Siapa yang suka Senin? Pasti jawabannya tidak ada. Senin, hari yang mungkin paling dikutuk semua orang. Sebagian mungkin berpikir demikian dikarena harus mengikuti upacara bendera yang mengharuskan mereka berdiri beberapa menit sambil mendengarkan ceramahan dari salah satu guru yang menjadi pembina upacara. Ditambah, sengatan matahari pagi yang sebenarnya menyehatkan tubuh mereka.
Memang ya, manusia itu tak pernah bisa bersyukur, selalu mengeluh. Sudah di beri kebebasan dari para penjajah dan hanya melangsungkan upacara untuk menghormati para pahlawan yang telah berjuang saja mereka masih mengeluh. Bahkan, mereka melakukan upacara itu tak sampai berjam-jam. Dan juga, bukankah mentari pagi itu baik ya? Jadi, kenapa masih mengeluh? Dasar, manusia.
Oke.
Memang sih, membosankan mendengar ceramah pembina yang sebenarnya itu-itu saja. Tapi, mau bagaimana lagi. Semuanya harus diam, mendengarkan. Sama halnya dengan Pelangi yang kini juga diam, diam mulutnya sedangkan tubuhnya tak henti-hentinya bergerak.
Pelangi mendengus, dia menghela napas kasar karena ceramah pembina yang seolah tak ada tanda berhenti. Di terdiam, memikirkan cara tepat untuk bisa terbebas dari keadaan ini. Hingga sebuah ide cemerlang muncul di benaknya, membuat senyum misterius tercetak di bibir manisnya.
Oke, dia akan bersiap-siap memulai aksinya.
Brukk!!
Tubuh Pelangi jatuh seketika, membuat orang-orang yang tadinya tengah terfokus pada pembina mengalihkan atensinya pada Pelangi yang sudah tergeletak tak sadarkan diri—akting.
Pelangi mencoba menahan tawanya, bersikap seolah-olah tengah pingsan sungguhan. Dia bisa mendengar bisikan orang-orang dan tubuhnya sudah melayang seketika di angkat seseorang yang entah siapa. Dia mengintip sedikit, ingin memastikan siapa orang yang mengangkat tubuhnya ini.
Tentu saja dia terkejut, bahkan saking terkejutnya dia hampir membuka sempurna kelopak matanya saat melihat orang yang mengangkat tubuhnya.
Alvaro, orang itu dia.
Lelaki itulah yang tengah mengangkat tubuh Pelangi dan dibawa menuju ruang kesehatan sekolah.
Pelangi mendengus dalam hati. Kenapa harus Alvaro yang membawanya? Kenapa tidak Genta saja? Pikirnya.
Dia merasakan tubuhnya sudah diturunkan diatas ranjang berukuran single bed di ruangan kesehatan ini. Dan bau obat-obatan langsung menyeruak ke indra penciumannya.
"Udah, buka mata aja, toh cuma ada kita berdua ini."
Ucapan Alvaro itu membuat Pelangi terlonjak, dia perlahan membuka matanya menatap Alvaro yang sudah tersenyum lebar. Alvaro berdiri disamping Pelangi, memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil terus memperhatikan Pelangi.
Pelangi mendengus, aktingnya ketahuan. Dia perlahan beranjak duduk, mendengus dan menatap kesal Alvaro yang sudah terkekeh. Dia memutar tubuhnya, sehingga kini dia duduk diatas ranjang dengan kaki yang dibiarkan menggantung.
Pelangi memincingkan matanya, menatap Alvaro. "Awas, aja kalau sampai ngadu sama guru." Tukas Pelangi tajam.
"Kenapa emangnya?"
Pelangi mencebik. "Pokoknya jangan sampai Lo ngadu sama guru. Gue gak mau bermasalah lagi, masalah kemarin aja belum selesai."
Alvaro menaikkan sebelah alisnya. "Ada imbalan nya?"
Pelangi mendengus, memutar bola matanya jengah. "Ya ampun ... Apaan sih Lo! Pake acara imbalan segala. Mau Meres gue, Lo?" Tuding Pelangi, dia mengerucutkan bibirnya yang justru terlihat lucu di mata Alvaro.
Alvaro terkekeh, dia memajukan tubuhnya lebih dekat pada Pelangi yang membuat perempuan itu mengerutkan kening bingung. Apalagi saat tangan lelaki itu terulur dan kini menggantung di udara begitu saja.
"Mau ngapain Lo?"
"Meres, Lo."
"Hah?"
Alvaro berdecak. "Tadi, katanya pengen gue peres. Ini gue mau meres Lo." Jelas Alvaro yang masih membingungkan Pelangi.
Pelangi terdiam, memikirkan maksud ucapan Alvaro. Namun saat otak cantiknya tiba-tiba berpikir kotor membuat dia tahu apa maksud ucapan Alvaro. Dan kini wajahnya sudah memerah, menahan kekesalan.
"ALVARO!"
***
Pelangi keluar dari kelasnya setelah jam istirahat berbunyi 5 menit yang lalu. Dan kini, perempuan itu tengah berjalan dengan mata yang terus-menerus mencari keberadaan seseorang. Tak lupa, kotak makan berwarna biru berbentuk hati ada di genggaman tangannya.
Senyumnya merekah saat melihat sosok yang dicarinya. Lelaki jangkung yang kini tengah duduk bersama 2 sahabatnya disalah satu tangga kecil dekat taman. Langkah kakinya melangkah menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri pujaan hatinya.
"Genta," panggil Pelangi dengan senyum merekah saat sudah berdiri di hadapan mereka.
Mereka mendongak, menatap Pelangi yang sudah berdiri dihadapan mereka. Genta terdiam sejenak, kemudian memutar bola matanya jengah saat melihat keberadaan perempuan itu. Dia sangat jengah berurusan dengan perempuan yang tak pernah mau berhenti mengejar cintanya. Padahal dia sudah sangat jelas dan terang-terangan menolak perempuan itu.
Fabian hanya diam, menatap Pelangi. Sedangkan Alvaro tersenyum diam melihat wajah cantik itu tersenyum lebar. Meskipun dia tahu, senyuman itu bukan tertuju padanya, melainkan pada sahabatnya, Genta.
"Nih, gue bawain lo bekel makanan. Gue yakin, lo belum makan kan?" tebak Pelangi sambil menyerahkan kotak makan ditangannya.
Genta terdiam, tak berniat menerima pemberian perempuan itu barang sedikitpun.
"Gue udah makan," jawab Genta malas, dia berniat beranjak namun Pelangi menahannya.
"Bohong, nih. Gue tau kok, Lo belum makan kan. Udah deh, Lo terima aja. Gue spesial bawain ini buat Lo." Ucap Pelangi kekeh, dia membuka tutup kotak makan tersebut.
Genta tetap pada pendiriannya, enggan. Begitupun dengan Pelangi yang tetap memaksa. Hingga tanpa sengaja Genta menghempas begitu saja kotak makan tersebut, membuat isinya berhamburan di lantai.
Semuanya yang melihat terpekik pelan, tak percaya Genta bisa melakukan ini. Meskipun mereka tau, Genta tak sengaja melakukan itu semua. Begitupun Alvaro dan Fabian, terkejut melihat itu.
"Gen, kok di lempar sih?" Lirih Pelangi, dia menatap sendu Genta yang masih memasang wajah datar.
"Ya abisnya, Lo maksa." Jawab Genta. Dia sebenarnya tak sengaja, namun tak mungkin dia mengatakan itu semua. Biarlah, mungkin dengan ini Pelangi akan menjauhinya.
"Gen, apaan sih Lo!" Tukas Alvaro tak suka, dia tak suka mendengar itu semua. Apalagi saat ini dia melihat wajah Pelangi yang sudah pucat pasi dengan mata memerah menahan tangis.
Pelangi menggeleng tak percaya. Dia ingin menangis sebenarnya. Namun, itu bukan Pelangi namanya kalau sampai menjatuhkan air matanya. Dia tersenyum miris, menatap tak percaya Genta yang terlihat biasa.
"Gue lebih respect kalau Lo keluarin kata-kata pedes Lo buat gue, karena itu udah biasa buat gue. Tapi, gue gak suka kalau Lo gak ngehargain gue dengan cara seperti ini. Gue tau, Lo gak suka sama gue. Tapi—”
"Mulai sekarang kita jadian."
Semuanya terkejut mendengar pernyataan yang baru saja terlontar dari mulut Genta. Termasuk Pelangi yang tadi merasa kecewa dengan sikap Genta. Perempuan itu menatap tak percaya Genta yang kini sudah berdiri dihadapannya.
"Lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Genta sambil menatap Pelangi datar.
Pelangi hanya mampu diam, dia masih tak percaya dengan semua ini. Dalam hati, dia bersyukur akhirnya Genta membukakan hati untuk dirinya yang setelah sekian lama menunggu. Namun, ini masih tak terlihat nyata seolah dia tengah bermimpi kini. Kalau iya dia tengah bermimpi, tolong jangan bangunkan dia. Mimpinya terllau indah untuk diganggu begitu saja.
Genta memutar bola matanya jengah, mengalihkan sejenak atensi matanya sebelum kemudian kembali menatap Pelangi. "Gimana, mau gak? Gak main? Yaudah." Tukas Genta santai, dia berniat pergi namun diurungkan karena jawaban Pelangi.
"Mau kok,"
Pelangi mengangguk dengan antusias. Semua orang melongo menatap drama kehidupan yang nyata ini. Alvaro menatap Genta penuh tanya, otak dan hatinya mengatakan bahwa lelaki itu memiliki tujuan lain. Berbeda dengan Fabian yang terlihat biasa saja menanggapi itu semua.
Dan saat itu juga, Pelangi sudah berstatus sebagai kekasih dari seorang Genta, sang pujaan hatinya. Dia senang, ekspektasinya yang bisa menjalin hubungan dengan Genta akhirnya terwujud. Meskipun dia tak tahu, apakah ekspektasi kedepannya akan seindah ekspetasi dirinya. Entah, biar waktu yang menjawab semuanya.
***