Lamunan Vina dibuyarkan oleh getar ponsel di pinggiran bathtub. Wanita itu membaca pesan yang tertulis di sana. Rupanya hampir setengah jam ia berendam dalam air hangat dengan aroma lavender.
[Jangan terlalu lama berendam.]
Sudut bibir Vina berkedut, prianya itu selalu membuatnya merasa spesial.
[Aku cinta kamu.]
Ia mengirimkan balasan untuk suaminya dengan bibir yang masih tetap tersenyum. Namun tangan yang sedang melilitkan handuk ke tubuh mendadak terhenti saat melihat pantulan tubuhnya di cermin, begitu menjijikkan.
Tak terasa air matanya menggenang di pelupuk ketika jemari lentik itu mengusap dari bagian bawah leher ke pusat. Tidak ada satu pun sudut kulit itu yang masih mulus, guratan-guratan kasar juga sisa daging yang menutup tidak sempurna memenuhi permukaan kulitnya.
Teringat kembali saat suaminya pertama kali melihat semua itu tanpa rasa jijik atau canggung sedikit pun. Bagaimana pria itu mengusap dan menciumi setiap bekas luka yang ada di sana, seakan ingin mengobati dan menghapus semua, lalu menggantinya dengan cinta. Vina sungguh bersyukur David berhenti dan menyelamatkannya enam tahun silam. Jika tidak, mungkin saat ini tubuhnya sudah membusuk di dasar sungai.
[Tubuhmu itu, ciptaan paling sempurna yang pernah kulihat.]
Masuk lagi pesan dari suaminya, kini Vina tertawa di sela air mata yang menetes. Suaminya itu seperti pantulan dirinya sendiri. Vina heran, bagaimana ikatan di antara mereka bisa terikat begitu kuat.
[Aku cinta kamu.]
Wanita itu bergegas berganti pakaian lalu mematut diri di depan cermin. Kali ini kaos oblong Arsenal dan celana jeans hitam menutup semua luka dan cacat di tubuhnya dengan sempurna. Wanita itu tersenyum kecut menatap bayangannya dalam cermin, mengingat kembali semua luka dan mimpi buruk yang kerap menghampiri karena perbuatan keji pria yang memungutnya di pinggir jalan dulu.
Vina keluar dari kamar dan menutup pintu lalu terpaku di sana, ia merasa gamang. Tungkai jenjangnya melangkah ragu-ragu menuju pintu basemen. Kalau saja David sekarang ada di sini, pastilah pria itu akan melarang keras agar Vina tidak turun ke bawah. Pintu basemen yang terbuat dari besi berderit, seluruh ruangan seketika terlihat jelas saat saklar lampu di dekat pintu ditekan.
Langkah kaki wanita itu terhenti di depan botol kaca yang kemarin ia hancurkan, David telah mengganti dengan yang baru. Wajah dalam toples kaca itu benar-benar telah rusak seluruhnya, seluruh kulit dan serpihan daging yang menempel berwarna pucat dan mengembang hampir dua kali lipat. Vina mendekat untuk memperhatikan serabut otot yang terjuntai, juga tulang lehernya yang patah tak beraturan. Tangan Vina terulur mengusap permukaan kaca dengan rasa sayang. Masih teringat jelas jerit pemilik kepala itu saat masih bernyawa, melotot dan memohon pengampunan.
“Ibu ....” Vina menggumam pelan, suaranya menggema memenuhi seluruh ruangan. “Aku rindu ibu, apakah aku harus menengok istrimu itu?” tanya Vina pada kepala yang mengambang dalam cairan pengawet.
[Jangan terlalu lama di situ, berangkatlah.]
Pesan singkat dari suaminya menggetarkan ponsel dalam saku celana, menyadarkan Vina dari semua sensasi menyenangkan yang baru saja meresap dalam jiwanya.
[Cerewet, tapi aku cinta.]
Wanita itu mengirimkankan balasan sebelum mematikan lampu menaiki anak tangga. Dengan langkah panjang menyambut hari yang baru.
***