BAB 1 — Hujan yang Mengingatkan Segalanya
Hujan turun sejak tengah malam, tak berhenti sampai matahari seharusnya muncul. Langit berwarna abu‑abu pekat, menutupi cahaya yang biasanya menyelinap di sela atap rumah kontrakan Lira. Suara rintik yang menghantam genting terasa berirama, tapi tidak menenangkan — ia justru membawa bayangan yang sudah lama berusaha Lira sembunyikan di sudut hatinya.
Pagi itu ia bangun dengan d**a yang terasa sesak. Di meja belajar masih ada cangkir keramik biru pemberian Arga, yang sudah tak pernah diisi kopi hangat selama berbulan‑bulan. Jari‑jarinya menyentuh permukaan cangkir yang dingin. Ia ingat saat Arga memberikannya, sambil bercanda bahwa cangkir itu harus selalu dipakai agar tidak ada yang kedinginan sendirian. Kini hanya benda itu yang tersisa, sementara pemilik janji itu sudah jarang ada di sisinya.
Lira meraih ponsel, melihat daftar obrolan yang sudah lama tidak ada balasan. Pesan terakhirnya: “Hari ini hujan, kamu ingat stasiun?” tidak pernah dijawab. Ia tidak berani mengirim lagi. Takut balasannya justru kalimat yang akan melukai hatinya lebih dalam.
Ia memutuskan untuk pergi ke stasiun, tempat yang menjadi saksi banyak kenangan mereka. Saat berjalan keluar, angin dingin menerpa wajahnya. Ia membawa payung transparan yang dulu sering mereka pakai berdua. Jalanan basah, air menggenang di beberapa sudut, memantulkan cahaya lampu yang masih menyala meski hari sudah siang.
Sesampainya di stasiun, suasana ramai namun sunyi baginya. Orang‑orang bergegas naik turun kereta, ada yang berpelukan saat bertemu, ada yang berbisik perpisahan. Lira berjalan perlahan di sepanjang peron. Bau besi basah dan uap air memenuhi udara. Di tempat yang sama, setahun lalu Arga pernah memeluknya erat sebelum pergi untuk pekerjaan yang ia katakan hanya sebentar.
“Jangan khawatir, aku akan segera kembali,” bisik suara kenangan itu di telinganya.
Lira berdiri diam di tepi peron. Matanya berkaca‑kaca. Ia tidak tahu kapan semuanya mulai berubah. Apakah saat Arga semakin sibuk? Atau saat obrolan mereka mulai pendek? Atau ketika ia mulai menyadari bahwa janji‑janji indah itu perlahan memudar tak berbekas.
Tiba‑tiba langkah kaki terdengar di belakangnya. Lira menoleh.
Di sana berdiri Arga, dengan jaket denim yang sering ia pakai, rambutnya basah terkena rintik hujan. Tangannya memegang payung hitam yang tidak pernah ia gunakan bersama dulu.
Mata mereka bertemu. Tidak ada senyum seperti dulu. Hanya keheningan yang berat.
“Kamu di sini?” tanya Arga dengan suara pelan.
“Aku hanya… teringat,” jawab Lira, suaranya bergetar.
Mereka berdiri berjarak beberapa langkah, dipisahkan oleh rintik hujan yang terus jatuh. Tidak ada pelukan, tidak ada tawa. Hanya dua orang yang dulu saling mencintai, kini tidak tahu lagi bagaimana cara berbicara seperti sebelumnya.
Kereta datang dengan suara gemuruh, memecah keheningan. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berani melangkah mendekat 💔