"Pokoknya, Mama pura-pura gak tau aja. Jangan sampai Papa curiga, Ma."
Aku mengangguk, kemudian membayar ongkos. Sudah ada Mas Seno yang menunggu di teras rumah. Dia sedang bermain ponsel.
"Habis darimana?" tanya Mas Seno ketika kami sampai di teras rumah.
Aduh, aku lupa mempersiapkan jawaban.
"Mama habis jemput Cinta."
Cinta yang barusan menjawab. Dia mengambil kunci dari tanganku, membuka pintu rumah.
"Oh." Mas Seno mengangkat bahunya, kemudian masuk ke dalam rumah.
***
Aku dan Mas Seno ada di ruangan yang sama. Aku memainkan sisir di tangan, berkali-kali melirik Mas Seno yang sedang senyum-senyum ke ponselnya.
Pasti dia sedang saling balas pesan dengan wanita itu. Aku menyenderkan tubuh ke kursi.
"Fir."
Mendengar Mas Seno memanggil namaku, aku langsung menoleh. Dia menatapku, tidak lagi fokus ke ponsel.
"Kamu tumben cantik banget malam ini."
Mataku menyipit. Ini tidak biasanya.
"Udah cantik dari dulu, Mas."
Mas Seno berjalan mendekat ke aku. Dia menatapku lembut sekali.
"Mas bakalan selalu cinta sama kamu. Selamanya."
Hampir saja aku tertawa mendengar perkataan Mas Seno. Apa katanya tadi? Selamanya? Lalu siapa wanita tadi?
Kami diam cukup lama. Aku menatap Mas Seno yang tampak gelisah. Sepertinya ada yang ingin dia bicarakan.
"Kamu mau bantuin Mas gak?"
Keningku mengernyit. Tumben sekali minta bantuan, biasanya langsung nyuruh.
"Tanda tangan berkas ini, Fir."
Aku menatap dokumen yang diambil Mas Seno. Dia menyodorkan dokumen itu ke aku. Namun, isinya ditutupi, hanya tersisa tempat untuk tanda tangan.
"Kok ditutupin?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
Sebenarnya, aku tahu. Itu adalah dokumen pemindahan kekuasaan. Mas Seno sudah mulai melancarkan aksinya ternyata.
Mas Seo menggaruk kepalanya. "Mas cuma butuh tanda tangan kamu aja. Gak usah baca isinya, gak penting."
Apanya yang tidak penting? Aku menggeleng, beranjak dari kursi. Enak saja, Mas Seno ingin bahagia, lalu aku? Menderita begitu?
"Fir, tanda tangan dulu, dong."
"Kasih tahu isinya dulu padaku, baru Firly tanda tangani."
Kami sama-sama teguh pada pendirian. Hampir setengah jam Mas Seno membujuk. Aku juga ikut menolaknya.
"Sebentar aja buat tanda tangannya. Gitu aja, kok, repot, sih?"
"Kok maksa, sih, Mas?"
"Mas gak maksa, ini itu cuma—"
Pintu kamar diketuk. Kami berdua sama-sama menoleh ke pintu. Setelah ketukan ketiga, ternyata Cinta yang datang.
Cinta tersenyum padaku, dia membawa nampan. Ada dua gelas disana.
"Makasih, Sayang." Cinta meletakkan satu gelas teh di mejaku.
Saat menyerahkan gelas satunya untuk Mas Seno, semuanya tumpah. Aku membuka mulut, ketika tehnya membasahi kertas dan kemeja yang dipakai Mas Seno.
"Eh, maaf, Pa." Cinta langsung mengambil tisu, menyerahkannya pada Mas Seno.
"Lain kali hati-hati, Cinta. Aduh, ini dokumen penting lagi."
Wajah Mas Seno memerah, tetapi dia tidak pernah marah pada Cinta. Sedangkan anak perempuanku itu langsung berjongkok.
Bukannya mengeringkan kertas, Cinta malah menghancurkan kertasnya.
"Yah, ini gak bisa diselamatin lagi, Pa. Kertasnya udah rusak." Cinta mengangkat kertasnya, tapi langsung jatuh ke lantai.
Mas Seno terlihat sekali menahan marahnya. "Gak papa." Terdengar sekali kesalnya, tapi Mas Seno tersenyum.
Ah, berpura-pura di hadapan anak rupanya.
Aku membuang tisu ke kotak sampah, kemudian berjalan ke lemari pakaian. Hendak mengambilkan pakaian ganti untuk Mas Seno.
"Minum ini dulu, Pa. Nanti buat Mama, Cinta buatin lagi."
Mas Seno menatap Cinta lama, kemudian mengambil gelas yang disodorkan oleh Cinta. Aku agak bingung sebenarnya, tapi biarkan sajalah.
"Sambil duduk, Pa." Aku melirik Cinta lagi, dia menegur papanya.
"Gak usah, kelamaan."
Setelah mendapatkan baju ganti, aku menyerahkannya pada Mas Seno. Suamiku balas menyerahkan gelas yang sudah kosong.
"Ma, kayaknya roti yang di atas meja dimakan tikus, deh."
Mataku membulat, kemudian langsung berjalan ke dapur.
Memang benar, sih, rotinya berkurang, tapi ini tidak dimakan tikus, kok.
Aku menoleh ke Cinta yang nyengir.
"Yang makan rotinya Cinta, Ma."
Terus mau ngapain di dapur? Aku menepuk dahi, duduk di kursi ruang makan.
Pembantu kami sedang pulang kampung, maka nya rumah sepi.
Aku dan Cinta mengobrol hampir satu jam. Cinta sedang curhat tentang persiapan acara kempingnya beberapa minggu lagi.
"Firly!"
Buru-buru aku berdiri. Mas Seno berteriak. Entah kenapa dia.
"Beliin obat sakit perut." Mas Seno menyerahkan uang padaku.
Obat sakit perut untuk apa?
Ada bau tidak sedap masuk ke indera penciumanku. Aku menoleh ke Mas Seno, tapi suamiku itu langsung berlari ke kamar mandi.
"Mas kentut, ya?!"
***