Wanita itu terkesiap melihat tubuh yang menjelma menjadi sosok yang sangat berbeda. Damian? Apa maksudnya Damian? Apakah pria itu sedang bercanda? Pria yang menolongnya tadi sangat berbeda, ia sangat lembut dan perhatian. Pria di hadapannya kini lebih dingin dan kejam, tergambar jelas dari sorot mata yang tidak menampakkan keraguan sedikit pun saat mengarahkan gunting rumput ditangannya menuju jemari pria yang terikat di atas kursi, memutuskan tiap buku-buku jari itu satu per satu.
"Nggghh ... Mmphh ... Kkhhghhh ....." Pemilik jari itu bergetar hebat, mengerang dan mengejang bertubi, bangku yang didudukinya basah. Sesekali tubuh itu meronta dan mengentak ke belakang menahan rasa sakit.
Damian dalam tubuh David mengusap darah yang menempel di ujung gunting dan mengusapkannya di telapak tangan Vina.
“Rasakanlah, masih hangat. Resapi aromanya, kujamin kau akan ketagihan.” Tawa nyaring dan sumbang keluar dari mulut itu saat Vina kembali mengeluarkan isi perutnya.
"Kau ingin mengucapkan sesuatu?" Damian mencodongkan tubuhnya ke wajah pria itu, melepaskan kain yang menyumpal batang tenggorokannya.
"Mm-maaf, k-kumohon, maafkan aku." Pria menangis dan merengek seperti anak kecil, giginya bergemeratak menahan pedih dan rasa takut. "aku tidak akan memberitahukan pada siapa pun."
"Ah, ya. Kamu memang tidak akan memberitahukan pada siapa pun, karena kau tidak akan pernah keluar dari sini." ujar Damian tepat di depan wajah pria itu, mengamati darah yang masih merembes di sela kulit yang menganga. "Tidak akan ada yang menemukanmu, jadi nikmati saja."
"Kumohon, ampuni aku." Pria itu menoleh ke arah Vina, meminta bantuan. “Aku ayahmu, kumohon.”
"Kau bukan ayahku! b*****h menjijikkan tidak tahu malu!" Vina meraung sekuat tenaga. Ia merebut gunting dari tangan Damian dan menghantamkan ujungnya ke pelipis pria itu sekuat tenaga. Suara erangan yang memilukan terdengar ketika kepala itu terpental ke belakang sebelum kembali menghadap ke depan dengan sudut mata koyak, matanya setengah terlepas keluar.
"Angh-ampun. Bunuh saja aku," ujar pria tua bangka itu dengan napas terengah, air mata bercampur darah mengalir tanpa henti. Adrenalin Vina terpacu melihat hal itu, pelan namun pasti rasa iba berganti dengan kepuasan. Lalu, seringai yang sama kejamnya dengan Damian muncul di wajahnya.
"Pasti, tapi bukan sekarang," jawab Vina, “Lanjutkan, aku ingin melihat sampah ini meregang nyawa,” pintanya pada Damian. Ia kembali duduk di bangku dan menyesap s**u coklat yang mulai dingin.
Damian memilah perkakas di atas meja, matanya tertuju pada sebuah tang besar. Ia memegang benda itu lalu mengarahkannya pada kuku kaki yang hitam dan kotor di bawah kursi, hendak mencabutinya satu per satu.
"Aaarrghhhh ...." teriakan pilu terdengar lagi dalam ruangan. Tubuh tambun Hamdani menghentak dan berontak sekuat tenaga ingin melepaskan diri, ia menggerakkan kakinya ke kanan dan kiri dengan liar mencoba untuk menghindar. Damian bangun tanpa aba-aba memukulkan tang dalam genggamannya ke hidung pria itu disambut lolongan yang menyayat hati.
"Bunuh aku, kumohon ... Bunuh saja aku ...." Hamdani menangis dan mengiba.
Vina mengamati darah yang menetes dari tubuh pria di hadapannya dengan wajah kaku, rahangnya mengeras menahan amarah.
"Diam kamu b******k! Ini belum sebanding dengan yang kau lakukan padaku." Ia mendesis dan menggeram, buku-buku jarinya memutih menerima semua luapan emosi.
“Kemarilah.” Damian menuntun Vina menuju setrika yang tadi ia tancapkan ujungnya pada stop kontak. “Kau tidak ingin bersenang-senang?” tanyanya dengan intonasi merayu, menghipnotis.
Pertanyaan itu membuat seluruh rasa takut dan iba musnah dari dalam hati Vina, tangannya kokoh memegang gagang setrika dan mengarahkan beda itu ke d**a Hamdani. Jeritan serak keluar dari mulut pria itu saat bunyi mendesis tercipta dari permukaan besi panas saat menyentuh kulitnya, suara pria itu tak lagi senyaring dan segarang saat mengumpat dan menyiksa Vina dulu.
Vina menggerakkan benda di tangannya naik, turun, dan memutar, membawa serta kelupasan kulit dari permukaan tubuh. Hamdani jatuh pingsan. Seluruh tubuh pria itu melepuh dan menguarkan bau daging gosong.
Damian mengambil secangkir air dan menyiramkan ke wajah Hamdani. Tua bangka itu tergeragap bangun dengan napas tersengal, paru-parunya seakan tak sanggup lagi memasok oksigen, otaknya perlahan memerintahkan sistem tubuh untuk menyerah.
“Tidak semudah itu, rasa sakitmu ....” Damian menggeram, meraih gergaji besi di atas meja dan memposisikan benda itu di pangkal tenggorokan Hamdani.
“Arrgghh .... Grrrookhhh ... akkhhh ... kkkhhh ....” Hanya suara itu yang terdengar saat gergaji digerakkan maju mundur oleh Damian.
Tubuh Hamdani terbanting-banting di atas kursi saat darah segar merembes dari lehernya. Jemari tangannya menggaruk pegangan kursi dengan putus asa, sementara kaki menjejak lantai sekuat tenaga berusaha melepaskan diri, sebelum mengentak untuk yang terakhir kali.
Vina memuntahkan lagi isi perutnya sebelum jatuh pingsan, meninggalkan Damian semakin larut dalam dunianya. Gergaji ditangannya membentur tulang leher, ia mendongakkan wajah Hamdani dan menekan gergaji lebih keras lagi. Terdengar bunyi gemeratak pertanda tulang leher itu telah patah. Gerakan maju mundur alat di tangan ia teruskan sampai kepala itu benar-benar terpisah dari tubuh dengan sempurna.
Pria itu menatap kepala di tangan kirinya dengan seringai puas lalu meletakkannya ke dalam botol kaca besar yang ada di atas meja. Sambil bersiul kecill, pria itu menuangkan cairan pengawet ke dalam botol. Matanya beralih pada tubuh yang masih terikat di atas kursi, ia membuka ikatan tangan dan kaki lalu menyeretnya menuju frezeer ukuran jumbo di dekat lemari kaca.
Aroma minyak kayu putih membangunkan Vina, wanita itu mengernyit karena rasa mual dan nyeri, kepalanya menghantam lantai cukup keras saat tumbang menimpa permukaan lantai tadi. Ia sedikit bingung dengan orientasi tempat, berpikir keras di mana dirinya berada saat menyadari kini tubuhnya berada di atas ranjang empuk dan hangat.
“Sudah agak enakan?” Suara bariton dari sampingnya membuat Vina mundur menempelkan tubuh ke tembok karena terkejut.
“Damian?” tanya Vina lirih saat melihat pria tampan itu sedang memperhatikannya lekat.
“Dia sudah pergi sejak tadi, aku David.” Pria itu tersenyum manis. “Dia menitipkan oleh-oleh untukmu.”
Mata Vina mengikuti arah pandangan David ke atas meja, sepasang mata yang sudah tidak utuh lagi sedang menatap dari dalam botol kaca. Pandangan matanya menggelap sebelum tidak sadarkan diri untuk kedua kalinya.
***