Chapter 1: Darah Di Perbatasan Dwargard

1648 Words
Bulan Ketiga, Tahun 3674 Kalender Asteria. Perbatasan benua Dwargard, yang selama ribuan tahun dijaga oleh tembok granit dan rune perlindungan leluhur dwarf kini bergemuruh. Gemuruh itu bukan dari palu godam di bengkel, melainkan dari derap kaki puluhan ribu makhluk yang haus balas dendam. Langit kelabu di atas dataran tinggi berbatu itu dicoreng oleh asap hitam dan kilatan sihir berwarna darah. Pasukan monster, sebanyak lima puluh ribu jiwa dengan mata bersinar penuh kebencian, maju bagai gelombang pasang yang hidup. Di barisan terdepan, berdiri Lord Vizka, Pahlawan Monster. Tubuhnya yang kekar diselimuti sisik logam hitam, dan di tangannya terangkai kapak bermata dua yang berpendar energi petir dan api. Mana sebesar 488,309 unit berdenyut di sekitar dirinya, menekan udara. Menghadapinya, di atas sebuah bukit benteng alami, pasukan dwarf sebanyak tiga puluh ribu prajurit berdiri dengan formasi baja yang tak tergoyahkan. Di tengah mereka, berdiri Crocus Dwargon, sang Pahlawan Dwarf. Palu perangnya, "Heartforge", berpijar dengan cahaya oranye magma murni. aura kokoh dan tak tergoyahkan seperti inti bumi, memancar dari dirinya. "Vizka!" teriak Crocus, suaranya menggema bagai gemuruh longsor. "Kau dan pengikutmu melangkahi tanah suci kami! Mundur, atau kubakar kalian sampai ke akar nyawanya!" Vizka tertawa, suaranya parau dan penuh cacian. "Tanah suci? Tanah curian! Mythril Besstyrr telah kalian keruk hanya untuk kepuasan, dwarf serakah! Kini, kami mengambilnya kembali—dengan BLOODSCALE!" Tidak ada lagi kata-kata. Vizka mengangkat kapaknya ke langit, memanggil awan petir. "Skyrending Cataclysm!" serunya. Petir merah menyambar dari langit, disertai hujan meteor api sebesar kepala, menghujani formasi dwarf. Crocus tak tinggal diam. Dia menghantamkan Heartforge-nya ke tanah. "Bulwark of the Molten Core!" Dinding granit cair membumbung tinggi dari perut bumi, menahan serangan petir dan api. Batu yang meleleh membentuk pertahanan yang terus tumbuh, namun ada satu hal yang ganjal menurut Crocus “Mythril? apa yang b******n Vizka itu katakan?” Kemudian Crocus melupakan hal itu kemudian dia mengatakan "Maju, saudara-saudara! Untuk Dwargard!" Pertempuran pun pecah. Gelombang monster bertabrakan dengan tembok perisai dan tombak dwarf. Keunggulan jumlah dan stamina brutal monster melawan disiplin, senjata superior, dan ketahanan tubuh baja dwarf. Sihir tanah dwarf mengobrak-abrik medan perang, sementara sihir darah dan petir monster menerjang tanpa henti. Pertarungan Para Pahlawan: Crocus melesat, meninggalkan jejak magma. "Volcanic Uppercut!" Palunya menyapu dari bawah, mengarah ke dagu Vizka. Vizka menghadang dengan mata kapaknya, petir menyambar. "Blood Lightning Parry!" Dentuman dahsyat menggetarkan udara. Mereka saling dorong, tanah di sekitar mereka retak. "Lemah, dwarf! Tanah dan api kau takkan cukup!" teriak Vizka, mengeluarkan serangan beruntun. "Cascade of Crimson Axes!" Puluhan ilusi kapak berbalut sihir darah dan petir menyerbu Crocus. Crocus berputar, palunya menjadi tornado penghancur. "Magma Vortex Breaker!" Dia menghancurkan setiap ilusi, lalu melompat tinggi, memusatkan seluruh mananya ke satu titik. "Forge God's Final Hammer!" Sebuah palu raksasa dari api dan logam murni terbentuk di angkasa, menghantam Vizka. Vizka membalas dengan teknik puncaknya, menyilangkan kapaknya. "Tyrant's Desolation: Annihilation Field!" Medan energi gabungan tanah, darah, petir, dan api menyembur ke atas. BOOOOOOM! Ledakan cahaya putih membutakan kedua pasukan. Ketika asap menghilang, Crocus dan Vizka terlihat berdiri terpisah seratus meter, sama-sama berlutut, nafas tersengal, baju zirah mereka retak dan berasap. Luka di tubuh mereka mengucurkan darah yang berbeda—satu seperti emas cair, satu seperti tar hitam. Imbang. Namun, pertempuran di tempat lain tak berjalan seimbang. --- Di sayap kiri formasi dwarf, Jenderal Vans Dwargon—ayah Crocus, dengan janggut putih yang dikepang rapi dan mata biru sekeras baja—memimpin pertahanan dengan gigih. Hingga sebuah bayangan menghalangi cahaya pertempuran di depannya. Seorang lelaki dengan tinggi biasa, berambut hitam pendek, dan mata abu-abu yang datar. Dia berjalan tenang di tengah kekacauan, seolah-olah tak tersentuh. Pedang hitam polos di tangannya, Dark Executioner, terlihat biasa saja, namun membuat naluri berperang Vans berteriak bahaya. "Kau siapa? Iblis?" tanya Vans, mengangkat kapak perangnya yang legendaris. "Velora. Tentara bayaran. Aku di bayar untuk mengakhiri komando di sayap ini," jawab Velora, suaranya tenang dan jernih, terdengar aneh di tengah hiruk-pikuk perang. "Berani sekali sendirian menghadap Jenderal Dwargon!" Vans menggeram, mananya meledak. "Mountain-Cleaving Onslaught!" Serangan dahsyatnya, yang bisa membelah bukit kecil, menghujam ke arah Velora. Velora hanya melangkah sedikit. Gerakannya efisien sempurna, hampir seperti ilusi. Dia menghindari serangan utama, dan dengan sekali tebas sederhana, memotong tongkat kapak Vans menjadi dua. Bukan karena pedangnya tajam, tapi karena sihir Collapse yang memusnahkan struktur benda pada titik tertentu. Vans terkejut, tapi tak gentar. Semangat juangnya, tekad membela rakyatnya, justru membara lebih kuat. "Untuk kehormatan Dwargard!" teriaknya, mengeluarkan pedang pendampingnya. Velora mengamatinya. Mata itu, penuh dengan keinginan hidup, rasa keadilan, dan kepercayaan diri yang membara. Syarat terpenuhi, mulutnya bergerak seolah dia membaca mantra. "Peperangan yang membawa malapetaka," bisik Velora, suaranya tiba-tiba bergema aneh. Vans merasakan dunia sekitarnya memudar. Suara perang menghilang. "Keadilan yang terus dianggap benar." Mereka kini berdiri di sebuah dataran tandus tak berujung. Tanah retak, dipenuhi pedang usang yang tertancap sebagai nisan. Langit berwarna senja kelam dengan bulan merah menyapu. Angin kencang meraung, menerbangkan debu dan daun kering. "Akhir yang tak kunjung datang." "Maka pemakamanmu akan disiapkan." "Bersaksilah di hadapan dewa jahat." Perluasan Domain: Hero's Funeral. Vans terhuyung. Dia merasakan semangatnya, tekadnya, energinya, terkikis dan mengalir ke lingkungan sekitar. Setiap pedang nisan seakan menatapnya dengan hampa. "Apakah ini... sihir iblis?!" teriak Vans, tapi suaranya lemah. "Bukan. Ini hanya pemakaman untuk pahlawan seperti dirimu," kata Velora, yang tiba-tiba sudah berdiri di depan sebuah batu nisan besar. "Di sini, semakin kuat tekadmu, semakin cepat kau terkubur. Semangat juangmu yang tinggi adalah bahan bakarnya." Vans menyerang dengan segala kemahirannya, tetapi setiap serangan Velora di dalam domain ini selalu tepat sasaran. Pedang Dark Executioner bukan menebas tubuh, tapi menebas jiwa. Setiap kali pedang itu menyentuh pertahanannya, Vans merasakan kenangan pudar, keinginan memudar, dan kelelahan abadi merasuk. "Aku... aku harus... melindungi mereka...!" geram Vans, berlutut. Semangatnya masih berjuang, justru membuat domain semakin terang, pedang-pedang nisan semakin banyak. Velora mendekat, pandangannya mengandung sedikit sesuatu yang hampir seperti penyesalan. "Kau memilih jalan ini. Kau percaya perang ini benar. Itu sudah cukup." "Collapse: Point of Oblivion." Ujung Dark Executioner menyentuh d**a Vans. Bukan tusukan, tapi sentuhan. Sihir Collapse bekerja di tingkat atom, mengikis keberadaan secara lokal. Di dalam domain, tubuh Vans tidak hancur, tapi semangatnya, roh pejuangnya, runtuh bagai menara pasir. Matanya yang biru memudar. "Di akhir, semua akan berada di pemakaman," Velora berbisik, sebagai mantra penutup. "Maka penyesalan tidak akan ada gunanya." Domain pun runtuh. --- Di dunia nyata, hanya sekejap mata telah berlalu. Para prajurit dwarf melihat Jenderal Vans Dwargon berdiri kaku di depan tentara bayaran itu. Kemudian, tubuh sang jenderal rubuh ke tanah, tanpa luka yang terlihat, hanya ekspresi kosong di wajahnya. Velora membungkuk, dan dengan satu tebasan yang cepat dan bersih, memisahkan kepala Vans dari tubuhnya. Tanpa ekspresi, dia mengambil kepala itu, lalu dengan lemparan yang akurat dan tenang, melontarkannya ke arah barisan terdepan pasukan dwarf. "JENDERAL VANSSSS!!!" Teriakan hampa dan kemarahan yang menyayat hati membahana dari barisan dwarf. Di garis belakang pasukan monster, di atas sebuah bukit tempat dia menyaksikan segalanya, Raja Gorath Bloodscale (The Apex Tyrant) tertawa keras, suaranya menggelegar bagai gemuruh. "Hahahaha! Bagus! Seperti biasa, tentara bayaran itu sadis sekali." Seorang ajudan monster bersisik mendekat, membungkuk. "Yang Mulia, apakah kita tidak turun ke medan perang? Semangat pasukan kita sedang tinggi!" Gorath menggeleng, senyum kejam terpampang di wajah reptilnya. "Tidak perlu. Biarkan anjing-anjing bayaran dan prajurit kita yang haus darah itu yang bekerja. Aku hanya turun ketika pesta sudah hampir selesai... atau ketika ada mainan yang menarik." --- Di sayap kanan, Crocus baru saja membalut lukanya ketika teriakan duka dan amarah sampai ke telinganya. Dia berpaling, dan darahnya membeku. Kepala ayahnya, sang jenderal, sang guru, tergeletak di tanah berdebu, dikelilingi prajurit dwarf yang terdiam dalam shock dan amarah. "AAAAAAARRRRRGGGHHHHH!!!!!" Teriakan Crocus bukan lagi teriakan manusia atau dwarf. Itu adalah erupsi dari jiwa yang terkoyak. Mana di sekitarnya bergolak, lalu menyatu dengan sesuatu yang lebih dalam. Semangat prajurit dwarf di sekelilingnya, keputusasaan mereka, tekad mereka untuk membalas, mengalir ke arahnya bagai sungai menuju lautan. Cahaya coklat kekuningan yang berlapis logam menyembur dari tubuh Crocus. Polanya berubah, menjadi lebih liar, lebih kuat, lebih tua. Di matanya, berkilat dua cahaya: cahayanya sendiri, dan cahaya semangat ayahnya. Next Generation: War Spirit Inheritance. "AYAH...!!" suara Crocus bergema ganda. Palu Heartforge-nya kini menyala dengan cahaya putih panas, dikelilingi aura semangat pasukan yang terlihat seperti hantu-hantu prajurit gagah. Kekuatannya melonjak melampaui batas sebelumnya. Lord Vizka, yang sedang berusaha pulih, melihat fenomena itu dan matanya membelalak. "Kekuatan Warisan Perang?! Mustahil!" Tapi Crocus sudah melesat. Serangannya bukan lagi teknik, tapi amukan alam. "Legacy of the Forge: Continental Sunder!" Setiap pukulannya menghantam tanah, membuka jurang yang menelan ratusan monster sekaligus. Pasukan dwarf, disemangati oleh kekuatan baru pahlawan mereka, berteriak balas dendam dan menyerang dengan kekuatan yang menggandakan. Melihat gelombang balik ini dan kondisi Vizka yang terluka parah, komandan monster membunyikan retret. Pasukan monster, meski dengan jumlah lebih banyak, mulai mundur teratur ke perbatasan Besstyrr, dikejar oleh amukan dwarf yang sedang berkobar-kobar. Velora, dari kejauhan, menyaksikan kebangkitan Crocus. Dia mengamati pedang Dark Executioner-nya yang kembali menjadi benda biasa sejenak sebelum kembali berpendar lemah. "Warisan semangat... menarik," gumannya, lalu berbalik dan melangkah pergi, menghilang ke arah barisan belakang monster. Misi jenderal perangnya sudah selesai. --- Ketika matahari senja akhirnya tenggelam, mencelupkan perbatasan Dwargard dalam warna jingga dan ungu, medan perang yang ditinggalkan adalah pemandangan yang suram. Kemenangan taktis ada di pihak dwarf. Mereka mempertahankan garis perbatasan. Namun, harganya sangat mahal. Korban Monster: Sekitar 5.000 prajurit tewas, banyak yang terluka. Mereka mundur dengan teratur, membawa luka dan kekalahan hari ini. Korban Dwarf: 800 prajurit terbaik tewas. Dan satu kerugian yang tak tergantikan: Jenderal Vans Dwargon, pilar strategi dan simbol kehormatan, telah gugur. Di atas bukit bentengnya, Crocus Dwargon berlutut di samping tubuh ayahnya yang tak berkepala, tangannya mencengkeram tanah hingga berdarah. Amukannya telah reda, meninggalkan kehampaan yang lebih dalam dari jurang mana pun. Kemenangan hari ini terasa seperti kekalahan yang pahit. Perang Dingin di Perbatasan Besstyrr mungkin dimenangkan oleh Ras Dwarf namun pahlawan dwarf mengucapkan sebuah kalimat dalam hatinya "akan kucari b******n yang membunuh ayahku, perang ini baru saja dimulai" sebelum akhirnya matahari terbenam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD