Time

1770 Words
Kyra tak pernah merasakan dalam hidupnya ia bisa sebahagia ini. Ia sungguh tak menduga hari ini akan datang. Hari dimana ia bisa menatap Ara dan memeluknya dengan puas. Sungguh ini adalah moment yang paling berharga untuknya.   Kyra dalam hati sungguh berterimakasih pada Elvira yang sudah mengijinkan dan memberinya kesempatan untuk memiliki waktu bersama Ara. Jika bukan karena dirinya, mungkin saja ia tak memiliki kesempatan itu.   Pantas saja--- Damian bisa langsung jatuh cinta pada perempuan itu. Ia pun jika laki-laki ia akan sangat menyukai perempuan sepengertian Elvira.   "Bibi.... Kenapa melamun?." Tanya Ara.   Kyra menunduk, menatap Ara yang kini tengah berbaring dalam pelukannya.   "Tidak. Bibi tidak melamun. Hanya saja, Bibi senang ada Ara disini."   Ara tersenyum kemudian menyerukan wajahnya dalam pelukan Kyra lagi. "Ara juga senang."   Kyra mengeratkan pelukannya dengan sesekali mengelus punggung sempit anaknya itu.   "Bibi...."   "Hm...."   "Ara senang ada yang memeluk Ara begini." Jeda sesaat. "Sejak kemarin, ingin sekali ada yang menemani Ara tidur. Ara... Sedang sangat sedih."   "Bibi Elvira tidak melakulannya?."   Ara menggeleng. "Bukan begitu Bibi. Bibi Elvira... Dia baik... Dia memeluk Ara sebelum tidur. Tapi sejak kemarin rasanya sangat berbeda. Ara rasa menjadi asing dan canggung."   "Ara juga tak bisa mengatakan ini pada Bibi Elvira.... Ara takut.... Ara membebaninya."   "Apa itu?."   "Ara ingin Bibi Elvira menikah dengan Papa... sangat ingin."   Kyra hanya diam, menunggu Ara melanjutkan ucapannya.   "Tapi Ara takut... Alvin tidak setuju, apalagi sekarang Alvin sedang berlibur dengan Papa kandungnya.... Ara merasa jika Alvin juga pasti ingin Papa kandungnya daripada Papa. Ara merasa.... Alvin pasti tidak setuju jika Bibi Elvira menikah dengan Papa."   Kyra menggigit bibirnya. Sakit. Ya... Ia sakit saat mendengar nada bicara Ara yang sangat sedih seperti ini. Ini kali pertamanya ia mendengar nada bicara Ara yang sesedih ini. Apakah Ara seingin itu Elvira menjadi ibunya? Menggantikannya? Ara juga terlihat sangat sungguh-sungguh saat mengatakannya. Ya--- memang pantas. Elvira memang baik. Pikir Kyra   "Ra sepertinya... sangat menyukai Bibi Elvira?."   Ara mengangguk. "Bibi Elvira yang selalu menjaga Ara saat Papa sibuk. Bibi Elvira juga yang selalu merawat Ara.... Bibi Elvira baik, bahkan sangat baik. Bibi El mau merawat Ara, bahkan dari sebelum Ara mengenalkannya pada Papa. Bibi Elvira...."   Kyra mengerutkan keningnya saat merasakan tubuh kecil dalam pelukannya itu mulai bergetar, kemudian sebuah isakan mulai terdengar.   "Hey... Ara.... Kenapa menangis?."   Tak ada jawaban yang keluar dari Ara, anaknya itu hanya terus menangis dengan isakan yang sangat pelan.   Apakah anaknya ini semacam patah hati? Bagaimanapun selama ini dalam angan anaknya ini, Elvira adalah seseorang yang dia impikan untuk hidup bersamanya, mengisi kekosongan dalam keluarganya. Dan... Setelah mendengar kabar ini pasti dia sangat khawatir dan terus berpikiran buruk.   Jujur saja, ia merasa sangat cemburu. Ara--- sudah benar-benar tak ingin bertemu dengannya ya? Ibu kandungnya? Ara sudah tak menginginkannya ya? Sampai dia--- hanya menginginkan El?   Kenapa rasanya sangat sakit? Hatinya terasa lebih perih dibandingkan dengan perpisahannya dengan Damian.   "Ra... Sudah jangan menangis... Prasangka Ara belum tentu benar. Bukankah Ara belum bertanya pada Bibi Elvira? Bisa saja... Bibi Elvira lebih memilih bersama Papa Ara.... Kan? Kita tidak akan pernah tau, isi hati seseorang itu seperti apa Ra...."   Kali ini Ara mengangkat wajahnya menatap Kyra dengan tatapan yang sangat polos.   "Benarkah? Apa... Bibi Elvira... Masih bisa menikah dengan Papa?."   Kyra tersenyum tipis kemudian mengangguk. "Kemungkinan itu selalu ada Ra...."   "Jadi... Begitu?."   Kyra mengangguk lagi meskipun perih tapi ia akan terus tersenyum demi puteri cantiknya ini, tangannya kini terulur menyeka air mata yang membasahi kedua mata anaknya itu. Ia memang sakit hati jika membayangkan Damian yang mungkin pada akhirnya akan bersama Elvira. Tapi sungguh, melihat Ara menangis seperti ini lebih menyakitkan dari apapun didunia ini.   Kyra tak ingin Ara menangis seperti ini lagi. Meski ia yang akan terluka, itu tak masalah. Selama ia bisa melihat senyuman anaknya ini, hal itu sudah lebih dari cukup untuknya.   "Sekarang Ara tidur.... Kalau tidak tidur sekarang, wajah Ara akan bengkak besok."   Ara mengangguk semangat. "Selamat tidur Bibi... Semoga mimpi indah...." Ujarnya seraya memejamkan mata.   "Selamat tidur juga Sayang... Semoga mimpi indah."   Ara menyamankan dirinya. "Terimakasih Bibi... Ara... sangat lega sekarang."   Kyra mengangguk dan tersenyum lagi. Ia sudah bilangkan... Ia bahagia hanya dengan Ara yang ada didalam dekapannya seperti ini.   "Sama-sama Ra...." Ujarnya seraya membubuhkan ciuman ringan dipuncak kepala anaknya itu.   Dalam hati Kyra hanya bisa berharap, agar Ara selalu bahagia kapanpun dan dimanapun... Kyra... Hanya ingin melihat senyumannya itu.   Mama.... sangat menyayangimu Ra...   ***   Menjelang dini hari Damian sudah sampai kembali ke Korea. Bahkan kini ia sudah sampai lagi di depan kediaman Elvira. Rumah itu juga masih menyala... Tadi ia memang sempat mengabari perempuan itu saat ia akan melakulan take off dan mengatakan akan ketempat ini meskipum tau, Ara tak ada disini.   "Kau bisa pulang Harry, aku akan menginap disini." Ujarnya pada Harry.   "Damian... Tidakkah sebaiknya besok saja kau kesini?."   Bisa. sangat bisa. Tapi rasa penasaran lebih menguasai dirinya dibandingkan keinginannya untuk pulang kerumahnya sendiri.   Sejak pertemuannya dengan Kalvin kemarin, pikirannya sedikit terganggu dengan kenyataan bahwa Kalvin merupakan ayah kandung dari Alvin. Ia hanya ingin lebih memastikannya lagi dari jawaban Elvira.   Damian tersenyum, "Aku merindukannya. Besok kau tak perlu menjemputku atau bekerja. Kau bisa ambil liburmu."   Harry memutar bolanya. "Baiklah... Dasar ya, orang yang sedang jatuh cinta memang begitu."   Damian hanya terkekeh menanggapinya. Harry memang tidak mengetahui tentang Alvin, jadi dia tidak akan mencurigai apapun.   "Damian...."   Damian berbalik menatap Harry lagi begitu ia keluar dari dalam mobil.   "Jangan lupa pakai pengaman."   Damian menaikkan sebelah alisnya, kemudian terkekeh pelan. "Sayangnya aku tak suka memakai benda seperti itu."   "Ya!!! Jangan gila!!!."   Damian malah tertawa menanggapinya. "Aku tak akan melakukan apapun Harry. Kau bisa tenang."   Harry mendesis pelan. "Awas saja...."   "Sudah. Pulang sana, kau yang jangan lupa memakai pengaman. Jangan sampai Davin harus mencari manager baru dalam waktu dekat."   Harry mengeluarkan smirk-nya. "Tentu saja. Sudahlah... Itu... Pacarmu sudah menunggu."   "Hati-hati dijalan Harry."   "Iya, sampai jumpa lagi."   Setelah memastikan Harry pergi, Damian berbalik dan berjalan kearah Elvira yang sudah menunggunya di ambang pintu.   "Apa kebiasaanmu menunggu diambang pintu begini?." Tanya Damian begitu ia berharapan dengan Elvira.   Elvira tersenyum. "Tidak juga... Aku hampir tak pernah menunggu seseorang begini. Ayo masuk...."   Damian berjalan mengekori Elvira, ia menatap perempuan itu yang kini sedang mengunci pintu.   Elvira... Memang menutupi sesuatu darinya, dan mungkin saja itu fakta tentang Kalvin. Keanehan yang ia rasakan sejak sebelum ia berangkat, mungkin saja benar itu tentang Kalvin.   "Ingin minum sesuatu dulu Dami? Atau ingin langsung beristirahat?."   Damian menahan lengan Elvira, kemudian membawa pria itu dalam pelukannya.   Elvira pasti sedang merasa terbebani sekarang. Terlihat sekali dari matanya yang masih saja sayu.   "Ingin cerita?."   "Kau pasti lelah, sebaiknya Kau istirahat dulu. Kau juga pasti belum sempat tidur kan?."   Damian mengusak puncak kepala Elvira. "Aku baik-baik saja. Aku bisa mendengarkan ceritamu hingga pagi."   "Kau besok harus melihat pemotretan Ara."   Lihatlah... Elvira bahkan terus menghindarinya.   "Baiklah... Kalau begitu bagaimana jika kita meminum secangkir teh sebelum tidur?."   Elvira mengangguk kemudian mengurai pelukannya. "Iya.... Sebentar... Aku buatkan dulu."   Damian mendudukan diri diatas sofa, sementara tangannya sibuk memeriksa beberapa artikel yang mulai memuat aktivitas Ara san Ivan. Ia tak menduga debut anaknya ini akan sangat menggemparkan. Bahkan banyak yang menyandingkan Ara dengannya juga. Mereka bahkan banyak yang mengatakan jika Ara akan sama suksesnya dengan dirinya.   "Ini... Minumlah...."   Damian tersenyum kemudian menggumam terimakasih. "Apa Ara menyulitkanmu?."   Elvira menggeleng. "Ara tidak menyulitkan sama sekali Damian. Kenapa kau selalu bertanya begitu?."   "Aku hanya khawatir... Kau terlihat kelelahan. Matamu juga sayu tak seperti biasanya." Ujar Damian jujur.   Sejujurnya, ia meminta Elvira untuk meminum teh hanya sebatas alibi saja. Ia hanya mencoba membuat Elvira berbicara tanpa merasa dipaksakan olehnya. Sejujurnya, ia juga ingin mengetahui perasaan Elvira terhadapnya. Apakah Elvira juga mulai memiliki perasaan yang sama dengannya? Ataukah tidak?. Atau justru... Elvira gamang karena Elvira menyukai orang lain.... Kalvin misalnya.   "Aku hanya sedang banyak pikiran."   "Tak ingin bercerita padaku?."   Elvira membasahi bibirnya. "Dami...."   Damian kembali membawa Elvira dalam pelukannya. "Tak apa jika kau tak ingin. Aku memahaminya."   "Elvira.... Aku.... Hanya ingin memastikan sesuatu...."   Elvira yang berada dalam pelukan Damian mendongak, menatap Damian yang juga sedang menatapnya.   "Apa....?."   Damian meraih dagu lancip Elvira kemudian memiringkan wajahnya. Lalu meraup bibir penuh itu. Hal itu berlangsung lama. Bahkan Elvira meresponnya dan memegang bahu Damian cukup kencang. Sampai akhirnya setelah beberapa saat tautan itu terputus.   Damian menempelkan keningnya di kening Elvira yang kini menunduk menghindari tatapannya.   "El...."   "Aku menyukaimu Damian... Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Akupun tak menduga perasaan ini akan berkembang dengan cepat sampai aku merasa serakah dan ingin memilikimu. Tapi Damian...  semuanya akan sangat sulit. Keserakahan ini mencekikku. Aku ingin.... Bersamamu... Tapi tak bisa...."   "Semua ini.... Tak akan mudah...."   Damian murengkuh wajah Elvira, menyeka air matanya yang mulai turun.   "Aku tak ingin kehilangan Alvin... Damian.... Aku tak ingin kehilangan anakku."   Ah... Jadi ini masalahnya.   "Apa Kalvin mengatakan akan membawa Alvin jika kau tak bersamanya?."   Elvira mengangguk tanpa sadar tapi kemudian ia mendongak. Menatap Damian. Terkejut.   "D-damian.... Bagai--mana?."   Damian tersenyum lembut. Ibu jarinya kembali membersihkan jejak air mata disudut mata Elvira. "Kami tanpa sengaja bertemu di Jepang."   "Damian.... Aku.... Sungguh, aku tak bermaksud berbohong."   Damian masih tersenyum sangat lembut pada Elvira. "Tak apa, aku memahaminya. Kau pasti kesulitan juga."   Elvira kali ini memeluk Damian dengan erat. "Terimakasih Damian.... Terimakasih...."   "Sudah tak perlu menangis... Gunakanlah waktumu sebaik mungkin untuk berpikir. Aku pun tak akan memaksamu." Damian menghela nafas. "Aku memang menyukaimu, tapi aku tak bisa egois dengan memaksakan kau terus bersamaku. Bagaimanapun Alvin kebahagiaanmu, sama sepertiku, Ara adalah kebahagiaanku."   "Damian...."   "Akan sangat sulit melupakanmu, walaupun hubungan kita sangat singkat."   "Apalagi aku...."   "Cobalah buka hatimu untuk Kalvin. Dia baik... Dia tak seburuk penampilan luarnya."   "Damian!." Elvira menatap Damian dengan berang. Ia tak suka mendengar gagasan itu. Ia memang gamang, tapi ia tak suka mendengar Damian mengatakan itu. Ia tak suka dengan gagasab seperti itu. Tidak. Ia sangat tidak menyukainya.   "Tak bisakah kau memperjuangkanku saja? Tidak bisakah kau berusaha meluluhkan Alvin juga? Bukan menyerah begini."   "Elvira...."   "Inilah kenapa aku tak ingin menceritakannya padamu. Kau pasti akan mengatakan ini. Kau pasti akan cepat menyerah, bukan memperjuangkan semuanya." Elvira kali ini menatap Damian kecewa. "Kau! Hanya mempermainkanku bukan?."   "Hey.... Elvira... Tidak... Aku bersumpah aku tidak pernah berniat mempermainkanmu."   "Lalu kenapa kau dengan mudahnya mengataka aku harus membuka hatiku untuk orang lain? Damian.... Kau tau... Aku sangat terluka. Disaat aku sedang sangat menyukaimu kau malah ingin melepaskanku begitu saja?."   "Elvira.... Bukan begitu.... Aku menyukaimu... Akupun sangat menyukaimu. Kau bahkan sudah tau semuanya tentangku dan perasaanku. Jika aku tak cukup serius aku tak mungkin mengatakan semuanya."   "Kalau begitu buktikan!."   Damian mengerutkan keningnya. "Buktikan?"   "Ya."   "Aku ingin membuktikan ucapanku dengan menikahimu. Aku sudah mengatakannya padamu. Tapi seperti yang kau bilang. Keadaan sekarang lebih sulit dari dugaan kita. Jika kita terus memaksa... Akan semakin sulit."   "Ayo kita melakukannya...."   "Elvira...."   Elvira memejamkan matanya sesaat kemudian menatap Damian lagi. "Damian... Ayo kita bercinta."   ***   Bersambung...   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD