Chapter - 3 ✓

1428 Words
Tuk ... Tuk ... Tuk ... Suara ketukan jemari Pelangi sejak tadi mengisi ruangan kelas yang tinggal beberapa orang saja. Dia tengah menunggu, menunggu kedatangan Alvaro yang akan di traktirnya hari ini. Belum ada tanda-tanda kedatangan Alvaro, bahkan tak ada suara derap langkah kaki pun menuju kelasnya. Dia masih menunggu di kelas, bersama beberapa teman kelasnya yang masih belum pulang. Mungkin mereka masing menunggu, entah itu menunggu teman atau bahkan doi mereka. 5 menit menunggu, masih oke. 10 menit menunggu, udah gak oke lagi. Pelangi menghela napas kasar, bahkan teman-teman nya sudah pergi sekarang, meninggalkan dia seorang diri di dalam ruang kelas. Beruntungnya, dia selalu membawa laptop. Akhirnya, di buka lah benda tersebut kemudian membuka sebuah file yang berisikan semua foto-foto idol nya. Baru beberapa foto idol Korea yang cukup mem-booster dirinya, dia dikejutkan dengan kedatangan Alvaro yang sudah berdiri diambang pintu kelasnya. "Sorry ya, lama. Biasa lah." "Biasa lah," cibir Pelangi sambil mematikan laptopnya. Dia segera memasukkan benda itu kembali ke tasnya kemudian menatap Alvaro yang sudah duduk dihadapannya. Alvaro terkekeh melihat Pelangi yang lucu dan lagi-lagi membuat hatinya berdesir. "Beneran kok, gue tadi ada urusan bentar." "Sok sibuk, lo. Tau gak sih, gue tuh hampir lumutan tau nungguin Lo. Lama ... Banget." Ucap Pelangi, dia beranjak berdiri dan berjalan dengan Alvaro di belakangnya yang tengah terkekeh melihat wajah kesal perempuan itu. Pelangi mengerutkan keningnya saat tak melihat Alvaro disampingnya, dia memutar tubuh kembali kemudian berdecak sambil melipat tangan didepan d**a. Menatap tak percaya Alvaro yang masih diam berdiri dengan senyuman. "Jangan senyum-senyum, nanti kesambet oh!" Alvaro tersadar, dia meraup wajahnya kasar kemudian menghampiri Pelangi. "Yaudah, yuk!" Ajak Alvaro kemudian berjalan cepat meninggalkan Pelangi yang ternganga. "Yuk ... Yuk ... Gue udah ayok daritadi!" gerutu Pelangi sambil berjalan mengejar langkah lebar Alvaro didepannya. *** Mereka sampai di parkiran sekolah. Alvaro berjalan menuju motornya, sedangkan Pelangi hanya diam menunggu lelaki itu menghampirinya. Pelangi mengerutkan kening, menatap bingung Alvaro. "Helm gue mana?" Tanya Pelangi bingung karena tak mendapat kan helm apapun dari Alvaro. Dia tak mau ambil resiko kalau-kalau terjadi kecelakaan nantinya. Dia tak mau, otak cantik yang berisi oppa-oppa Korea dan Genta harus ternodai nantinya. Dia- "Gue gak bawa lagi helm, udahlah gak papa, gak akan kenapa-napa ini." Jawab Alvaro yang membuat Pelangi mengerucutkan bibirnya. Akhirnya dengan sedikit tak rela, Pelangi menaiki motor Alvaro, duduk di jok belakang motor lelaki itu sambil merapatkan roknya yang takut-takut terbang. Namun, bukannya segera berangkat, motor yang dikendarai Alvaro malah terdiam, masih diam di tempat. Pelangi memukul pelan pundak Alvaro, membuat lelaki itu menoleh sedikit. "Ayo! Kok malah diam sih? Jangan bilang ... Gak ada bensin lagi, terus gue harus dorong-dorong gitu? Oh my ... Nanti-" Ucapan Pelangi terputus saat tiba-tiba Alvaro membuka jaket yang melapisi seragamnya. Lelaki itu menyerahkan jaketnya pada Pelangi yang membuat perempuan itu mengerut bingung. "Kenapa jaket Lo dikasih ke gue?" "Tutupin paha Lo, gue gak mau nantinya jadi tontonan gratis mata keranjang di luar sana." Ucap Alvaro sambil meletakkan jaketnya tepat diatas paha Pelangi yang sedikit terekspos. Entah sadar atau tidak, Pelangi menarik tipis sudut bibirnya mendapatkan perlakuan seperti ini dari Alvaro. *** Setelah berkeliling lumayan lama, akhirnya mereka sampai disalah satu kedai bakso yang lumayan banyak orang datang. Sebenarnya ini ide Pelangi, entah kenapa dia suka sekali dengan bakso. Bahkan, saat Alvaro bertanya apakah dia tak bosan memakan bakso? Maka, jawabannya enggak. Dan gak akan pernah bosan. Pelangi bergegas turun, sedangkan Alvaro memarkirkan sejenak motornya sebelum kemudian menghampiri Pelangi yang sudah duduk disalah satu kursi menunggu dirinya untuk masuk ke kedai bakso ini. “Lo mah, lama. Buruan, ah!” Dengus Pelangi sambil menarik paksa lengan Alvaro yang tengah membetulkan rambutnya itu. Entah kenapa, omongan orang-orang terhadap Alvaro tengah dibenarkannya kini. Alvaro dengan sifat dingin, datar dan ketus seolah memang benar adanya. Namun, itu semua tak berlangsung lama saat mereka sudah duduk di dalam kedai, di pojok. Semuanya, luruh seketika. Alvaro yang dingin, kembali hangat. Dan itu semua, tak lepas dari berbagai pertanyaan yang tiba-tiba berputar di benak perempuan itu. “Mas, pesen dua porsi ya. Satu mi putih, satu— Lo apa?” tanya Pelangi menatap Alvaro, dia tak tahu apa yang diinginkan lelaki itu. “Samain saja,” Pelangi mengangguk, kembali menatap pelayan tersebut. “Dua, ya, mas. Tolong.” Setelah kepergian pelayan tadi, kini Pelangi menatap Alvaro yang ternyata juga tengah terang-terangan menatap dirinya. Dia mencebik, mengambil sebungkus kecil gemblong kemudian membuka bungkus plastik nya. “Al, gue boleh tanya gak sih?” tanya Pelangi, dia mulai memakan gemblong nya. “Nanya apa?” Pelangi tersenyum lebar, dia mengunyah makanannya sebelum kembali mengeluarkan suaranya. “Genta suka nanyain gue gak sih? Dia suka kepo gak tentang gue? Terus, dia suka obrolin gue gak sama kalian?” Tanya Pelangi, dia berharap-harap semoga jawaban Alvaro itu mampu menyenangkan hatinya. “Enggak,” Harapan Pelangi, tinggal harapan. Senyum lebar itu perlahan sirna dari bibirnya yang kini sudah mengerucut sebal. Kedua matanya memincing, menatap tak percaya Alvaro. “Masa sih? Lo gak lagi bohong kan? Masa iya, dia gak pernah nanyain gue?” Bukannya menjawab, Alvaro malah menghela napas kasar sambil menyenderkan tubuhnya pada tembok di belakang. Beruntung mereka duduk di pojok dan belakang, jadi bisa bersandar namun pengap nya bukan main. Alvaro melipat tangan di depan d**a, menatap serius Pelangi yang tak mengalihkan sedikitpun atensinya dari lelaki itu. “Lo, cinta banget ya sama dia?” Pelangi tertegun, kemudian tertawa. “Kalimat Lo itu, kalimat retoris. Tanpa gue jawab, Lo udah tau jawabannya.” Jawab Pelangi sambil menggeleng tak percaya. “Tinggal jawab.” Pelangi terkekeh, dia melipat tangannya diatas meja kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya. “Menurut lo? Apa semua yang gue lakuin buat Genta, gak mencerminkan kalau gue ini emang suka sama dia?” Tanya Pelangi serius. “Coba deh, liat muka gue baik-baik. Apa kelihatan lagi bercanda?” lanjutnya sambil melingkari wajahnya dengan jemarinya. Alvaro tersenyum, dia pun melakukan hal yang sama. Mata mereka bersitatap, mencoba mencari sesuatu di mata jernih itu. “Kayaknya Lo bohong deh, kayaknya cuma pura-pura aja sama suka sama Genta.” Ucapan Alvaro itu sukses membuat Pelangi terbelalak. Dia mencebik, menatap kesal lelaki itu. “Enak aja!” "Emang Genta type lo banget ya?" "Kenapa sih lo, kepo banget. Mau Genta type gue kek, enggak kek, bukan urusan lo.” Tukas Pelangi kemudian tersenyum lebar menatap penuh goda pada Alvaro. “Oh ... Atau jangan-jangan lo suka ya sama gue," tebak Pelangi karena sedikit kesal dengan pertanyaan Alvaro tadi. Dia kembali mencondongkan tubuhnya, tersenyum penuh arti sambil menunjuk-nunjuk Alvaro dengan telunjuknya. "Kalo iya," Glek. Rasanya Pelangi baru saja tersendak ludahnya sendiri setelah mendengar jawaban Alvaro. Perlahan, tubuhnya dia tegakkan dengan perasaan aneh yang tiba-tiba timbul. Suasana malah seperti awkward menurutnya. Dia menggaruk sebelah pipinya yang tak gatal, menatap ragu-ragu Alvaro yang sudah tertawa. “Kenapa ketawa?” "Yakali gue suka sama cewek kayak lo." ucap Alvaro yang membuat Pelangi bisa bernapas lega, namun kesal disaat bersamaan. Maksudnya? Cewek kayak Lo? Memangnya Pelangi cewek seperti apa? "Maksud—” "Maaf ini pesanannya." Ucapan Pelangi tertahan saya pelayan membawakan pesanan mereka. Namun, ucapannya kembali dilanjutkan setelah kepergian pelayan tersebut. "Maksud lo apa Al, lo pikir gue cewek jenis apa?" tanya Pelangi kesal, saking kesalnya dia bahkan tak sadar tengah menyendokkan sambal yang entah untuk sendok keberapa. Alvaro hanya diam, menikmati baksonya. Sedangkan Pelangi mencebik, menatap sebal Alvaro yang santai. Dan dengan kesalnya, dia memakai begitu saja kuah baksonya. Huaaaa!!! Ohok!! Okoh!! Rasa pedas bercampur panas menguasai mulut dan tenggorokan Pelangi. Di sapu dengan cepat minum di samping bakso milik perempuan itu. Namun, rasa pedas ini masih meraja lela, padahal minumannya sudah hampir habis. Pelangi menatap tajam Alvaro yang masih terlihat santai, seolah tak peduli dengan apa yang terjadi pada Pelangi. "Kata orang, kalo ada orang yang lagi ngebutuhi pertolongan, harus ditolong, kalo enggak dosa." Sindir Pelangi pada Alvaro yang kini langsung mengalihkan pandangannya dari bakso miliknya. "Kata orang, kalo orang butuh pertolongan, harus ngomong, kalo enggak, gak bakal di tolong." Sumpah! Rasanya mendengar jawaban Alvaro kali ini membuat Pelangi ingin menyuapkan kuah bakso yang panas bersampur pedas ke mulutnya itu. Alvaro terkekeh melihat wajah Pelangi yang sepertinya memerah menahan pedas sekaligus kesal padanya. "Nih, minum." Pelangi langsung menerima dengan kasar botol minum milik Alvaro yang diserahkan lelaki itu. Meneguknya hingga tandas dan bersyukur karena sedikit menghilangkan kepedasan di mulutnya. "Sama-sama," Pelangi menatap Alvaro yang tengah menatap dirinya, kemudian senyum paksa dia lukiskan dibibirnya. "MAKASIH!!" ucap Pelangi ketus dan kembali menyuapkan bakso yang lagi-lagi membuat nya kepedasaan. Dasar ... Pelangi i***t, rutuk Pelangi dalam hati dan kembali mencari minuman lain. Saat dimana Pelangi sedang kalang kabut dengan kepedasan yang merajai mulutnya, Alvaro malah tertawa yang sedikit membuatnya tampan. Hah, tampan? Entahlah. **** Enjoy gaes... Gimana-gimana? Suka? Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD