Kehilangan

1346 Words
Kehidupan disekolah berjalan seperti biasanya. Aku dan Intan sedang berbincang-bincang tentang persiapan Intan yang akan kuliah di Paris saat istirahat. Tak terasa 6 bulan lagi kami akan tamat SMA. "sudah berapa persen persiapanmu untuk kuliah disana?" "hampir 90%, selebihnya tinggal berangkat saja.hehe..." "Alhamdulillah kalau persiapanmu sudah hampir selesai. Nanti kalau sudah di Paris, kirimkan aku fotomu didepan menara Eiffel ya?" "haha iya insya Allah, kalau pas luang ya." "dan selalu kabari aku..." Ujarku sambil mengerucutkan bibir. "iya.. kita video call-an ya nanti." "Oh iya, ngomong-ngomong kok Herdian nggak pernah kelihatan ya?" "cie ada yang kangen nih..." "Intaan... aku nggak kangen kok, hanya saja akhir-akhir ini aku nggak pernah lihat dia." "Mira memangnya kamu belum tahu kalau Herdian itu sudah pindah sekolah minggu lalu?" "hah? beneran? kok aku nggak tahu kabarnya?" "Oh iya minggu lalu kan kamu lagi sakit dan nggak masuk sekolah." "hmm.. pantas saja aku tidak tahu. Memangnya dia pindah kemana?" "aku juga nggak tahu pasti sih, aku hanya tahu dia pindah saja. Kenapa? Kamu menyesal nggak pernah ungkap perasaan kamu?" Goda Intan sambil menyenggol bahuku. "hehe... nggak kok Tan, aku hanya penasaran saja dia kemana." Jawabku dengan tertawa kecil. *** Tak terasa waktu berlalu, akhirnya tiba waktunya aku lulus SMA. Dan saat itu juga lah aku harus berpisah dengan Intan. Karena seminggu setelah lulus, Intan harus terbang menuju Prancis untuk memulai kuliahnya. Sebagai salam perpisahan, aku mengantar Intan ke bandara. "Mira, jangan menangis terus dong, aku kan jadi ikutan sedih melihat kamu seperti itu." "Intan, aku nggak menangis, aku hanya..." Perkataanku terhenti, aku tak bisa melanjutkan kata-kataku. Air mataku terus mengalir keluar membasahi pipi. Intan menatapku sambil memegang kedua tanganku lalu menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Ia mencoba menenangkan aku yang terus menangis sejak sampai di bandara. Setelah melihatku sedikit tenang, Intan memelukku. "Mira... aku pamit. Nanti kita ketemu lagi ya." Aku mengangguk perlahan. Intan pun mengambil koper merahnya. Ia mulai menyeret koper itu dengan langkah perlahan. Setelah beberapa langkah ia menoleh dan melambaikan tangannya padaku dengan mata yang sudah berkaca-kaca lalu tersenyum. *** Setelah kepergian Intan, aku mulai sibuk mengurus beberapa berkas pendaftaran kuliahku. Pagi itu aku pergi sendiri ke kampus dengan membawa beberapa berkas yang diperlukan. Setelah selesai mengurus pendaftaran aku langsung pulang kembali kerumah. Sesampainya dirumah aku terkejut mendapati pembantuku tengah menangis sesenggukan saat menerima telepon. Karena penasaran aku pun menghampirinya. "Bibi kenapa?" "Anu non, A... Ayah sama Ibu non..." "Ayah sama Ibu kenapa Bi?" "Mereka kecelakaan dan masih tak sadarkan diri." "A... apa?!" Aku segera pergi menuju rumah sakit dimana Ayah dan Ibuku sedang dirawat. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, aku pun sampai disana. Aku bergegas menuju ruang UGD, namun sesampainya disana aku belum boleh dipersilahkan masuk, karena masih di lakukan proses operasi. Aku terduduk dan kepalaku tertunduk mencoba untuk menahan tangis. "Ayah... Ibu jangan tinggalkan aku." Batinku dengan mata berkaca-kaca. Sekitar hampir 2 jam menunggu, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan diikuti beberapa asistennya. Aku pun langsung menghampiri dokter tersebut. "Bagaimana keadaan kedua orangtua saya dok?" Dokter tersebut menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaanku, "maafkan kami, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tetapi nyawa orangtuamu belum bisa kami selamatkan. Saya pamit dulu." Dokter itu pun pergi meninggalkanku setelah menjelaskan keadaan kedua orangtuaku. Aku langsung terjatuh lemas mendengar hal tersebut. Aku menangis histeris. Pembantuku yang sedari tadi menemaniku memelukku untuk menenangkanku. Esok harinya, kedua orangtuaku akan segera dimakamkan. Sejak kemarin aku menghubungi Tanteku, namun teleponnya tak pernah diangkat. Aku pun mencoba untuk datang kerumah Tanteku, aku ingin segera memberi kabar ini padanya. Aku mencoba masuk rumahnya, tetapi satpam penjaga malah mengusirku keluar dari rumah Tanteku. Tak lama aku diusir, aku melihat Tanteku keluar dari pintu rumahnya. Aku segera berlari ke pagar dengan memegang besi pagar dari luar agar Tanteku bisa melihatku. "Tanteee... Ibu dan Ayah meninggal." Ucapku teriak sambil menangis. Tanteku menoleh padaku, ia pun segera datang menghampiriku. Ku kira ia akan memelukku dan menemaniku ke pemakaman, tapi nyatanya aku harus mendengar hal yang tak terduga keluar dari mulutnya. "Kamu jangan pernah kesini lagi ! Kamu bukan bagian dari keluarga kami ! Sana pergi !" Bentak Tanteku dan menyuruh satpam untuk segera mengusirku. Ia langsung masuk kembali kedalam rumah. "Tantee... Tanteee...." Ucapku dengan putus asa lalu diusir oleh satpam yang menjaga rumah Tanteku. Aku terkejut mendengar hal itu. "Ku kira selama ini dia sayang padaku. Dia sangat perhatian dan seringkali memberikan aku hadiah. Namun nyatanya tidak seperti yang ku pikirkan." Saat sampai di pemakaman. Tak banyak orang yang hadir disana. Aku menatap dua buah batu nisan yang terpampang didepanku. Pandanganku kabur karena tergenang oleh air mata. Flashback bersama Ibu "Mira, jangan lupa kerjakan PR mu sayang." Ucap Ibuku sambil menyiapkan makanan di meja makan. "iya Bu..." Ibuku pun duduk disebelahku lalu mulai menyuapiku makan. *** "Mira, Ibu ingin sekali lihat kamu nanti menikah nak, jangan pacaran ya." "iya Bu, aku nggak ada niat pacaran kok. Aku mau langsung menikah dengan laki-laki yang akan menjadi takdirku." "Ibu ingin lihat kamu pakai gaun pengantin. Pasti cantik sekali." "Iya Ibu harus liat aku nanti." Ibu tersenyum sumringah melihatku. Flashback bersama Ayah "sini Ayah gendong!" Ucap Ayahku sambil membawaku keliling mengitari taman sedangkan Ibuku sedang merapikan tikar dibawah pohon. "aaah Ayah hati-hati, ini tinggi sekali aku takut.hahaha..." "kamu takut kok ketawa? Berarti seru kan?" Lalu Ayahku semakin mempercepat langkahnya. Aku terpejam sambil memegang tangan Ayahku dengan erat namun bibirku tetap tersenyum senang. *** "Mira, nanti antar Ayah beli kalung yuk." "Baiklah Ayahku sayang. Suami idaman sekali Ayahku ini. Pasti mau belikan hadiah untuk Ibu kan?" Ucapku dengan meninggikan suaraku saat menyebut hadiah untuk Ibu. "sssttt... pelankan suaramu nanti ketahuan sama Ibu kamu." Ucap Ayahku menahan tawanya. "hihihi... iya Ayah. Ayo kita pergi !" Flashback bersama Ayah dan Ibu "Wah anak Ibu pintar sekali!" Ujar Ibuku dengan bersemangat melihatku sedang belajar berjalan. "nah seperti itu perlahan jalannya." Ayahku menuntunku dengan memegang kedua tanganku. *** "selamat ya nak, Alhamdulillah kamu akhirnya lulus SMA juga." Ucap Ibuku yang bahagia melihatku menggunakan kebaya saat kelulusan. "ini bunga yang cantik untuk kamu yang cantik." Kata Ayahku sambil memberikan bunga kepadaku. "Ibu... Ayah... Terima kasih... Aku senang sekali kalian bisa hadir disini." Ucapmu sambil memeluk mereka. Flashback END "aku tak menyangka kalian akan meninggalkanku secepat ini... Ibu... Ayah... aku sendiri disini. Aku harus bagaimana?" Aku pun segera bangkit lalu berjalan pergi dari pemakaman. Rasanya aku ingin sendiri dirumah. *** Seminggu berlalu, keadaan masih belum berubah. Aku tidak beranjak keluar dari kamarku. Namun siang itu aku dikejutkan oleh suara mobil yang datang kerumahku. "non, ada tamu." Ucap Bibi pembantu sambil mengetuk pintu kamarmu. "siapa Bi?" "Bibi juga tidak tahu, katanya ingin mencari non." "Iya bi, terima kasih. Aku segera kesana." Aku pun keluar dari kamar dan langsung segera menuju ruang tamu. Aku terkejut dengan pemandangan yang aku lihat. Terlihat beberapa orang laki-laki menggunakan jas hitam sedang menungguku di ruang tamu. "Apakah kamu Mira Dinata?" "Benar. Kalian siapa dan ada perlu apa kemari?" "kami mau memberi kabar untukmu, mulai minggu depan kamu harus segera pergi dari rumah ini." "lho kenapa tiba-tiba saya disuruh pergi dari rumah ini?" "Ayahmu berhutang pada kami, rumah ini disita pun masih belum cukup untuk membayar hutang Ayahmu. Kamu juga harus mencicil sisanya." "apa? sisanya? Ta.. tapi saya tidak punya uang untuk membayar sisanya." "Kami tidak mau tahu, pokoknya kamu harus lunasi hutang Ayahmu atau kamu harus bekerja pada kami." "Saya harus bekerja apa?" Lelaki yang dari tadi berbicara dingin pada Mira tiba-tiba raut wajahnya berubah. Lelaki itu tersenyum licik dan menatap tajam pada Mira. "Kamu bisa melayani saya dan lelaki lainnya agar mereka senang." Mendengar hal itu mata Mira membulat kaget dan menatap tajam pada lelaki itu, ia menangkap sesuatu yang buruk dari ucapan lelaki tersebut. Seketika bulu kuduknya merinding. Perasaan takut dan putus asa menjadi satu. "Saya tidak ingin bekerja pada anda ! Saya akan bayar hutang kalian. Silahkan segera pergi dari rumah ini!" Nada suaraku meninggi. "haha percaya diri sekali nona ini. Baiklah kami akan pamit pulang nona cantik dan jangan lupa bayar hutangmu." Ucap lelaki itu sambil mengedipkan sebelah matanya padaku lalu berlalu pergi. Setelah mereka keluar dari rumahku, aku menghela napas panjang. Perasaanku saat ini campur aduk, tidak tahu harus apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD