bab 10

863 Words
Seorang gadis kecil beringsut di atas karpet usang. Ruangan yang berukuran 4x3 meter itu tidak memiliki perabot lain, bahkan kasur untuk merebahkan tubuh yang penat pun tak ada. Hanya selembar tikar usang dan dua buah bantal lapuk. Gadis itu sedang tidur setelah seharian berjalan menyusuri bantaran kali untuk mencari botol bekas. Hasilnya dijual di tempat pengepul, lalu dibayar dengan harga yang tak seberapa. Uang itu ia bawa pulang dan diserahkan pada ibunya, wanita yang kini sedang sibuk memasak di petakan berukuran satu meter di sebelah ruang utama ini. Ia terbangun saat merasakan seseorang tengah berusaha melepas pakaian yang ia kenakan. "Aa-ayah ...." Gadis kecil itu terlihat ragu-ragu. Pria dewasa di depannya sedang melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh. "Ayah mau ngapain?" Tatapan mata yang polos itu sarat dengan perasaan bingung. Pria berwajah menyeramkan, yang ia panggil ayah, hanya menyeringai dengan liur menetes-netes menguarkan bau yang memuakkan. "Ayah!" Gadis itu ketakutan saat pria itu menarik tangan kanannya dengan paksa dan menindih tubuh kerempengnya. "Ayah mau ngapain?!" pekik gadis kecil itu ketakutan disambut tamparan keras di pipinya. "Diam! Aku bukan ayahmu!" Tangan kanan pria itu menekan kedua tangan si gadis sementara tangan kirinya meloloskan lembar terakhir yang menutupi tubuh ringkih itu. "Ibu, Ibuu ... tolong, Buuu ...." Gadis kecil itu berteriak, menangis dan meronta dengan tatapan memohon ke arah ibunya. Wanita dewasa di seberang sana bergeming, menarik pintu seng yang biasa membatasi dua ruangan sempit itu. Tak dihiraukannya jerit dan tangis kesakitan yang memilukan, terus meminta pertolongannya. Ia tetap melanjutkan kegiatannya, memotong dan memasak sayuran yang baru dibeli dengan uang hasil keringat gadis kecil yang sedang digagahi suaminya di ruang sebelah. Gadis kecil itu masih merintih pilu ketika ibunya masuk membawa semangkuk sayur dan nasi, meletakkan benda itu di atas lantai. b******n yang baru saja menodainya telah menghilang di balik pintu setelah puas menyalurkan hasratnya. "Ibu ...." rintih gadis malang itu, "sakit Bu, hiks ...." "Aku bukan ibumu!" Wanita itu mendesis sebelum berlalu. Meninggalkan bocah itu tergugu seorang diri. Tak lama kemudian, ayahnya kembali ke rumah dengan empat orang pria lainnya. Pria itu menyeringai licik pada anak kecil yang masih shock dengan perbuatannya tadi. "Kalian boleh melakukan apa saja, sesuka kalian," Matanya berkilat licik. "Aku sudah cukup memelihara dan memberinya makan dari orok, sekarang saatnya dia membalas budi." Pria itu menyentak gadis kecil yang gemetar ketakutan di sudut ruangan agar bangkit berdiri. "Lepas pakaianmu!" perintahnya. Tangan kasarnya memukul dan menampar saat bocah itu tidak mau menurut. Baju usang di tubuh gadis itu ia koyak dengan gunting. Gadis malang itu menjerit saat ujung benda tajam menggores kulit dadanya, darah menetes dari sana. Namun kelima pria dewasa di hadapannya justru tertawa puas. Masing-masing mereka mulai menyundutkan api rokok di tangan ke tulang rusuk gadis itu, membuatnya menjerit memilukan karena rasa sakit. Lima orang pria dewasa itu semakin bersemangat, menyiksa kemudian memaksa bocah di bawah umur itu memuaskan mereka satu per satu. Sementara wanita yang disebut ibu, sedang sibuk menghitung lembaran uang yang baru saja diulurkan oleh suaminya. "Kita sudah sampai." Suara pria di sebelahnya membuat Vina sedikit terlonjak karena kaget. Rupanya ia telah melamun sepanjang perjalanan. Kilasan hidupnya 13 tahun lalu terulang begitu saja dalam kepala. Vina masih terpaku di bangku penumpang, menyaksikan David menyeret tubuh pria yang sangat dibencinya menuju sebuah bangunan terbengkalai di tepi hutan. "Kita di mana.?" tanya Vina lirih saat David kembali untuk menjemputnya. "Kita aman di sini, tidak akan ada yang tahu." Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Vina. "Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu," ujarnya lagi saat melihat Vina tampak sedikit ragu. Wanita itu akhirnya menggenggam tangan David dan keluar dari mobil, ia pasrah jika pria di hadapannya ini bermaksud jahat. Bukankah semua jenis kejahatan sudah pernah dirasakannya? Jika ia harus mati di tangan pria ini pun tidak masalah, itu lebih baik dari pada harus melayani laki-laki b******n yang kini tergeletak tak berdaya di lantai. "Ganti pakaianmu, ada handuk dan pakaian kering di lemari," perintah David, "pakailah kaosku, aku tidak menyimpan pakaian wanita." Pria itu terlihat sibuk melucuti pakaian pria tambun di lantai, kemudian mengikat kaki dan tangannya. Vina mengamati ruangan kecil yang tampak bersih dan rapi ini, sangat kontras dengan penampilannya jika dilihat dari luar, seakan rumah ini terbengkalai dan tak terurus. "Siapa dia?" Suara David membuat Vina yang sedang berganti pakaian terlonjak lagi. "Ayahmu?" Vina mengangguk pelan, kemudian membuang muka karena merasa malu dan hina. Dirinya begitu kotor dan nista, bahkan sampah di jalanan pun masih lebih berharag dibanding harga dirinya. Bulir bening kembali menetes tanpa ia sadari, Vina menyusut cairan itu dengan punggung tangan. "Ini kenapa?" David menyentuh semua bekas luka di permukaan kulit yang belum sempat ditutup oleh kaos, membuat Vina berjengit dan mundur ke belakang. "Tenanglah," lirih David, mata pria itu mengembun. Perlahan ia membuka kancing kemeja abu-abu yang dipakainya, membuat Vina semakin mundur merapat ke tembok. David meraih tangan Vina yang gemetar dan menyapukan ke d**a bidangnya. "Aku juga memilikinya." ujar pria itu lagi setelah seluruh kancing terbuka. Mata Vina terbelalak merasakan guratan-guratan kasar di sana, sama persis dengan miliknya. Tanpa aba-aba, Vina menghambur ke pelukan David. Pria asing yang menyelamatkan jiwa dan raganya. Detik itu juga Vina memutuskan, hidupnya kini milik pria asing yang baru ia jumpai dua jam lalu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD