Family Time (2)

2587 Words
Kalvin membawa jalan-jalan Alvin di Jepang, keduanya kini berjalan kaki di area pasar hanya sekedar berjalan-jalan dan sesekali berbelanja. Awalnya Kalvin ingin membawa Elvira juga bersamanya. Tapi ternyata keadaan belum memungkinkan untuknya melakukan hal itu. Elvira sedang sangat membencinya dan ia hanya ingin memberikan perempuan itu waktu untuk berpikir sejenak.   "Papa... Alvin lapar." Ujar Alvin setelah berjam-jam menjajal jalanan ramai itu.   Kalvin menoleh kearah Alvin yang berada dalam rangkulannya. "Alvin ingin makan apa?."   "Ramen?." Alvin memanerkan giginya.   "Ramen? Ramen itu....."   ".... Tidak sehat. Lebih baik kita makan sesuatu yang lain."   Kalvin terkekeh pelan. "Kau tau?."   Alvin mengangguk, "Mama sering mengatakannya." Ujarnya seraya merengut. "Alvin pikir, jika bersama Papa Alvin boleh memakan ramen."   Kalvin menghela nafas panjang. "Tapi Mama benar. Ramen itu tidak sehat."   "Sekali-sekali Papa, teman-teman Alvin aja sering memakan ramen. Alvin ingin Pa sesekali." Rajuk Alvin.   Kalvin menghela nafas panjang. Ia tak tega melihat wajah memelas puteranya itu. "Baiklah. Sekali."   "Yess!!!." Seru Alvin senang.   Setelah beberapa saat mencari kedai ramen akhirnya disinilah mereka berdua, disebuah kedai ramen yang tadi wanginya dari jarak jauhpun tercium sangat menggoda. Alvin pikir pasti ramen disana sangat enak, meksipun baru dari wanginya saja.   Kalvin menatap Alvin yang sedang menikmati semangkuk besar ramen didepannya. Ia tersenyum, bahagia sekali jika melihat anak itu makan dengan sangat antusias.   "Enak?."   Alvin menganggukkan kepalanya seraya mengacungkan ibu jari.   Kalvin terkekeh pelan, tangannya kini terangkat mengusak puncak kepala Alvin dengan gemas. Andai disini ada Elvira. Pasti Alvin akan lebih bahagia lagi. Ia pun akan sangat bahagia, tentu saja.   "Alvin...."   "Iya Papa."   "Apa Mama sedang dekat dengan seseorang?." tanya Kalvin.   Kalvin bertanya begitu bukan tanpa alasan, tapi karena banyak faktor yang sedikitnya ia curigai. Pertama karena penolakan Elvira yang sangat keras terhadapnya, kedua karena Elvira terlihat sangat menutup diri untuknya, seolah tak ingin membiarkan dirinya masuk dalam kehidupan perempuan itu. Elvira... Seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.   Alvin menatap ayahnya sekilas sebelum akhirnya ia menghela nafas kemudian mengangguk pelan.   Benar dugaannya ternyata. "Siapa? Apa Alvin tau?." Tanyanya dengan sangat lembut, ia memang ingin tau semuanya, tapi ia tak ingin memaksakan kehendak atas Alvin. Ia ingin Alvin mengatakannya tanpa paksaan.   Alvin menatap sang ayah ragu, ia merasa bingung. Ia tau ini bukan haknya untuk berbicara, ini privasi Mama-nya, selain itu Kalvin merupakan sahabat Damian, seseorang yang sedang dekat dengan Mama-nya. Ia tak ingin membuat hubungan kedua orang itu menjadi buruk karena ucapannya. Tapi... Ia tak bisa berbohong juga pada Kalvin, dia ayahnya.   "Alvin?."   Alvin mengangguk. "Alvin tau Pa... Tapi sebaiknya Papa tanyakan saja pada Mama... Alvin... Tidak bisa mengatakannya. Itu privasi milik Mama." Alvin menjeda ucapannya sesaat. "Alvin sudah merasa sangat bersalah karena menemui Papa tanpa ijin dari Mama. Alvin tak mau lagi mengulang kesalahan yang sama Papa."   Tangan Kalvin terangkat, mengusak puncak kepala puteranya itu lalu ia tersenyum maklum. "Baiklah tak apa."   "Tapi... Apa dia baik pada Alvin?." tanya Kalvin.   Alvin mengangguk ragu, ia takut menyinggung sang ayah. "Baik Pa."   "Syukurlah." ujar Kalvin pelan, ia tak tau lagi harus mengatakan apa. Pantas saja Elvira seperti itu padanya, selain karena sikapnya waktu itu yang ia akui memang salah, ternyata memang ada faktor lainnya.   Elvira sedang sangat jatuh cinta pada sosok yang sepertinya sangat mengangumkan. Tapi siapa? Apakah ia mengenal lelaki beruntung itu?   "Dia seperti apa?" tanya Kalvin lagi. Jujur, ia sangat ingin tau tipe seperti apa yang Elvira inginkan. Bukannya ia ingin menjadi orang lain. Hanya saja, tak salah bukan ia sedikit belajar dari oranglain jika itu hal baik?   Alvin meneguk minumamnya terlebih dulu sebelum menjawab pertanyaan ayahnya itu. "Dia... sangat dewasa. Ah maksud Alvin... Bagaimana ya.... Dia.... Ya begitu."   Kalvin mengerutkan keningnya. Kemudian ia terkekeh kecil saat melihat Alvin malah salah tingkah. Anak itu mungkin sungkan menjelaskannya... Namun sikap sungkannya itu justru tampak sangat menggemaskan.   "Kalvin...."   Kalvin yang merasa terpanggil langsung mengangkat kepalanya, melihat kearah pintu masuk dimana seseorang memanggilnya tadi.   "Oh... Damian. Sedang apa disini?."   Alvin menegang. Ia menunduk, berpura-pura fokus pada ramen-nya lagi. Ia tau betul Damian yang di maksud ayahnya adalah Damian seseorang yang ia kenal. Hingga ia bahkan tak sanggup untuk mengangkat wajahnya. Bagaimana ini? Kenapa bisa kebetulan begini?   "Aku ada pemotretan disekitar sini. Kau?."   Suara itu mulai mendekat bahkan terap langkah kakinya terasa semakin menegangkan untuk Alvin. Ia hanya takut, ia takut terjadi sesuatu pada mereka.   "Berlibur. Damian... Duduk."   Tak ada suara beberapa saat, membuat Alvin semakin tegang dibuatnya. Damian pasti mengenalinya, tentu saja. Jujur, ia sedikit takut. Tanpa sebab yang jelas. Yang ia rasakan hanya rasa takut dan khawatir pada Mama-nya yang ada di rumah. Bagaimana jika setelah ini hal buruk terjadi?   "Alvin?." itu suara Damian.   Jika bisa ingin rasanya Alvin menghilang saja dari tempat ini. Ia tak sanggup memperlihatkan wajahnya, ia tak sanggup melihat wajah pria dewasa disampingnya ini.   "Kenapa kalian bisa bersama?." tanya Damian dengan nada heran sekaligus bingung.   "Damian... Alvin... Dia anakku."   Alvin melihat Damian mengerutkan keningnya.   "Tiba-tiba?."   "Aku hanya baru tau." ujar Kalvin seraya terkekeh pelan. "Kau ingat, Alvin yang saat itu bersama Ara. Yang aku bilang calon menantumu."   "Papa...." rajuk Alvin.   "Tentu saja aku ingat." ujar Damian diiringi senyuman yang sangat lembut. "Kalau begitu sekarang aku harus pergi dulu. Aku tak mau mengganggu waktu kalian."   "Damian kenapa buru-buru?."   "Aku hanya ingin membeli minuman. Lihat Harry sepertinya sudah selesai mengantri." ucap Damian.   "Ahh begitu... Yasudah... Kita bisa makan malam bersama kan nanti? Banyak yang ingin aku ceritakan."   Damian menatap Kalvin seraya berdiri. "Maaf aku tidak bisa. Aku memadatkan jadwalku yang tiga hari menjadi satu hari. Aku harus segera pulang."   "Damian... Kau ini. Kau bilang aku jangan terlalu banyak bekerja."   Damian terkekeh pelan. "Hari ini Ara pemotretan pertamanya. Kau tau, dia sangat marah aku ada pekerjaan. Makanya aku harus segera pulang."   Kalvin menghela nafas. "Baiklah, kita bicara nanti setelah pekerjaanmu selesai."   Damian bergumam seraya berdiri. "Aku pamit sekarang Kal." ia mengalihkan pandangan pada Alvin kemudian mengusak puncak kepalanya pelan. "Nikmati liburanmu."   Setelah itu Damian beranjak pergi, menuju Harry yang sudah menunggu di pintu keluar.   "Alvin sepertinya sangat akrab dengan Paman Damian." ujar Kalvin setelah memastikan Damian keluar dari kedai itu.   Alvin hanya terkekeh dengan nada sengau. Ia bingung harus menanggapinya seperti apa lagi. Akhirnya ia terkekeh seperti itu kemudian segera menghabiskan ramennya yang tersisa beberapa suap lagi.   Dalam hati Alvin berdo'a. Semoga semuanya akan tetap baik-baik saja setelah ini. Karena bagaimanapun ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada ibunya dirumah nanti.   ***   Elvira menepati janjinya mengantar Ara menuju lokasi pemotretan. Ia bahkan membawa sebotol s**u rendah gula dan rendah lemak dan juga sekotak buah-buahan siap makan. Tentu saja untuk Ara.   Ara senang Elvira benar-benar menepati janjinya itu. Tapi... Entah kenapa ada hal mengganjal dalam hatinya. Ia merasa ini tak benar. Ia merasa pada akhirnya Elvira juga akan pergi. Entahlah... Ara selalu merasa seperti itu, apalagi setelah mendengar kabar tentang Papa kandung Alvin yang ternyata masih ada. Ia ingin menjaga jarak, tapi tak bisa. Ia ingin selalu bermanja pada perempuan itu.   Begitu sampai distudio tempat pemotretan, Ara disambut Ivan, Davin dan Cindy serta satu orang lagi yang tidak Ara kenali.   "Apa Ara terlambat?." tanya Ara pada mereka.   "Tidak Ra." jawab Davin.   "Ara... Itu siapa?." tanya Ivan sedikit berbisik.   Ara mengalihkan pandangan pada Elvira yang sedang berdiri dibelakangnya. "Dia Bibi Elvira. Bibi... Ini Ivan, Paman Davin, Bibi Cindy dan...."   "Kyra... Bibi Kyra." jawab orang yang tidak Ara kenal itu.   "Ahh... Bibi Kyra."   Cindy tersenyum. "Senang bertemu lagi denganmu, Elvira."   Elvira membalas senyuman dan sapaannya itu. Jujur, ia merasa sangat canggung sekarang. Bagaimanapun ia bukan siapa-siapa diantara mereka. Selain itu ia merasa tak enak juga karena disini ada Kyra. Ia tak menduga akan bertemu dengan Kyra disini. Karena sepengetahuannya mereka berdua tak ada hubungan dengan pemotretan kali ini. Tapi tenyata ada. Ya--- Seharusnya ia sadar, Kyra pasti hadir, tentu saja. Bagaimanapun Ara puteri kecilnya.   "Bibi Cindy sudah berhasil ya balikan lagi dengan Paman Davin?." tanya Ara.   "Ara tau?." tanya Ivan heran, ia saja kemarin sangat terkejut begitu menyadari Cindy -ibunya- ikut bersamanya. Ia tak menduga akhirnya ia bisa bersama dengan ibunya lagi.   "Tentu saja... Bibi Cindy kemarin meminta bantuan Papa untuk memanas-manasi Paman Davin."   Cindy terkekeh pelan mendengar ucapan Ara. "Sudah sudah... Jangan membahas kemarin. Sekarang sebaiknya kalian bersiap sana. Kami akan menunggu disini."   Sepeninggal Ara, Ivan dan Davin yang mengantar mereka menuju ruang make up. suasana canggung menyelimuti tiga orang lain yang tersisa.   Cindy canggung karena tau hubungan Kyra dan Elvira yang terhubung dengan orang yang sama -Damian. Apalagi sekarang ada Ara, anak kandung Kyra yang malah datang bersama Elvira. Semuanya terasa sangat rumit bagi Cindy, ia jadi bingung harus bersikap seperti apa.   Tak berbeda jauh dengan Elvira dan Kyra. Elvira yang mengetahui tentang Kyra dan Kyra pun sebaliknya. Membuat suasana menjadi sangat canggung dan terlihat sangat tegang.   "Elvira... Kenapa kau datang dengan Ara?." tanya Cindy pada akhirnya.   Elvira melirik Kyra sesaat. Ia takut salah berbicara. "Ara menginap dirumahku sejak kemarin. Damian kebetulan menitipkan Ara padaku." ujarnya pelan.   Cindy melirik Kyra sesaat kemudian kembali menatap Elvira. "Sepertinya hubungan kalian lebih serius dari yang aku pikirkan."   "Ah...? Begitukah?." tanya Elvira ragu.   "Damian bahkan tak pernah meminta seseorang untuk menikah dengannya, kau pasti sangat istimewa." kali ini Kyra yang berbicara. Meski sedikit tertohok dengan ucapannya sendiri. Tapi itu kenyataannya.   Elvira terdiam beberapa saat, ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbicara. "Kyra... Bukan begitu...."   "Damian bahkan percaya menitipkan Ara padamu." lanjut Kyra.   Elvira tau, Kyra mengatakan itu pasti dengan penuh kekecewaan. Karena ia dapat merasakan hal itu dari getaran ucapannya.   "Jika ingin... Hari ini kau bisa bersama Ara, sebelum Damian kembali besok." ujar Elvira pelan. "Jika perlu aku akan mencari alasan untuk pergi, agar kalian memiliki waktu berdua."   Kyra mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kau... Tau?."   Elvira mengangguk. "Damian sudah menceritakan semuanya."   Kyra menghela nafas, Damian menceritakan semuanya? Wow. Sebegitu seriuskah hubungan mereka berdua?. Ia melirik Elvira yang kini sibuk dengan ponselnya. perempuan itu memang menarik, meski tidak secantik Cindy tapi dia memiliki pesona lain yang membuatnya menjadi menarik perhatian.   "Bibi.... Nanti fotokan Ara ya.... Dan tolong kirimkan pada Papa." seru Ara yang baru saja kembali dari ruang make up dan sudah lengkap dengan seragam sekolah berwarna biru.   Kyra menatap Elvira yang mengangguk pada Ara, dia juga tersenyum sangat lembut pada anaknya itu. Jujur saja, ia sangat cemburu melihatnya. Seharusnya ia yang diperlakukan begitu oleh Ara. Seharusnya ia yang lebih dekat dengan Ara daripada oranglain. Tapi disini, justru dirinya lah yang seperti orang asing.... Orang asing untuk anaknya sendiri.   Sebuah genggaman menyadarkan Kyra dari lamunan panjangnya. Kini ia mengalihkan pandangan pada Cindy yang juga tersenyum tipis padanya, mencoba menyalurkan ketenangan yang dia miliki.   "Ya... Ara... Jangan berekspresi begitu. Kau harus seperti anak-anak biasa. Ceria dan tersenyum." tegur Davin.   Ara merengut. "Tapi... Aku ingin seperti Papa. Seksi." ujarnya seraya menaikan poni dan mengeluarkan tatapan sayu-nya.     "Ya Tuhan... Damian...." erang Davin frustasi. "Kau bisa melakukan itu nanti Ara."   Kyra terkekeh pelan melihat Ara yang malah tertawa melihat Davin yang menggeram gemas padanya.   "Baiklah baiklah... Baiklah... Sekarang kita serius."   Kyra menatap Ara dengan gemas. Apalagi saat anaknya itu tersenyum lebar. sangat menggemaskan. Ia jadi penasaran, 15 Tahun ini, seperti apa kehidupannya? Juga, sebanyak apa moment yang ia lewatkan?.   Penyesalan memang selalu datang terlambat, andai ia bisa memutar waktu....   Pemotretan berjalan dengan sangat lancar hingga ke pemotretan bersama antara Ara dan Ivan juga. Keduanya tampak sangat ceria, membuat seluruh crew juga ikut ceria melihatnya. Apalagi Ara sering mengeluarkan candaan yang membuat semua orang ikut tertawa juga. Semua orang tak menduga pemotretan akan berjalan lebih mudah dan lebih cepat dari yang mereka bayangkan.   "Kami akan makan siang bersama. Kau ingin ikut?." tawar Kyra pada Elvira begitu pemotretan berakhir.   Elvira tersenyum kaku, ini pasti akan sangat canggung. Pikirnya.   "Tolong jangan menolak, aku ingin makan siang bersama Ara." lanjut Kyra.   Ah... Ya... Seharusnya Elvira menyadari itu. "Ah?."   "Sebaiknya aku tidak ikut. Kalian bisa bersama. Nanti aku akan menjemputnya lagi."   Kyra terkejut mendengar itu. Tentu saja. Ia tak menduga Elvira akan sangat peka dan membiarkan Ara bersamanya.   "Bini...." seru Ara seraya berlari kecil kearah Elvira. "Bibi... Paman Davin mengajak kita makan siang bersama. Bagaimana? Kita bisa ikut kan?."   Elvira tersenyum. "Ara bisa ikut, tapi Bibi tidak. Bibi ada sedikit pekerjaan. Jika Ara ingin, Ara bisa ikut bersama Paman Davin, nanti sore Paman jemput dirumah Paman Davin. Bagaimana?."   Ara menghela nafas pelan kemudian mengangguk setuju.   Melihat respon positif itu membuat Kyra tersenyum bahagia. Ia senang, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Ara.   Setidaknya walaupun hanya beberapa jam. Tak apa. Itu tak masalah baginya. Yang terpenting, ia memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan puteri cantuknya yang akan sulit ia dapatkan lagi.   ***   Cindy tersenyum senang melihat Kyra yang sedang asik berbicara dengan Ara. Sejak dari dalam mobil hingga mereka sampai di kediaman milik Davin, Ara selalu berada disamping Kyra. Keduanya pun banyak sekali berbicara, terkadang Ara yang mengeluarkan lelucon dan terkadang Kyra yang melakukannya.   Secara alami mereka terlihat cocok, keduanya bahkan langsung klop satu sama lain. Ara yang sangat manja pada Kyra, kemudian Kyra yang selalu bisa mengatasi kemanjaan anaknya itu. sangat serasi.   Memang benar kata pepatah, darah itu lebih kental daripada air.   Jujur saja, Cindy sekarang lebih lega. Apalagi saat melihat Kyra yang dapat ceria lagi seperti biasanya, ia pun jadi ikut senang dibuatnya.   "Mama...."   Cindy berbalik kearah Ivan yang sedang menatapnya. Sejak kemarin Ivan memang sering sekali melakukan hal itu, memanggil-manggilnya dan menatapnya. Mungkin efek dari rasa rindu yang belum juga habis ia rasakan.   "Iya Ivan."   "Peluk." Pinta Ivan seraya merentangkan tangannya.   Cindy terkekeh kecil lalu meraih Ivan dalam pelukannya. "Masih rindu hm?."   Ivan mengangguk. "Makanya... Mama menginap. Temani Ivan tidur."   Cindy melirik Davin yang sedang tersenyum penuh kemenangan. Sejak kemarin Davin memang memintanya menginap, tapi ia menolak karena memang ia tak tega meninggalkan Kyra sendiri dan juga ia tak segila itu untuk langsung tinggal bersama dengan mereka lagi.   "Mama tidak bisa berjanji, masih ada pekerjaan besok."   "Mama...." Rajuk Ivan lagi.   "Tapi Bibi Kyra nanti sendiri di apartemen." Ujar Cindy meminta pengertian pada putera tampannya itu.   "Bibi Kyra ajak menginap juga...." Pinta Ivan lagi.   "Kalau Bibi Kyra menginap disini. Ara juga menginap disini saja." Seru Ara.   Cindy dan Kyra saling berpandangan. Keduanya sangat takjup dengan ucapan Ara. Sungguh hal itu diluar dugaan mereka.   "Nanti... Ara bisa banyak cerita. Ara juga besok kenalkan Bibi pada Papa... Bagaimana?."   "Hah? Papa?."   Ara mengangguk. "Papa sudah berjanji besok akan pulang."   "Lalu bagaimana Bibi Elvira.?." Tanya Kyra.   "Bibi Elvira?." Ara menghela nafas panjang. "Biar Ara nanti yang menelpon Bibi Elvira dan meminta ijin."   Cindy melirik Kyra sesaat kemudian menatap Ara lagi. "Ara lebih senang dengan Bibi Kyra atau Bibi Elvira?." Tanya Cindy.   Ara terdiam, begitupula Kyra. Sementara Davin hanya menyimak saja, karena dia memang belum mengetahui situasi yang terjadi.   "Ara...." Panggil Cindy pelan.   "Mama.... Kenapa malah terus bertanya pada Ara dan mengabaikan Ivan begini?." Seru Ivan setengah merengek. "Pokoknya malam ini Mama menginap. Ivan tak mau tau alasan apapun lagi. Titik."   Cindy menatap Ivan lalu terkekeh pelan, begitu juga Davin. Keduanya bahkan kini saling berpandangan kemudian terkekeh pelan menyadari sikap menggemaskan dari anaknya itu.   Tangan Cindy terangkat, mengusak puncak kepala Ivan sesaat. "Iya... Van... Nanti Mama menginap."   "Jadi Bibi Kyra juga akan menginap?." Tanya Ara.   Kyra menatap Cindy, meminta saran melalui tatapannya. Beberapa saat kemudian ia tersenyum pada Ara kemudian mengangguk pelan.   "Iya... Bibi juga akan menginap."   Ara tersenyum tipis. Entah kenapa ia merasa sangat senang mendengar jawaban tersebut. Ia juga tak pernah se-exited ini sebelumnya pada orang baru seperti Kyra. Entahlah.... Ara hanya merasa nyaman dan aman berada di dekat Kyra. Perasaannya juga terasa sangat penuh, seolah mengisi kekosongan yang selama ini ia rasakan.   Perasaan apakah ini?.   Ara tidak tau perasaan ini perasaan seperti apa. Karena yang jelas, sekarang ia merasa sangat penuh dan nyaman.   Sebuah perasaan yang terasa melengkapi dirinya.   Tak mungkinkan ia jatuh cinta pada orang dewasa seperti Kyra?.   ***   Bersambung...   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD