bc

Mencari Dibalik Rahasia

book_age12+
2
FOLLOW
1K
READ
adventure
student
drama
twisted
mystery
straight
loser
expert
male lead
magical world
like
intro-logo
Blurb

Awan menyelimuti di pagi hati bertanda akan datangnya hujan, burung-burung berkicau semakin lama semakin menjauh. Rerumputan seakan melihat keatas langit siap menunggu datangnya air hujan saat ini tak banyak yang bisa diriku lakukan hanya bisa duduk memakan goreng pisang bersedu teh manis. Aku hanya sendirian tidak ada seorang pun berada di rumah ini? kalian tahu seluruh kebutuhan sudah disiapkan oleh penjaga di daerah ini. Aku selalu bertanya- tanya siapa orangtuaku? lantas kenapa bisa diriku di perlakukan seperti ini? dan kenapa aku diberikan kemampuan ini?.

chap-preview
Free preview
CERITA 1 KILAS BALIK
Sehelai ........ harapan untukku. ‘’Tolong hiduplah gilang!’’ di bawah bulan purnama air sungai yang bergemilang, air yang terus mengalir tanpa henti riak suara ketawa terdengar dikupingku “apa aku harus balas dendam.?, apakah sakit ini yang dirasakan seorang yang akan mati”. Mataku berlahan redup pengliatanku mulai buram.. “Gilang.....Gilang!!! ’’ Teriak seorang Akh! “Mimpi apaan itu, Mimpi aneh lagi” aku pun menoleh ke jam dinding ternyata sudah jam 07.30 “apa!! 07.30 astaga!!’’ Hari ini 09 Januari 2044 adalah hari tahun pertama masuk SMA menjadikan suatu momen penting seharusnya,... tetapi ternyata momen menjadi terlambat catatan kelam No.1 ku. “Krasak-krusuk” mencari disini-disana dasi biruku, berlari kesana-kemari mencari sepatu dan akhirnya menjadi final yaitu ditempat depan pintu rumahku. “Oke.huh-huh-hu” napasku sesak. Burung burung berkicau seakan tertawa melihatku, aku berjalan menuju sekolahku “untungnya sekolahku dekat dari rumahku’’guram batinku. 4 menit, 5 menit Batinku bergejolak. Kok gak sampai-sampai disekolah ni!!” “Busshh!” angin menerpa tangan ku yang hangat, mataku pun melirik kearah kanan, dan aku melihat mobil inova yang kencang. Tapi aku tidak fokus dengan mobilnya, aku lebih memilih melihat orang yang ada didalam mobil sekejap itu pun beberapa detik ia melihatku. “siapa itu?” kata batinku. Aku terus berlajan dan akhirnya terlihat dari jauh akhirnya sampai juga disekolah, nampak beberapa guru yang ada didepan gerbang sekolah seakan menyambut kedatanganku “wah baru pertama kali masuk sudah di sambut aja digerbang”kata batinku.. “Gilang!!! Cepatlah janganlah santai-santai jalan tu” teriak salah satu guru di depan gerbang. “eeh, kok semakin dekat, semakin suram”kata batinku, berlahan aku mendekat dan akhirnya aku sampai depan gerbang SMA tercinta ini. “gilang, kamu dari mana saja?” tanya ibu een. Ibu een ia adalah guru paling galak di sekolah ini, kegalakan ibu een ini dikenal dari kelas 9-12. Kalau dirata-ratakan 85% sudah dikenal oleh murid-murid. Ibu een dengan wajah biasa saja tetapi jika sudah melihat matanya, rasa takut itu langsung muncul. “gilang kenapa melamun?”tanya ibu een “ini bu aku melamunin kegalakan ibu” jawabku dengan spontan., dan tak sengaja aku melihat wajah ibu een sungguh seram amat... “kamu ibu hukum, sampai istirahat ke 2 kamu bersikan sampah disekolah ini!!” teriak ibu een dengan keras kepadaku. “cih, hahahaha” ketawa murid terlambat lainnya. “kalian semua diam” kata ibu een. “uuh lebih seram” kata batinku Kasus kelam No.2 terlambat dihukum ibu een. “kenapa nambah kasus aja aku ni”kata batinku waktu pun terus berlajan tak terasa sudah waktu istirahat pertama, target aku sekarang adalah sampah-sampah berserakan di sekolah ini, keliling dan keliling..... “ouy sampah” kataku. Orang itupun menoleh kearahku “siapa yang kau bilang sampah” jawab orang itu. Beberapa detik saling menatap dari jauh...... “wow, gilang apa kabarnya kamu?” sambil berlari kearahku. “heh! liat aja sendiri keadaanku gimana” jawabku. “Ohh, ouy kenapa kamu manggil aku sampah hah!” tatap gali kepadaku. “hah!, siapa yang bilang kamu sampah, aku melihat di belakangmu itu ada kertas, itulah aku bilang sampah tadi.”jawabku mengelak. “okedeh, selamat menjalani hukumamu gilang” Gali pun pergi meninggalkan ku dan masuk menuju kelasnya, “ ternyata gali sekolah disini juga ia, mana dia udah dapat kelas” guram dalam batinku. Matahari pun mulai terik menerpaku, riak tawa, sunyi kelas semuanya terlihat jelas dimataku. Udara yangs sejuk dibawah pohon mangga ini aku berteduh untuk istirahat dan melihat kelas olahraga bermain voli. “gilang kamu mau bermain voli juga?” “akh! Uh tekejut aku buk” kaget aku. “kenapa segitunya kaget” tanya bu een. “maaf buk, aku akan lanjut lagi ambil sampahnya” jawabku dengan spontan, lalu langsung pergi meninggalkan bu een. aku pun berjalan menuju kearah perpustakaan, melihat jika ada sampah disana. Berjalan santai ada sampah ambil, ada uang jatuh ambil. Berjalan terus berjalan menyelusuri di lingkup perpustakaan dan tak sengaja aku melihat dalam perpustakaan. Aku melihat seorang gadis memakai syal merah, rambutnya teurai sampai siku tangan, dan tak sengaja ia melihat kearahku. Aku pun sedikit tersipu malu, aku bergegas mencari sampah kembali ditempat lainnya dan tak lama aku mendengar ada yang memanggilku “gilang?” tetapi disaat aku melihat kebelakang, kiri,kanan tidak ada orang. Berarti hanya satu kemungkinan yaitu berasal dari batinku. aku tak terlalu memikirkan itu, yang terpenting sekarang pencarian sampah kembali berjalan-jalan lagi “la-la-la-la-la, siapa tadi iya” kata batinku. Waktu terus berjalan dengan cepat dan bel pun berbunyi menandakan istirahat ke kedua sungguh melelahkan dalam mencari sampah ini. “Ouy Bro” “siapa?” aku menoleh ke kearah belakangku. “kau gak kenal lagi sama aku?” jawab seorang itu. “namamu nanda teman SMP aku kelas 1 dulu” jawabku dengan muka polos. “Uhh..., kau masih ingat aku ya” jawab nanda. Nanda. Adalah teman aku SMP ia seorang playboi, sering kali ia menjerat gadis-gadis dengan kata-kata liciknya dan aku menyebutnya ia tutup botol. “eewh, jijik tutup botol” kataku dengan sinis dengan nanda. “lang ke kantin yok, nanti aku traktir deh kamu mau makan apa saja” “beneran nanda” jawabku dengan senang. “ia lang” sambil menggosok-gosok rambutnya. “Aku ada firasat buruk tentang ini, ingatan tentang SMP ku tiba-tiba kembali betapa kurang ajarnya anak ini, mau traktir tapi malah kabur diam diam. Tapi kali ini ia serius mau trakitr jadi aku ikut aja”kata dalam batinku “hei lang ayok, kenapa bengong” tanya nanda. “gak nan, aku hanya memikirkan kamu baik banget deh” jawabku. “uhh so sweetnya” “jijik” jawabku dengan sinis. Beberapa lama kemudian, aku dan nanda ke kantin, memesan beberapa makanan gorengan serta nasi goreng. Aku makan dengan lahapnya tetapi anehnya kenapa sedikit sekali murid-murid kekantin hanya 5 orang, aku pun bertanya kepada nanda “ nan kok kantin ini sepi ya?” “iya-yalah sepi, ini kan kantin kedua, kebanyakan yang lainnya ke kantin utama” jawab nanda. “Ooh gitu ya”jawabku dengan heran. “oh ya lang, aku ketoilet duluh ya, perut ku tiba-tiba sakit.” Kata nanda sambil memegang perutnya. “oke” jawabku dengan tenang. Beberapa detik pun berlalu, dan aku masih melahap makananku dan tak lama pikiranku sedikit sakit, dan aku berpikir ulang” nanda tadi ke toilet ya?, ohh ya ya”kata batinku. “kurang ajar nanda!!” teriakku. “Pasti ia pergi diam-diam dasar tutup botol”geramku “nak sudah makannya?, ini ibu ambil ya piringnya.” Tanya ibu kantin itu. “iya bu ambil saja” jawabku. Aku terus kepikiran, gimana ni caranya bayar pikiranku kosong dan berlahan aku berjalan mendekat ibu kantin “bu semua nya berapa?” tanyaku. “Semuanya 20rb ya nak”jawab ibu kantin dengans senyum. “haduh maaf bu uang saya tidak cukup hanya 10rb” jawabku. Ibu kantin itu pun memarahi ku, aku hanya bisa menunduk “coba ada seorang yang menolongku” batinku memohon. Tiba-tiba datang seorang gadis, dan mendekat kearahku sekejap ia melihat muka kebingunganku lalu tak lama ia memberiku selembar kertas kecil dan aku melihat kertasnya dan tertulis “ gilang?” Aku menjawab pertanyaan itu” iya” Lalu gadis itu memberikan selembar kertas ke ibu kantin, ibu itu pun juga mengambil kertas itu. “ia non, anak ini tadi belum bayar ia makan nasi goreng sama temannya dengan harga 20rb dan sekarang belum bayar uangnya tidak cukup non” jawab ibu kantin itu. “ahh non” kata batinku Gadis itu pun langsung mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang 20rb dan membayar ke ibu kantin itu. “non, gak usah. Ambil aja uangnya gak apa-apa non. Jika non yang mau bayar gratis aja” jawab ibu kantin itu. “ahhh, gratis.” Kata batinku Tak lama kemudian gadis itu pun melihat kearah ku seakan tersenyum dibalik syalnya. Aku hanya bisa diam dan malu aku tak sanggup berkata apapun “ini semua gara-gara nanda”kata batinku bergejolak. Gadis itu pun memegang tanganku dan menarikku jauh dari kantin, aku gak tau ia mau mengajak aku kemana... lalu dari jauh aku melihat perpustakaan. “kamu mengajak aku keperpustakaan ia” tanyaku. Gadis itu hanya diam, dan sedikit mengangguk kan kepalanya sesampai di perpustakaan aku dan gadis itu duduk, tak lama ia langsung menuliskan selembar kertas kecilnya lalu memberikan kepadaku. “gilang gimana keadaanmu” kata dikertas itu. Aku pun melihat gadis itu “ kamu siapa” tanyaku. Gadis itu pun menuliskan kembali dikertasnya dan kali ini sedikit panjang beberapa menit kemudian ia memberikan kepadaku. “aku linda, teman SD mu duluh kamu masih kenal aku kan? Apa kamu gak kenal lagi sama aku. Wajar deh kamu jika gak kenal karna aku memakai benda menjijikan ini.” ‘’akh! Linda..... teriakku dengan sedikit keras lalu aku membaca kembali kertas itu. “banyak hal yang tak bisa dijelaskan terutama pastinya kamu bertanya-tanya, kenapa aku pakai syal dan tidak berkata satu kalimat pun.” Kata dalam kertas itu. “ia, kenapa kamu memakai syal” jawabku. “kalian bisa sedikit lebih tenang tidak” “maaf buk-maaf” kataku sambil menoleh kearah ibu itu sekarang aku melihat Linda hanya menatap ibu penjaga perpustakaan itu.. “ahk.. linda ya, lanjutkan ya linda bicaranya “ jawab ibu itu. Aku heran sekali, kenapa tadi ibu kantin dan sekarang ibu diperpustakaan seolah takut sama linda, gak berani marah berbeda kali dengan berkata sama aku. “lin” kataku. Linda menulis kembali dikertasnya dan memberikannya kepadaku. “kenapa?” Kata dalam kertas itu. “kamu kenapa gini lin? Ada sesuatu yang terjadi waktu kamu SMP ya?”tanyaku.... Tiba-tiba terdengar bel pun berbunyi kembali dan ini menandakan waktunya masuk kelas kembali.. “lin, kita lanjuti nanti aja ya. Aku mau masuk kelas dulu” Linda hanya mengangguk. Berlahan aku berdiri dan melambaikan tanganku ke linda, dan aku berkata “bye-bye”. Aku terus berjalan menuju pintu keluar perpustakaan tak kusangka aku melihat ibu perpustakaan lalu ia mendekat ke arahku “sebelum ke kelas, kamu keruang guru dulu pesan dari ibu een”kata ibu perpustakaan itu. “Oke buk”jawabku Selangkah demi selangkah aku berjalan melewati ubin keramik sekolah yang putih cemerlang ini beberapa langkah menuju ruang guru. Sungguh terkejutnya aku tidak ada angin tidak ada air,tidak ada petir. Aku menemukan sesuatu membuat mataku tertuju sama satu itu seperti cinta pandangan pertama. Aku mendekat dan mendekat dengan cepat aku ambil uang 50rb yang ada di prantaran tempat duduk guru itu lalu.... “gilang apa yang kamu ambil!” “eh, suara yang tak asing ditelingahku”kataku dengan pelan. Aku pun melihat kearah kiriku ternyata... “walah bu een, he.he.he, ini bu aku menemukan cinta padangan pertama” jawabku dengan lelucon. “sini, itu uang ibu!”jawab dengan tegas bu een. “siap bu,ini uangnya”klimaks dengan respon cepatku. Ibu een pun melihat kearahku, sambil memberikan tas ku “ini tas mu, kamu bisa pulang lang” “pulang?. Bukannya tadi bel belajar kembali bu”tanyaku. “itu tadi bukan bel belajar, melainkan bel pulang. Lagian ini hari sabtu bukan senin sekolah akan belajar kembali dihari senin. Hari ini hanya masa perkenalan aja jadi santai aja” kata bu een “akh... lah jadi” “ia silakan pulang” kata bu een. Sialan! Kata batinku sambil menendang batu diperjalanan pulang. “ouy nak, hati-hati dong nendang batu sembarangan aja.” “maaf pak gak sengaja” jawabku sambil minta maaf. Huuu..... apa akan seperti ini hidupku. Tidak ada yang tau dunia ini dipenuhi interaksi antar induvidu lain...perjalanan yang aku raih masih panjang aku harap kedepannya aku menemukan apa yang dirahasiakan selama ini. Terik matahari semakin panas, sekarang menujukkan waktu 13.00 siang akhirnya aku sampai ke rumahku seperti biasanya jam segini akan aku gunakan tidur siang. “ meong-meong” “suara apa itu?” aku terbaring ditempat tidur. “meong!” “cicak kah” aku memandang langit langit rumahku. “meong!!!” “Ooh kucing ya, akh!! Kenapa kucing ini tiba-tiba masuk?” setengah sadar ku lihat arah samping kanan dan sedikit tekejut batinku. “meong-meong!” “kenapa kamu mau minta makan?” “meong” “ya udah ambil aja makanan di dalam tudung tu ada sisa ikan pagi tadi udah aku mau tidur” jawabku. “ Oke deh” Aku pun langsung berbaring menhadap kekiri, dan berlahan memejamkan mataku ada sesuatu menganjal dipikiranku “oke deh? Ah, yaa... Eh “ aku langsung terbangun dari tempat tidur ku lalu langsung bergerak kearah tudung tempat makanan dan aku lihat... “Lah... gak ada apa apa ya udah lanjut tidur lagi deh”” kata batinku keheranan. Kehidupan terus berputar, kegiatan terus berjalan waktu terus berdetak 1 menit terlewat, 1 jam terlewat, 2 jam terlewatkan, 3 jam terlewatkan terus seperti itu berjalan waktu gilang masih terlelap tidur di tempat tidurnya........ “sudah jam berapa ya?” kata batinku Waktu menunjukan 17.30 wib “Waah.... lama amat ya aku tidur tadi”kata batinku Seperti itulah keseharianku. Lanjut dengan mandi,mencari makan dan kerja ditoko depan perempatan jalan lalu kembali ke rumah istirahat untuk menyambut hari esok pagi.. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Lauchlan The Betrayed (book 2 of Hell in the Realm series)

read
70.4K
bc

The Warrior's Broken Mate

read
202.8K
bc

Getting Back My Secret Luna

read
5.5K
bc

Begging For The Rejected Luna's Attention

read
4.5K
bc

His Redemption (Complete His Series)

read
5.7M
bc

True Luna

read
1.3M
bc

A Warrior's Second Chance

read
336.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook