Semester dua, saya mulai kenal dengan salah satu teman kuliah,dia juga kesulitan mencari biaya kuliah dan biaya hidup. Dia juga harus kuliah sambil kerja sepertiku, banting tulang. Cuma bedanya semester satu dan dua dua tinggal di gase hause, tempat nya agak luas dari asrama, tapi masih di dalam komplek asrama juga. Pengalaman hidupnya kurang lebih dari saya, itu yang membuat kami cepat klop. Waktu mendengar persentasi dari ketua yayasan Anak Jalalan Mitra Bangsa, kami langsung mencari waktu untuk menembusi beliau, dan langsung di terima kerja. Kami pulang pergi sama- sama naik becak, supaya hemat pengeluaran kami ganti - gantian bayar ongkosnya. Kami juga pergi ke gereja sama- sama, kami jalan kaki supaya irit ongkos, tapi kalau keburu saja baru kami naik becak. Jika libur semesteran saya pergi ke kampungnya, sambil bawa baju - baju bekas untuk keluarga dan saudara - saudara di sana. Itu makanya saya dan keluarganya sangat akrab. Dia sangat lucu, kami sering tertawa bersama, suka ngolok hal - hal yang tidak penting. Teman - temanku yang lain suka mengatakan kami saudara kembar karena sering kemana - mana bersama. Kami beda suku tapi itu tidak masalah buat kami, yang beda dari kami, saya orangnya mau tau banyak hal, suka memaksakan diri meskipun lelah, sedangkan teman saya ini orangnya slow dan cuek. ketika di akhir perkuliahan tepatnya semester 6 ( enam ) ke atas, keadaan ekonomi saya mulai baik, sedangkan teman saya ini tetap biasa saja, satu hal yang saya sesali sampai sekarang, kenapa saya tidak lebih bermurah hati kepadanya, kenapa saya tidak lebih banyak berbagi dengan dia,kenapa saya dulu tidak lebih banyak meluangkan waktu untuk dia. Setelah waktu berlalu, saya baru merasakan bahwa tidak ada teman sebaik dia. Oh Tuhan...seandainya saja waktu bisa di ulang, saya akan cari kerja tidak jauh dari tempatnya berada, saya akan berbagi uang dan waktu lebih banyak lagi. Karena saya mengabaikan dia, pernah dia mengalami pelecehan s*****l dari seorang laki - laki yang katanya mencintai dia tapi ternyata cuma memanfaatkan dia, ketika saya tahu dia hamil di luar nikah, sempat dia minta pertolongan untuk mengeluarkan dia dari yayasan yang menampungnya, dia tidak mau anaknya anaknya di ambil orang, tapi dia tidak berdaya kalau tidak ada yang menebusnya dari yayasan tersebut. Saya tidak berdaya waktu itu karena saya pasti harus menyiapkan sejumlah uang untuk menebusnya dan anaknya, andai saja waktu itu saya berusaha lebih keras pasti dia tidak akan kehilangan anaknya. Saya tidak bisa membayangkan jika berada di posisinya waktu itu. Sekarang kami berjauhan tempat, rindu sekali bertemu dengan dia. Tuhan berikan aku kesempatan agar bisa mengunjungi sahabatku tetsebut.