"Itu Papa kamu dikasih apa?" Aku bertanya pada Cinta yang sibuk dengan ponselnya. Dia duduk di kursi ruang makan.
Cinta menoleh, terdiam sebentar, kemudian nyengir.
"Tehnya cuma Cinta kasih obat sakit perut, Ma."
Aku menggelengkan kepala. Cinta melirik ke kamarku. Dia menggaruk kepala.
"Gak boleh kayak gitu sama Papa. Sakit perut itu gak enak tau."
Cinta menghela napas. "Sakit mana sama Mama yang dikhanati?"
Eh? Aku merasa tertampar. Cinta menoleh ke aku. "Hati Mama terlalu baik, terlalu lembut. Cinta gak masalah, kalau Mama mau berpisah dengan Papa. Jangan pikirin Cinta lagi, Ma."
Jujur saja, aku memang mempertahankan pernikahan ini demi Cinta, demi anakku.
"Cinta udah besar, udah paham sama semua yang terjadi."
Kami berpelukan. Sungguh, aku merasa bersyukur punya Cinta. Dia mendukungku.
***
Paginya, Mas Seno langsung pergi, tanpa pamit. Sepertinya, dia masih marah padaku.
Cinta juga pergi ke sekolah. Aku ada rencana untuk ketemuan dengan sahabat lamaku. Sudah lama sekali tidak ketemu dengannya.
Setelah bersiap-siap, aku mengunci pintu rumah. Berjalan ke taksi.
Tadi pagi, aku sudah meminta izin pada Mas Seno. Juga meminta maaf, karena kemarin tidak izin kalau keluar rumah.
Ponselku berdering. Tertera nama Amel disana. Ya, sahabat lamaku aku ini namanya Amel.
"Halo, Mel." Aku lebih dulu menyapanya.
"Halo, Firly. Kamu jadi ke rumah makan, 'kan? Soalnya aku udah nyampe, nih."
Aku tersenyum. "Jadi, lagi di jalan."
Akhirnya sampai juga, aku membayar ongkos taksi, kemudian masuk ke dalam rumah makan.
Mataku menyipit, tersenyum ketika melihat seorang wanita yang tampak tidak asing.
"Eh, hai, Firly." Amel langsung berdiri, menyalamiku, kemudian cikipa-cipiki.
"Apa kabar, nih?" tanyanya sambil memesan makanan.
"Baik."
Amel ini sangat dekat denganku saat kami masih duduk di bangku SMA. Dia dulu polos sekali, sekarang gayanya sudah beda, mirip seperti anak muda. Bahkan, kalau Cinta ada, mereka seperti adik-kakak.
"Si Cinta apa kabar, Fir?"
Aku tersenyum. Amel memang tidak datang ke pernikahanku, tapi dia datang ketika aku melahirkan Cinta.
"Baik juga. Kamu gimana sama suami kamu?" tanyaku sambil berterima kasih pada pelayan rumah makan.
Wajah Amel berubah. Dia tampak lebih murung.
"Buruk, Fir. Aku udah lama pisah dari suamiku. Tiga tahun yang lalu."
Mendadak, aku merasa bersalah. Beberapa tahun terakhir ini, Amel memang tidak pernah menghubungiku lagi. Saat dihubungi, nomor teleponnya tidak aktif.
"Rencananya aku mau nikah lagi, Fir."
Nah, ini baru berita bagus. Aku tersenyum, mengusap tangan Amel.
"Semoga itu yang terbaik, ya, Mel. Jangan lupa undang aku, kamu kalau buat acara gak pernah ngundang-ngundang."
Amel terlihat menghela napas. "Kamu janji mau datang ke pernikahan aku, Fir?"
Ya iyalah. Pernikahan pertama Amel aku tidak datang, masa yang kedua ini aku juga tidak datang.
"Iya, dong. Nanti aku bawa hadiah yang besar." Aku tertawa pelan.
"Semoga kata-kata kamu gak akan pernah berganti, Fir."
Eh? Keningku mengernyit, memangnya ada apa?
"Makan dulu, yuk."
Amel seperti mengalihkan pembicaraan. Mendadak, suasana berubah jadi canggung. Aku mengusap tengkuk, sesekali tersenyum.
"Eh, aku ke kamar mandi dulu, ya."
Aku mengangguk, membiarkan Amel pergi ke kamar mandi.
Rumah makan ini cukup ramai. Aku mengaduk-aduk minuman dengan sedotan, menunggu Amel.
Terdengar dering ponsel, aku menunduk, bukan dari ponselku. Pandanganku teralih ke ponsel Amel yang ada di mejanya.
Ingin sekali mengabaikan, tapi kalau penting bagaimana?
Dengan cepat, aku mengambil ponsel milik Amel, menatap layar yang terlihat. Keningku mengernyit.
Nama Seno tertera disana, dengan tambahan emoji cinta. Jantungku seperti berhenti berdetak. Jangan-jangan, Amel adalah wanita itu!
***