Kyra panik, gundah dan juga bingung. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Damian setuju dengan tawaran Danies, hal itu sama saja dengan akhir dari kenyamanan hidupnya.
Kali ini ia bahkan berdiri sangat lama di pantry. Ia meneguk segelas air putih yang entah keberapa kalinya. Ia melakukan ini untuk menghilangkan rasa gugup, tapi rasanya gugup yang ia dera tak kunjung hilang. Malah terasa lebih besar lagi.
Clek.
Pintu pantry itu terbuka, namun Kyra belum berbalik. Ia hanya takut jika yang masuk adalah....
"Ternyata kau disini. Daritadi aku mencarimu."
Deg!
... Damian.
Kyra diam-diam meletakkan gelas ditangannya kemudian melangkah kecil dengan menunduk. Berusaha menghindari pria itu.
"Ky...." Kyra merasakan Damian meraih tangan kanannya.
"Kau akan terus begini? Kau akan menghindariku sampai kapan?."
Kyra berusaha melepaskan genggaman tangan Damian yang semakin mengerat. "Lepaskan!."
"Jawab aku!."
Kyra menatap Damian dengan nafas yang memburu. "Ya!!! Lepaskan... Apa maumu?."
"Kembalilah padaku."
Kyra tersenyum miris. "Kembali? Aku rasa kita tak memiliki sesuatu hal yang membuatku harus kembali padamu Damian. Sejak awal kita hanya orang asing yang terjebak dalam perasaan yang sama dan sampai kapanpun kita hanya orang asing."
Kali ini Damian yang tersenyum sinis. "Ahh... Orang asing...." dia bahkan mengarik nafas panjang sebelum mengeluarkan kata-katanya. "Kau tak ingin bertemu Ara? Merawatnya? Membesarkannya? Jika kau membenciku dan menganggapku orang asing setidaknya kau jangan benci anakmu, jangan berkata seolah dia tak ada diantara kita."
Kyra menggigit bibir bagian dalamnya. Ara... Anak manis itu.... Tentu saja ia ingat. Tak ada seorang ibu yang akan melupakan anaknya begitu saja. Meskipun ia membenci Damian, tapi tak sekalipun ia membenci anaknya. Ia pun terkadang merindukan puteri kecilnya itu. Tapi membayangkan bertemu Damian saat ia menemui Ara, bukan hal yang baik untuknya.
Siapa yang tak ingin merawat anaknya sendiri? Tentu saja ia ingin merawat anaknya itu dan membesarkannya. Tapi jika harus kembali bersama dengan seseorang yang tidak akan pernah memberinya kepastian, menurutnya bukan pilihan yang tepat.
Hatinya, perasaannya.... Bukan mainan. Ia hanya menginginkan kepastian yang tidak pernah Damian berikan padanya.
Andai... Jika Damian dengan cepat menyadari keinginannya itu kemudian segera memberinya kepastian. Semuanya tak akan sesulit ini. Ia pasti dengan segera menyetujui untuk hidup bersama lagi dan merawat Ara bersama.
Tapi... Damian hanya akan tetap menjadi Damian, seorang independent yang tak pernah ingin berkomitmen.
"Pantas Ara tak mau bertemu denganmu. Kau... Bahkan sedikitpun tidak memikirkannya." cerca Damian. "Ini yang terakhir aku meminta."
"Kembali lah padaku...."
Tidak! Bukan ini yang Kyra inginkan. Bukan permintaan seperti itu.
Kyra menggeleng karena bukan itu yang ia inginkan. Tapi sepertinya Damian salah paham.
Dia kini mendengus kesal dan mendesis tajam telat di depannya. "Kau berhasil menyakitiku lagi. Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku akan pergi. Aku akan melepaskanmu. Selamat tinggal."
Setelah mengatakan itu Damian beranjak, meninggalkan Kyra yang kembali menggelengkan kepalanya.
Damian... Bukan itu maksudku....
Kyra mengeratkan pegangannya pada ujung meja. Melihat punggung itu menghilang dibalik pintu membuatnya sadar, ada sesuatu yang mencelos dari dalam hatinya, ada ruang kosong, ada bagian yang hilang. Ia paham, Kali ini ia benar-benar kehilangan Damian.
Seseorang yang dalam lubuk hati terdalamnya masih ia cintai.
"Damian...."
Seharusnya ia merasa beruntung, Damian tidak mencacinya sebagai orang yang tak bertanggung jawab saat pertama mereka bertemu. Seharusnya ia merasa beruntung juga, karena Damian memberinya kesempatan untuk kembali.
Tapi... Kini kesempatan itu telah sirna. Damian kini pergi bersama luka yang ia torehkan.
***
Sementara itu keributan terdengar dari kantor Danies, Davin yang baru saja datang langsung mendapat pitingan di leher dari boss nya itu. Tanpa memedulikan Cindy yang menatap keduanya dengan pandangan heran.
Danies, perempuan itu jangan dikira lemah. Dia bahkan mampu membuat kaki seorang penjahat yang hendak melecehkannya hingga patah. Jadilah, hal itu menjadi alasan kuat bagi Davin hingga tak bisa berkutik.
"Ya... Berani kau menunjukan wajahmu dihadapanku sekarang? Setelah membuatku pusing?."
"Ya ya ya.... Nies jangan membuatku malu. Ya...." ujar Davin seraya berusaha melepaskan pitingan itu. "Lepaskan... Aku akan menjelaskannya."
"Aku tak peduli. Kau memang pantas malu! Beraninya kau membuatku pusing."
"Nies!!!."
Beberapa saat kemudian pintu ruangan itu terbuka. Damian yang masuk.
"Kalian ini kenapa?." tanya Damian.
Danies melepaskan pitingannya pada Davin. "Aku sangat kesal. Dia baru muncul setelah membuat kehebohan."
"Yasudahlah Nies. Rumor itu mau di konfirmasi atau tidak hasilnya akan sama saja. Davin pasti akan dikatakan playboy." goda Damian. Kali ini ia beralih pada Davin. "Makanya kau harus bermain aman Davin! Anakmu sudah besar masih saja membuat skandal."
"Tuh dengar!." seru Danies pada Davin dengan tatapan jengkelnya.
"Lagipula siapa sangka hanya foto akan menjadi skandal? Hey... Itu hanya foto!." bela Davin.
"Hanya kau bilang?." kali ini Danies hampir memukul Davin dengan dokumen yang sudah ia gulungkan ditangannya. "Lalu bagaimana dengan foto-foto kalian saat liburan?."
Davin menghela nafas panjang, ia mencuri pandang pada Cindy sesaat. "Ya... Itu hanya liburan."
"Hanya?!."
Beruntunglah Damian segera menyela diantara Danies dan Davin. Jika tidak, Davin akan segera mendapat amukan lagi.
"Sudah-sudah... Sekarang kita duduk." lerai Damian.
Danies mencebik seraya melirik Davin dengan tatapan tajam.
"Jadi Davin.... Bagaimana kau akan mengendalikan skandal ini?." tanya Danies.
Davin menghela nafas panjang. "Biarkan saja Nies. Lagipula, apa yang harus aku katakan lagi?."
Danies menatap jengkel pada Davin. "Kau ini kenapa sih? Tak biasanya sangat menjengkelkan begini!."
"Aku baik-baik saja." ujar Davin.
"Davin... Kalian benar-benar berkencan?." tanya Damian. Sejujurnya ia juga sedikit penasaran karena tingkah aneh sahabatnya itu.
"Sudahlah jangan membahasku. Sebaiknya kita bicarakan tentang koleksi musim panas dan pemotretan seragam sekolah." ujar Davin. "Skandal itu akan segera hilang. Percayalah."
Danies menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah. Terserahmu saja."
Davin menghela nafas panjang, untunglah Danies mau mengalah. Sahabatnya itu memang hanya akan mengikuti keinginannya, meskipun sedikit menghambat pekerjaan. Tapi ia yakin semuanya akan baik-baik saja.
"Kita bicara pemotretan Damian juga Cindy. Kalian akan melakukan pemotretan lusa. Aku sudah meminta manager kalian mengatur semuanya. Aku harap kalian melakukannya dengan baik. Bagaimanapun ini pemotretan pertama untuk kalian berdua. Aku berekspektasi banyak untuk kalian."
Davin mengerutkan keningnya. Tunggu... Mereka berdua akan melakukan pemotretan bersama? Kenapa ia tak tau?.
Ia melirik Cindy yang kini tersenyum tipis, terlihat sangat bahagia. Apalagi saat Damian tersenyum padanya dan juga menatapnya seraya berbicara. Kenapa ekspresi Cindy seperti itu?.
Apa Cindy benar-benar menyukai Damian?.
Dari caranya tersenyum, dari caranya menunduk malu dan menatap Damian. Cindy terlihat sangat aneh.
Benarkah Cindy menyukai Damian?.
Pertemuan itu berlangsung cukup lama, setelah membicarakan Damian dan Cindy, Danies kembali membahas tentang konsep baju sekolah yang akan anak-nya kenakan.
Selesai pertemuan itu Damian langsung pulang, menyisakan Davin dan Cindy yang masih berdiri di lobi agensi.
"Kau sangat menyukai Damian ya...."
"Memangnya kenapa?."
Davin menatap Cindy, "Jangan terlalu menyukainya. Kau... Hanya akan membuat dirimu terluka."
Cindy menatap jengkel pada Davin. "Apa aku harus mengikuti ucapanmu? Aku saja tak pernah mengusikmu dan kehidupan cintamu. Kenapa kau mengurusiku? Urus saja skandalmu sendiri daripada mengurusi perasaanku."
"Cindy. Aku mengajakmu berbicara baik-baik dan hanya memperingatimu."
Cindy terkekeh pelan, namun beberapa saat menatap Davin dengan tajam. "Terimakasih ya... Tapi sebaiknya kau jangan pernah mencampuri urusanku lagi." ujarnya pelan kemudian beranjak pergi begitu saja.
Davin menghela nafas panjang saat menatap punggung sempit itu kini memasuki gedung agensi. Ia hanya tak ingin Cindy terluka. Salahkah ia memperhatikannya walaupun sedikit?.
Bagaimana jika Cindy tau jika Damian ada sesuatu dengan Kyra? Sungguh ia tak bisa membayangkan itu.
***
Menjelang malam Damian dan Ara sudah bersiap pergi menuju kediaman Alvin. Ara bahkan sudah rapih dengan setelan baju berwarna kuning yang sangat manis ditubuhnya, ia kini sedang duduk manis menunggu sang ayah yang masih bersiap di kamarnya. Maklum lah ya, super model. Kemana-mana dandan dulu.
Tak lama setelah itu Damian keluar dari kamarnya. Namun bukannya berteriak exited, Ara malah merengut melihat penampilan ayahnya. Bukan Damian sekali.
"Papa... Yakin begini saja? Papa yakin keluar rumah begini?."
Ara menatap penampilan sang ayah dari atas hingga bawah, benar-benar bukan ayahnya yang ia kenal. Bagaimana mungkin ayahnya keluar dengan begini? Mengenakan kaus oblong berwarna orange dan sebuah celana agak longgar berwarna cream jangan lupakan poni yang menutupi kening. Benar-benar bukan Damian. Bukan penampilan ayahnya yang biasa ia lihat.
Damian menatap Ara heran. "Memangnya apa yang salah?."
Sebenarnya Damian masih tampan dengan pakaian apapun. Hanya saja, masa kaus? Terlihat tidak formal sekali. Padahalkan Ara merencanakan banyak hal. Tentu saja Damian harus tampil lebih baik lagi.
"Papa..... Setidaknya jangan hanya pakai kaus! Pokoknya ganti. Papa harus lebih tampan!."
Damian menatap Ara lagi. "Perasaan Papa sudah tampan tadi."
"Papa... Cepat ganti baju lagi. Jangan sampai Alvin menunggu lamaaaa."
"Kita akan terlambat jika tidak berangkat sekarang Ra."
"Ganti duluuuu..... Papaaaaa....." Ara mendorong tubuh Damian untuk memasuki kamarnya lagi. "Setidaknya pakai kemeja agar lebih formal."
"Apakah harus?."
"Harus!." tegas Ara sebelum menutup pintu kamar ayahnya itu.
Ara kembali duduk di kursi, menunggu lagi ayahnya yang sedang mengganti pakaian.
Damian memang menarik. Tapi kali ini harus lebih menarik. Demi masa depannya. Tekad Ara.
Beberapa saat kemudian Damian keluar dengan penampilan barunya.
Damian menata rambutnya dengan sangat tampan, poni yang menutupi dahi kini di angkat dan jangan lupakan kemeja hitam yang melekat ditubuh ayahnya yang tegap dan dengan dua kancing bagian atas yg dibiarkan terbuka.
Ini baru ayahnya.
"Papa!!!."
"Apa ada yang salah lagi?."
Ara menggeleng seraya tersenyum kagum, ia mendekati Damian kemudian merangkulnya. "Papa tampan sekali. Sekarang ayo kita berangkat."
Damian terkekeh pelan melihat tingkah putrinya yang sangat manis. Ia mengusak puncak kepala Ara sesaat sebelum akhirnya mereka berdua beranjak.
Selama di perjalanan Ara terus saja bercerita tentang sekolahnya, dari mulai ujiannya yang katanya terasa sangat mudah dan juga anaknya itu tidak berhenti membicarakan Alvin dan juga ibunya. Ara terlihat sekali sangat menyukai mereka berdua.
"Ini rumahnya Ra?."
Ara mengangguk saat keduanya sampai didepan rumah mewah dengan gerbang yang cukup tinggi mengelilinginya.
Tak lama kemudian pintu gerbang itu terbuka, mempersilahkan kedua pasangan ayah dan anak itu masuk.
"Bibi...." seru Ara begitu keluar dari mobil. Ia segera mendekati seorang perempuan yang sedang berdiri di ambang pintu itu kemudian memeluknya.
Dia terlihat sangat manis dengan balutam dress sederhana berwarna putih dengan sedikit aksen bunga dibagian rok yang menutupi hingga bawah lututnya.
Terlihat sangat anggun dan bermartabat. Apalagi saat Damian melihat senyuman perempuam itu. Mesipun ia belum benar-benar bisa melihatnya dengan jelas. Tapi ia sudah dapat menilai, bahwa senyuman itu sangat cantik dan sangat manis.
"Hai Ra." ujar perempuan itu seraya membalas pelukan Ara.
"Bibi... Dimana Alvin?."
"Ada, didalam. Ayo masuk."
Sebelum masuk, Ara berbalik menatap sang ayah yang baru keluar dari dalam mobilnya. "Ahh... Bibi, ini Papa-ku.... Papa.... Ini Bibi Elvira yang aku ceritakan."
Damian dan Elvira berpandangan kemudian saling memberikan senyuman. Setelah itu Damian mengulurkan tangannya yang segera disambut perempuan itu. Tangan perempuan itu kecil, lebih kecil dari miliknya. Sehingga membuat tangan itu nampak tenggelam dalam genggannya. Terasa, sangat pas dalam genggamannya itu.
"Damian...."
"Elvira...."
Ara menatap dua orang dewasa itu gantian kemudian tersenyum penuh kemenangan. Tampaknya rencana yang ia susun ini akan berjalan sesuai dengan keinginannya. Ternyata lebih mudah dari dugaannya.
"Papa...." Panggil Ara setelah bosan melihat dua orang itu saling berpandangan.
"Ahh... Masuk... Mari...."
"Sebaiknya kita langsung makan saja. Nanti makanannya dingin." "Ra panggil Alvin dikamar."
"Aku jadi seperti ingin menumpang makan." Ujar Damian tak enak.
Elvira terkekeh pelan. "Tidak apa-apa.... Tadi aku sebenarnya bingung harus menyiapkan apa saat Ara bilang kau akan ikut. Karena belum pernah ada yang berkunjung sebelumnya selain keluargaku."
Damian tersenyum tipis. "Apakah merepotkan? Tadi Ara bilang tak enak membatalkan janji dengan kalian. Jadi aku yang berinisiatif. Maafkan aku."
"Tidak tidak... Ini tidak merepotkan. Silahkan duduk."
Damian duduk berhadapan dengan Elvira yang kini tengah menuangkan minuman kedalam gelas dihadapannya.
"Elvira... Apakah Ara sering merepotkan? Aku sangat malu tak bisa menjaganya setiap saat." Tanya Damian begitu Elvira duduk di kursinya.
"Tidak... Ara anak baik. Dia tidak membuatku repot. Dia justru sering membantu kami."
Damian mengangguk-anggukan kepala setekah berujar syukur. Tak ada lagi percakapan, ia benar-benar canggung. Bingung harus berbuat seperti apa. Ia bukan seseorang yg talk aktif. Sehingga sulit untuk memulai pembicaraan terutama dengan orang baru.
"Kau... Terlihat berbeda jika dilihat langsung. Damian."
Damian terkekeh pelan. "Benarkah? Apakah itu aneh?."
"Tidak tidak... Justru kau lebih tampan jika dilihat aslinya."
Ops.... Elvira keceplosan. Ia kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Menahan malu.
Sementara itu Damian hanya terkekeh kecil. Ia juga sebenarnya sedikit salah tingkah jika dipuji begitu. Ia tak pernah biasa dengan pujian-pujian, itu hanya membuatnya merasa malu.
"Kau juga sangat cantik, El." balas Damian. "Penampilanmu sangat cocok."
"Ah... Benarkah? Aku sebenarnya merasa sedikit aneh. Aku takut berlebihan."
"Tidak... Kau justru terlihat manis dengan pakaian itu." ujar Damian diiringi senyuman tampannya.
AAAAA.... Jika bisa ia ingin sekali rasanya terbang saat mendengar kalimat itu. Tapi Elvira hanya diam dan sesekali tertawa untuk menyembunyikan rasa malunya.
Dilain tempat Ara melihat kedua orang itu dengan bahagia. Benar dugaannya, mereka sangat cocok. Ia senang melihat itu.
"Ayo Ra... Kau malah melamun." ujar Alvin seraya membawa Ara dalam rangkulannya.
Mata Damian menatap tajam kearah Ara. Ara juga menyadari itu, maka ia segera duduk di samping ayahnya.
"Ini... Alvin.... Alvin kenalkan, ini Papa Ara...."
Alvin tersenyum kemudian menunduk sesaat. "Hallo Paman, salam kenal. Aku Alvin...."
Damian tersenyum. "Aku Damian, kau bisa memanggilku Paman Damian."
"Baik Paman...."
"Sekarang sebaiknya kita makan dulu. Ini untuk puteraku tersayang.... Selamat untuk ujianmu.... Ini untuk Ara.... Selamat untuk ujianmu jugaa...." ucap Elvira seraya memberikan piring yang penuh makanan pada masing-masing anak itu.
"Terimakasih... Selamat makaan...." seru keduanya begitu menerima piring berisi makanan yang sudah Elvira siapkan.
Damian menatap kedua anak itu takjup. Mereka sangat kompak. Apakah sesering itu mereka bersama? Sampai sudah seperti saudara seperti itu?.
"Hm... Kau ingin aku ambilkan juga?." tanya Elvira, menyadarkan Damian dari lamunannya.
Damian mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menatap Elvira seraya tersenyum tipis. "Ah... Tidak. Biar aku saja."
"Baiklah...."
Selama makan tak ada kata hening. Terus saja ramai. Berbeda sekali jika makan dengan Kalvin yang harus selalu hening.
"Bagaimana kira-kira hasil ujiannya?." tanya Elvira.
"Alvin pasti TOP10 terus." ujar Ara, ia kemudian merengut. "Aku tak yakin rankingku seperti apa nanti. Tapi aku harap bisa TOP10 juga."
"Kau juga pasti bisa masuk TOP10 Ra. Kau kan pintar." ujar Alvin.
Damian menatap Ara sesaat, tangannya kini terulur mengusak puncak kepala anaknya itu. "Mungkin karena Papa kurang memperhatikanmu ya... Maafkan Papa, hm?."
"Bukan Papa... Ara saja kurang bekerja keras." ucap DingRa seraya tersenyum lebar. "Ara akan berusaha lebih baik lagi Papa."
Damian tersenyum lagi. "Papa akan selalu mendukungmu."
Alvin menatap Ara iri, jujur saja ia ingin dimanja seperti itu juga. Tapi ia sulit mengungkapkannya. Lagipula ayahnya tak ada, ayahnya tidak disini. Bagaimana bisa ia diperlakukan begitu kan?
Sementara Elvira menatap keduanya takjup. Ia tak menyangka hubungan kedua orang itu begitu manis. Damian benar-benar diluar dugaannya. Dia ternyata sangat lembut dan penyayang. Tak seperti yang selama ini ia lihat. Ia pikir pria ini sangat cuek dan berhati dingin. Tapi justru sebaliknya.
Damian yang menyadari jika ia diperhatikan, maka kini mengalihkan pandangannya pada Alvin yang ternyata menatapnya. "Semangat untukmu juga Alvin." ujarnya seraya tersenyum.
Alvin mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian tersenyum canggung. "Ah... Iya... Terimakasih Paman...."
"Kalian memang harus bekerja keras. Tapi yang terpenting kalian harus selalu bahagia dan sehat. Sekarang... Ayo habiskan makanan kalian." sela Elvira diiringi senyumannya yang sangat menawan.
Makan malam itu terus berlanjut dengan celotehan kecil dan gurauan yang keluar dari Ara juga Alvin. Hingga tanpa terasa makanan disemua piring habis tak tersisa.
"Terimakasih makanannya...." ujar Damian.
Elvira mengangguk, canggung. Anak-anak sudah pergi menonton film diruang tengah, jadilah hanya tersisa mereka diruang makan dengan suasana yang sangat amat canggung.
"Kau tak perlu formal begitu padaku, Damian...."
"Kalau begitu kau juga bisa santai padaku , tak perlu canggung dan formal juga."
"Ah? Iya baiklah Damian...."
Elvira justru terlihat lebih canggung sekali. Bahkan kini ia menyibukkan diri membereskan piring kotor dan membawanya ke bak pencucian piring. Namun ternyata Damian justru membantunya membereskan piring-piring kotor itu, bahkan memindahkannya juga ke bak yang sama. Membuat Elvira semakin gugup.
"Aku akan mencucinya." ujar Damian.
"Tidak. Jangan. Tidak perlu. Biar aku saja."
"Tak apa, aku mahir melakukan ini kok. Kau bisa melakukan hal lain. Atau duduk saja sana." balas Damian.
"Tapi... Kau ini....."
Damian menatap Elvira seraya tersenyum lembut. "Kenapa? Tak perlu sungkan. Aku sudah makan gratis disini. Setidaknya harus melakukan sesuatu."
"Biar aku saja... Aku justru tak enak kau melakukan ini."
"Sudah jangan dipikirkan. Aku bilang... Duduk saja sana.... Kau tak akan pernah melihat orang tampan sepertiku mencuci piring dimanapun. Jadi duduk dan nikmati saja wajah tampanku dari tempat duduk." canda Damian diiringi kekehan.
Elvira ikut terkekeh pelan. "Ya ya... Aku pun bahkan tak pernah menyangka bisa melihat super model akan mencuci piring dirumahku. Jika aku mengambil foto dan menyebarkannya. Semua akan iri padaku." ucap Elvira yang kini justru berdiri di samping Damian.
"Lakukan saja jika ingin." ujar Damian. "Kau akan membuat semua orang iri padamu."
Elvira terkekeh pelan. "Candaanmu aneh sekali."
Damian pun ikut terkekeh pelan. "Aku tak bercanda.... Tapi paling nanti kau akan terseret skandal bersamaku."
"Damian, Super Model yang selama ini melajang akhirnya memiliki kekasih." lanjut Damian diiringi tawa renyahnya.
Elvira bergidik. "Menyeramkan." ujarnya kemudian tertawa.
"Itulah resiko dari seseorang sepertiku. Harus siap terkena pemberitaan apapun. Bahkan jika ada yang mengikutiku kesini, pasti akan jadi headline berita, jika diberitakannya yang tidak-tidak. Untungnya aku kesini mengantar Ara."
Elvira menatap Damian dari samping.
Wajah itu... sangat indah. Sangat tampan. Pahatan wajah itu terlihat sangat sempurna. Dari matanya, hidungnya, bibirnya dan juga rahangnya yang sangat tajam. Perpaduan itu terlihat sangat sempurna. Mungkin jika dibandingkan model lain, Damian tidak tampan, tapi dia memiliki pesona yang tidak dimiliki orang lain. Sehingga, apabila terjerat pesonanya, ia yakin akan sulit untuk melepaskan diri.
"Apakah sulit? Kau pasti tak bebas Damian."
"Memang, tapi tidak sesulit itu karena aku menikmatinya. Walaupun terkadang jengkel."
Elvira tersenyum tipis. "Yang penting kau menikmatinya dan kau merasa bahagia. Maka semuanya akan baik-baik saja. Begitukan?."
Damian melirik Elvira kemudian mengangguk. "Walau aku selalu menyesal. Sering meninggalkan Ara...."
"Alvin sangat beruntung memilikimu yang selalu ada untuknya. Terimakasih sudah menjaga Ara juga....."
"Ara juga beruntung memiliki Papa sehebat dirimu." puji Elvira dengan sangat tulus.
Tanpa keduanya sadari, sejak tadi Ara terus saja mencuri pandang pada kedua orang dewasa itu. Anak itu bahkan kini tersenyum lebar, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Ternyata rencananya lebih mudah dari yang ia pikirkan. Semuanya terlihat sangat lancar, kan?
***
Kini Damian dan Ara sudah didalam mobil. Hendak pulang menuju rumah. Setelah menyelesaikan satu film berdua dan satu film lagi ditonton bersama. Akhirnya Damian membawa Ara pulang. Karena malam yang telah larut dan juga karena Damian merasa tak enak pada Elvira.
Ara menatap ayahnya yang kini menyetir dengan tenang. "Papa bagaimana?."
"Bagaimana apanya Ra?." tanya balik Damian pada puteri kecilnya.
"Bibi Elvira, menurut Papa bagaimana?."
"Dia, menarik. Dia juga manis. Apalagi point plus-nya dia pandai memasak. memangnya kenapa Ra?." ucap Damian begitu saja. Karena itu memang kesan pertama yang ia tangkap dari Elvira. Ia hanya berusaha untuk jujur.
Tapi justru Ara tersenyum lebar. "Benarkah?."
Damian mengangguk tanpa menyadari maksud dari anaknya itu.
"Kalau begitu... Hm... Papa.... Kemarin Papa bertanya tentang Mama padaku, kan?."
"Hm... Lalu?." tanya Damian seraya melirik Ara sekilas.
"Bagaimana jika Bibi Elvira jadi Mama untuk Ara? Bibi Elvira sangat baik pada Ara. Dia bahkan mau merawat Ara yang bukan anaknya. Bibi El juga sangat perhatian. Papaa.... Ara tak ingin apapun. Ara hanya ingin Bibi El... Papa.... Ya.... Ara janji tak akan meminta apapun setelah ini. Ara janji akan menjadi anak Papa yang lebih baik lagi. Ara janji, Ara akan belajar semakin rajin dan rank Ara tak akan keluar dari 10 besar lagi. Ara berjanji akan selalu berada di TOP 5 Papa.... Ara berjanji. Bagaimana Papa? Mau ya... Ya...."
Damian menatap Ara yang menatapnya dengan pandangan memohon. Anaknya itu terlihat sangat bersungguh-sungguh mengatakannya. Ara juga tadi terlihat sangat bahagia bersama dengan keluarga kecil itu. Tapi... Luka yang ia rasakan bahkan belum kering. Apakah ia bisa membuat lembaran baru dengan orang lain?
"Papa....." rajuk Ara lagi.
Damian tersenyum, tangannya kini terangkat mengusak puncak kepala Ara seraya berujar pelan. Kebahagiaan Ara adalah yang paling utama, kan?
"Baiklah... Akan Papa coba."
***
Bersambung....
***