Hari yang ditentukan pun tiba, aku mulai mengemas beberapa keperluan dan menaruhnya kedalam tas hitamku. Selesai mengemas, aku berjalan keluar kamar.
Saat berada didepan pintu kamar, pandanganku tertuju pada setiap inci ruangan rumahku. Seketika air mataku menggenang kembali. Namun aku segera menghentikan pandanganku itu dan buru-buru keluar dari rumah.
Setelah berada diluar rumah, kini aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak memiliki tempat tinggal dan tidak ada yang mau menampungku. Aku hanya terus berjalan tanpa tahu arah yang akan ku tuju.
Hari semakin gelap, langkahku mulai melambat dan tubuhku makin terasa lelah. Aku harus mencari tempat tinggal dan juga mencari pekerjaan secepatnya.
Saat itu sudah pukul 7 malam. Aku masih berjalan, lalu pandanganku tertuju pada sebuah kedai kopi di pinggiran jalan. Kedai itu hendak ditutup oleh seorang wanita yang sepertinya menjaga tempat itu. Aku pun bergegas menghampiri kedai kopi tersebut.
"Permisi, apakah tempat ini sedang membutuhkan karyawan baru?"
Penjaga wanita itu langsung menoleh ke arahku.
"maaf mba, saya hanya menjaga kedai ini. Kalau mau mba bisa datang besok untuk bertemu dengan pemilik kedai ini."
"hmm.. besok ya? A..aku malam ini saja tidak tahu harus tidur dimana... Aku tak punya rumah, besok pun aku tidak tahu harus kemana."
Wanita itu melihatku dari ujung kaki hingga kepala, tak lupa matanya menyorot tas hitam yang kubawa.
"tidak punya rumah? Mba di usir atau bagaimana?"
"ceritanya panjang mba..."
Wanita itu berpikir beberapa saat.
"Baiklah, untuk sementara mba tidur saja dulu dikosan saya."
"Benarkah? Apa saya tidak merepotkan mba?"
"Nggak apa-apa, tapi harap maklum ya mba kalau kosan saya kecil."
"mba sudah memberi saya tumpangan saja saya sudah bersyukur sekali."
Akhirnya aku pun pulang bersama wanita penjaga kedai itu. Wanita itu bernama Laras. Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit aku pun sampai di kosan Laras. Kebetulan kosan itu khusus untuk perempuan jadi aku bisa ikut menginap sementara disana dengan tenang.
Terlihat beberapa bangunan kecil saling berdempetan. Aku dan Laras berjalan menuju bangunan yang ada diujung. Sesampainya didepan kamar kos, Laras merogoh kunci pintu dari kantung bajunya. Lalu ia membuka pintu dan mempersilahkanku masuk. Memang tempat itu lumayan kecil untuk ditempati oleh dua orang. Namun aku merasa lega karena tidak tidur dijalanan malam ini.
"sekali lagi saya minta maaf ya mba kalau kosan saya ini sempit."
Kata Laras sambil menyalakan kompor gas kecil untuk memasak air.
"Nggak apa-apa kok mba, saya sudah sangat berterima kasih mba mau menampung saya disini."
Tak lama air yang direbus Laras pun mendidih. Ia pun menuang air tersebut ke dalam 2 gelas yang sudah diisi oleh teh dan gula.
"silahkan diminum mba..."
"terima kasih mba, maaf jadi merepotkan."
"hanya air teh saja kok mba. Jadi boleh tahu bagaimana mba bisa seperti ini?"
Akhirnya aku pun bercerita pada Laras semua tentangku. Ia mengangguk sesekali disela-sela ceritaku. Setelah selesai kami pun bergegas untuk istirahat karena hari mulai larut malam.
Esok harinya, aku dan Laras kembali pergi ke kedai kopi itu bersama. Terlihat seorang laki-laki muda yang sedang membuka pintu kedai kopi tersebut.
"Permisi Pak, ini ada teman saya sedang mencari pekerjaan. Apakah dia bisa bekerja disini untuk sementara?"
"Wah kebetulan saya mau tambah penjaga dikedai ini supaya bisa buka dari pagi sampai sore. Jadi kamu bisa bergantian dengan penjaga yang baru."
"Benarkah?"
"Iya, kapan temanmu bisa mulai bekerja?"
Aku langsung menghampiri mereka dengan semangat.
"Hari ini juga saya bisa bekerja Pak."
"Nama kamu siapa?"
"Oh ya nama saya Mira."
"Tapi disini gajinya kecil. Apa kamu mau?"
"Nggak apa-apa, saya mau Pak bekerja disini."
"Baiklah kamu bisa bekerja mulai hari ini. Laras tolong bantu Mira ya. Ajari dia beberapa hal yang harus dilakukan."
"Baik Pak..."
"Ya sudah saya mau pergi dulu ke kantor. Tolong jaga kedai kopi ini dengan baik ya."
Hari ini pun aku mulai bekerja di kedai kopi ini. Memang terlihat sederhana dan kecil, tetapi kedai ini selalu ramai dikunjungi oleh pengunjung terutama oleh anak-anak muda. Aku sangat menikmati pekerjaan ini, mengingat Laras yang sangat membantu pekerjaanku dengan baik. Aku tidak merasa kesusahan.
***
Tak terasa hampir satu bulan lamanya aku bekerja di kedai kopi ini. Hari ini adalah hari pertamaku menerima gaji. Pak Nugroho memberikan aku dan Laras amplop yang berisi gaji kami masing-masing. Selesai memberikan gaji, Pak Nugroho langsung pergi ke kantornya.
Siang harinya saat aku tengah mengantar pesanan. Dari luar kedai terlihat beberapa sosok yang tidak asing bagiku. Mereka adalah orang yang datang kerumahku untuk menagih hutang. Rasanya hati ini kembali gugup dan takut melihat mereka datang ke hadapanku lagi. Dan tak lama mereka pun masuk kedalam kedai.
"Pesan kopinya 4 ya. Cepat dan tidak pakai lama."
"Baik Pak pesanannya akan saya antarkan."
Ucapku sambil mencatat pesanan mereka.
Aku pun segera ke dapur untuk membuat kopi dan pesanan lainnya. Selesai membuat kopi, aku berjalan ke arah meja yang mereka tempati. Saat menaruh kopi itu, tiba-tiba salah satu dari mereka memegang tanganku. Aku refleks melepas genggaman lelaki itu. Gelas yang kutaruh akhirnya terlempar dan pecah. Kejadian itu sontak menarik perhatian semua orang yang ada di kedai.
"Hei kalau kasih pesanan yang benar dong ! Lihat nih tangan saya melepuh karena kopinya kamu tumpahkan !"
Aku gugup dan segera mengelap tumpahan air kopi yang berceceran di meja.
"saya minta maaf Pak, saya tidak sengaja menumpahkan kopi tersebut."
"ah alasan saja kamu ! Terus kapan mau bayar hutangmu? kalau hari ini kamu tidak membayar, hari ini juga kamu harus ikut kami !"
"I...ini uangnya."
Kataku dengan gugup sambil memberikan sebagian uang yang tadi kuterima.
Laras yang geram melihat hal itu pun langsung datang membantu Mira.
"Kamu nggak perlu minta maaf Mira. Mereka saja yang tidak sopan sudah memegang tangan kamu!"
"wah wah sudah menumpahkan kopi sembarangan, malah marah-marah pula. Kedai macam apa ini? Buruk sekali pelayanannya!"
Kata lelaki itu sambil melihat tubuh Laras dari atas kebawah dengan tatapan menggoda.
Lalu lelaki itu pun membuka amplop yang kuberikan.
"cuma segini? Ah sebenarnya ini masih kurang, tapi untuk kali ini akan ku maafkan. Ayo kita pergi dari sini !"
"hei kalian belum bayar ! Dasar kurang ajar !"
Laras emosi pada para lelaki yang menghampiri Mira itu.
Mereka tetap pergi keluar dari kedai tanpa menggubris omongan Laras. Laras sangat emosi dengan kejadian itu. Aku pun mencoba menenangkan Laras dan segera membersihkan pecahan beling yang baru saja kujatuhkan. Aku dan Laras menuju dapur untuk membuang pecahan tersebut.
"Mira... aku nggak habis pikir sama mereka itu. Tega sekali mereka!"
"Mau bagaimana lagi, aku memang terlilit hutang Ayahku. Dan aku harus melunasi hutang itu."
"tapi Mir..."
"Sudah kamu nggak perlu emosi. Biar saja hal itu ku urus sendiri."
Tak terasa hari mulai menggelap. Aku dan Laras pun menutup kedai. Kami pun pulang bersama. Sesampainya di kosan, aku mulai mengemas barang-barangku.
"Eh kamu mau ngapain?"
"mulai hari ini aku akan pergi dari kosanmu."
"Lho? Kenapa? Mira, aku nggak merasa keberatan kok kamu disini."
"iya aku pun inginnya seperti itu. Tapi aku nggak mau kamu dalam bahaya, aku takut mereka akan membahayakan kamu kalau aku masih bersama kamu disini. Jadi lebih baik aku mencari tempat lain saja."
"Tapi ini sudah malam, kamu mau kemana?"
"aku sudah dapat tempatnya kok. Jadi hari ini juga aku sudah bisa kesana."
"Mira benar nggak apa?"
"iya, terima kasih ya Laras sudah memberiku tumpangan selama ini. Aku pergi dulu ya. Besok kan kita masih bisa ketemu lagi kan di kedai."
"Baiklah, kamu hati-hati dijalan ya Mira."