Harum masakan langsung menyeruak ke indra penciuman Pelangi saat langkah kakinya memasuki rumah. Dia tersenyum senang, berjalan kearah datangnya aroma sedap itu. Dan benar, dugaannya benar. Pelaku nya bunda. Bunda tengah memasak yang entah apa. Namun dari aromanya saja dia sudah yakin kalau masakan bundanya pasti akan enak. Lagian, tak ada sejarahnya bunda gagal mengelola makanan.
“Bunda!”
Pelangi meringis, menggigit jemarinya sendiri melihat keterkejutan bunda. Bahkan, spatula yang tengah digunakan bunda sampai menyentuh lantai. Beruntung, wajan yang berisi masakan itu masih stay di atas kompor. Kalau sampai ikut jatuh, mati sudah telinga Pelangi.
“Maaf bun, gak niat.” ringis Pelangi sambil menampilkan deretan giginya dan wajah menyesal. Bahkan, dia menjewer kedua telinganya sendiri mengetahui kesalahannya.
Bunda menghela napas kasar, kemudian menggeleng sambil berdecak sebelum kemudian bergegas mengambil spatula yang terjatuh tadi. “Kebiasaan, kalau masuk rumah tuh ucap salam. Bukannya bikin kaget bunda.” Ucap Bunda sambil menyimpan spatula yang terjatuh tadi kedalam wastafel kemudian menggantinya dengan yang masih bersih menggantung.
Pelangi mengerucutkan bibirnya, dia melangkahkan kakinya menghampiri bunda kemudian memeluk erat tubuh bundanya dari belakang. “Assalamualaikum, bunda cantik.” Ucap Pelangi, dia menaruk dagunya disebelah bahu bundanya. Kemudian tersenyum lebar.
Bunda menghela napas pelan, ikut tersenyum sebelum kemudian menekan-nekan kening Pelangi yang membuat perempuan itu meringis pelan. “Waalaikumsalam ... Biasakan tuh salam.”
“Iya,”
“Yaudah, mending sekarang kamu ganti baju terus makan. Biar bunda siapin.”
Pelangi mengangguk, kemudian mengecup pelan pipi bundanya sebelum kemudian meleset pergi menuju kamarnya dilantai atas. Senandung terus mengiringi langkahnya menapaki anak tangga, hingga tubuhnya berhenti pada sebuah pintu kamar berwarna soft pink.
Ceklek...
Kamar bernuansa soft blue menyambut kedatangan Pelangi. Single bed, meja belajar, meja rias minimalis dan lemari berukuran sedang serta beberapa aksesoris aestetik mengisi kamarnya yang tak terlalu luas ataupun sempit ini. Dan jangan lupakan poster-poster oppa-oppa Korea, terutama poster Park Chanyeol yang paling mentereng diantara yang lain.
Dia meletakkan tasnya diatas meja belajar, kemudian mengeluarkan laptop dan langsung membawanya keatas ranjang. Kalau bunda melihatnya seperti ini, jangan harap telinga nya akan baik-baik saja. Karena pasti dan sudah pasti, bunda akan mengeluarkan semua kemampuan mulutnya untuk memarahi Pelangi.
Dasar jorok.
Sering sekali Pelangi mendengar itu, padahal apa yang dilakukannya itu tak jorok-jorok amat. Tapi, mau bagaimana lagi. Bunda itu orang bersih, sangat bersih. Sehingga saat melihat satu kejorokkan kecil pun pasti akan dianggapnya paling jorok.
Pelangi segera membuka file yang berisikan beberapa foto yang diam-diam di ambilnya atau bahkan terkadang di curi lewat sosial media. Foto si pujaan hati, Genta. Genta yang hanya berbalut kaos dan celana jeans serta topi yang melingkar di kepalanya. Genta yang hanya mengenakan kaos abu-abu dan kalung serta kaca mata hitam yang menjadi aksesorinya. Dan yang paling top markotop menurutnya adalah Genta dengan senyuman tipis, berbalut kaos putih polos yang dilapisi kemeja kotak-kotak tengah duduk dan memandang sendu ke sebelah arah.
Tak ada yang aneh sebenarnya dengan foto-foto Genta. Namun, caption yang biasa di berikan pada setiap foto lelaki itu lah yang terkadang membuat dia bertanya-tanya.
Please, comeback.
Mungkin seperti itulah potongan caption di postingan terakhir Genta. Memangnya lelaki itu berharap siapa sih yang kembali? Cintanya? Atau apa? Ya, meskipun demikian Pelangi tak pernah putus juang untuk mendapatkan hati Genta. Meskipun penolakan berkali-kali diterimanya.
"Pe ... Buruan!”
Pelangi merutuki dirinya sendiri karena terlalu asik dengan pemikirannya. Cepat-cepat dia bergegas, berjalan kearah lemari dan mengeluarkan pakaian santainya. Bunda sudah memanggil dan kalau panggilan sudah kedua kalinya, jangan harap telinga kalian akan aman dari semua nasihat bunda yang bisa panjang lebar.
Ya, gitu deh. Bunda itu bersih, tepat waktu dan masih banyak lagi sifat-sifat bunda kedepannya.
****
Langit jingga perlahan berubah gelap dan bulan sudah menunjukan eksistensinya. Duduk lesehan seorang remaja perempuan diatas karpet berbulu, ditemani beberapa camilan yang sengaja disediakan untuk menemani tontonan teen romance di layar televisi.
“Pe,”
Pelangi menengok, segera membenarkan duduknya agar tegak saat ayahnya sudah berjalan menghampirinya. Dia mengerutkan keningnya melihat penampilan ayahnya. Dasi melorot, kemeja yang keluar sebelah dan sedikit tanda merah di rahangnya. Sebenarnya, apa yang telah dilakukan ayah? Pasalnya, sejak tadi ayah dikamar bersama bunda. Kenapa bisa jadi begini?
“Kenapa, yah?” Tanya Pelangi, dia meletakkan camilan ditangannya ke atas meja kemudian menatap ayahnya yang sudah duduk diatas sofa.
"Kok belum tidur?”
Hah? Pertanyaan ayah tak biasa dan terdengar mencurigakan. “Kenapa sih, yah? Tumben banget ayah nanya gitu.”
Ayah berdehem, menetralkan suaranya yang masih terdengar serak. “Ya nanya aja. Tidur sana, udah malam!”
Pelangi cepat-cepat menggeleng. “Enggak, ah. Masih sore, yah. Biasanya juga aku tidur pukul 10.” tolak Pelangi, dia enggan dong. Lagian dia berniat menonton malam ini, mumpung tak ada tugas.
Ayah menggaruk kepalanya, "Ya kan ... Besok kamu sekolah, nanti kesiangan."
"Enggak akan ayah. Lagian, ayah kenapa sih?”
"Ya ... Ayah mau ada urusan sama bunda kamu,"
"Ya terus? Apa hubungannya sama aku? Sama tidur aku? Enggak kan."
"Ayah takut kamu pendengaran kamu ternodai,"
"Ternodai apa sih? Gak jelas, ah!"
"Yaudah, kalau kamu gak mau tidur, pergi gih nongkrong di luar."
Lagi-lagi Pelangi dibuat bingung oleh tingkah sang ayah. Nongkrong? Sejak kapan seorang Pelangi di bolehin nongkrong malam-malam? Biasanya juga dilarang. Itupun dibolehkan kalau nongkrong jelas, kalau sekedar nongkrong biasa mah tak pernah sekalipun mendapat izin.
“Gak ada uang,”
“Ayah kasih!” Tukas Ayah cepat sambil mengeluarkan dompetnya, kemudian menyerahkan beberapa lembar uang dengan jumlah yang lumayan besar.
Pelangi melongo, masih menyadarkan diri. Ini beneran ayah nya kan? Pelangi menatap bergantian uang ditangannya dan juga ayah yang sudah tersenyum lebar.
“Beneran, yah?”
Ayah mengangguk cepat. “Iya, udah sana pergi. Jajanin sampe abis."
Pelangi memicingkan matanya mendengar ucapan sang ayah. "Ayah kok baik sih, pasti ada maunya." tukas Pelangi yang langsung mendapat bantahan.
"Yaudah, deh. Aku ganti baju dulu."
Pelangi bergegas ke kamarnya, mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih layak dibawa keluar apalagi nongkrong. Dia segera menghampiri ayahnya, tersenyum lebar. “Yaudah, aku berangkat dulu ya.” Ucap Pelangi, dia segera menyalami ayahnya kemudian melenggang pergi.
Namun saat langkah kakinya sudah ada di carport, dia berhenti seketika saat lupa akan kunci mobilnya yang masih terpajang dipintu kamarnya. Sehingga, mau tau mau dia berbalik kembali menuju kamarnya.
Dan saat langkah kakinya melewati pintu kamar ayah bundanya, suara kotor kembali m*****i telinganya. Lagi dan lagi, dia ternodai dengan apa yang dilakukannya orang tuanya. Sehingga, buru-buru saja dia mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi.
Dasar ayah ...
***
Tak butuh waktu lama, dia sudah sampai disalah satu cafe yang akhir-akhir di gandrungi anak remaja. Entah bagaimana awalnya yang jelas tiba-tiba cafe ini ramai sekali diperbincangkan, terutama di aplikasi tiktak.
Rame banget ...
Dia termenung melihat kerumunan orang-orang disini. Padahal cafe ini baru dua hari yang lalu cafe ini trending di aplikasi Tiktak. Tapi, sudah seramai ini.
Btw ... Kalau dilihat-lihat sih, wajar saja cafe ini cepat sekali terkenal. Semua aksen yang ada di cafe ini seolah memang sengaja di buat untuk pada remaja zaman sekarang. Aestetik, mungkin kata itu yang tepat menggambarkan cafe ini. Apalagi kita tahu, remaja zaman sekarang seolah sangat tertarik dengan sesuatu yang berbau aestetik.
Semuanya berpasangan, berombongan dan hanya dia yang seorang diri. Nasib, jomblo.
Disaat matanya mengendar mencari tempat kosong untuk nya duduk, dia malah dipertemukan dengan sosok Genta yang tengah duduk berdua bersama seorang perempuan yang membelakanginya. Dengan segala ke kepoanya, dia segera melangkah menghampiri lelaki itu. Namun sayang, langkahnya tak kalah cepat dengan perempuan itu yang kini sudah berjalan pergi meninggalkan Genta seorang diri.
Pelangi mengerutkan keningnya bingung melihat keadaan Genta saat ini. Lelaki itu duduk seorang diri, menunduk sambil meremas kasar rambutnya yang lebat.
"Gen,”
Genta mendongak, wajah sendu nya sudah berubah masam dan datar saat melihat keberadaan Pelangi yang berdiri dihadapannya. Dia menghela napas kasar, kemudian menarik kasar kunci motornya diatas meja. Dia beranjak, berniat pergi saat melihat keberadaan perempuan itu. Namun, Pelangi lebih cepat mencegahnya. Perempuan itu langsung menghalang jalan Genta, membuat lelaki itu menatap jengah dirinya yang tengah merentangkan kedua tangannya dihadapan Genta.
“Minggir!”
Pelangi menggeleng. ”Gak mau,”
"Minggir!”
"Enggak. Gue masih butuh penjelasan.”
"Minggir, Pelangi!"
"Enggak,”
Genta menghela napas kasar, dia menatap jengah Pelangi yang mempunyai tinggi lebih rendah darinya. “Kenapa?” Tanya Genta malas.
Pelangi tersenyum lebar, tangannya sudah terkulai disamping tubuhnya kembali. “Duduk, dulu deh." Ajak Pelangi sambil menggiring Genta untuk duduk kembali. Namun, ditepis lelaki itu yang membuat dia hanya bisa mengerucutkan bibir sebal.
“Oke. Sekarang, Lo harus jawab pertanyaan gue. Tadi cewek itu siapa?”
Bukannya langsung menjawab, Genta malah menarik sinis sudut bibirnya mendengar pertanyaan Pelangi. Memangnya siapa perempuan itu, sehingga harus tahu siapa orang yang baru saja ditemuinya.
"Bukan urusan lo. Emang lo siapa gue? Bukan siapa-siapa!"
Genta langsung melenggang pergi setelah mengucapkan kalimat mencemooh itu, meninggalkan Pelangi yang mendengus kesal karena jawaban lelaki itu.
“Awas aja, gue buat Lo jatuh cinta nanti. Tau rasa deh!” gerutu Pelangi sambil duduk di tempat Genta semula. Dia terdiam, kembali memikirkan.
Siapa perempuan itu?