Elvira tak tau jika mengenal Damian akan berefek sekuat ini. Ia bahkan tak bisa berhenti tersenyum saat terbayang si super model itu.
Damian, dia adalah pria dengan sejuta pesona, ia akui itu.
Wajahnya yang rupawan, senyumnya yang menawan, tawanya yang mempesona. Semua yang ada pada Damian sangat indah, sangat sempurna.
Lamunannya tersadar saat ponselnya berdering. Sebuah telepon dari nomor baru.
"Hallo...."
"Hallo Elvira...."
Elvira menahan nafas begitu mendengar suara itu.
"Ini aku... Damian...."
Elvira mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Elvira...."
Akhirnya Elvira menarik nafasnya. "Ah ya Da-Damian...."
"Kau sedang apa? Apa aku mengganggumu?."
"Aku? Aku baru saja ingin tidur. Bagaimana denganmu?."
"Aku baru sampai. Terimakasih ya untuk makanannya. Makanan terbaik yang pernah aku makan..."
Wajah Elvira memanas. "Ah benarkah? Terimakasih... Aku juga merasa terhormat kau datang ke rumahku."
"Ah... Ini nomor ponsel pribadiku. Kau bisa menyimpannya."
"Ahh... Begitu...."
"Hmm... Yasudah... Sebaiknya kau segera beristirahat. Selamat malam...."
"Iya... Kau juga Damian. Selamat malam...."
Elvira memandangi ponselnya begitu panggilan berakhir. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat. Tunggu... Itu Damian yang baru saja berkunjung kerumahnya? Benarkah?.
Damian memang meminta nomor ponselnya tadi, dia bilang agar lebih mudah jika ada sesuatu mengenai Ara. Tapi Elvira pikir... Damian tak akan menghubunginya secepat ini. Ini... Terasa tiba-tiba... sangat mendadak.
Elvira... Bangun! Dia hanya dekat karena anaknya. Bukan karenamu....
***
Damian berangkat bersama Harry ke sebuah resort yang akan menjadi tempat pemotretan mereka. Menurut kabar, resort itu sudah di booking untuk dua hari ini demi terjaganya privasi pemotretan yang akan dilakukan di berbagai tempat di dalam resort.
Begitu sampai ternyata Cindy sudah datang, tentu saja dengan Kyra.
Damian menghela nafas panjang kemudian mendekati Cindy yang melambaikan tangan padanya. "Sudah lama?."
Cindy menggeleng pelan. "Kami juga baru saja sampai. Ayo kita jalan-jalan dulu." Ujarnya seraya meraih tangan Damian.
Awalnya Damian juga terkejut, tapi akhirnya ia membiarkan saja Cindy merangkul tangannya. Bukan masalah besar, lagipula mereka sekarang satu agensi yang sama.
"Aku tak tau Danies akan menyewa tempat seindah ini Damian. Apakah dia biasanya memang royal?."
"Aku tak yakin, dia memang baik. Tapi mungkin kali ini dia akan mendapatkan untung lebih banyak daripada modal yang ia keluarkan. Jadilah dia berani menyewa tempat ini." Damian melihat-lihat area taman yang cocok untuk dijadikan salah satu set-nya. "Aku pikir disana sangat indah. Bukan begitu?."
Damian menatap kearah taman yang lengkap dengan beberapa set kursi dan meja. Taman itu cukup teduh karena di kelilingi banyak pohon palm yang cukup tinggi.
Cindy mengangguk setuju. "Tapi Damian... Produser juga bilang, katanya ingin pemotretan dalam kolam."
Damian terkekeh pelan. "Begitu kah? Dasar. Mereka memang sengaja ingin mengekspose-mu."
Saat berjalan memasuki area lainnya Damian melihat seseorang yang mirip dengan seseorang yang ia kenal, dia sedang berdiri dengan beberapa orang lain disekitarnya.
"Dia pemilik resort ini... Namanya, Elvira Karl."
"Elvira?." Damian membulatkan matanya.
Cindy mengangguk. "Kau mengenalnya?."
Damian sebenarnya tak yakin. Itu adalah Elvira yang ia kenal ataukah bukan. Tapi kemudian ia melepaskan rangkulan tangan Cindy untuk mendekati perempuan itu.
"Elvira...."
Perempuan itu berbalik kemudian tersenyum lebar. "Damian!."
"Aku tak tau kau memiliki resort ini."
"Bukan milikku. Tapi milik Ayahku. Apa kau yang akan pemotretan?."
Damian hanya menganggukinya.
"Wah... Ini sangat kebetulan."
Damian terkekeh pelan, tangannya bahkan terulur meraih lengan kanan Elvira. "Mungkin... Ini takdir?." Tanyanya yang dihadiahi sebuah kekehan juga oleh Elvira.
"Takdir? Benarkah?." Goda Elvira.
Damian tersenyum. "Benar. Memang kau tak percaya takdir?."
"Tentu saja aku percaya. Hmm Damian... Maafkan aku, aku harus kembali bekerja sekarang. Nanti aku akan melihatmu. Tak apa kan?."
Damian mengangguk. "Selamat bekerja. Hubungi aku nanti hm?."
Elvira hanya menganggukinya, setelah itu ia beranjak pergi.
Damian menarik nafasnya dalam. Tiga hari mengenalnya, dia sosok yang samgat unik menurut Damian. Elvira memang menarik. Apalagi ketika dia berbicara banyak hal mengenai kegemarannya dan juga hari-harinya.
"Kau benar-benar mengenalnya Damian?."
Damian mengangguk. "Aku mengenalnya dari Ara. Dia yang selalu merawat anakku."
Cindy hanya menatap aneh. Berbeda dengan Kyra yang menatapnya dengan sedih. Ia tak menduga, Damian akan dengan cepat bertemu dengan orang lain lagi.
"Anakmu?."
Damian mengangguk. "Ara ingin aku menikah dengannya."
"Wow! Kau serius?."
Damian mengangguk lagi. "Aku sedang memikirkannya dan mengusahakannya."
Cindy berdecak. "Kalau begitu aku tak bisa menjadi pacarmu."
"Kenapa tiba-tiba?." tanya Damian diiringi kekehannya. "Kau benar-benar menyukaiku ya?."
"Siapa memangnya yang tidak menyukaimu?." tanya Cindy seraya berjalan lagi.
Damian terkekeh pelan. "Ada. Bahkan seseorang sangat membenciku?."
"Bagaimana bisa seseorang membencimu? Aku rasa dia sangat aneh."
"Semua orang berhak menilaiku berdasarkan presepsi mereka."
"Ya... Tapi menurutku itu tetap saja aneh." ucap Cindy.
Setelah berbincang beberapa saat akhirnya mereka menuju lokasi pengambilan gambar setelah di panggil manager mereka masing-masing. Keduanya menempati tempat yang berbeda untuk bersiap, sehingga sedikitnya melegakan bagi Damian.
Sungguh, berdekatan dengan Kyra membuatnya sedikit sesak. Bahkan melihatnya pun membuatnya sangat lelah. Ia hanya masih kecewa dengan penolakan perempuan itu. Sangat kecewa malah, selama ia menunggu tapi penolakan yang ia dapatkan. Bahkan sebuah penolakan tanpa kesempatan.
Dulu Damian di tinggalkan tanpa alasan, dulu... Dulu sekali, dia pergi begitu saja tanpa sepatah katapun. Dia hilang seolah ditelan bumi.
Saat itu Damian terpuruk, sangat. Bagaimanapun Kyra adalah cintanya. Ia juga saat itu sedang berusaha menjadi seseorang yang baru, ia berusaha menjadi seseorang yang berguna dan bisa memenuhi keinginan cintanya itu. Tapi sayang... Kyra bahkan pergi sebelum ia berhasil memberikan cincin yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri.
Siapa yang tak akan terluka, jika ditinggalkan dalam keadaan seperti itu? Saat ia sudah menyiapkan semua hal untuk masadepan mereka. Disaat ia berjuang untuk dirinya, tapi semuanya tampak sangat sia-sia.
Meski saat itu ia masih sangat muda. Tapi ia yakin, menjalin suatu hubungan tak akan seburuk itu. Namun ternyata Kyra pergi sebelum ia melakukan semuanya. Sejak saat itulah Damian tak pernah ingin lagi jatuh cinta, apalagi memulai komitmen.
Kemarin saat Kyra muncul dihadapannya, harapannya seketika muncul kembali. Entah kenapa, Damian masih sangat berharap pada perempuan itu. Bahkan dadanya masih merasakan debaran yang sama ketika melihat sosok cantik itu dihadapannya lagi.
Tapi sepertinya, Kyra yang kini bukan Kyra yang dulu. Dia bukan lagi Kyra yang memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia bukan Kyra-nya yang manis lagi, dia bukan Kyra-nya yang memberinya cinta.
Dan itu.... Membuatnya sangat kecewa, sedih dan merasa terluka.
Dulu... Ia yang ditinggalkan. Ia yang di campakkan. Tapi itu tak membuat semangatnya surut untuk mendapatkan perempuan itu. Tapi ternyata... Kyra menolaknya. Lagi-lagi... perempuan itu melukainya dengan telak.
Bahkan kali ini terasa lebih sakit daripada saat ia ditinggalkan dulu.
Penolakan itu, terasa lebih menyakitkan daripada saat ia ditinggalkan.
Beruntunglah Damian memiliki malaikat kecil yang bisa membuatnya hidup kembali, Ara. Cintanya, selamanya.
***
Sementara itu Cindy yang telah selesai berganti pakaian, baru menyadari jika Kyra sejak tadi hanya diam dan melamun. Tak seheboh biasanya. Bukan hanya sekarang. Tapi dari kemarin. Bahkan kemarin, Kyra sampai melakukan beberapa kesalahan yang menurutnya sangat aneh.
Dari mulai mengiris tangannya sendiri ketika memasak, menjatuhkan gelas hingga pecah dan tadi pagi, dia hampir menabrak penyebrang jalan.
Tidak Kyra sekali.
"Kau memiliki masalah?." Tanya Cindy seraya mendudukkan dirinya disamping perempuan itu.
Kyra menoleh seraya tersenyum. "Sedikit."
"Kau bisa mengatakan apapun padaku Ky. Tak perlu sungkan." Ujar Cindy seraya merangkul bahu itu. Memberinya tepukan beberapa kali.
Kyra kembali tersenyum. "Terimakasih Shin, akan aku ceritakan saat senggang nanti."
Cindy mengangguk seraya tersenyum. "Baiklah, aku tunggu ya.... Sekarang ayo kita keluar."
Kyra hanya menganggukinya, kemudian berjalan mengekori Cindy.
Cindy berjalan kearah Damian yang juga sudah siap di pinggir kolam. Dia hanya mengenakan celana selutut, mengekspose tubuh indahnya. Pahatan yang membentuk tubuhnya itu bahkan terlihat sempurna. Sementara Cindy, ia mengenakan kemeja oversize yang hampir menenggelamkan celana yang ia kenakan.
"Kau yakin dengan bajumu?." Tanya Damian begitu Cindy sampai dihadapan pria itu.
"Kita memang akan di kolam, tapi kau yang di air. Aku diatas disini." Ujar Cindy seraya terkekeh pelan.
"Why? Itu tak adil."
Cindy tersenyum, ia tak pernah melakukan pemotretan yang dapat mengekspose semua anggota tubuh, terutama perutnya. Tidak... Ia tak akan pernah melakukan itu.
"Aku tak bisa berenang." Dusta Cindy.
Pemotretan berjalan dengan menyenangkan, Cindy dan Damian terlihat sangat menawan dengan hanya beberapa pose saja. Semuanya bahkan berjalan terasa sangat cepat.
"Cindy... Kemari." Damian mengulurkan tangan kanan padanya.
Membuat Cindy menatap aneh sesaat. Tapi ia meraih tangan itu juga dan....
Byur....
"YA!!! DAMIAN!!!!."
Damian tertawa melihat wajah kesal Cindy yang tadi ia tarik bersamanya ke kolam renang.
Lagi-lagi Kyra, hanya bisa melihat pemandangan itu dengan sedih. Ia tak tau harus berbuat apa. Ingin marah. Tapi ia tau, ia tak berhak marah pada pria itu. Ia cemburu... Tentu saja.
Orang yang kau cintai tertawa dengan orang lain, walaupun orang itu hanya partner saja. Tapi tetap saja... Itu menyakitkan.
***
Sore menjelang malam saat semua orang sedang beristirahat, suasana menjadi sangat ramai karena kedatangan layanan special dari resort. Berupa makanan mewah dengan bahan-bahan yang sangat segar. Makanannya pun masih sangat hangat dan juga terlihat baru disajikan.
Damian tersenyum tipis melihatnya. Karena ia tau, Elvira pasti yang mengirim semua ini.
"Kau ini kenapa malah senyum-senyum. Ini makan." Harry memberikan sepiring makanan pada Damian.
"Terimakasih Gyul, tapi sebaiknya kau saja yang makan. Makan yang banyak malah, kau harus tetap sehat. Kau kan sebentar lagi akan menikah." ujar Damian kemudian mengajak satu pelayan untuk berbicara, menanyakan keberadaan si pemilik resort.
Harry tertawa ringan mendengar ucapan Damian. Sejak ia mengatakan akan menikahi Jinna, Damian memang terus saja menggodanya seperti itu.
"Kalau begitu, kapan kau sendiri akan menikah? Aku bahkan tak pernah mendengar kau memiliki kekasih."
Damian tersenyum. "Jika aku bilang dulu aku pernah berencana menikah, apa kau akan percaya?."
"What? Benarkah?."
Damian mengangguk. "Aku sempat merencanakannya lagi kemarin-kemarin. Tapi gagal juga. Sekarang aku sedang berusaha mendapatkan seseorang. Kali ini semoga berhasil."
"Apa pemilik resort ini?." goda Harry.
Damian tertawa lagi. "Apakah terlalu jelas? Sudahlah... Aku akan menemuinya dulu. Sampai nanti."
"Jika ingin kau bisa tak pulang malam ini Damian, aku akan mengaturnya. Habiskan malam kalian berdua." seru Harry yang hanya di tanggapi dengan acungan jempol oleh Damian.
***
Senja di sore hari itu menerangi satu bagian di resort itu. Sebuah tempat yang terlihat sangat santai, dengan sebuah kursi tanpa kaki dan juga ditemani gemerincik ir yang terdengar dari sebuah air mancur buatan dari kolam didekat tempat duduk itu.
Damian berjalan kearah tempat dimana Elvira berada, sesuai dengan petunjuk pelayan yang ia tanyai sebelumnya.
Benar saja, disana ada Elvira. Tengah bersandar pada sandaran kursi menghadap senja, yang beberapa saat lagi akan menunjukkan sisi gelapnya.
Damian terkekeh pelan melihatnya, ia kemudian duduk disamping perempuan itu. Lalu meraih kepala Elvira agar bersandar pada bahunya.
"Kenapa kemari? Apa kau tak menikmati makanannya Dam?." Elvira melirik Damian tanpa ada niat menyingkir dari bahu tegak itu.
"Aku lebih ingin bertemu denganmu."
Elvira terkekeh kecil seraya kembali menutup matanya. "Kau terus menggodaku. Apa kau juga menggoda orang lain?."
"Tidak. Aku hanya melakukan ini pada seseorang yang aku sukai."
"Kau menyukai banyak orang...."
"Aku menyukaimu."
"Kenapa?."
"Kau menarik, sejak pertama melihatmu aku merasa kau lain. Apalagi Ara hingga nyaman denganmu."
"Mungkin hanya karena Ara nyaman denganku?."
"Tidak. Sepertinya, meskipun aku mengenalmu bukan karena Ara, aku akan menyukaimu."
Elvira terkekeh pelan. "Aku tak pernah melihat orang seterus terang dirimu."
"Aku tak biasa basa-basi. Jika aku suka aku akan bilang suka."
Kali ini Elvira mengangkat kepalanya, ia menatap Damian. "Kau menyukaiku?."
"Apakah tadi tidak cukup jelas?." Damian menghela nafas. "Baiklah... Aku jelaskan... Aku menyukaimu, Elvira."
Elvira mengerjapkan matanya. Mereka baru berkenalan tiga hari dan Damian mengatakan menyukainya?.
"Jika bisa.... Aku ingin menikahimu."
Elvira kembali mengerjapkan matanya. kenapa tiba-tiba begini?.
Kenapa semuanya terasa sangat mendadak?.
***
Bersambung...
***