BAB ENAM

2298 Words
"Kak maaf." Ucap Zelin memecahkan keheningan dalam kamar, sejak Livia keluar meninggalkan kamar itu. Tak ada satupun yang memulai obrolan. "Kenapa minta maaf? Emang Zelin punya salah sama kakak?". Ucap Vathan sambil membuka matanya, menatap mata Zelin yang sudah berkaca-kaca entah apa penyebabnya. "Gara-gara jaketnya Zelin pake, kakak jadi ujan-ujanan. Oia itu jaketnya aku simpen diatas meja belajar kakak. Udah dicuci kok" Ujar Zelin lirih "Gak kayak gitu Zelin, kakak sakit itu emang udah waktunya sakit. Berarti kakak lagi disuruh banyak istirahat, bukan karna kamu. Lagian sehat atau sakit itu datengnya dari Tuhan bukan dari manusia. Jangan mikir macem-macem apalagi nyalahin diri sendiri, kalo kayak gitu terus aku resign jadi kakak kamu." "Hikss,,, hiksss, masa resign. Emang lagi kerja?" ucap Zelin disela isak tangisnya. Mendengar Zelin menangis, Vathan langsung bangkit dari tidurnya. Menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang miliknya. Menarik tangan Zelin, dengan isyarat melalui tatapan mata Vathan meminta Zelin berpindah tempat duduk. Zelin hanya menurut dan duduk di tepi ranjang, disamping laki-laki yang saat ini di klaim sebagai kakaknya itu. Dengan lembut Vathan menghapus air mata yang membasahi pipi Zelin. Gadis dihadapan Vathan malah semakin menundukan kepalanya dan terisak begitu pilu menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. "Kok malah makin nangis?" Vathan membelai rambut panjang gadisnya "Kenapa kakak baik banget sama aku?" "Ya kan kakak sayang sama kamu." "Tapi ini berlebihan." "Rasa sayang itu gak ada yang berlebihan, udah berenti nangisnya nanti Livia mikir kakak macem-macemin kamu." Ucap Vathan menenangkan "Makasih ya kak." "Buat apa?" "Semuanya." "Iya tapi janji gak nangis lagi ya, adeknya Kak Vathan yang ganteng ini gak boleh cengeng." "Iya iya yang ganteng, yang banyak fansnya." Ucap Zelin kesal "Tapi yang aku sayang cuma kamu, si gadis pencuri hatiku sejak pandangan pertama." "Lebay...." Ketus Zelin sambil memukul pundak Vathan dan dengan cepat Vathan meraih tangan itu lalu mengecupnya berkali-kali "Dibilangin tangannya jangan suka dipake pukul-pukul kok malah di ulang-ulang terus." Ujar Vathan sambil terus menggenggam erat tangan mungil Zelin yang masih ada dipundaknya "Maaf kak." "Jangan terlalu sering minta maaf karna hal kecil, takutnya nanti kalo kamu buat kesalahan besar kata maaf gak akan ada artinya." Vathan mencoba menasehati "Jadi kalo nanti aku buat salah, kakak gak mau maafin?" tanya Zelin "Gak gitu Zelin, yaampun kenapa sih mikirnya yang enggak-enggak mulu. Udah ah jangan bahas maaf-maafan sama terimakasih lagi." "Kakak udah makan?" akhirnya Zelin bertanya untuk mengalihkan pembicaraan walaupun hatinya sangat tak karuan karena terlalu gugup. Laki-laki dihadapannya terus saja mengecup tangannya berkali-kali. "Belum, kamu udah makan?" Vathan bertanya balik "Aku udah makan, kakak mau makan apa? Nanti aku suruh Mang Iyan buat beliin." "Kenapa gak nawarin mau dimasakin sih?" Tanya Vathan sambil menyipitkan matanya penuh curiga. Apa gadis didepannya tidak bisa memasak "Jangankan masak kak, nyalain kompor aja gak bisa." Cicit Zelin karena malu "Hahahaha..." Vathan terbahak melihat ekspresi Zelin yang begitu lucu dimatanya "Ih jahat malah ngetawain." Kesal Zelin pada Vathan "Kamu gak bisa masak juga aku tetep sayang." Ucap Vathan seraya meredakan tawanya "Emang kakak beneran sayang sama aku?" tanya Zelin ragu "Masih gak percaya?" "ZELIN........." Belum sempat Zelin menjawab pertanyaan Vathan sudah terdengar suara teriakan Livia yang memanggil namanya didepan kamar Vathan "Iya kenapa? Bisa biasa aja gak sih, pake teriak segala, Kan jaraknya gak jauh dari tempat lo berdiri sama gue duduk disini. "Hehehehehehe maaf kelepasan." "Jadi kenapa?" Tanya Zelin "Kata ibu, lo nginep disini malem ini bisa gak? Lagian kan besok kita libur sekolah, temenin gue soalnya kan Abang lagi sakit." "Emang kenapa kalo abang sakit de?" Tanya Vathan "Kata ibu takut tengah malem demam abang tambah tinggi, ade disuruh nganter abang ke rumah sakit. Kalo sendirian gak ada temennya mana bisa ade nganter abang?" Jelas Livia pada Vathan "Terus kalo Zelin nginep jadi bisa nganter? Naik apa? Lagian emang ibu kemana?" "Lah iya juga ya, ih ibu bikin bingung. Ibu hari ini lembur dikantor kemungkinan pulang kerumah temennya, soalnya kalo kesini udah gak ada angkutan umum." "Yaudah abang juga udah mendingan kok, obatnya udah ada disini." Goda Vathan sambil mencolek dagu Zelin "Lebaynya kumat abang gue kalo udah ketemu lo Zelin." "Yaudah gue nginep disini Lip, ada kamar tamu kan?" Tanya Zelin "Ngapain tidur di kamar tamu sih lo, kan kasur gue muat kalo cuma kita berdua." "Kalo gak muat disini juga muat." Goda Vathan lagi "Bang....." Livia memberi peringatan "Becanda de." "Gue nanya kamar tamu tuh buat Mang Iyan, biar dia nginep disini juga. Kan kalo emang tengah malem Kak Vathan mau ke rumah sakit kan ada Mang Iyan sama ada mobil juga." "Oohhh gitu, yaudah gue siapin kamar tamu deh sekalian kasih tau Mang Iyan." Ucap Livia "Gue bantuin ya." "Gak usah, lo temenin abang gue yang lagi mendadak lebay itu. Gue juga lagi order makanan buat kita, nanti kita makan bareng." "Lip bilang sama Mang Iyan kalo mau pulang dulu juga gak apa-apa tapi nanti malem balik kesini. Biar disini ada orang yang lebih tua juga kan kalo ada dia." "Oke." Livia pun pergi menghampiri Mang Iyan dan menyampaikan pesan dari sahabatnya. Setelah Mang Iyan pamit pulang, Livia langsung masuk ke kamar tamu untuk membereskannya. Sudah jam sembilan malam, Zelin, Livia dan Vathan sedang duduk di ruang keluarga sambil menyaksikan film favorit mereka bertiga. Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah, dengan cepat Livia bangun dari duduknya untuk membukakan pintu rumah. Karena itu pasti Mang Iyan yang datang, Livia pun akan menunjukan dimana kamar tamunya. Supaya Mang Iyan bisa langsung istirahat malam ini. Vathan dan Zelin masih menyaksikan film yang berlangsung di layar televisi. "Zelin,,," "Iya kak, kenapa? Pusing? Mau minum? Atau mau apa?" "Kamu beneran masih belum percaya kalo aku sayang sama kamu?" Tanya Vathan lirih Zelin merubah posisi duduknya jadi menghadap Vathan, gadis itu langsung menangkup wajah pria tampan dihadapannya. "Aku percaya kak, percaya banget. Aku yakin seratus persen kalo kakak sayang sama aku, kalo gak sayang pasti kita gak akan bisa sedeket sekarang." "Tapi berkali-kali aku nyatain perasaan selalu kamu tolak tanpa memberi alasan. Apa ada cowok lain yang lagi deket sama kamu?" Zelin hanya menggelengkan kepalanya "Terus kenapa?" tanya Vathan tersirat akan kesedihan "Aku gak mau kita merusak hubungan yang sangat baik ini, kita udah sama-sama nyaman. Aku takut kalo harus berkomitmen nanti kita berantem terus merusak semuanya, aku sayang kakak, sayang Livia, sayang Ibu juga. Aku gak mau semuanya rusak cuma karena satu hubungan yang disebut pacaran." "Huuhhhh aku gak mau paksa kamu, kalo emang kamu maunya begitu yaudah gak apa-apa." Vathan berdiri dari tempat duduknya namun tiba-tiba pergelangannya ditarik oleh gadis yang saat ini juga menyusulnya berdiri. Tanpa diduga Zelin memeluk Vathan erat, mencari rasa nyaman dan hangat dipelukan pria itu. Vathan yang terkejut hanya bisa membelalakan matanya, namun tak berselang lama tangannya terulur membalas pelukan gadis kesayangannya. Mengusap lembut punggung Zelin, menyalurkan rasa cinta dan sayangnya. "Jangan marah kak, aku cuma gak mau semua kehangatan seperti keluarga hilang begitu aja. Aku gak mau kak, aku gak mau." Ucap Zelin masih dalam pelukan Vathan "Kakak gak marah Zelin, lagian kenapa harus marah kalo gadis cantik ini udah bilang sayang." "Terus kenapa tadi mau pergi ninggalin Zelin sendirian disini?" Tanya Zelin sambil mengengadahkan kepalanya agar bisa menatap wajah tampan Vathan "Kebiasaan sih mikirnya yang enggak-enggak. Bukannya tanya mau kemana malah udah ambil kesimpulan sendiri." Ucap Vathan terkekeh "Emang kakak mau kemana tadi?" "Mau ke kamar ambil selimut, soalnya disini makin dingin. Kakak mau ambil selimut buat kita biar tetep bisa lanjutin nonton." Zelin semakin menelusupkan kepalanya di d**a bidang Vathan karena merasa malu, Vathan yang melihat bayangan adiknya akan masuk keruangan itu pun mencoba melonggarkan pelukan tangan Zelin. Namun pelukan itu malah semakin erat seraya Zelin menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Ada Livia itu lagi jalan mau kesini." Bisik Vathan ditelinga Zelin namun gadis dalam pelukannya itu seakan tuli tak mendengarkan kata-kata yang diucapkan Vathan. "ABAAAAAAANNNGGGGGGGGGG......." Teriak Livia histeris. Vathan dan Zelin terkejut mendengar teriakan Livia, keduanya melepaskan pelukannya dengan cepat dan menoleh kearah asal suara. Namun mereka tak melihat ada Livia disana, Vathan pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan keluarga untuk melihat adiknya. Walaupun terkejut dan panik terjadi sesuatu pada adiknya, tak sedkitpun Vathan melupakan keberadaan Zelin. Saat ini pun ia menuju kamar Livia dengan menggandeng tangan Zelin, Vathan sangat yakin teriakan suara Livia berasal dari kamar adiknya itu. Didepan kamar Livia sudah ada Mang Iyan yang nampaknya juga panik mendengar teriakan gadis itu. "Ada apa mang?" Tanya Zelin "Kayaknya lampu kamar Non Livia mati." Ujar Mang Iyan "Terus yang punya kamar kemana?" Ganti Vathan yang bertanya "Itu dia mamang gak tau Den, tadi mau masuk tapi gak berani takut gak sopan." Jawab Mang Iyan menjelaskan kenapa hanya berdiri depan pintu "Dia kan takut gelap, Zelin mau masuk apa tunggu disini?" Tanya Vathan pada Zelin yang berdiri disamping kanannya. "Ikut kak." dengan nada ragu "Takut gelap juga?" Zelin menganggukan kepala "Yaudah tunggu disini sebentar, kakak masuk kedalem dulu, Mang Iyan kalo mau istirahat gak apa-apa ke kamar lagi aja." "Gak di ganti dulu Den lampunya?" "Besok aja mang, sekarang udah malem." Ujar Vathan lalu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Zelin, lalu melangkah masuk kedalam kamar. "De, kamu dimana de?" "Dibalik selimut bang, gak berani buka mata. Takuutttt hiiksss,,, hikksss." Livia sudah terisak dari balik selimut tebalnya. Vathan mendekati tempat tidur Livia, lalu duduk disisi ranjang. Membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh adiknya, Livia pun segera menghambur ke pelukan sang kakak. "Takut bang..." "Sssttttt,, kan udah ada abang. Ayo kita keluar, kalian gak bisa tidur disini. Zelin juga takut gelap katanya." Ujar Vathan "Terus tidur dimana? Tanya Livia yang masih memeluk Vathan "Dikamar abang lah, masa mau di kamar ibu. Kan gak sopan, apalagi ngajak Zelin. Walaupun ibu udah anggap Zelin seperti anak sendiri tapi tidur di kamar ibu tetep aja gak sopan. Kamar kan privasi, kecuali kalo Ibu lagi ada dirumah terus ngajak kalian tidur bareng dikamarnya baru gak apa-apa." "Kasur abang kan cuma muat buat berdua, kalo bertiga ya sempit lah bang." "Abang gak tidur di kasur de, nanti abang pindahin karpet bulu yang ada di ruang keluarga buat abang tidur di samping kasur abang. Udah gak usah pikirin itu, kita keluar dulu aja. Kasian Zelin nungguin di depan sendirian, Mang Iyan udah abang suruh istirahat." Livia dan Vathan keluar dari kamar, mereka berdua melihat Zelin sedang bersandar di dinding samping kamar Livia. "Lip gapapa?" Tanya Zelin "Gak apa-apa kok Zelin, gue kadang Cuma agak parno aja sih kalo gelap. Makanya tadi gue ngumpet dibalik selimut." "Oh gitu, terus kita tidur dimana?" "Dikamar abang, kata abang suruh disana. Lagian kan dikamar tamu ada Mang Iyan, disini Cuma ada satu kamar tamu Zelin. Gak apa-apa kan kita tidur di kamar abang?" "Ya gue sih gak masalah tidur dimana aja, tapi kak Vathan tidur dimana?" Tanya Zelin bingung "Abang juga tidur di kamar bareng kita, tapi nanti abang pake karpet bulu yang ada di ruang keluarga." "Tapi kan kakak lagi sakit, masa malah gak tidur di kasur." Ucap Zelin tersirat akan kekhawatiran "Cieee,, peduli banget sama abang. Padahal abang udah sehat-sehat aja tuh udah ketemu obatnya." Ledek Livia "Udah gak apa-apa kok abang gak di kasur malem ini, kalian duluan ke kamar sana. Nanti abang nyusul, mau ambil karpetnya dulu di ruang keluarga." "Aku bantuin ya kak." Gak usah sayang, aku bisa sendiri. Udah sana kamu ke kamar duluan sama Livia." "Ih udah sayang-sayangan aja, pas ditinggal tadi abis ngapain tuh?" Sindir Livia lalu berlalu pergi meninggalkan keduanya "Iihhh kakak sih, Livia jadi curiga tuh." Ucap Zelin berbisik "Tapi kan tadi kamu duluan yang peluk-peluk sampe gak mau lepasin, nyaman ya sayang peluk0-peluk aku?" Goda Vathan yang seketika buat wajah Zelin berubah menjadi merah "Cie,, mukanya merah. Makanya kalo sayang ayo jadian, kita jalanin dulu gak usah kebanyakan mikir hal yang belum tentu kejadian." "Ih apa sih jadian-jadian." Kesal Zelin karena semakin di buat malu oleh ucapan Vathan, saat tangan Zelin hendak memukul laki-laki di hadapannya namun dengan cepat di urungkan. Karena Vathan sudah menatap tajam tersirat sebuah peringatan. "Mau masuk kamar duluan apa mau nemenin kakak ambil karpet? Biar bisa peluk-peluk lagi kayak tadi." Lagi-lagi Vathan menggoda Zelin "Ah tau ah ngeledek mulu." Zelin pun berjalan meninggalkan Vathan yang sedang tertawa terbahak-bahak. Malam ini mereka tidur di satu ruangan yang sama, walaupun diantara mereka belum ada satupun yang memejamkan mata. Masih asik membahas hal-hal seru bagi mereka, saling bertukar cerita tentang segala hal. Dua jam mereka terus berbincang, jam sudah menunjukan pukul dua belas malam. Livia merasa kantuk sudah menghampirinya, rasanya sudah tak kuat untuk menahan tak memejamkan mata. Sepuluh menit setelah mengucapkan bahwa matanya sudah merasa kantuk Livia pun sudah menyelami alam mimpinya. Berbeda dengan Livia yang sudah tertidur nyenyak, Vathan dan Zelin belum bisa untuk segera tidur. Vathan yang sebenarnya tidak bisa tidur dengan keadaan terang, tapi harus mengalah demi kedua gadis kesayangannya yang sangat takut gelap. Hanya ada keheningan di kamar itu, detik jam berputar menemani mereka yang masih sama- sama terdiam. Sampai tiba-tiba saja Zelin bersin-bersin. Vathan langsung bangkit dari posisi tidurnya, duduk di samping ranjangnya. Sampai wajahnya berhadapan langsung dengan wajah gadis yang ia cintai. Saat melihat Vathan duduk di samping ranjang, Zelin pun memiringkan posisi tidurnya, Dan wajah keduanya langsung saling berhadapan. "Belum tidur?" Tanya Vathan lembut, Zelin hanya menggelengkan kepala "Gak nyaman ya?" Lagi-lagi Zelin menggelengkan kepala "Terus kenapa? Pusing? Kok barusan bersin-bersin." Zelin tak menjawab tapi terus menatap mata Vathan dengan sendu "Bilang kenapa? Kalo kamu diem terus kayak gini, kakak bingung." Ucap Vathan sambil membelai kepala Zelin penuh kasih sayang "Kalo bilang takut kakak marah?" "Emang selama ini kakak pernah marah sama kamu?' Tanya Vathan yang lagi-lagi dijawab dengan gelengan kepala oleh Zelin "Terus kenapa? Ayo sini bilang." Vathan pun sudah menopangkan dagunya disisi ranjang, menunggu dengan sabar apa yang akan di ucapkan Zelin. Tapi sepertinya gadis di hadapannya ini masih enggan untuk berucap. Semuanya sangat nampak dari raut wajahnya yang ragu untuk berucap. Tapi Vathan masih menunggu sambil terus mengusap puncak kepala Zelin. "Kak..." Panggil Zelin "Iya sayang, kenapa? "Akuuuuuu......."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD