Subuh kala itu, Lintang membuka mata dengan malas. Rasa kantuk yang masih menjerat akibat begadang, terasa sulit untuk dikalahkan. Jika bukan karena ada Raga yang menuntut untuk tidur di kamarnya, mungkin Lintang sudah bisa memejamkan mata seperti malam-malam sebelumnya. Namun, ada satu hal yang membuat Lintang mengerutkan dahi. Ia ingat benar, setelah Rama tertidur lelap saat hampir tengah malam, Lintang segera berpindah tidur di sofa sesuai titah Raga. Akan tetapi, mengapa pagi ini Lintang kembali terbangun di tempat tidur? Lintang pun menoleh, menatap Rama dengan posisi tidur yang sudah tidak menentu. Kedua kaki Rama kini melintang di paha Lintang, dan kepala bocah itu ada di sisi tempat tidur yang berbeda. Namun, Lintang tidak melihat Raga ada di tempat tidurnya seperti malam tadi.

