Chapter - 5 ✓

1164 Words
Tap.. Tap.. Tap.. Saking masih pagi dan sepi nya sekolah ini, sehingga langkah kakinya bahkan bisa terdengar jelas sekali. Dia datang pagi sekali, tepat pukul 6 pagi dimana jarang sekali orang-orang datang sepagi ini. Dan ini adalah rekor terbaiknya, bisa datang sepagi ini dalam sejarah keberangkatan sekolahnya. Pelangi menghentikan langkahnya saat baru saja melewati pintu yang bertuliskan ruang musik. Langkah kakinya mundur kembali, berdiri tepat di depan pintu tersebut. Dia melirik sekitar, memastikan tak ada orang yang melihatnya masuk ke ruangan ini. Pintu terbuka dan menampilkan ruangan yang megah. Terdapat panggung yang luas untuk menampilkan pertunjukan, tak lupa juga alat musik yang lengkap. Ah ... Dan juga kursi penonton yang dibuat memanjang dan lebih tinggi lagi setiap barisnya. Dia berjalan pelan, menaiki panggung megah ini sebelum kemudian tangannya meneliti setiap alam musik disini. Tangannya berhenti pada sebuah gitar dan piano. Tut. Suara piano yang asal di tekannya. Dia tersenyum melihat ini semua. Dan tanpa berpikir panjang, Pelangi langsung melepas tas nya dibawa dan duduk di kursi piano. Jari jemarinya mulai menekan satu persatu tut piano, berirama sehingga terdengar merdu di telinga. Sedangkan mulutnya kini mulai mengalun, menyanyikan sebuah lagu yang diiringi mainan pianonya. Prok.. Prok.. Prok.. Permainan piano nya seketika terhenti mendengar suara tepukan tangan yang entah darimana. Dia berdiri, mengendarkan pandangannya mencari sumber suara. Berdiri disana, Alvaro yang kini tengah berjalan santai menghampirinya. Berhadapan bersama Pelangi dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya dan tas yang tersampir di sebelah pundaknya. Badboy. "Suara dan permainan piano lo bagus." Puji Alvaro sambil melempar senyuman lebar pada perempuan yang berdiri dihadapannya. Bukannya membalas, Pelangi malah mengeluarkan pertanyaannya. Dia bingung, bagaimana bisa ada Alvaro disini, sedangkan dia tadi sudah memastikan bahwa tak ada seorang pun disini. "Lo kok bisa ada disini, sih? Perasaan tadi gak ada orang, deh." Alvaro tersenyum tipis, dia berdehem sambil berjalan dan duduk di pinggiran panggung dengan kedua kaki yang dibiarkan menggantung. Alvaro menoleh, melirik Pelangi sekilas. “Gue tuh tadi lagi tidur nyenyak, disana.” Tukas Pelangi, dia menunjuk tempat dimana dirinya tertidur tadi, di pojok ruangan. "Eh, Lo datang dan ganggu mimpi indah gue." Lanjut Alvaro. Pelangi mencebik. "Ya kan gue gak tau ada orang disini. Tadi orang gak ada kok.” Alvaro hanya diam, tak membalas ucapan Pelangi. Sedangkan perempuan itu kini sudah menarik tasnya yang kemudian disampirkan di sebelah bahunya dan berjalan menuruni panggung menuju pintu keluar. “Mau kemana?" “Balik ke kelas, lah.” Jawab Pelangi tanpa menatap Alvaro, melenggang pergi meninggalkan Alvaro yang hanya bisa tersenyum lebar. *** "Pelangi!" Pelangi mengumpat dalam hati, dia mendengus kesal sambil perlahan wajahnya mendongak dan duduk tegak. Dia tersenyum, menampilkan deretan giginya melihat Bu Aci — guru bahasa bertubuh gempal dengan kaca mata yang tak pernah lepas menghiasi wajah bulatnya itu. “Iya, ibu yang cantik.” Ucap Pelangi, dia memang kurang ajar. Bahkan disaat seperti ini masih saja mencoba merayu. Memangnya Bu Aci akan luluh, tentu saja tidak. Hidung Bu Aci kembang-kempis melihat kelakuan murid perempuannya yang tak pernah jera. Entah dia yang salah atau memang muridnya ini selalu ingin bermasalah dengannya. Pasalnya, setiap kali pelajarannya pasti siswinya yang satu ini tak pernah absen untuk tidur di kelas. “Kerjaan kamu itu, tidur terus di kelas saya. Memangnya kamu gak tidur di rumah? Sampai-sampai tidur terus di kelas saya.” Bu Aci sebenarnya lelah karena ini sudah kesekian kalinya. Namun, Pelangi tak pernah jera juga meskipun segala kemarahan telah dia lontarkan dan segala jenis hukuman telah diberikannya. Bukannya merasa takut atau bersalah, Pelangi malah tersenyum lebar sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ya, maaf bu. Saya emang gak tidur semalam, sibuk banget.” Jawab Pelangi santai yang diakhiri cengiran. Bu Aci berdecak pinggang, menatap dengan mata memincing menatap Pelangi. "Sibuk ... Sibuk! Kamu sibuk apa, sampai-sampai kamu gak tidur dan malah tidur di kelas saya." Pelangi terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Namun, sebuah jawaban cerdas muncul di benaknya. "Ya ... Sibuk cari cara buat dapetin pujaan hati, Bu. Genta." Jawab Pelangi sok polos yang membuat Bu Aci membelalak matanya. Sedangkan seisi kelas sudah menyorakinya sambil tertawa. Semua orang tahu, Pelangi memang tergila-gila dengan Genta. "SUDAH!! SUDAH!! Baik, kalau begitu, silahkan kamu keluar dari kelas saya dan jangan pernah lagi ikut kelas saya." Pelangi tersenyum lebar mendengar ancaman Bu Aci. Dia segera beranjak, memasukkan buku-bukunya kedalam tas ransel sambil mengeluarkan laptopnya. Dia mendekap laptopnya, kemudian berjalan menghampiri Bu Aci dan langsung menyalaminya. "Baik, bu. Terimakasih. Saya permisi." Ucap Pelangi cepat sambil memberikan hormat pada Bu Aci. Dia langsung melenggang pergi sambil memberikan berbagai tatapan pada teman sekelasnya yang sepertinya juga ingin seperti dia. Mungkin. Dan, meninggalkan Bu Aci yang hanya bisa melongo melihat kelakuan siswinya yang ajaib. Pelangi keluar dari kelas. Langkah kakinya melangkah menuju ruang ganti perempuan. Disana, dia akan menjelajahi dunia maya untuk melihat wajah pujaan hatinya. Namun, langkahnya seketika berhenti saat matanya tak sengaja menangkap Aditha di lorong sekolah yang sepi. Dia memundurkan tubuhnya, memastikan apa yang dilihatnya memang benar Aditha. Dan memang benar, ada Aditha disana yang kini tengah termenung. Tadi, dia melihat Aditha dengan lelaki sekilas, namun kini lelaki yang bersama Aditha telah tiada, entah kemana. Dia pun tak tau siapa lelaki itu karena belum melihat dengan jelas dan hanya sekilas. Pelangi berjalan menghampiri Aditha, dia menyentuh pundak perempuan itu yang membuatnya terlonjak. "Lo kenapa? Tadi, gue gak sengaja liat Lo pelukan deh sama orang." Ucap Pelangi hati-hati. Aditha tersenyum, dia memutar tubuhnya berhadapan dengan Pelangi. "Bukan siapa-siapa kok," jawab Aditha. "Bohong ... Cie, Lo udah punya gebetan aja. Padahal, baru sehari Lo disini." "Apaan sih kamu, enggak kok. Oh, iya, kamu kok bisa disini. Gak di kelas?" Tanya Aditha bingung, dia mengerutkan keningnya. Pasalnya jam pelajaran masih berlangsung dan Pelangi ada disini. Pelangi menyenggol lengan Aditha, masih tersenyum menggoda. "Ya ampun ... Sok, sok an mengalihkan pembicaraan deh. Jawab kek, itu siapa? Pacar Lo?" Tanya Pelangi, dia masih penasaran. Aditha menarik tipis bibirnya, kemudian menggeleng. "Bukan, dia cuma masalalu aku. Kita baru aja menyelesaikan semuanya, permasalahan yang baru sekarang bisa selesai." Pelangi terdiam, dia mengangguk-angguk. "Boleh kepo gak?" Tanya Pelangi, dia tak enak hati sebenarnya. Namun, entah kenapa dia merasa ingin tahu. Apalagi pikirannya malah tak henti-hentinya tertuju pada Genta yang entah apa maksudnya. Aditha mengangguk. "Ada permasalahan antara kita dan selesai sekarang. Dia udah rela, dia udah gak berharap lagi sama aku. Aku bersyukur karena dia udah gak mengharapkan aku lagi. Dan aku berharap, semoga dia dapat yang lebih dari aku." Jelas Aditha sendu, tatapan matanya tak bisa berbohong. "Sorry ya, gue malah bikin Lo sedih." "Gakpapa, santai aja." Jawab Aditha, dia menepuk pelan pundak Pelangi. "Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu ngapain disini, gak ada guru di kelas?" Tanya Aditha lagi. Pelangi tersenyum lebar sambil mengendikan bahunya. "Biasalah, anak pinter mah gak usah ikut belajar." Ucap Pelangi menyombongkan diri. Aditha terkekeh pelan, menggeleng tak percaya dengan jawaban Pelangi. "Ah, kamu mah bisa aja! Yaudah, aku pergi dulu ya mau olahraga." Pelangi mengangguk, dia menatap kepergian Aditha dengan segala pikiran yang masih mempertanyakan Aditha. Dia masih penasaran. Namun, dia cepat-cepat menggeleng, memilih melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD