Seseoran mengatakan. Apapun yang kau pilih, penyesalan akan selalu mengikutinya.
Itulah yang Kyra rasakan.
Seharusnya ia lega karena Damian tidak mengganggunya lagi. Bahkan Damian seolah menganggapnya tak ada. Seharusnya ia lega bukan?
Tapi entah kenapa justru ia merasa sangat menyesal.
Seharusnya ia mempertimbangkan tawaran Damian, seharusnya ia tak menggelengkan kepala seperti itu!.
Setiap manusia bisa berubah, begitupun Damian. Tapi kenapa kemarin ia tidak memberi kesempatan pada pria itu?.
Bodoh! Aku memang bodoh.
Kebodohannya terasa semakin menjadi saat dengan telinganya sendiri ia mendengar Damian mengajak seseorang bernama Elvira itu menikah. MENIKAH!!!
Satu hal yang ia inginkan, namun tak ia dapatkan dari Damian.
Salahnya memang, seharusnya kemarin ia mengiyakan. Ia hanya terus berburuk sangka pada pria itu, padahal belum tentu dia selalu begitu. Ia kemarin tak berpikir bahwa Damian akan berubah. Tapi ia salah, Damian justru sudah berubah. Namun sepertinya ia tak menyadari itu. Ia memendam terlalu banyak kekecewaan pada pria itu sehingga membuatnya bias dan tak bisa melihat sisi baiknya.
"Shin...." Panggil Kyra pada Cindy yang sedang berjalan ke arah kamarnya.
"Hm? Kenapa?." Tanya Cindy seraya mendudukkan diri didekat Kyra. Sebenarnya ia memang sejak tadi ingin mengajak Kyra bicara, tapi ia masih ingin menjaga privasi sahabatnya itu.
Kyra menyandarkan kepalanya di bahu Cindy, mencari kenyamanan.
"Ky... Sebenarnya ada apa? Kau sangat aneh akhir-akhir ini."
Kyra menarik nafas dengan berat beberapa kali sebelum akhirnya buka suara.
"Shin... Jika aku bilang... Aku memiliki masalalu dengan Damian, apa kau percaya?."
"Siapa? Damian? Bagaimana bisa?."
"Kau percaya tidak?." Tanya Kyra seraya menatap Cindy.
"Apapun yang ada di dunia ini mungkin terjadi, jadi aku percaya."
"Kau bisa cerita padaku, disini hanya ada kita. Aku jamin akan menyimpan rahasiamu."
Kyra menghela nafas panjang, ia menegakkan posisi duduknya lalu menatap Cindy.
"Awalnya aku ingin menyimpan ini sendiri. Tapi sepertinya aku tak bisa...." Jeda sesaat, ia kembali menarik nafas panjang. "Dulu sekali, aku berhubungan dengannya. Tapi aku meninggalkannya karena aku tak bisa terus dengannya jika tanpa ada kepastian. Aku meninggalkannya bersama anak kami."
"Tunggu.... Jadi...."
Kyra mengangguk. "Ara, anakku."
Cindy membulatkan matanya seraya membuka mulut takjup. Ia tak menduga hal itu sama sekali. Dibalik Kyra yang tak ingin berkencan atau memiliki kekasih ternyata ada kisah mengenai Damian. Memang, pantas saja Kyra tak ingin yang lain. Damian ini sempurna, seperti yang selalu ia katakan.
Yang mencintainya sepihak saja akan susah move on, apalagi yang saling mencintai hingga berhasil seperti itu.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu Ky?." Cindy menghela nafas. "Aku bahkan tadi dengar kalau Damian sedang menjalani hubungan yang serius dengan pemilik resort ini. Kau pasti sangat terkejutkan?."
Kyra mengangguk. "Bukan Damian sekali. Damian seseorang yang independent, tapi tiba-tiba menjalin komitmen." Jeda sesaat. Ia menarik nafas dalam. "Seharusnya aku sadar kalau manusia akan selalu berubah."
Cindy merangkul Kyra, ia bahkan meremas pundak sahabatnya itu. Memberi sedikitnya kekuatan yang ia miliki.
"Pasti sangat berat untukmu. Aku... Tak bisa membantu apapun."
Kyra menggeleng kemudian kembali menyandarkan kepalanya pada bahu sempit Cindy. "Terimakasih sudah mau mendengarkanku, aku sedikit lega sekarang."
Cindy mengelus pundak Kyra lagi seraya bergumam pelan. Ia memang tak bisa berbuat apapun selain hanya memberi sahabatnya ini dukungan dan semangat.
***
Cindy yang kini sudah berada di kamarnya sendiri masih saja terlihat bingung, ia bahkan terus mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengingat cerita Kyra barusan, ia justru kembali ingat ucapan Davin yang mengatakan ia akan terluka jika mendekati Damian. Apakah karena ini? Begitu kah?.
Apakah Davin tau Damian memiliki hubungan dengan Kyra?.
Benar, dia pasti tau. Karena itulah dia memperingatiku.
Entah kenapa, membayangkannya saja membuat Cindy tersenyum kecil. Tidak, ia bukan bersenang-senang diatas penderitaan Kyra. Tapi setidaknya sekarang ia tau, jika Davin masih peduli padanya. Davin masih perhatian padanya juga.
Kali ini bahkan senyuman Cindy semakin melebar, dadanya kembali menghangat.
Davin-nya... Masih peduli. Apakah ia masih memiliki kesempatan? Apakah Davin juga masih memiliki perasaan yang sama seperti perasaan yang ia miliki?
Cindy meraih ponselnya, ia melihat portal berita. Ia ingin melihat perkembangan skandal Davin yang membuat mood-nya kemarin memburuk.
Cindy sedikit membulatkan matanya saat melihat berita tentang Davin, dia mengklarifikasi semuanya. Davin mengatakan jika dia dengan aktris itu hanya berteman saja.
Jadi yang kemarin apa? Apakah Davin sengaja menunda klarifikasi itu karena kedatangannya? Benarkah begitu?.
Apakah Davin ingin menguji perasaannya?.
Cindy tersenyum tipis. Ia semakin merasakan kehangatan menjalar diseluruh dadanya. Perasaan nyaman ini. Ia semakin yaki, jika Davin memang masih menyimpan perasaan yang sama.
Apakah ini pertanda hubungan mereka bisa kembali membaik? Begitukah?.
Cindy mengeluarkan smirk-nya. Merencanakan banyak hal untuk melihat perasaan Davin padanya. Masihkah perasaan mereka sama? Masihkah Davin merasakan perasaan yang ia rasakan hingga saat ini?.
Baiklah. Davin. Sekarang giliranku!. Tekadnya.
***
Pagi ini terasa sedikit berbeda bagi Elvira. Karena biasanya ia akan terbangun seorang diri, tapi kali ini tidak. Ada Damian disampingnya.
Elvira memiringkan badan, ia menatap Damian yang masih tertidur dengan tenang di sisinya. Mereka berdua semalaman bercerita panjang tentang masalalu dan tentang anak mereka. Sebenarnya bukan tentang mereka berdua, tapi hanya tentang Damian. Damian menceritakan semuanya. Dari saat dirinya masih muda dan hubungannya dengan Ibu dari anaknya yang ternyata manager dari artis yang ia temui kemarin. Sampai akhirnya Damian malah tertidur di kamarnya.
Ngomong-ngomong tentang manager itu, dia terlihat sangat manis dan cantik, bahkan dia lebih pantas jadi model daripada manager. Elvira akui, memang pantas jika Damian dulu menyukainya. Atau bahkan sekarang?.
Jujur, ada hal aneh yang Elvira rasakan saat Damian bercerita tentang perempuan manis itu. Tapi ia tak bisa berbuat apapun, karena itu bukan urusannya. Dia hanya bagian masalalu Damian dimana tak ada dirinya didalam sana. Jadi ia tak perlu ikut campur bukan?.
"Good morning...." Sapa Elvira saat Damian mulai mengerjapkan mata, terjaga.
Damian mengusap wajahnya sesaat kemudian tersenyum menatap Elvira. "Good morning."
"Morning kiss?." Tanya Damian seraya meraih Elvira dalam pelukannya.
"Hey!." Elvira menahan kening Damian dengan telapak tangannya diiringi kekehan pelan. "Morning kiss apanya? Sebaiknya sekarang kau bangun dan segera sarapan. Aku juga harus bersiap sekarang." Ucap Elvira seraya beranjak dari pembaringan.
"Kemana?."
"Mengantar Alvin dulu."
"Kau bisa menggunakan sopir."
"Memang, tapi kasih sayang tak bisa di wakilkan oleh sopir Damian." Ujar Elvira seraya tersenyum pada Damian.
Damian menghela nafas. Ia pun mendudukan dirinya. "Kau menyindirku?."
"Aku? Tidak. Aku tidak bermaksud begitu. Sungguh."
Ponsel Elvira berdering, menginterupsi percakapan mereka berdua. Sebuah panggilan dari Alvin.
"Hallo... Alvin. Mama akan segera pulang. Tunggu hm? Nanti Mama antar."
"Ma...."
Elvira mengerutkan keningnya mendengar kata itu yang keluar dari Alvin. Biasanya jika begitu, sesuatu terjadi pada anaknya. Ada apakah? Kenapa perasaannya menjadi tak enak?.
"Tunggu. Mama akan kesana."
"Tidak. Ma... Maksudku. Alvin akan pergi dengan sopir saja. Jika Mama masih sibuk... Tak perlu khawatir. Alvin akan baik-baik saja."
"Tapi kau membuat Mama khawatir."
"Alvin baik-baik saja. Alvin menelpon hanya ingin mengatakan itu. Mama akan lelah jika bolak-balik mengantarku. Jadi Alvin akan berangkat sendiri."
Elvira menghela nafas panjang. "Baiklah. Hati-hati dijalannya ya... Jika ada apapun, katakan hm?."
"iya.... Hmm sudah dulu Ma. Alvin ingin sarapan."
"Hm... Sarapan yang banyak. Bye... Sampai nanti."
Elvira menghela nafas panjang seraya menatap ponselnya. Alvin memang terkadang begitu. Jika ia sedang mengurusi resort ini dan ada beberapa resort lain diluar kota, dia selalu menolak untuk diantarkan dengan alasan takut jika dirinya lelah. Tapi tetap saja, rasanya kecewa saat mendengar perkataan itu. Ia justru lebih senang, Alvin merengek meminta untuk ia antar atau jemput.
"Sudah... Alvin sudah remaja. Dia pasti khawatir padamu dan ingin memiliki waktunya sendiri juga." Damian memeluknya. "Jangan sedih begini."
Elvira menghela nafas panjang. Anaknya... Sudah remaja. Memang benar, terkadang dia ingin waktu untuk dirinya sendiri. Tapi tak apa, selama itu hal baik. Tak akan masalah menurutnya.
"Sekarang sebaiknya kau mandi dan ganti baju, setelah itu kita sarapan bersama. Bagaimana?."
"Aku tak enak pada...."
"Jangan dipikirkan. Aku akan menjemputmu kesini lagi setelah selesai mandi dan berganti pakaian di kamarku."
Elvira mau tak mau hanya mengangguk. Aura d******i Damian memang sangat terasa, hingga mampu membuatnya hanya mengangguk patuh.
"Aku ke kamarku sekarang." Ujar Damian sebelum akhirnya beranjak.
Elvira menghela nafas panjang. Damian terlihat sekali sangat memperjuangkannya. Damian bahkan berterus terang semuanya demi meyakinkan dirinya. Tapi entah kenapa... Ia masih belum seyakin itu pada Damian.
Ia memang menyukai pria itu. Tapi.... Ia belum yakin....
"Tak perlu terburu-buru. Kau bisa gunakan waktumu selapang mungkin untuk berpikir."
Elvira menganggukkan kepalanya, benar ia masih memiliki banyak waktu untuk berpikir. Tak perlu dipusingkan dari sekarang bukan?.
***
Disisi lain, perasaan Davin benar-benar buruk setelah perdebatan kecilnya dengan Cindy di lobi agensi beberapa hari yang lalu. Ia terus saja kepikiran Cindy dan Damian. Bagaimanapun ia yakin jika Damian memiliki hubungan dengan manager Cindy, ia hanya tak ingin Cindy terluka jika pada akhirnya mengetahui itu.
Davin hanya mengkhawatirkan perempuan manisnya itu. Tapi kenapa Cindy tak ingin mendengarkannya?.
Pikirannya bahkan semakin kalut saat melihat beberapa foto Cindy dan Damian yang dikirimkan Harry pada Jinna. Cindy terlihat sangat bahagia dan begitu nyaman dengan Damian.
Davin hanya khawatir. Ya, ia hanya khawatir. Ia takut terjadi sesuatu pada Cindy, ia hanya takut perempuan terkasihnya tersakiti.
"Dave...." Tegur Jinna. "Ayo, kita harus berangkat sekarang."
Hari ini jadwalnya memang sudah dimulai kembali setelah libur yang cukup lama. Ia akan melakukan pemotretan sebuah majalah dan sedikit melakukan interview.
"Jinna apa jaraknya dekat dengan resort yang dipakai Damian?." Tanya Davin begitu keduanya memasuki mobil.
Jinna tersenyum seraya mengangguk. "Kenapa? Mau berkunjung?." Tanyanya antusias.
Davin terkekeh pelan. "Sepertinya kau sangat merindukan Harry ya?."
Jinna terkekeh pelan, wajahnya kini bahkan memerah merona saat mendengar godaan dari Davin.
"Baiklah nanti kita bisa berkunjung."lanjut Davin.
Dengan ia berkunjung kesana, ia bisa bertemu dengan Cindy juga kan? Ia bisa melihatnya secara tidak langsung.
"Tapi nanti kau lelah... Tak apalah tak perlu berkunjung..."
Davin membulatkan matanya. "Kenapa begitu? Tidak tidak... Aku tidak lelah. Aku yakin kau ingin bertemu Harry kan? Kita bisa kesana."
"Aku bisa mengunjunginya sendiri nanti. Lagipula hari ini pemotretan mereka juga selesai."
"Justru itu. Kau harus kesana menikmati resort mewah itu!."
Jinna melirik Davin sesaat. "Kau ini sangat aneh, biasanya tak suka liat aku terus terusan bersama Harry."
Davin gelagapan. "Itu... Ya... Ya manusia bisa berubah... Aku juga butuh penyegaran. Butuh sedikit liburan."
Jinna menganggukinya tanpa curiga lagi. "Hmm... Baiklah kalau begitu."
Davin mengulum senyumannya. Yess!!!! Membayangkan akan bertemu dengan Cindy membuatnya merasa lebih baik. Setidaknya, melihat dari kejauhanpun tak apa.
perempuan itu. Meski terlihat pemarah, tapi sangat manis.
Ahh... Membayangkannya saja membuatnya sangat bahagia.
Ia kali ini bersyukur atas hubungan Jinna dan Harry yang ternyata pada akhirnya memberi manfaat untuk dirinya juga.
***
Elvira menolak panggilan asing yang terus saja masuk, mengganggu pekerjaannya.
Hari ini pekerjaannya sangat banyak, ia harus segera menyelesaikan ini atau ia harus menginap kembali dan menyelesaikannya esok hari.
Damian benar-benar menginvasi seluruh pikirannya sejak kemarin pagi, setelah pertemuan singkat itu. Siangnya bahkan ia menyempatkan diri melihat Damian yang sedang melakukan pemotretan kemudian dilanjut dengan membuat kudapan yang tak ada dalam agendanya untuk mereka semua, lalu sore nya yang ia niatkan untuk istirahat sejenak. Menjadi istirahat panjang hingga malam dengan menghabiskan waktu hanya berdua.
Damian benar-benar membuatnya nyaman sejak kemarin. Dia mampu membuatnya merasa tenang.
Sentuhan lembutnya, rangkulannya dan juga pelukannya. Semuanya... sangat nyaman. Bahkan tatapan lembutnya saja selalu sukses membuatnya tersipu malu sekaligus membuatnya semakin ingin berlama-lama tinggal dengan pria itu.
Elvira... merasa nyaman didekat Damian. Itu saja.
Beberapa saat kemudian Elvira menerima sebuah pesan setelah deringan panggilan lain yang ia abaikan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenali.
Elvira membulatkan mata saat membaca isi pesan itu.
---
Lihat siapa yang sedang bersamaku.
---
Secepatnya Elvira mendial nomor yang sangat mengganggunya itu.
Bagaimana bisa dia sedang bersama Alvin-nya? Siapa dia?
Sebenarnya siapa orang ini?
"Dimana Alvin?! Jangan menyakitinya! Jika kau ada urusan denganku jangan sakiti anakku!." Ucap Elvira begitu panggilan itu dijawab.
"Hallo Elvira."
Deg!
Jantung Elvira berdebar dengan kencang saat mendengar suara itu. Perasaan takut mulai menyelubungi setiap sudut dalam dadanya. Perasaan kalut ini---.
"Kau...."
"Aku Kalvin Leonard. Alvin Kalr's Father. Ah... Mungkin lebih baik, Alvin Leonard?."
Elvira mematung.
Bagaimana, dia bisa tau?.
***
Bersambung....
***