Kisah Asmaraku di asrama

582 Words
Peraturan di kampus kami, sebelum semester empat ( 4 ) tidak boleh pacaran, tetapi banyak juga yang melanggar hingga akglhirnya mereka kena peringatan dari kampus. Bagiku sendiri, aturan ini akan ku pegang teguh karena menurutku, untuk bisa kuliah itu sebenarnya mustahil menurut pemikiran saya, tapi bagi Tuhan didak ada yang mustahil. oleh karena itu saya bertekad untuk menaatinya, meskipun saya sudah berumur waktu itu dan sudah pantas berpacaran dan memang sudah ada yang suka sama saya, tapi saya berusaha tahan dan menunggu sampai semester empat lewat. Saya percaya ketika saya belajar taat, maka Tuhan akan memberi yang terbaik untuk saya, itu keyakinan hati saya. Di suatu malam, sekitar jam delapan ( 20.00 ) malam handpone saya berdering, ada seorang laki -laki menelpone saya, awalnya saya kira itu telpone iseng saja, ternyata benar itu teman kuliah saya, waktu itu dia masih tinggal di asrama putra, namanya Viktor, orangnya lumayan ganteng dan putih, banyak temanku perempuan naksir dia, tapi ga tau kenapa kok dia ga respon sama mereka, saya pun senang bercampur heran, kok malah dia mengungkapkan perasaan suka nya kepada saya, sikap naifku dan polosku menerima cinta dia begitu saja tanpa berfikir panjang. Karena kami sudah dewasa, saya merasa tidak perlu menyembunyikan hubungan ini, makanya saya maunya kita terang- terangan saja kepada semua orang kalau kita pacaran. Berbeda dengan saya, Viktor seperti ada yang di sembunyikan, jika di depan banyak orang dia seperti mengakui saya tapi ketika kami hanya berdua atau sedikit orang saja, dia kelihatan sekali bersikap acuh kepada saya. Apalagi ketika kami lagi jalan berdua kemudian ada teman kami perempuan yang menelpone dia, Viktor langsung pergi dan mengacuhkan saya. Saya bingung apakah dia benar - benar mencintai saya atau bagaimana ini ya, saya jadi sakit hati dan kecewa terhadap sikap Viktor. Karena rasa hati sering tersakiti oleh sikap Viktor,ingin rasanya menyudahi hubungan ini tapi jujur itu reramat sangat sulit, karena saya sudah terlanjur jatuh cinta sama Viktor. Hingga tiba waktunya kami harus berpisah karena tugas lapangan kampus, enam ( 6 ) bulan kami harus menyelesaikan tugas lapangan. Kami berjauhan, dan benar saja belum lama kami berpisah, Viktor menelpone saya dan bermaksud menyudahi hubungan kami, hati saya hancur waktu itu, terasa sakit sekali di hati, tapi akhirnya saya iyakan maksud Viktor, saya pikir untuk apa mempertahankan hubungan ini kalau cinta dusta yang dia berikan, dia mencintai saya karena lagi tidak ada teman, tapi kalau lagi asyik dengan hal lain dia jadi acuh tak acuh. Setelah putus, dia masih menghubungi saya, tapi hanya menceritakan masalah - masalah dia semata, hanya sekedar curhat. Bodohnya saya, meskipun sudah putus saya masih menyimpan rasa suka terhadapnya, ini yang membuat saya sakit hati. Tidak terasa enam bulan pun berlalu,dan kami kembali ke kampus bersama - sama lagi. Dan ketemu dengan Viktor lagi, tapi waktu itu saya berusaha menjalin hubungan dengan pria lain di luar kampus, orang nya lebih gagah dan dewasa menurut saya. Banyak yang menyayangkan hal itu,teman - teman saya kira saya yang berkhianat dan berpaling dari pria lain, tapi setelah saya klarifikasi, mereka berbalik menyalahkan Viktor. Saya melakukan kesalahan, saya salah langkah, sekarang saya menyesal. Kenapa dulu saya begitu memilih - milih laki - laki untuk menjadi suami saya? saya menyesal. Padahal dulu waktu di kampus begitu banyak adik tingkat yang terang - terangan suka kepada saya, tapi saya tidak menggubrisnya dan menganggap mereka teman saja, padahal mereka tulus dan sangat mengharapkan balasan dari saya. Sekarang orang- orang tersebut sukses dalam karier dan keluarga. Dan orang - orang yang katanya mencintai saya sekarang meninggalkan saya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD