Chapter - 8 ✓

1193 Words
Hoam ... Mata itu perlahan mengerjap-ngerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk lewat celah kamarnya. Perlahan, pandangannya yang semula buram terlihat jelas dan hal pertama yang dilihatnya adalah jam dinding yang terletak tepat diatas pintu kamarnya. 07. 54 Bola matanya membulat sempurna, membuat dia cepat-cepat beringsut dari atas ranjang dan berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi. Bahkan, dia hampir tersandung kakinya sendiri saking buru-buru nya. Tak seperti biasa, dia menghabiskan waktu sesingkat mungkin di kamar mandi. Bahkan, dia hanya membasuh wajahnya dan menyikat gigi tanpa membasuh badannya. Toh, dia tak bau-bau amat. Sehingga, tanpa mandi pun rasanya tak akan mengeluarkan bau aneh dari tubuhnya. Dia keluar dari kamar mandi dengan seragam yang masih belum selesai di kancingkan. Dia berjalan ke arah cermin, kemudian duduk di meja belajar dengan tangan tangan masih mengancingkan kancing seragamnya kemudian beralih mengikat asal rambut panjangnya. Dia segera memasukkan semua buku-bukunya, bersama dengan laptop seperti biasa. Dia bergegas cepat keluar dari kamarnya, kemudian berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga sambil sesekali melirik jam yang tengah dia lingkaran di pergelangan tangannya. "Pagi, yah, Bun." Sapa Pelangi cepat. Dia mengerutkan keningnya melihat orangtuanya yang tengah asyik, santai menikmati tontonan di layar televisi. Posisi mereka saling merangkul dengan bunda yang merangkul pinggang ayah sedangkan ayah merangkul pundak bunda. Namun, bukan itu permasalahannya. Permalasahan nya adalah kenapa ayahnya terlihat santai tanpa pakaian kantor seperti biasa. Dia lagi-lagi menatap jam di pergelangan tangannya. Dan waktu memang benar, ini sudah siang. Tapi, kenapa ayah masih di kantor? Pikirnya. Bunda cepat-cepat merubah posisi duduknya menjadi duduk tegak, melepas rangkulannya pada ayah kemudian melempar senyum. "Pagi, sayang." Balas Bunda, dia mengerutkan keningnya melihat penampilan Pelangi pagi ini. Diliriknya ayah yang kemudian mendapat gelengan dari ayah. "Kamu mau kemana?" tanya ayah sambil menautkan kedua alis tebalnya. Mendengar pertanyaan ayah membuat kerutan di kening Pelangi semakin dalam. Kemana? Dia sudah pakai seragam sekolah dan ayahnya masih bertanya. Seriusan? "Ya sekolah lah yah," jawab Pelangi, dia berjalan kearah rak sepatu dan mengambil sepatu sekolahnya seperti biasa. "Dengan pakaian seperti ini?" tanya ayah sambil meneliti pakaian yang dikenakan Pelangi, jemarinya melakukan gerakan meneliti dari atas ke bawah, begitu seterusnya. Pelangi terdiam, dia duduk dianak tangga sambil memakai kaos kakinya. Dia meneliti pakaian. Seragam sekolah, seperti biasa. Tapi, kenapa ayahnya bertanya demikian? "Emangnya kenapa sama penampilan aku, yah?" Tanya Pelangi heran, dia sudah mulai memakai kaos kaki dan juga sepatu talinya. Ayah melirik Bunda, melempar senyum lebarnya sambil menggeleng yang mendapat balasan kekehan pelan dari bunda. Bunda berjalan menghampiri Pelangi di anak tangga, duduk disamping putrinya. "Dengan kancing baju gak beraturan, ikatan rambut yang asal?" Tanya Bunda pelan, dia mencoba menahan tawanya saat Pelangi meneliti kembali pakaiannya. Namun, dasar bunda yang tak bisa menahan tawa. Sejurus kemudian bunda tertawa keras, diikuti ayah selanjutnya. Pelangi mencebik mendengar tawa orangtuanya. Dia juga tak habis pikir, bagaimana bisa kancing bajunya ini tak terkancing dengan benar. Ini juga, rambutnya kenapa sampai di ikat asal. Sepertinya, efek terburu-buru tadi membuat dia sampai begini. Dia segera beranjak berdiri, kembali ke kamarnya untuk memperbaiki penampilannya. "Anak kamu tuh," "Anak kamu juga sayang," Pelangi memutar bola matanya jengah mendengar ucapan orangtuanya yang masih sempat-sempatnya melontarkan panggilan sayang. Dia bersyukur, kebodohannya hanya dilihat orangtuanya saja. Kalau satu sekolah melihat bagaimana? Dia sih tak masalah. Tapi, permasalahannya kalau sampai Genta yang melihat bagaimana. Bisa ilfeel lelaki itu nantinya. Tunggu! Sekolah? Astagfirullah ... Pelangi sampai lupa kalau dia sudah terlambat kini. Sebenarnya dia sering terlambat. Namun, saat keterlambatan hampir satu jam dia tak pernah. Dia tak bisa membayangkan, hukuman apa yang akan diterimanya nanti. Dan dia rasa, terlambat satu jam itu tak wajar. Dia buru-buru memperbaiki penampilannya, kemudian bergegas pergi menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri orangtuanya. "Yah, Bun, aku berangkat ya." Ucap Pelangi, dia segera menyalami kedua orangtuanya kemudian mengecup sekilas pipi bundanya dan meleset pergi menuju pintu keluar sambil mengucap salam. Namun, baru saja kakinya melewati pintu keluar. Ucapan ayahnya seketika membuat dia terdiam, mendengus kesal dan menghentak-hentakkan kakinya melihat kekehan dari orangtuanya. "Ini weekend, Pe." *** Pelangi menghempaskan tubuhnya keatas ranjangnya yang masih berantakan, dia belum sempat membereskan. Bibirnya mengerucut, masih kesal dengan kebodohannya sendiri sampai-sampai lupa bahwa hari ini tuh weekend dan tentunya sekolah libur. Sekaligus kesal karena ayah bunda nya malah menertawakan kebodohannya itu. Suara notifikasi pesan masuk ke ponselnya, membuat dia mengalihkan tatapannya pada benda pipih di samping tubuhnya. Tangannya terulur mengambil ponselnya itu kemudian melihat siapa yang baru saja mengirimkannya pesan. Nomor sama. Nomor yang sudah sejak dulu mengirimnya pesan, namun sampai kini dia masih belum tau siapa pemilik nomor tersebut. Awalnya dia merasa takut sekaligus was-was, takut kalau orang yang selalu mengirimkannya pesan itu memiliki niat jahat. Namun, tak ada hal aneh atau sesuatu yang mengancam kehidupannya. Sehingga, dia sudah tak merasa was-was. Senyumnya mengembang membaca pesan yang sama dari nomor yang sama pula. Dia tak pernah membalas, namun lelaki itu tak putus juga mengirimnya pesan seperti ini. — From : +62896 ... Pagi Pelangi, semoga paginya indah ya seindah pelangi yang menghiasi langit. And happy weekend — Pelangi tersenyum, dia meletakkan kembali ponselnya di tempat semula. Dia kini beranjak dari duduknya, kemudian berjalan kearah lemari pakaian dan menarik kaos polos beserta celananya. Seragamnya akan dia ganti saat ini. Kemudian, dia kembali duduk dan memangku laptop diatas pahanya. Dia akan melakukan aksinya. Ok, fokus. Pertama, masuk lewat akun rahasia. Lovers_Genta. Kedua, buka akun milik pujaan hati. @genta Dan terkahir ... Stalker and komen-komen memuja di setiap postingan lelaki itu. Gentaaaaa66 (Picture) 13.453 like❤ @genta for ... The special 'tha 453 Comment @AisyahQilla_ Yah... Kakak belum bisa moveon ya @Faraaaahh sekarang aja yuk ketemuan klo kangen @ gentaaaaa66 @_Nun Kakak.. Tag dong ceweknya @QUOTESGALAU cek ya, siapa tau suka sama quotesnya Bajucouplebest Ayo say di cek, banyak baju couple yang pas banget buat kamu dan pasangan, harganya pun terjangkau say.. Lovers_Genta Aaa ... cocok banget sama kak @pelangi_rainbow VanyaElarrdia @lovers_Genta ye ... Situ halu ya sis, orang Genta aja jijik sama @pelangi_rainbow Pelangi mendengus kesal membaca komentar terakhir itu. Vanya, salah satu siswi di sekolahnya yang kebetulan satu ekstrakurikuler dulu. Entah kenapa, perempuan itu menaruh dendam pada Pelangi. Tapi, seperti karena selalu kalah saing dari Pelangi. Pelangi yang pandai, lihat, dan aduhai. Namun, dia tak memperdulikan itu, dia memilih kembali men-scroll foto-foto yang ada di i********: milik Genta. Dan entah sengaja atau tidak, kini layar laptopnya menunjukkan akun milik seorang Alvaro. Dia sebenarnya tak berminat, namun entah kenapa dia malah kini menelusuri setia postingan lelaki itu. Dan tanpa sadar, senyum tercetak di bibirnya melihat postingan yang berisikan potret diri lelaki itu. Alvrolndrmllr_ (Picture) 23.123 ❤ Alvrolndrmllr Menatap dia dalam diam 543 komentar @jeslynMi Cie.. Secret admire @gammaltari OMG.. Kakak punya gebetan? Cantik gak kak? Plis dong.. Tag supaya kita bisa tau kak @friedsorlin (2) ... @banyibrahim (999) @aurellya Cih!! Trnyata cowok pun sama keponya kayak cewek @banyibrahim @Alvinan Cool @sintiadamai Kakak ganteng banget.. 11 12 sama kak Genta Dia menghentikan kegiatan men-scroll nya saat melihat komentar terakhir. Dia mengerutkan keningnya membaca komentar tersebut. 11, 12? Mpht ... Pelangi menahan tawanya membaca komentar tersebut. Ya ampun ... Padahal sudah jelas, ketampanan Genta itu tiada tanding. Namun, malah di sandingkan dengan Alvaro. Memang sih, Alvaro tampan. Tapi tetap saja. Genta nomor satunya. Camkan! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD