bab 11

919 Words
Ruangan bawah tanah itu sangat lengang, hampir tak ada suara apapun selain deru napas tiga manusia yang ada di dalam sana. Suara napas pria tambun itu terdengar lebih berat dan sesekali terbatuk, namun tubuhnya masih juga belum bergerak. David membuat dua gelas s**u cokelat hangat untuk dirinya dan wanita malang yang baru ia selamatkan tadi. Butuh perjuangan ekstra bagi David untuk menyeret tubuh tambun menjijikkan yang masih pingsan di atas kursi. Ia telah mengikat kedua tangan pria itu di pegangan kursi, juga kedua kakinya menjadi satu. "Sejak kapan?" tanya David, memecahkan kebisuan di antara mereka. Vina tergagap, tahu apa maksud pertanyaan pria di sampingnya. "Sembilan tahun." Suara Vina hampir tak terdengar. "Sembilan tahun lalu?" Vina menggeleng pelan. "Usiaku sembilan tahun," jawab Vina pelan, "ini rumahmu?" Ia balas bertanya, ingin mengalihkan pembicaraan. "Ya," balas David, "ini di perbatasan kota Bogor, kalau kau ingin tau. Tidurmu nyenyak sekali sepanjang jalan tadi." Ucapan David membuat wanita di sampingnya tersipu malu, cantik. Hati David berdesir, ia membuang muka karena tidak ingin tertangkap basah sedang mengagumi. "Kau boleh tinggal di sini, kalau mau." "Benarkah?" Mata Vina membelalak tak percaya, dari tadi ia sudah kebingungan setengah mati, harus pergi ke mana setelah semua ini selesai. David menganggukan kepala dengan yakin. "Tidak akan ada yang mengganggu kita di sini. Basemen ini kedap suara, lagi pula rumah tetangga terdekat berada sekitar tiga kilometer." David menjelaskan panjang lebar, berusaha menenangkan wanita di hadapannya. Dalam percakapan sepotong-sepotong di antara mereka, David menjelaskan bahwa tanah seluas satu hektar di sekeliling bangunan ini adalah miliknya. Ia sengaja mencari lokasi yang terpencil dan sunyi. Untuk pembangunan rumah dan basemen, ia meminta bantuan preman-preman yang suka berjudi dan mabuk-mabukkan di pasar. "Memangnya mereka tidak akan membocorkan semua rahasiamu?" tanya wanita bermata bulat itu dengan serius. "Tentu saja tidak, mereka telah berada di perut Alexander sekarang." "Alexander?" "Buaya rawa, teman baikku,” jawab David dengan santai, membuat wanita di depannya terbatuk karena tersedak minuman. "Nanti kukenalkan pada Alexander," ujar David sambil menepuk pelan punggung Vina, membuat suara batuk wanita itu semakin keras. Semua kegiatan itu terhenti saat mereka mendengar bunyi gemerisik, rupanya pria di atas kursi sudah sadar. Perlahan David meletakkan cangkir ke atas meja dan menghampiri pria yang melotot ketakutan memperhatikannya mendekat. Sementara Vina yang duduk di seberang meja masih berusaha meredam batuknya. "Ternyata tak setangguh yang kukira, eh?" David berdiri di belakang pria itu dan menarik rambut di ubun-ubun hingga kepalanya menengadah ke atas. "Kau menikmati hari-hari yang menyenangkan, bukan begitu?" Mulut pria yang disumpal dengan sepotong kain itu hanya mampu bergumam tidak jelas. David menoleh ke arah Vina yang memperhatikan dengan ekspresi dan emosi yang silih berganti. Mulanya rasa takut terpancar jelas dari sorot matanya yang ragu, lalu berubah menjadi rasa sakit saat kening itu mengernyit. Kemudian semua rasa sakit yang ia alami selama ini menjelma menjadi satu rasa, dendam. Tatapan Vina kini diliputi amarah, begitu murka. Raut wajah itu tak berubah lagi setelahnya. “Siapa namanya?” tanya David, “Jangan takut, sekarang dia tidak akan mampu menyakitimu.” Pria itu berusaha menenangkan Vina yang tampak membeku. “Siapa namanya?” tanya David lagi. “Ham-Hamdani,” jawab wanita itu terbata, masih terpaku tanpa mampu bergerak dari tempat duduk, meski tatapannya sudah lebih teguh sekarang. “Hamdani. Pria tua bangka tak tau diri, heh?!” David menggumam sinis, menarik rambut dalam genggaman lebih keras lagi. “Kemarilah,” David memanggil Vina agar bergabung dengannya. Kelopak mata pria di atas kursi mulai bergetar tak beraturan saat melihat Vina akhirnya mendekat selangkah demi selangkah ke arah meja yang dipenuhi beragam perkakas, mulai dari gergaji besi, palu, tang, silet, dan benda-benda tajam lainnya. "Dia milikmu!" David mendorong kepala dalam cengkeramannya menimpa sudut meja kayu, darah menetes dari pelipis pria itu. Vina berdiri cukup lama di depan kursi, memperhatikan dan menikmati rasa takut yang mulai menjalar di wajah Hamdani. Kedua tangannya yang kurus mengepal di sisi tubuh, mengumpulkan semua tenaga dan keberanian. "Aku ingin mendengarnya berteriak dan menangis, sampai seluruh darah dan air mata kering dari tubuhnya." Suara Vina bergetar saat mengucapkan kalimat barusan, tubuhnya bergerak maju mundur tak teratur. David meraih tangan kanan wanita itu dan membuka genggamannya, memposisikan ibu jari dan telunjuk untuk menjepit silet yang ia ambil dari atas meja. Perlahan tangan David menuntun jemari kecil itu menyayat kening Hamdani yang sedang melotot melihat apa yang ia lakukan. Tubuh itu meronta ke kanan dan kiri, memalingkan wajahnya berusaha untuk menghindar. Tangan kiri David menahan rahang pria itu agar diam sementara tangan kanan memberi tenaga tambahan pada wanita di depannya untuk menekan silet lebih dalam hingga mengenai benda keras di bawah permukaan kulit—tulang dahi. Mata pria di atas kursi seakan hendak lepas dari tempatnya, urat-urat di permukaan bola mata itu memerah. Darah mengucur deras, menetes melewati wajah itu sebelum jatuh ke lantai saat silet ditekan memutar ke bawah menyusuri pipi sampai ke dagu. Kulit wajah pria itu terbuka menampakkan daging merah yang segar. Tubuh Vina kaku mengamati wajah pria yang sangat dibencinya itu selama sepersekian detik, kemudian ia memuntahkan semua isi perutnya begitu saja di atas lantai. Wanita itu tersedak dan terbatuk lagi saat mendengar jeritan pria yang dulu ia sebut ayah. Vina menoleh ke arah pria yang sedang mengejang tak beraturan disertai geraman dan air mata, David sedang menyiram wajah itu dengan cairan Vodka dari dalam botol. "Aku tidak mau kau mati karena kehabisan darah, terlalu cepat," ujar pria itu sembari menyeringai. “Cukup David, kumohon hentikan!” Wanita itu menahan tangan yang kini sedang memegang gunting rumput. “Bunuh saja j*****m ini.” “David?” Pria itu balik bertanya. “Siapa David?” Ia menatap tajam ke arah Vina. “Aku Damian.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD