Jalanan menuju pabrik gelatin yang akan dibangun masih lengang, belum banyak kendaraan yang lewat. Vina memang sengaja memilih lokasi di pelosok, tersembunyi dari ingar-bingar keramaian. Faktor keamanan adalah alasan nomor satu. Lokasi yang terlalu mencolok akan mempersulit ruang geraknya dan suami.
Mobil yang dikendarai suaminya memasuki jalan setapak, lalu belok kanan di pertigaan jalan desa. Bangunan yang dua per tiga bagiannya telah selesai itu tampak bagai istana besi di dalam hutan belantara, sepanjang mata memandang hanya ada hamparan rumput dan ilalang. Pohon bambu dan jati berjajar di sekelilingnya. Rumah penduduk berjarak tiga kilometer dari bangunan ini. Untuk masalah perizinan bangunan ini tidak dipersulit karena desas-desus tentang kedermawanan Vina dan suaminya menyebar cepat, membuat nama mereka dikenal di mana saja.
"Gimana perkembangannya, Pak?" Vina bertanya pada mandor yang mengawasi jalannya pembangunan gedung ini.
"Aman, Bu. Lancar," jawab pria dengan jambang yang tumbuh lebat di permukaan wajahnya, "pembangunan bisa selesai sesuai perkiraan, jika cuaca tetap sebagus ini."
"Syukurlah." Vina bernapas lega. "Ada keluhan atau kekurangan bahan?"
"Untuk sementara tidak ada, silahkan kalau Ibu dan Bapak mau melihat ke dalam," tawarnya, "mari, saya antar."
Suaminya yang sedari tadi hanya diam, langsung menggandeng tangan Vina dengan posesif dan melindungi. Vina tersenyum, mengusap lembut lengan kokoh pria di sampingnya. Mereka berjalan bersisian masuk ke dalam bangunan itu, memperhatikan bagian-bagian ruangan serta penjelasan yang diberikan oleh mandor. Vina menyeringai puas, semuanya berjalan seperti yang ia harapkan.
"Gimana, Sayang?" Wanita itu mendongak, meminta pendapat suaminya.
"Bagus, sesuai yang kita mau," pria itu menunduk mengecup puncak kepala Vina, "aku tidak sabar."
"Sama, aku juga tidak sabar." Mata Vina berkilat penuh gairah. "Tidak sabar ingin bekerja di sini," lanjutnya lagi, sekilas seringai menyeramkan muncul di wajah cantik itu, membuat sang mandor yang tak sengaja sedang menoleh ke arahnya terkesiap karena perasaan takut.
Sekujur tubuh pria itu merinding, hatinya berdesir oleh perasaan yang ia sendiri tak mengerti. Seperti rasa takut akan sesuatu yang berbahaya dan mengancam. Tapi tidak mungkin, bukan? Mana bisa seorang wanita selemah lembut dan secantik bosnya ini bisa berbuat kejam dan mengerikan? Pria itu mengedikkan bahu dan kembali berjalan, mengabaikan tengkuknya yang mulai terasa berat.
***
Sang surya sudah mulai condong ke barat saat Vina dan suaminya pulang dari pabrik. Kedua sejoli itu lebih banyak diam sepanjang perjalanan. David harus ke luar kota, itulah sebabnya kepulangan mereka dipercepat. Padahal Vina masih ingin menghabiskan waktu bersama suaminya itu.
"Maafkan aku," gumam suaminya saat tiba di rumah, pria itu mulai sibuk mengemasi beberapa potong pakaian. Vina membantu pria itu menyusun semua keperluan dalam koper. Ia menghampiri suaminya kemudian memeluk erat, menghujani wajah tampan itu dengan kecupan sayang.
"Aku akan baik-baik saja, pergilah." Vina mengantar suaminya ke halaman, melepas kepergian pria itu dengan berat. Salah seorang calon mangsa mereka sedang menunggu, ingin bertatap muka langsung dengan David sebelum melanjutkan hubungan online mereka. Pria itu mengusap rambut Vina dengan mesra, mengecup keningnya lembut dengan segenap cinta.
"Aku tidak akan lama, jangan khawatir," ujar pria itu, "kunci pintu dan semua jendela, jangan bukakan untuk siapapun." ujarnya lagi sebelum masuk ke dalam mobil dan menghilang di tikungan jalan. Vina mendesah pelan dan masuk ke dalam rumah, menutup semua pintu dan jendela sesuai pesan sang suami.
Hari mulai gelap, hanya terdengar suara jangkrik, tonggeret, dan hewan-hewan nokturnal bersahut-sahutan bagai simfoni yang merdu. Vina duduk di taman belakangnya yang temaram, menikmati senja yang sunyi dan menenangkan.
[Jangan lama-lama di taman, masuklah dan kunci pintu.]
Wanita itu tersenyum menatap layar ponsel, membaca pesan dari suaminya. Pria itu selalu tahu apa yang ia pikirkan atau rasakan, seakan ada benang tak kasat mata yang menghubungkan mereka.
Sedang apakah prianya itu? Melontarkan kata-kata mesra untuk wanita malang di seberang sanakah ia? Atau sedang b******u? Vina tak pernah cemburu, karena ia yakin hati David hanya untuknya. Ia bangkit dari kursi dan menutup pintu, mengecek ulang semua pintu dan jendela sebelum beranjak ke dalam kamar bernuansa abu-abu untuk beristirahat.
***
Ranjang dalam kamar bergemerisik, Vina gelisah dalam tidurnya. Tubuh itu menggeliat ingin melepaskan diri dari seorang pria berwajah menjijikkan yang berada di atasnya. Tangan pria dengan wajah penuh bekas luka mulai menyingkap baju tidur dengan kasar, mengusap dan membelai. Hidungnya mengembuskan udara panas di sekujur tubuh Vina. Wanita itu tercekat, ingin menjerit namun tak ada sedikitpun suara yang berhasil lolos dari bibir, pria menjijikkan itu membungkam mulutnya dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya terus melucuti pakaian Vina.
Wanita itu berusaha melawan, meronta, menendang dan mencakar dengan sia-sia. Pria b******k itu hanya semakin tersulut gairahnya, melumat habis bibir Vina membuat wanita itu hampir muntah karena aroma busuk yang menguar dari mulut pria j*****m itu.
"Diam kamu, jalang!" Pria itu membentak kasar, menampar pipi Vina dengan bengis. "Tidak akan ada yang datang menolongmu," lanjutnya lagi ditingah tawa jahat yang membahana, memuakkan.
Perut Vina serasa diaduk, mual namun tak bisa muntah. Seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga, rambut-rambut halus di seluruh permukaan kulit berdiri tegak karena rasa takut. Ia benci perasaan ini, rasa lemah dan tak berdaya, tak mampu melawan. Pria itu benar, tak ada seorangpun yang akan datang dan menolongnya.
David.
Vina mengingat suaminya, pria yang selalu menjaga dan melindungi. Jika David ada di sini sekarang, tidak akan ada orang yang dapat menyakiti dirinya. Pria b******k yang menindih tubuh Vina semakin terbahak dengan nada mengejek. Mengambil tali yang disiapkkannya di dalam saku celana, kemudian mengikat tangan dan kaki Vina.
"David, David ... David ...." Bibir Vina bergetar memanggil nama suaminya berulang-ulang, memohon pertolongan. Tubuhnya tersentak dengan mata terbelalak saat pria di atasnya menghimpit semakin mendekat.