aku tidak sudi bekerja padamu, minggir tidak usah menghalangi jalanku!" Saat aku mencoba berjalan melewati mereka, tiba-tiba salah satu dari pengikut lelaki itu menarik rambutku. Seketika aku kesakitan karena rambutku dijambak kasar oleh mereka, aku ingin meminta tolong tetapi itu adalah jalanan gang yang sepi. "mau kemana kau! Urusanmu masih belum selesai ! Bayar hutangmu sekarang !" "bukankah masih ada waktu 1 minggu lagi untuk membayar hutangku?" "melihat kau seperti ini saja aku yakin kau tidak akan bisa membayar hutangmu padaku!" "tolong beri aku waktu 1 minggu lagi untuk membayar hutangku." "kau ini terlalu banyak negosiasi padaku nona kecil ! Ah tapi baiklah akan ku beri kau waktu. Kalau sampai minggu depan kau tidak membayarku, kau akan ku paksa bekerja padaku !" Kata lelaki itu sambil mendorongku hingga terjatuh. Mereka pun pergi meninggalkanku sendirian seperti tak pernah terjadi apapun. Aku masih terduduk disana, lagi-lagi pandanganku menjadi kosong. Kini aku benar-benar merasa putus asa. Aku perlahan berjalan dari gang itu karena lututku yang berdarah. Saat melihat apotek di pinggir jalan, aku segera pergi kesana. Dengan sisa uang yang ada aku membeli obat luka untuk lututku dan juga obat tidur agar malam ini aku bisa istirahat dengan nyenyak. Hari sudah semakin sore, rasa lapar yang teramat sangat kini menggerayangiku. Aku masih berusaha berjalan menuju kosan, tetapi tubuhku sudah sangat kelelahan. Saat itu aku baru sampai di taman dekat jalan raya besar. Kulihat sebuah bangku berwarna cokelat di sana, aku pun melangkahkan kaki menuju taman itu. Suasana di sekitar taman hanya terlihat segelintir orang saja dan beberapa orang yang berjualan. Aku pun menghampiri penjual air minum dan membeli sebotol air putih. Setelah membeli minum, aku berjalan menuju tempat duduk yang kulihat tadi. "rasanya ingin menyerah saja. Aku sudah tidak tahu lagi harus mencari uang kemana... Lagipula aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Untuk apa aku hidup?" Efek rasa lapar yang kurasakan membuat pikiranku semakin kacau. Bukannya mengobati lututku, tanpa pikir panjang aku malah mengeluarkan satu botol obat tidur yang aku beli. Aku mengeluarkan hampir semua butiran obat dari botol itu ke tanganku. Saat aku akan menenggak obat tersebut, tiba-tiba ada seorang lelaki yang menghampiriku. Dia langsung membuang obat itu begitu saja dari tanganku. "hei ! Kenapa malah kau buang obat itu !" "kenapa kau mau meminum obat sebanyak itu ?!" "biarkan saja ! Apa urusanmu !" "ini urusanku !" "Kau pergi saja dari sini, aku ingin mati !" Teriakku pada lelaki itu. Saat aku hendak bangun dari bangku itu, aku pun jatuh pingsan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD