Jealousy

2125 Words
Elvira menatap berang pria dihadapannya. Ia kesal dan marah sekali. Jika bisa, ia akan membunuh pria dihadapannya ini hanya dengan tatapannya saja. Namun yang ditatap seperti tak terpengaruh, dia bahkan hanya meminum kopinya dengan santai.   "Kalvin Leonard! Dimana Alvin?." Tanya Elvira untuk kedua kalinya.   Kali ini Kalvin menatap Elvira kemudian memberinya senyuman. "Jangan terlalu tegang begitu. Santai saja."   "Aku tanya. Dimana anakku?." tanya Elvira tanpa mengurangi tensinya.   Kalvin menghela nafas panjang kemudian menatap Elvira. "Dirumahku. Sejak kemarin dia disana."   "Kau menculiknya!." Hardik Elvira.   Kalvin menarik nafas. "Tidak ada orangtua yang akan menculik anaknya sendiri."   "Omong kosong!."   "Kenapa kau menyembunyikannya?." Tanya Kalvin dengan tenang, tanpa memedulikan Elvira yang masih menatapnya tajam.   "Aku tidak menyembunyikannya."   "Ahh.... Ya.... Kau, mengirim ini padaku." Kalvin mengeluarkan dua buah foto bayi kehadapan Elvira. "Tapi, tanpa keterangan apapun. Benar?."   Elvira tertegun saat melihat foto Alvin yang masih bayi. Ya... Ia memang sempat mengirimkan foto itu pada Kalvin. Sebagai hadiah ulang tahun. Ia mengirimkan foto itu seolah penggemar yang mengirimkan hadiah pada idolanya. Namun, ia tak menduga pria itu masih menyimpan foto tersebut. Ia pikir Kalvin sudah membuangnya.   Saat mengirimkan foto itu Elvira tidak bermaksud apapun, ia hanya ingin Kalvin melihat anaknya juga. Itu saja.   "Kenapa kau tak mencariku? Kenapa kau tak mengatakannya? Akan lebih baik kau marah padaku dan meminta pertanggung jawaban. Bukan seperti ini, kau membuatku terlihat seperti orang bodoh didepan anakku sendiri."   Elvira masih bungkam. Saat itu ia sempat berencana mencari Kalvin, ia bahkan sudah mendapatkan alamat dan kontak pria itu. Tapi ternyata takdir tak selaras dengan semua yang telah ia rencanakan. Orangtuanya melarang pergi menemui pria itu. Ia bahkan tak bisa kemanapun selama lebih dari setahun. Jangankan untuk menemui Kalvin, keluar rumahpun ia tak bisa.   "Elvira... Katakan sesuatu."   Elvira mengerjapkan matanya beberapa kali. "Sudahlah semuanya sudah berlalu, lagipula sekarang kau tau semuanya. Kau bisa menjalani hidupmu sendiri seperti biasanya. Akupun sama. Aku akan tetap seperti ini, tak akan mengganggumu."   "Apa maksudmu?."   Elvira menarik nafas panjang, sebelum akhirnya mengeluarkan suara. "Jangan menggangguku. Kau bisa menemui Alvin kapanpun, atas ijinku."   "Tapi aku ingin bertanggung jawab."   Elvira menatap Kalvin, kali ini ia berujar dengan penuh ketenangan. "Tak perlu. Aku bisa menjalani hidupku sendiri. Selama ini aku--- kami baik-baik saja meskipun hanya berdua."   "Itu hanya perasaanmu saja. Bagaimana Alvin?."   "Alvin baik-baik saja!."   Kali ini Kalvin menatap Elvira tajam. "Jika Alvin baik-baik saja, dia tak mungkin datang padaku dan mengatakan semuanya!." Ia menahan nafasnya. "Jika bukan karena Alvin, aku tak akan tau apapun."   "Alvin? Alvin... Yang mengatakannya?."   Kalvin menghela nafas panjang. "Iya, setelah kita bertemu disekolah, Alvin datang kerumahku beberapa jam kemudian. Dia menjelaskan semuanya yang dia tau, tentang kau, aku dan dia. Aku pun sempat terkejut, aku tak pernah menyangka dia datang dan akan mengatakan hal itu. Dia bahkan meminta agar tes DNA untuk meyakinkanku." ia mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya pada Elvira. "Ini hasilnya, baru keluar tadi pagi."   Elvira hanya menatap amplop coklat itu dalam diam. Tanpa melihat isinya pun ia sudah tau hasilnya seperti apa. Ia sudah tau dengan jelas hasilnya akan 99,99% cocok.   "Aku menahan diri untuk tidak menemuimu setelah memberikan sampel rambut kami untuk tes itu, selain itu Alvin juga memintaku untuk tidak menemuimu sampai hasilnya keluar." Kalvin menghela nafas. "Sekarang semuanya sudah jelas. Alvin anakku. Tak ada alasan lagi kau menjauh dariku. Aku akan bertanggung jawab dan akan menikahimu."   Elvira membasahi bibirnya. Kini ia bahkan menggigit bibirnya itu, gugup sekaligus kebingungan. Ia tak pernah memikirkan tentang itu. Sedikitpun. Bahkan sejak dulu, ia tak pernah berpikir sampai ke tahap itu. Apalagi sekarang... Ada Damian.   Semuanya terasa lebih berat lagi.   "Kau bisa menemui Alvin kapanpun, sesukamu. Tapi tidak dengan menikah bersamaku." Elvira menghela nafas panjang. "Katakan pada Alvin, malam ini untuk pulang." ujarnya pelan bahkan hampir seperti bisikan.   "Elvira...."   "Aku pergi sekarang." ujar Elvira seraya berdiri.   "Jika kau tak ingin menikah denganku, Alvin akan bersamaku selamanya."   Tangan Elvira mengepal, ia kembali berbalik menatap Kalvin dengan tajam. "Aku yang melahirkannya, aku yang merawatnya dan aku yang membesarkannya. Kau tak berhak...."   "Aku berhak melakukannya. Aku tidak melakukannya bukan karena tak ingin. Tapi karena kau tidak mengatakannya padaku. Jika kau tak ingin mengurusnya secara baik-baik, kita bisa gunakan jalur hukum. Aku akan melakukan apapun agar di pengadilan aku yang menang atas hak asuh Alvin."   "Kau--- Kau sangat egois." ujar Elvira dengan nafas tercekat. Setelahnya ia beranjak pergi tanpa ada niatan berbalik lagi menatap pria itu.   Sakit. Ia sungguh sakit mendengar perkataan pria itu. Ia sangat terluka. Tak bisakah dia sedikit lebih berperasaan? Kenapa ucapannya sangat sadis? Kenapa dia berkata begitu jahat padanya? Kenapa begini?.   Seharusnya, ia tidak mengatakan apapun tentang Kalvin pada Alvin. Seharusnya biarkan saja anaknya itu tak mengetahui Kalvin.   Dulu... Saat ia menceritakan tentang pria itu pada Alvin. Tak pernah sedikitpun terpikir dalam benaknya bahwa Alvin akan nekat pergi darinya dengan cara seperti ini. Tidak sedikitpun. Ia juga menceritakannya agar Alvin tau, jika mereka bukan dibuang, mereka tidak ditinggalkan oleh pria itu. Tapi ternyata... Semuanya berakhir begini?. Alvin... Justru ingin bersama Kalvin...   Elvira juga tak tau jika selama ini Alvin tak cukup bahagia hanya dengannya. Ia hanya tau, jika dirinya tidak cukup sempurna untuk Alvin. Namun sepertinya, ia memang tidak sempurna untuk anaknya itu. Perasaan anaknya saja ia tak tau, ia tak mengerti. Padahal selama ini ia yakin telah memberikan semua yang terbaik pada Alvin dan ia juga yakin jika Alvin bahagia hidup dengannya. Tapi ternyata... Alvin... Tidak sebahagia itu hidup dengannya? Hanya ia yang bahagia, tapi Alvin-nya tidak.   Elvira mencengkram kemudi, lalu memukulnya diiringi erangan yang sangat kencang.   ARGH!!!!!   Aku... Ternyata gagal.   ***   Sementara itu Davin baru saja sampai di resort saat hampir makan siang. Begitu sampai, ia dapat melihat Damian dan Cindy masih berpose dibawah pohon yang cukup rindang. Sesekali keduanya berangkulan, sesekali bertatapan dan sesekali hanya berpose manis dengan berdampingan.   Cindy terlihat sangat mempesona.   Namun, sesuatu yang panas mulai menjalar di d**a Davin. Ia tak suka melihat Cindy tertawa bersama orang lain. Ia tak suka orang lain menatap Cindy seintens itu. Ia tak suka Cindy-nya bersama orang lain. Tidak. Ia sangat tidak menyukai itu.   Cemburu? Ya! Ia cemburu!.   Memang siapa yang tidak cemburu melihat seseorang yang masih dicintai malah tertawa dengan orang lain? Apalagi ditatap begitu intens oleh seseorang seperti Damian.   Tatapan Damian itu bahaya. sangat amat bahaya. Tatapannya sangat tenang tapi mampu menenggelamkan. Dan Davin tak suka itu. Ia tak suka Cindy-nya di tatap demikian. Pokoknya tak suka!.   "Dave... Kau ini lapar ya? Kau melihat Damian seperti ingin memakannya saja." tegur Jinna.   "Ya! Aku memang sangat lapar! Hingga ingin rasanya memakan seseorang."   Bukannya takut, Jinna justru tertawa. Dia kemudian menggandeng lengan Davin ketempat Harry yang sudah melambaikan tangan padanya sejak tadi.   "Mana makanan untuk kami?." tanya Jinna begitu sampai di hadapan Harry.   Harry membulatkan matanya. "Kau serius langsung bertanya makanan? Tidak ingin memelukku? Serius?."   Jinna terkekeh pelan kemudian memberi pelukan singkat pada kekasihnya itu. "Jadi, mana makanannya?."   Harry memutar bola mata. Jika sudah lapar, memang begini. Makanan terus yang ada di pikiran Jinna. Tapi meski begitu ia tetap suka. Jinna-nya tetap menggemaskan.   Davin duduk dihadapan Jinna dan Harry dengan melipat tangan didada. Kesal. Tentu saja.   Hey ia kesini bukan untuk menjadi obat nyamuk.   Makanya begitu makanan datang Davin langsung menyantapnya tanpa basa-basi lagi. Daripada ia harus melihat dua orang didepannya ini bermesraan kan?.   Ketika Davin menikmati makanannya ia sempat mencuri pandang pada Damian yang kini sedang berbicara dengan seorang pelayan. Ia menatap sekelilingnya, mencari Cindy. Tapi tak ada.   Sudahlah. Lebih baik ia makan dulu daripada mencarinya begitu. Namun tak lama kemudian Cindy terlihat membawa nampan seraya menghampiri Damian. Keduanya tampak berbincang dengan sangat santai.   Cindy bahkan tertawa sangat lepas saat melihat Damian terbatuk dan entah karena hal apa lagi. Intinya mereka berbincang dengan sangat akrab. Yang terlihat sangat menyebalkan dimata Davin.   Davin menghempaskan sumpit ditangannya lalu meneguk segelas air dihadapannya dengan cepat.   Panas didadanya semakin meraja lela. Apalagi saat melihat Damian dengan tidak sopannya menyentuh kepala Cindy, mengelus puncak kepala perempuan manisnya itu dengan gemas.   Davin meraih sumpitnya lagi. Kemudian menghabiskan makanannya dengan tatapan tak lepas dari dua orang dewasa itu.   Tapi itu tak berlangsung lama. Davin kembali menggeram saat melihat Cindy mendekatkan diri pada Damian.   Sudah! Ia tak kuat lagi!   Davin berdiri setelah menghentakkan sumpit ditangannya. Membuat Jinna dan Harry berpaling.   "Kau mau kemana?."   "Berteduh. Disini panas." ujarnya seraya beranjak pergi.   Jinna dan Harry saling berpandangan, merasa aneh dengan tingkah Davin.   Berteduh?   Perasaan tempat mereka duduk tidak terpapar sinar matahari dan disini pun cukup sejuk karena di kelilingi banyak pepohonan.   "Davin aneh sekali." gumam Harry pelan yang hanya di tanggapi kedikan bahu oleh Jinna.   Davin memang sangat aneh akhir-akhir ini. Pikir Jinna.   ***   Sementara itu disisi lain, begitu ia mendapatkan istirahat, Damian sempat kebingungan karena tidak mendapati Elvira ditempat itu, namun pelayan bilang jika Boss-nya itu pulang lebih cepat karena ada urusan mendadak. Damian pun memahaminya. Ia tak ambil pusing dengan hal itu.   Sehingga kini, saat istirahat tiba ia hanya duduk seorang diri saja.   "Damian...."   Damian menoleh ke kanannya. Itu Cindy. Dia datang kearahnya dengan membawa nampan berisi makanan dan dua gelas jus.   "Untukku?."   Cindy mengangguk. "Kau pasti lelah. Manager-mu juga aku lihat malah pacaran." ujarnya seraya terkekeh pelan.   Damian meneguk jus itu untuk mengisi tenaganya. Karena memang itu yang ia butuhkan. "Low sugar... Darimana kau tau aku tak begitu suka manis? Kau benar-benar ingin menjadi pacar-ku ya?." goda Damian kemudian menikmati jus nya lagi.   Cindy terkekeh pelan. "Jus ini Kyra yang buatkan. Bukan aku."   Uhuk!   Damian menepuk-nepuk dadanya beberapa kali. Efek terkejut, membuat ia tersedak minumannya sendiri.   Cindy malah terkekeh lagi. "Kau ini kenapa? Kau terkejut ya mendengarnya?."   Damian menarik nafas, ia meminum jusnya lagi sebelum berujar. "Aku tak apa. Hanya terkejut saja. Aku pikir kau yang membuatnya."   Cindy mendesis. "Percaya diri sekali." jeda sesaat. "Sejujurnya kau bukan type-ku. Aku akan makan hati setiap saat jika menyukaimu."   Damian terkekeh mendengar penuturan Cindy. "Baguslah."   "Tapi Damian... Sepertinya Kyra... Dia menyukaimu." ucap Cindy pelan.   "Ah... Begitukah?." tanya Damian datar.   Cindy mengangguk. "Sejak pertama kali aku bergabung diperusahaan, dia selalu memperhatikanmu. Aku pikir dia pasti tau satu atau dua hal tentangmu. Ini contohnya kan?."   Ekspresi Cindy berubah, ia sedikit merengut. "Tapi sejak dia mendengar bahwa kau akan menikahi pemilik resort ini. Dia murung. Semalam saja dia terus diam, tidak mengajakku berbicara."   "Lalu?." Damian menatap kearah Cindy. "Kau mencoba menjodoh-jodohkanku dengannya hm?."   "Ah... Ketahuan ya?." tanya Cindy seraya memamerkan senyumannya, sangat menggemaskan.   Tangan Damian terulur mengusak puncak kepala Cindy dengan gemas. "Kau ini."   "Aku serius Damian...."   "Maaf... Aku tak bisa memberimu hal yang serius-serius."   Plak!   Cindy memukul lengan Damian dengan kencang. "Kau ini! Benar-benar ya...."   Damian malah tertawa menanggapinya. "Sudah kau tak perlu membicarakan hal itu."   "Tapi... Tolong pikirkan... Tolong hargai perasaan sahabatku.... Hm?." pinta Cindy sambil mengeluarkan sikap manis-nya.   "Kau ini ingin aku suka pada sahabatmu atau ingin aku menyukaimu? Kenapa kau malah melakukan itu dihadapanku?."   "Mau mendengar sesuatu yang sangat jujur dariku Damian?."   Damian mengerutkan keningnya. "Hm? Apa itu?."   Cindy mendekatkan bibirnya ke telinga Damian. "Aku sedang membuat cemburu seseorang."   Damian membulatkan matanya. "Apa? Siapa itu?."   Cindy melirik kearah Davin, Harry dan Jinna.   Damian membulatkan matanya. "Kau menyukai Harry?!."   Plak!   Cindy memukul lengan Damian lagi. Membuatnya mengaduh pelan.   "Damian kau ini benar-benar ya... Tidak peka sekali! Kenapa aku harus suka calon suami orang?."   "Lalu? jangan-jangan......"   Damian segera meraih tangan Cindy yang siap memukulnya lagi. Kali ini ia tersenyum menggoda.   "Aku tau... Kau suka pada Finn-kan?."   Cindy mengulum senyumannya. Ia tak akan menyembunyikan hal ini lagi dari Damian. Setidaknya Damian harus tau, karena dia adalah sahabat dari seseorang yang ia cintai.   "Mau aku dekatkan hm?."   Cindy menggeleng. "Tidak Damian. Aku akan mengusahakannya sendiri. Hanya, tolong pastikan rahasia ini aman ya... Kyra bahkan tak tau ini. Hanya kau saja."   Damian melipat tangan didada. "Kalau begitu. Kau harus memberikanku imbalan."   Cindy memutar bola matanya. "Iya iya... Akan aku berikan imbalan nanti."   "Ok. Kau harus menepatinya."   "Ok. Atau --- mau imbalannya sekarang?." Tanya Cindy seraya menyeringai.   "Boleh."   Damian menatap Cindy yang memutar badannya, juga menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Kemudian tangannya terangkat.   "Kyra. Sini."   "Ada apa Hyung?."   "Duduk."   Kyra hanya menurut. Dia duduk berhadapan dengan Damian.   "Nah... Damian. Ini imbalanmu. Nikmati waktu kalian ya... Aku makan siang dulu. Bye...." ujar Cindy kemudian berlalu meninggalkan keduanya dengan senyum jenaka diwajahnya.   Damian mendesis, ia menatap Cindy sesaat kemudian menatap Kyra yang terlihat canggung didepannya.   Apa yang harus Damian lakukan sekarang? Kenapa ia justru merasa terjebak?.   "Kau bisa kembali bekerja." ujar Damian.   "Damian...." Kyra tau, ia sudah di usir secara halus. Tapi ia tak ingin menyerah. Ini kesempatannya.   "Aku ingin sendiri. Selain itu, aku tak ingin membuat Elvira salah paham karena tau aku duduk bersamamu."   Elvira... Mendengar nama itu rasanya perih sekali bagi Kyra.   "Aku ingin bertemu Ara."   Damian menghela nafas panjang, tanpa mengatakan apapun lagi ia justru beranjak pergi meninggalkan Kyra yang hanya menatapnya sendu.   Damian sudah memberinya kesempatan, dan itu sudah cukup. Ia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang sekarang.   Bersama Ara dan juga... Elvira beserta Alvin.   ***   Bersambung...   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD