Terbongkar?!

664 Words
"Itu bukan, Ma?" Aku menyipitkan mata, menatap dua orang yang duduk di kursi taman. Kami baru saja turun dari taksi. Cinta menggenggam tanganku, menguatkan. Beberapa detik, aku menghela napas, akhirnya mengangguk. Kami berjalan mendekat. Entah kenapa, Cinta akhirnya memutuskan untuk kami pergi ke taman ini. Aku berusaha tenang, menatap ke depan, hanya satu yang terlihat, seorang pria—pria itu memang mirip dengan Mas Seno. Ah, lebih tepatnya, itu benar-benar Mas Seno. Sedangkan yang wanita tidak terlihat jelas wajahnya. Kami berjalan pelan-pelan, sesekali melihat bunga-bunga untuk menyamarkan keberadaan. "Kapan kamu mau menceraikan istri kamu itu?" Cinta langsung menarikku duduk di salah satu kursi taman, cukup dekat dengan Mas Seno dan wanita yang entah siapa itu. Suara mereka masih terdengar. Cinta menyerahkan kerudung hitam padaku. Dia memakai kerudung juga. Benar-benar penyamaran yang baik. "Nanti, tunggu aku membalikkan nama pemilik tanah, juga nama pemilik rumah. Kan, itu semua atas nama Firly." Aku menahan napas mendengarnya. "Lama banget, kamu bujuk Firly atau cuma main-main menikahi aku?" Wah, benar-benar ngajak ribut, nih. "Aku serius. Setelah semuanya aku ambil dari Firly, kita menikah. Aku akan menceraikan Firly." Tanganku mengepal. Enak saja dia bilang begitu. Cinta memegang tanganku, kemudian menggeleng. "Nah, gitu dong. Kamu yang tegas. Aku udah capek digantungin kayak gini. Aku mau jadi istri sah kamu, bukan cuma istri siri." "Lagipula, aku udah gak cinta sama Firly. Dia gak menarik lagi." Oh, jadi begitu. Aku menyenderkan punggung ke kursi, mendengarkan percakapan mereka berdua. Hampir satu jam, mereka berdua mengobrol. Akhirnya, mereka pulang. "Siapa wanita tadi, Cinta?" Cinta menoleh, kemudian mengangkat bahu. "Cinta gak tahu, Ma." Yah, kalau begini, bagaimana caranya aku bisa tahu siapa wanita itu? "Eh, Cinta cuma bisa merekam percakapan Papa sama wanita itu tadi, Ma." Aku menatap Cinta cukup lama. Ya Allah, Cinta ternyata lebih tanggap dibandingkan aku. "Papa udah gak cinta lagi sama Mama." Ya. Mas Seno sudah tidak mencintaiku lagi. Dia hanya ingin memindahkan kekayaan kami saja. Kemudian mencampakkanku. Ah, itu tidak akan mungkin. "Cinta bakalan dukung Mama. Apa pun yang terjadi." Aku mengangguk, kemudian berdiri. Mengajak Cinta pulang. Tidak ada gunanya lagi disini. "Mama juga akan berjuang untuk kita." Lihat saja, Mas. Aku akan jadi pemenangnya. Kamu yang akan kalah dari permainan ini. *** Di dalam taksi, ponselku berdering. Dari Mas Seno. Cinta menoleh ke aku, bertanya siapa yang menelepon. "Kamu dimana? Kok rumahnya kosong?" Dia sudah pulang? "Katanya Mas ada kerjaan di Bandung." Jujur saja, aku sebenarnya sudah muak dengan semua ini. Rasanya kalau boleh, aku ingin melampiaskan semua emosiku sekarang. "Tidak jadi ke Bandungnya, ada pembatalan, masalah kecil. Eh, kamu tadi nelepon Mas?" Aku terdiam. Pasti gara-gara masalah ini, Mas Seno pulang ke rumah. Dia tidak jadi jalan-jalan degan selingkuhannya itu. Yang aku sayangi, kenapa tadi tidak ingat wajah selingkuhannya Mas Seno? Kami duduk membelakangi mereka. Kalau saja duduk berhadapan, aku pasti bisa mengingatnya. Begitu juga dengan Cinta. Dia hanya melihat sekilas, tidak terlihat begitu jelas. Pantas saja, kalau sudah lupa. "Firly?" "Eh, iya, Mas. Tadi Firly nelepon Mas, tapi gak ada sinyal. Memangnya kenapa, Mas?" "Oh. Gak papa, cuma nanya aja. Mas tunggu di rumah, ya." Aku mengiyakan perkataan Mas Seno, langsung mematikan telepon setelahnya. "Mama belum emosi, 'kan, tadi?" Pandanganku beralih ke Cinta. Kemudian menggeleng. Aku memang mengikuti saran Cinta untuk pura-pura tidak tahu di depan Mas Seno. "Nah, bagus." Cinta mengangguk-angguk. Dia mengangkat jempol untukku. Masalahnya, sampai kapan harus begini? Sampai aku lelah? Atau sampai aku menyerah? "Sabar, Ma." Cinta seakan tahu apa yang aku pikirkan. Cinta memang cerdas. Dia mengambil kelas akselerasi, selalu membantuku untuk berpikir, kalau sedang buntu. Hanya saja, entah kenapa aku merasa terbantu dengan hadirnya Cinta di saat seperti ini. Sebenarnya, aku tidak bisa berpikir secara baik sekarang. Otakku penuh dengan berbagai macam pertanyaan. "Ma, kita main secara elegan. Memangnya Mama mau, rumah kita, semua yang kita miliki jatuh ke tangan wanita lain?" Refleks, aku menggeleng. "Untuk sementara ini, ada beberapa rencana dari Cinta. Mama tenang aja, Cinta ada di pihak Mama." Bermain elegan, ya? Aku tersenyum. Baiklah, ikuti saja permainan ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD