Chapter - 2 ✓

1007 Words
Jam istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Semuanya berbondong-bondong pergi menuju kantin, tempat dimana semua makanan dijajakan disana. Mereka ingin segera mengisi tenaga setelah tenaga mereka terkuras karena mengikuti pelajaran. Sama, seperti Pelangi. Dia sudah berdiri di depan gerobak bakso Mang Arman, salah satu langganan baksonya. Rasa baksonya itu endul banget. Gak terlalu berdaging, tapi gak terlalu banyak tepung juga. Pokoknya bakso Mang Arman ini the best. "Mang, punya Aku mana nih? Aku laper banget.” Ucap Pelangi dramatis yang justru mendapat gelengan dan kekehan dari Mang Arman. Dia itu sudah tahu dengan sifat Pelangi yang satu ini. Mang Arman menyerahkan mangkok berisi bakso dan kuahnya yang masih mengepulkan asap yang langsung Pelangi terima sekaligus dibayar. “Makasih, Amang.” Ucap Pelangi, dia kemudian bergegas pergi dari kerumunan. Tak sabar memakan bakso ini, bahkan si cacing sudah berdemo sejak tadi. Dia berhenti di taman, duduk di kursi tembok yang tak jauh dari kantin. Sebenarnya, bisa aja sih makan di kantin. Tapi, dia tak begitu suka. Lebih suka disini, adem, tak perlu desak-desakan sama orang. Slurp ... Pelangi tersenyum senang saat rasa makanan itu sesuai seleranya. Dan tanpa membuang waktu dia mulai menyantapnya sambil sesekali menggerakkan tubuhnya. Kebiasaanya, selalu menggerakkan tubuh saat ada makanan yang tak mengecewakannya. Bahkan, dia tak sadar, sejak tadi ada sepasang mata yang terus menerus memperhatikannya dari jarak jauh. Lelaki itu berdiri, bersandar pada pilar tembok dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celananya, tak lupa senyum tipis dia lemparkan pada perempuan yang tengah ditangkap matanya. Langkah kakinya menghampiri perempuan itu, membuat Pelangi yang tengah menikmati baksonya mendongak kemudian menghela napas kasar saat melihat lelaki itu. “Lo ngapain sih, disini?” Alvaro Alendra Miller, salah satu sahabat Genta—pujaan hati Pelangi— yang selalu menghampiri Pelangi setiap kali istirahat. Entah itu istirahat pertama atau kedua. Yang jelas, pasti saat istirahat, Alvaro akan menghampiri Pelangi. Sama, seperti saat ini. Katanya Alvaro itu datar. Nyatanya lelaki itu selalu melemparkan berbagai senyuman yang terkadang membuat Pelangi bingung dengan artinya. Katanya, Alvaro itu pelit ngomong. Nyatanya lelaki itu selalu mengeluarkan banyak omongan dari mulutnya dan tentunya selalu beradu mulut dengan dia. Sehingga terkadang, dia harus diam, mengalah demi kesehatan hati dan emosional nya. “Makan apa sih? Kayaknya enak?” Tck. Pelangi tanya apa, malah ditanya balik. Pelangi mendengus, berdecak. “Gue tanya sekali lagi, Lo tuh ngapain sih selalu nyamperin gue? Gak istirahat pertama, kedua, bahkan dua-duanya.” Alvaro menarik tipis sudut bibirnya, dia beranjak duduk di tempat kosong di samping Pelangi yang membuat perempuan itu mengerutkan keningnya bingung. Tatapan matanya menatap lurus kedepan sebelum kemudian menatap Pelangi. “Kenapa?” Tanya Alvaro. Pelangi mengernyit bingung. “Kenapa? Kenapa apanya?” tanya Pelangi bingung. Alvaro terkekeh melihat wajah bingung Pelangi, tangannya terulur mengacak kasar rambut perempuan itu, tak peduli dengusan dari si empunya. “Kenapa gue gak boleh temuin Lo disini?” Tanya Alvaro, dia memperjelas pertanyaan tadi. “Ya, gak boleh lah. Nanti kalau Genta liat dan marah gimana?” Sekarang, Alvaro yang bingung atas ucapan Pelangi. "Kenapa harus marah?” "Ya ... Kan, nanti salah paham. Dikiranya, gue punya hubungan sama lo. Dih, gak mau ah. Nanti kalau dia tambah ngejauh dari gue gimana?” Alvaro terdiam, dia menatap lekat perempuan itu. Dia pikir apa, ternyata itu. Ternyata perempuan itu masih terus menerus memikirkan perasaan Genta, disaat sahabatnya itu tak pernah mau ambil pusing tentang Pelangi. "Gak akan.” balas Alvaro. “Kok gak akan?” Belum sempat Alvaro menjawab, sebuah jawaban tiba-tiba muncul di pikiran Pelangi membuat senyum lebar tercetak di bibir manisnya. Perempuan itu beranjak cepat, menatap penuh kesenangan dengan senyuman menatap Alvaro yang justru membuat lelaki itu tertegun melihat senyum manis itu. “Pasti, Lo disuruh Genta kan? Jagain gue. Oh my ... Genta so sweet banget sih!” pekik Pelangi histeris, dia tersenyum lebar sampai membuat bola matanya tak terlihat. Dia tengah senang sekali. Pelangi berjingkrak-jingkrak, layaknya anak kecil yang baru saja mendapat permen banyak. Sedangkan, Alvaro terdiam. Menatap lekat perempuan yang tertawa lebar dihadapannya. Dan bahkan, perempuan itu sampai menarik tangannya, memutar tubuh nya sambil menari-nari yang justru membuat mereka menjadi pusat perhatian. Namun, mereka tak peduli. Pelangi berhenti, dia terdiam dengan senyuman lebar menatap Alvaro. Helaan napas kasar dia keluarkan, kemudian menarik tangan Alvaro dan menggenggamnya. Tak tahu saja perempuan itu, bahwa genggaman tangannya itu mengalirkan gelenyar aneh di tubuh Alvaro. “Karena Lo udah kasih berita baik buat gue, pulang sekolah nanti, gue traktir lo.” Ucap Pelangi, dia menampilkan deretan giginya. Alvaro terdiam, berpikir. Memangnya berita baik apa yang dia sampaikan. Tck, masa bodo. Yang jelas, dia bisa berduaan dengan Pelangi nanti sepulang sekolah. “Traktir apa?” Pelangi terdiam, nampak berpikir. Dia kembali duduk kemudian menatap Alvaro yang masih berdiri dihadapannya. “Liat nanti aja deh,” jawab Pelangi. Alvaro mengangguk-angguk, kemudian mengendikan bahunya. “Yaudah, nanti Lo tunggu gue di parkiran aja.” “Eh ... Jangan di parkiran.” “Kenapa?” "Nanti ada Genta, dia salah paham lagi.” Alvaro terdiam. “Oke.” **** Pelangi yang senang selalu akan terpancar dari wajahnya kesenangannya itu. Bahkan saat perempuan itu sudah melenggak-lenggokkan tubuhnya, orang-orang tahu bahwa perempuan itu tengah senang. Jadi, bukan hal asing lagi melihat Pelangi yang tengah bernyanyi sambil menggoyangkan tubuhnya pelan. “Gue bilang juga apa, Genta udah mulai luluh sama perhatian gue.” Ucap Pelangi pelan, dia melangkahkan kembali kakinya menuju kelas. Hingga, panggilan terhadapnya membuat dia seketika berhenti dan memutar tubuh kembali ke sumber suara. Aditha, perempuan itu tengah berjalan sedikit berlari menghampiri Pelangi. Melemparkan senyum manis yang tak kalah manis dibalas Pelangi. Aditha mengerutkan kening melihat senyum dan aura bahagia yang terpancar begitu jelas dari Pelangi. “Lo kayaknya lagi senang ya? Kelihatan banget.” Pelangi terkikik, “Tau aja deh.” “Kelihatan lah. Btw, Lo darimana?” “Dari kantin, Lo sendiri darimana, mau kemana?” “Gak darimana juga, cuma tadi liat Lo. Makanya gue panggil Lo.” Pelangi ber'oh'ria sambil mengangguk-angguk. “Gimana tadi di kelas, seru?” Tanya Pelangi sedikit kepo. Karena yang dia tahu, Aditha ini satu kelas dengan Genta, sang pujaan hati. Aditha tersenyum. “Seru kok, orang-orang baik.” Jawaban Aditha itu tak membuat Pelangi puas. Sebenarnya dia masih ingin bertanya tentang Genta, namun malah diurungkannya mengingat Aditha ini cantik. Entah kenapa, dia jadi insecure sendiri. Takut-takut kalau Aditha menarik Genta dengan pesonanya. *** Gaje ya? Maapin aja
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD