Anak ini nakal karena butuh kasih sayang dari orang tuanya

434 Words
Kembali ke ceritaku dalam rutinitas di kompleks kampus. Dari pertama saya masuk di komplek kampus, saya langsung di giring ke salah satu rumah dosen. ternyata beliau lah yang di tunjuk kepala panti untuk menjadi seponsor saya, saya kaget, bingung dan shyiok juga. Saya pikir karena saya sudah mengabdi di yayasan panti asuhan selama satu tahun dan tanpa gaji, makanya saya pergi kuliah saja, ternyata tidak seperti itu, itu salah total. Ternyata saya harus bekerja untuk di rumah dosen, sebagai ganti beliau biayai kuliah saya. Awal kuliah saya masih kebingungan, jadwal mata kuliah yang cepat sekali berganti - ganti, ruangan kuliah yang berganti - ganti, belum ada teman dekat, semua teman baru dan asing. Aku kebingungan. Saya lelah, dan ketika jeda waktu mata pelajaran saya istirahat seperti lainnya, tapi ternyata saya sudah di tunggu di rumah dosen untuk bekerja, sudah banyak cucian untuk di bersihkan, sudah banyak pakaian untuk di setrika, ketika anak pulang sekolah saya harus menyuapi nya makan, karena belum mau makan sendiri. ketika buang air besar saya juga yang harus mencebokinya, ketika malam saya harus membantunya mengerjakan tugas- tugas sekolahnya. Anak ini susah sekali kalau di suruh makan, di kulum lama- lama di dalam mulut, itu membuat ku sering jengkel karena masih banyak pekerjaan belum ku selesaikan gara- gara anak ini. Jika di suruh belajar sangat sulit, maunya bermain saja terus -terus, sedangkan tuntutan dari orang tuanya pekerjaan sekolahnya harus selesai kala itu juga. Anak ini kurus dan kurang tinggi,sering Kena alergi gatal, sering marah juga. Sifatnya membuat aku tambah bosan dan lelah tapi harus ku jalani semuanya. Aku perhatikan dan saya pelajari kenapa anak ini seperti ini, padahal sudah kecukupan gizi, dan sekolah di tempat bagus juga. Saya simpulkan anak ini sepertinya masih sangat butuh kasih sayang, mau di perlakukan manja oleh orang tuanya, tetapi orang tuanya sangat sibuk dengan kesibukan dan rutinitas masing-masing, sangat jarang bercengkrama dan bermain-main setiap hari. Sebagai balasannya dia berlaku emosional terhadap saya, dan sulit saya atur karena sebenarnya dia mau sama orang tuanya. Saya yang kurang memahami keadaan waktu itu jadi kurang klop dengan ini anak, Karena saya juga terlalu amat sibuk dan terlalu banyak tuntutan tugas kuliah makanya saya kurang memberi kasih sayang terhadap anak ini, waktu - waktu yang ada hanya saya habiskan untuk menjalani rutinitas saja, saya melewatkan arti menjalin persahabatan dengan anak ini, andai saja waktu bisa di ulang, maka saya akan lebih inten lagi dengan anak ini. Setelah waktu berjalan sekian lama, saya jadi merindukan anak ini, andai aku dekat dengan dia waktu itu pasti saya akan selalu di hatinya di manapun dia berada, anak itu sekarang pasti sudah besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD