Seorang gadis manis tampak berdiri di depan gerbang putih alun-alun kejaksaan kota Cirebon, terlihat manis dalam balutan dress batik. Rambutnya diekor kuda menyisakan sedikit poni di depan kening, wajah ayu itu mendongak saat David memanggil namanya.
"Andin?" tanya David, "udah lama?" tanyanya lagi saat gadis itu mengangguk mengiyakan.
"Baru sekitar sepuluh menit, kok." Senyum lebar terpampang di wajah itu.
"Kamu cantik," ujar David, membuat gadis belia di hadapannya tersipu malu. "Udah makan malam?"
"Belum, Mas," jawab gadis itu.
"Yuk, cari makan dulu." David menyeringai sekilas sebelum mengajak gadis berusia 24 tahun itu masuk ke dalam mobil.
Mereka berkenalan di dunia maya sejak satu bulan lalu. Awalnya Andin malu-malu dan menolak saat David mengaku telah memiliki istri, namun akhirnya ia luluh dalam pesona David. Gadis itu mulai merindu dan gelisah saat David tidak menghubungi lagi, hingga akhirnya ia mengambil inisiatif untuk lebih dulu mengirim pesan pada pria itu dan meminta bertemu siang tadi.
Gadis itu sungguh tak menyangka jika David akan benar-benar datang menemuinya di sini. Ia merasa tersanjung, juga jatuh cinta. Meski tahu itu adalah cinta yang salah, ia tetap nekad mempertahankan rasa dalam d**a dengan dalih cinta tak memandang status, tak memakai logika. Padahal otak warasnya telah memberikan sinyal pada hati, bahwa apa yang ia lakukan adalah salah.
"Kok diam? Mau makan di mana?" tegur David, menoleh ke kiri. Menatap gadis yang sedang mencuri pandang ke arahnya dengan malu-malu.
Andin tersenyum kikuk. "Di mana aja, Mas. Terserah Mas aja."
"Oke, Mas punya tempat makan favorit. Kamu pasti suka." David menyeringai licik, mengemudikan mobil mengikuti arahan google maps dari layar ponsel. Dari tadi hatinya sungguh tak tenang memikirkan Vina. Ada rasa tak nyaman dan gelisah, takut terjadi sesuatu pada wanita yang ia cintai itu.
"Ah, sampai lupa." David menepuk keningnya sendiri. "Tadi Mas beliin sesuatu buat kamu. Bentar, ya." Pria itu menepikan mobil di pinggir jalan dan meraih kotak kecil di jok belakang. Ia mengeluarkan seuntai kalung yang berkilat ditimpa cahaya lampu mobil yang lalu-lalang.
Mata gadis manis itu membulat sempurna. "Cantik," desisnya saat melihat kalung bermata mutiara yang dipegang David.
"Suka?" tanya David, "sini Mas pakein, hadap sana."
Gadis yang sedang jatuh cinta itu semakin berbunga-bunga, tanpa banyak tanya menghadapkan tubuh mungilnya membelakangi David. Jantungnya berdesir halus saat napas David mengenai kulit leher, membuat rambut-rambut halus di sana bergetar karena sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.
Andin sungguh tak menyadari bahwa tatapan penuh cinta dan memuja yang diberikan oleh pria di belakangnya tadi hanya manipulasi, bahwa kalung mutiara indah dalam genggaman telah berubah menjadi seutas kawat baja. Cinta membutakan matanya hingga tak menyadari pria impian memakai sarung tangan kulit berwarna hitam, tak menyadari lagu yang mengalun menghentak sejak tadi dari dalam mobil.
You better lose yourself in the music, the moment you own it
You better never let it go
You only get one shot, do not miss your chance to blow
This opportunity comes once in a lifetime
You better...
Tubuh indah itu memberontak sekuat tenaga saat kawat baja menekan lehernya dengan kuat. Lidahnya terjulur, tercekat kehabisan napas. Bola mata indah itu bergerak liar, sampai akhirnya memutih dengan sempurna. Tangan yang tadi mencakar dan meraih sembarang arah akhrinya terkulai tak berdaya. Tungkai jenjang Andin menendang dan mengejang beberapa kali sebelum luruh tanpa tenaga. Satu lagi jiwa yang malang dicabut tanpa belas kasihan.
David mendorong tubuh tanpa nyawa itu menghantam kaca dengan kasar. Kemudian memacu mobil secepat yang ia bisa menuju rumah, pulang pada istri tercinta. Wanita yang bayangannya berkelebat dalam otak dan pikiran sejak meninggalkan rumah tadi. Jika bukan karena gadis sialan di sampingnya ini, sekarang ia pasti sedang bergelung bersama Vina dalam selimut yang hangat, bukannya kesetanan dalam mobil membelah malam.
***
David merogoh kunci rumah dalam saku celana dengan tidak sabar, suasana rumah begitu lengang ketika ia melangkahkan kaki ke dalam ruang tamu. Tak dihiraukannya mayat yang masih tergeletak dengan mata terbuka di dalam mobil sana. Dengan langkah kaki panjang-panjang setengah berlari, David membuka pintu kamar tidurnya. Sepi, tak ada siapa-siapa. Keningnya berkerut saat melihat lampu kamar yang menyala, selimut di atas kasur sedikit acak-acakan.
"Vina?" David memanggil istrinya, kali ini ia benar-benar berlari menuju kamar mandi, menghempaskan pintu dengan kasar. Kosong.
"Vina!" Pria itu mulai panik ketika tak mendapati istrinya di dalam ruangan itu, juga tak menyahuti panggilannya yang bernada hampir histeris.
"Vinaaa ...." teriaknya lagi sebelum menutup pintu dan berlari keluar. Mencari wanita yang sangat ia cintai itu.
Langkah kaki David tertahan di dapur, dekat pintu menuju basemen di seberang kamarnya. Ia menempelkan telinga ke daun pintu, terdengar suara-suara mencurigakan dari ruang bawah tanah itu. David mendorong pintu sepelan mungkin agar ada sedikit celah tempat ia bisa mengintip. Lamat-lamat terdengar teriakan dan sumpah serapah dari suara yang sudah sangat ia kenal, suara istrinya.
Dengan satu hentakan pintu itu terbuka. Jantung David mencelos demi melihat wanita yang ia cintai sedang menghujamkan pisau ke kepala tanpa tubuh di atas meja bedah disertai sumpah serapah. David berlari menghampiri dan memeluk erat tubuh istrinya.
Tampak sebuah botol kaca hancur berkeping-keping di atas lantai, isinya berserakan ke segala arah. Lemari pendingin yang terbuka, menampakkan sebuah tubuh tanpa kepala bersandar dengan cara yang aneh, kaku.
Sedangkan kepala di atas meja itu, entahlah, sudah tidak berbentuk lagi. Pucat dan koyak di semua bagian; satu bola mata terlepas dari rongganya menggelinding entah ke mana, separuh bagian hidung hilang menampakkan lubang yang gelap dan menjijikkan, sementara bibirnya benar -benar hancur sehingga deretan gigi yang coklat kekuningan menyembul di sela-sela daging yang terkoyak, sungguh tak pantas disebut wajah lagi.
Perlahan tangan kekar David terulur mengancingkan kembali piyama sang istri yang terbuka, memperlihatkan beberapa bekas luka yang tampak memenuhi tubuh. Ia merapikan anak rambut di pelipis istrinya, meluruskan helaian-helaian yang kusut masai.
"Sshhh ... Sshh ... Jangan takut," ujar David, ikut meneteskan air mata bersama wanita dalam pelukannya, "maaf, seharusnya aku tidak pergi ...." David menciumi puncak kepala Vina dengan rasa sayang. "Seharusnya aku menjagamu, maaf ...."
Tangan wanita itu bergetar, pisau yang dipegang sejak tadi jatuh berkelontang di atas lantai. Tatapan kosong dan nyalang yang menakutkan mulai meredup, semakin tenang saat menghirup aroma tubuh yang dirindukannya. Mata indah itu terpejam menikmati usapan lembut dan cinta sang suami, yang tak pernah ia dengar lewat kata.
"Kamu, pulang ...." desis Vina dengan suara parau.
"Ya, aku pulang untukmu. Selalu untukmu ...."
"Untukku ...." gumam Vina lagi. Bibir manis itu melengkung sempurna. Begini saja sudah cukup, lebih dari cukup. Wanita itu tenang kembali, jatuh tertidur dalam dekapan suaminya.
David mengangkat dan membopong istrinya ke dalam kamar. Dengan sangat berhati-hati merebahkan tubuh itu ke atas ranjang kemudian mengobati luka di tangan wanita itu, mungkin karena pecahan kaca. Wanita malang itu tampak begitu rapuh saat tidur.
Pria itu meraih tangan istrinya dalam genggaman, mengecup pelan telapaknya sembari bergumam lirih. "Aku akan menjagamu, selalu ...."
Ia kemudian kembali ke mobil tempat mayat yang tadi sempat terlupakan sejenak, membawa jasad itu ke dalam basemen. Lalu pria itu berdiri di depan cermin, memanggil Damian untuk membereskan semua kekacauan yang ada di sana.
***