Chapter - 6 ✓

963 Words
Mulutnya mengunyah pelan bakso yang tersisa satu bakso berukuran kecil. Matanya mengendar, mencari keberadaan orang yang biasanya sudah selalu menghampirinya setiap kali di kantin. Namun, sampai sekarang tak ada tanda-tanda kedatangan lelaki itu yang justru membuatnya bingung. Bukankah seharusnya Pelangi senang saat Alvaro tak menemuinya seperti biasa? Tapi, anehnya dia merasa ada sesuatu yang kurang. Seperti kurang komplit istirahatnya kalau tak ada Alvaro yang menghampirinya. Aneh. Dia kembali mengendarkan pandangannya, masih senantiasa mencari keberadaan lelaki itu. Hingga tepukan di pundaknya membuat dia menoleh seketika dan langsung mendapati wajah tampan milik Alvaro yang tengah tersenyum lebar. Dia terkejut, namun dengan cepat mendatarkan wajahnya saat melihat Alvaro yang terkekeh dan sudah duduk disampingnya seperti biasa. "Nyariin gue, ya?" Pelangi menoleh, mendesis. "Geer banget, ngapain juga gue nyariin Lo. In your dream." Bohong, tapi mau bagaimana lagi? Tak mungkin kan Pelangi mengiyakan begitu saja. Bisa besar kepala nantinya kalau Alvaro tau ternyata dia mencari keberadaan lelaki itu. Alvaro terkekeh, dia memutar tubuhnya sehingga menghadap Pelangi yang tengah menatap lurus kedepan. Dari ekor matanya, Pelangi bisa melihat kalau Alvaro tengah memperhatikannya, membuat dia tiba-tiba merasa risih sekaligus berdebar. Tapi, dia mencoba menyakinkan hatinya. Bahwa debaran ini hanya debaran biasa, berbeda dengan debaran cinta yang biasa terjadi saat berdekatan dengan Genta. Iya, dia yakin itu. Pelangi mendengus, dia segera memutar kasar tubuhnya menghadap Alvaro kemudian dikejutkan dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat. Dia bisa melihat dirinya di bola mata lelaki itu, tatapan mata yang ... Entah, dia sendiri tidak tahu. Buru-buru Pelangi mendorong wajah Alvaro agar lebih jauh yang menciptakan kekehan dari mulut lelaki itu. "Jangan natap gue, nanti jatuh cinta." "Gue udah jatuh cinta kali sama lo." Ucapan Alvaro itu sukses membuat Pelangi membulatkan matanya, dia menatap tak percaya ucapan yang keluar dari mulut lelaki itu. Mana mungkin, dia tak percaya. "In your dream," Tuh, kan. Beruntung Pelangi tak langsung percaya dengan ucapan Alvaro. Lagian, ungkapan lelaki itu tadi tak berefek apapun padanya. Beda halnya kalau Genta yang berkata, mungkin dia akan terbang saat itu juga. Pelangi mendengus, Alvaro tertawa. Pikiran Pelangi tiba-tiba berkelana, mengingat begitu saja sesuatu yang memang menjadi tanda tanya besar dalam benaknya. Dia segera memutar tubuhnya menghadap Alvaro kembali. "Gue boleh nanya, gak?" Tanya Pelangi. Alvaro mengangguk, dia menarik sudut bibirnya saat Pelangi berkata demikian. Dia yakin, pasti pertanyaan perempuan itu berkaitan dengan Genta. "Boleh. Pasti tentang Genta, kan?" Tebak Alvaro yang membuat Pelangi mengangguk sambil terkekeh. "Genta punya mantan gak sih? Mantan yang gagal bikin dia move on?" "Punya," "Trus tuh cewek kemana?" "Ada," "Disini?" Alvaro mengangguk. Pelangi terdiam, entah kenapa sekarang dia di bingung kan oleh keadaan. Dia kembali menatap Alvaro, berniat kembali bertanya. Namun, lelaki itu kini sudah beranjak pergi jauh dari jangkauannya. "Gue belum selesai!" *** Pelangi sudah kembali ke ruang ganti perempuan setelah menikmati baksonya. Sudah hampir satu jam dia berada disini dengan laptopnya yang berisikan foto-foto Genta dan juga pikirannya yang masih melayang dengan jawaban yang diberikan Alvaro tadi. Dia menghela napas kasar, lelah juga bermain laptop. Bosan, tentu. Tapi, bukan Genta yang membuatnya bosan. Namun, aktifitas menggeser-geser laptop lah yang membuatnya jengah. Dia beranjak, segera mematikan layar laptopnya. "Mending gue ke lapangan, kelas Genta kan lagi olahraga." Gumam Pelangi saat otak cerdasnya mengingat Aditha dan Alvaro yang mengenakan seragam olahraga. Dia bergegas pergi menuju lapangan, sebelumnya sudah membeli minuman saat melewati kantin. Lumayan, dia bisa modus pada Genta nantinya. Dia berhenti, mengedarkan pandangannya kearah gerombolan orang dilapangan untuk mencari keberadaan Genta. Dan, itu dia. Genta tengah memainkan bola basket bersama tiga teman sekelasnya termasuk Alvaro. Pelangi tersenyum lebar, dia melangkah menuju kursi penonton di pinggir lapangan. Dia akan menunggu sampai waktu istirahat mereka tiba. "Genta, semangat!" "Genta cool banget sih ..." "Bebeb Genta, terus cetak poinnya." "Semangat!" Padahal Pelangi sudah berteriak sedemikian rupa untuk menarik perhatian Genta. Namun, bukannya Genta yang tertarik padanya, justru semua orang lah yang menatapnya. Sedangkan Genta, tenang dan santai seolah tak menganggap kehadiran Pelangi. "Genta ... Gue disini!" Dia tersenyum lebar saat Genta menoleh, namun itu tak berlangsung lama saat lelaki itu lebih memilih melanjutkan permainan basketnya daripada memperdulikan Pelangi. Pelangi mendengus, dia menghela napas kasar. Dia segera beranjak saat melihat guru pelajaran olahraga yang sudah mengakhiri pembelajaran dan pergi. "Lo ngapain disini?" Tanya Alvaro yang berjalan menghampirinya, membuat dia ikut menghentikan langkahnya yang hendak menghampiri Genta. "Tau, gak sih? Gue tuh berharapnya Genta yang nyamperin gue. Bukannya, Lo." Alvaro tersenyum. "Jangan terlalu berharap, nanti sakit loh kalau gak sesuai harapan. Lagian, sama aja kali. Mau sama gue atau pun Genta." Pelangi mendengus. "Ya, beda lah! Genta tuh pujaan hati gue. Sedangkan Lo? Orang yang selalu gangguin gue." "Tapi lo senengkan, gue ganggu?" "Dih, pede banget lo." Senyum Pelangi mengembang saat melihat Genta yang kini tengah duduk di pinggir lapangan dengan napas ngos-ngosan. Sepertinya, dia kelelahan. Tentu saja. Sehingga, dengan segera dia berlari menghampiri Genta dengan tangan yang mendekap laptop dan memegang minuman untuk lelaki itu. "Gen, lo pasti haus ya? Nih gue bawaain minuman buat lo." Ucap Pelangi antusias, dia menyerahkan minuman yang di bawanya. Genta menatap minuman yang diulurkan Pelangi, matanya menatap bergantian perempuan itu dan minuman tersebut sebelum kemudian memilih beranjak meninggalkan Pelangi yang terkejut. Lagi-lagi Pelangi di acuhkan. Dia menatap sendu kepergian Genta bersama Fabian. Dia menatap minuman ditangannya, mendesah pelan saat lagi-lagi usahanya diacuhkan lelaki itu. Namun, dia langsung memekik saat tiba-tiba minuman ditangannya diambil begitu saja. Dan pelaku nya adalah Alvaro. "Lo lagi ... Lo lagi. Bosen deh." Alvaro terkekeh, dia membuka botol minuman ditangannya. "Jodoh kali," "Jodoh pala Lo peang. Udah sini, balikin minumannya!" "Gue haus, buat gue aja ya? Mubasir." Pelangi menghela napas kasar. Minuman itu untuk Genta dan malah Alvaro yang menginginkannya. "Yaudah, ambil aja." Jawab Pelangi pelan kemudian beranjak pergi meninggalkan Alvaro yang tersenyum lebar. "MAKASIH!!" Teriak Alvaro yang hanya mendapat acungan jempol dari Pelangi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD