Adik Iparku

707 Words
Astaga! Itu tidak mungkin aku rasa. Teringat kembali pesan yang dibalas oleh wanita itu, kemudian aku menelepon wanita simpanan Mas Seno. Sepertinya, wanita simpanan itu tidak kenal denganku dan tentu saja suaranya! Suara wanita itu tidak mirip dengan Amel. Mungkin, ketika di taman, Mas Seno baru saja memberitahukan semuanya pada istri sirinya itu. Ah, tidak mungkin kalau wanita itu adalah Amel. Aku kembali menatap layar ponsel, mungkin bisa dibuktikan, kalau aku mengangkat telepon ini. "Kamu ngapain, Fir?" Saat sudah menggeser tombol berwarna hijau, terdengar suara Amel. Belum juga terdengar suaranya. Tubuhku menegang, Amel langsung mengambil ponselnya dari tanganku. "Aku duluan, Fir. Ini uang untuk bayar makanan. Makasih, ya, buat ketemuan hari ini. Kapan-kapan kita ketemu lagi." Aku masih diam di kursi. Aduh, Amel marah atau tidak padaku, ya? *** Aku sampai di rumah bertepatan dengan Cinta. Dia menggendong tasnya, duduk di ruang tamu. "Mama kemana aja? Panas tau." "Habis ketemu teman lama. Eh, kamu tahu, gak, Cin. Masa sahabat lama Mama nama calon suaminya mirip sama nama Papa." Cinta terlihat terkejut mendengarnya. Aku mengangguk, mengajaknya duduk di kursi. Setelah menceritakan semuanya, Cinta hanya mengangguk-angguk saja. "Gak usah khawatir, Ma. Kayaknya, sih, bukan. Apalagi sahabat Mama itu manggilnya calon. Kalau wanita kemarin, memang udah jadi istri kedua Papa, 'kan?" Aku menghela napas, mengangguk. Memang benar, aku salah mencurigai orang. Pintu rumah diketuk. Aku menoleh ke jam dinding. Ini bukan waktunya Mas Seno istirahat siang. Akhirnya, aku berdiri. Membukakan pintu. Cinta juga ikut berdiri, sepertinya ingin tahu siapa yang datang. "Hai, Mbak Firly. Ah, hai keponakanku yang cantik, tapi masih cantik aku, sih." Ternyata, Sifa—adiknya Mas Seno. Dia membawa koper, juga memakai pakaian bagus. "Eh, mau ngapain, Tante kesini?" Cinta memang tidak suka dengan Sifa. Sebenarnya sama saja, Sifa juga tidak suka dengan Cinta. Hanya saja, Sifa terlihat baik di depan Mas Seno. Itulah yang membuat Cinta tidak suka dengan Sifa. Sifa belum menikah, padahal umurnya sudah kepala tiga. Mas Seno sering mencarikannya laki-laki, tapi tidak ada yang mau dengan Sifa. Mungkin, karena sifatnya itu. "Mau nginep, lah. Mau ngapain lagi." "Udah izin sama Mas Seno?" tanyaku sambil memperhatikan dandanan Sifa. Sebenarnya, kalau aku tidak memperbolehkan Sifa masuk, adik iparku ini pasti langsung mengadu ke mertuaku. "Yaudah, dong, Mbak. Boleh juga, kok. Udah, ah. Mau masuk." Sifa menyuruhku membuka pintu lebar-lebar. Kemudian masuk ke dalam, berjalan ke kamar tamu. "Yah, Mama. Kok malah di biarin masuk, sih?" Cinta cemberut menatapku. Aku mengusap kepala Cinta. "Paling cuma dua hari. Kayak biasanya, sabar aja, Sayang." *** "Ma! Boneka Cinta mana?" Buru-buru aku berlari, ketika mendengar teriakan Cinta. Entah kenapa, dia bertanya boneka padaku. Padahal, aku sedang memasak makan siang. "Hustt, jangan teriak-teriak, Sayang." "Boneka Cinta gak ada." Aku menatap tempat tidur Cinta, memang tidak ada boneka beruang besar disana. Padahal, tadi pagi ada, lho. Kami berdua sama-sama bertatapan. Pasti biang keroknya si Sifa. "Awas aja itu orang, langsung usir aja, lah. Setiap datang ke rumah, pasti ada aja barang Cinta yang hilang. Jangan-jangan, koper yang dia bawa tadi kosong, sekarang udah penuh sama makanan di lemari pendingin." Eh? Aku buru-buru membuka lemari pendingin. Ah, benar rupanya. Bahan makanan yang banyak, sekarang tinggal sedikit. "Tuh, kan. Udahlah, usir aja. Toh, Tante Sifa punya rumah sendiri." Aku mengikuti Cinta yang berjalan cepat-cepat, ke kamar tamu. Belum juga membuka pintu, Cinta sudah menghentikan langkah, membuatku hampir bertabrakan dengannya. "Kenapa berhenti?" bisikku. Kepalaku menatap pintu yang tidak tertutup, masih ada celah sedikit. Jadi, suaranya bisa terdengar keluar. "Tante Sifa lagi teleponan, Ma," bisik Cinta sambil menggeser tubuhnya. Aku membenarkan hijab yang sedikit miring, kemudian ikut mendengarkan suara Sifa. "Iya, lho, Mbak. Aku juga udah kesal sama Mbak Firly. Serasa dia yang punya rumah." Kami berdua sama-sama berpandangan, kemudian kembali fokus mendengarkan. "Pasti. Bakalan aku bantu Kak Seno buat ambil alih semuanya. Aku senang banget, kalau punya kakak ipar kayak mbak. Seenggaknya gak malu-maluin, kalau diajak jalan-jalan." Wah, ngajak ribut, nih. "Pasti Tante Sifa lagi ngomong sama istri keduanya Papa, Ma." Aku mengangguk. Masuk akal. "Haduh, aku udah bosan banget sama kakak ipar kayak Mbak Firly. Pengen Mbak aja." Oh, jadi begitu? Aku meremas jemari. Rupanya pelakor itu sudah dekat dengan Sifa. "Yaudah, nanti kita ketemuan, ya, Mbak. Di tempat biasa aja. Iya, nanti malam. Soalnya, kalau sekarang, bisa curiga si Mbak Firly." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD