BAB LIMA

2299 Words
Vathan baru saja memarkirkan motornya ditempat seperti biasa. Saat memasuki rumah senyum terus saja menghiasi wajah tampannya. Merasa ada sesuatu yang aneh dengan sang kakak Livia pun menghampiri kakaknya yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumah mereka. "Bang.." Panggil Livia "Iya de, kenapa?" Tanya Vathan pada Livia yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Abang lagi kenapa sih?" "Gak kenapa-napa, emangnya kenapa?" "Abis nganterin Zelin abang jadi senyum-senyum mulu." "Orang senyum emangnya salah?" "Ya enggak salah, cuma kan aneh liatnya." "Udah abang gak kenapa-napa. Jadi kamu tenang aja ya." Ucap Vathan sambil membelai puncak kepala adiknya sambil berlalu menuju meja makan diikuti oleh Livia berjalan dibalik punggung sang kakak. "Ademu mana bang? Kok gak diajak sekalian kesini." Vathan menoleh sedikit ke belakang melihat Livia yang berdiri tepat dibalik punggungnya. "Lah bu ini anaknya udah kayak buntut ngikutin aja, emang gak keliatan?" tanya Vathan heran "Ademu kecil banget bang, berdiri di belakang kamu gak keliatan kayak ada orang." jawab Maya sambil terkekeh "Hahahahaha." Vathan hanya tertawa menanggapi ucapan ibunya "Ih kompak deh kalo udah ngeledekin aku. Padahal aku tuh bukan kecil bu tapi minimalis." Ucap Livia penuh penekanan sambil mendudukan dirinya disalah satu kursi yang tersedia. Sedangkan sang kakak pamit untuk ke toilet dulu "Iya ade iya, kamu minimalis." ucap Maya tak ingin memperpanjang masalah dengan putri semata wayangnya itu. "Bu..." "Hmmm." gumam Maya "Masa pas tadi baru masuk rumah abang senyum-senyum sendiri." ucap Livia sedikit berbisik pada ibunya "Biarin de lagi jatuh Cinta kali, Zelin udah punya pasangan?" Livia yang sedang mengunyah makanan hanya menjawab pertanyaan Maya dengan gelengan kepala "Syukur deh kalo gitu." ujar Maya dengan perasaan lega "Kok ibu bersyukur?" tanya Livia bingung "Ya kan jadi anak gantengnya ibu gak akan merusak hubungan orang lain. Tinggal kita liat aja gimana usaha abang buat dapetin Zelin, kalo emang sahabat kamu yang dia suka." "Lagi pada gosipin abang ya?" terdengar suara Vathan tak jauh dari meja makan "Iihhhh GR." sarkas Livia "Besok mau kerumah Zelin ya de?" tanya Vathan yang baru saja duduk disamping adiknya "Kok abang tau?" "Tadi Zelin bilang sama abang, terus minta abang ikut kerumahnya." "Terus abang mau ikut?" "Ikut lah." jawab Vathan dengan penuh semangat "Abang suka sama Zelin?" tanya Maya "I... I... Iyaaa bu." jawab Vathan gugup "Perjuangkan kalo emang suka, tetep jadi diri abang sendiri. Jangan pernah mencoba jadi orang lain didepan dia. Abang tau kan status sosial kita jauh berbeda sama dia, itu artinya kalo abang mau sama dia harus bisa jadi orang yang sukses. Karna ibu yakin orangtuanya Zelin gak akan mau anaknya diajak hidup sederhana." "Gak gitu kok bu." Livia menanggapi ucapan ibunya "Maksudnya?" Tanya Vathan bingung "Nanti deh abis makan ade cerita ke ibu sama abang." Setelah itu mereka melanjutkan makan malam dengan tenang. Selesai makan malam ketiganya berkumpul diruang keluarga, Livia menceritakan bagaimana Zelin sangat ingin hidup dilingkungan keluarga sederhana saja tapi berlimpah kasih sayang. Livia pun menceritakan penyebab tadi siang Zelin menangis dipelukannya. Maya dan Vathan mendengarkan dengan baik semua cerita Livia tentang Zelin. Maya hanya berpesan pada Vathan untuk tidak menyakiti Zelin, dan harus mau berjuang supaya Zelin bisa bahagia sesuai keinginannya. "Jika tuhan mengijinkan aku menjadi pendampingmu kelak, tak akan pernah sekalipun aku menyakiti mu. Aku hanya akan membuat mu bahagia. Dan aku akan mewujudkan semua impian mu dengan kedua tanganku." Janji Vathan pada dirinya sendiri yang hanya diucapkan dalam hati. *** Vathan, Livia dan Zelin sedang duduk di taman belakang rumah itu, taman yang berada dekat dengan kolam renang. Setelah selesai makan siang, ketiganya saat ini duduk-duduk santai menikmati segelas jus jeruk dengan berbagai cemilan yang disediakan Bi Imah. "Zelin rumah segede gini tiap hari sepi?" Tanya Livia "Iya gitu, makanya gue kadang males buru-buru pulang kerumah." Jawab Zelin Vathan yang duduk agak berjarak dari keduanya hanya mendengarkan perbincangan tersebut sambil asik main games di ponselnya "Padahal mendingan gak usah gede-gede ya Zelin rumahnya, buat apa gede kalo sepi gini." celetuk Livia Wajah Zelin berubah mendung, matanya berkaca-kaca. Livia yang menyadari hal itu langsung merasa bersalah, ia rangkul pundak sahabatnya dan memeluknya erat. "Maaf Zelin maaf, gue gak maksud nyinggung perasaan lo." ujar Livia dengan nada penuh penyesalan Dari kejauhan Vathan masih memperhatikan interaksi kedua gadis yang ia sayangi. Dari tempat Vathan duduk semakin terdengar suara isak tangis, dan suara adiknya yang terus meminta maaf. Vathan pun memutuskan untuk menghampiri keduanya dan melepaskan rangkulan tangan Livia dari pundak Zelin, meminta Livia menggeser sedikit posisi duduknya. Dan akhirnya Vathan duduk ditengah-tengah antara kedua gadis itu. "Kamu apain lagi sih de?" tanya Vathan pada Livia lembut "Maaf keceplosan tadi bang." jawab Livia penuh penyesalan "Zelin kenapa nangis?" Vathan mengalihkan pandangan kesisi kanannya. Gadis itu hanya menjawab dengan gelengan kepala sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. "Zelin sorry." ucap Livia dengan nada penuh permohonan "Gak apa-apa kok Lip, lo gak salah. Emang gue yang lagi sensitif." Tanpa di duga Vathan merangkul pundak kedua gadis yang duduk di sisi kanan dan kirinya itu. Merapatkan posisi duduk mereka bertiga. "Bang,,," "Kak,,," Ucap Livia dan Zelin bersamaan "Cie... Janjian ya panggil-panggil orang ganteng." dengan nada menggoda "Iiihhhh GR." jawab keduanya lagi dengan nada ketus "Iya jadi kenapa? Gantian ngomongnya?" ucap Vathan lembut "Semalem kan ade udah cerita semua ke abang. Abang mau gak jadi kakaknya Zelin, biar dia ngerasain kayak ade. Ngerasain punya kakak, di perhatiin, di jaga, dan di sayang." "Hmmm... Jadi kakak ya?" Vathan bertanya balik dengan ekspresi seolah-olah sedang berpikir. "Kalo gak mau juga gak apa-apa kak, Livia mah ngaco aja lagian." timpal Zelin cepat sambil mencoba melepaskan tangan Vathan dari pundaknya, namun tak berhasil karena laki-laki itu malah semakin mengeratkan rangkulannya. "Jangankan jadi kakak Zelin, jadi pacar kamu aja aku mau. Mau banget malah." ucap Vathan pelan namun masih terdengar oleh kedua gadis itu. "Ih genit banget sih bang!" sarkas Livia "Tau nih modus mulu." timpal Zelin "Bukan genit dan gak lagi modus, tapi lagi jujur gadis-gadis cantik." "Jujur sih jujur bang, masa nyatain perasaan kayak gitu." sindir Livia "Abang gak mau cepet-cepet de, abang yakin semuanya butuh proses. Kalo emang sekarang abang harus jadi kakaknya Zelin, ya abang mau lah. Lagian ya ibu aja udah anggap Zelin anaknya, anak ibu kan berarti adeknya abang. Bener gak de?" "Iya juga ya bang. Bener bang bener banget." Zelin yang mendengar pembicaraan kakak beradik di sampingnya itu merasa terharu. Ternyata ia tak salah memilih teman, ia tidak cuma mendapat seorang sahabat tapi ia juga dapat ibu dan kakak sekaligus. Mata Zelin sudah kembali berkabut, air matanya sudah siap mengaliri kedua pipinya. Vathan melirik ke sisi kanannya dan menyadari Zelin akan segera menangis. Ia semakin mengeratkan rangkulan tangan kanan dan kirinya. Menyalurkan rasa sayang untuk kedua gadis yang sudah menempati hatinya. "Udah gak usah nangis Zelin, nanti kamu dikatain jelek lagi sama Livia." goda Vathan supaya Zelin tidak menumpahkan air matanya. Livia melirik tajam pada Zelin dengan tatapan permusuhan "Belom pacaran aja udah main aduan, gak asik." kesal Livia yang hanya dibalas kekehan oleh Vathan dan Zelin. Mereka bertiga akhirnya menghabiskan waktu siang menuju sore ini dengan membahas banyak hal. Sharing tentang pelajaran, saling terbuka satu sama lain, menunjukan kasing sayang. Sampai waktu menunjukan pukul lima sore Vathan dan Livia pamit pulang. *** Dua minggu setelah kejadian dirumah Zelin, ketiganya semakin dekat sekarang. Livia dan Vathan pun sering mengunjungi rumah sahabatnya untuk sekedar menemani. Karena kakak beradik itu tidak mau Zelin merasa kesepian lagi. Hari minggu nanti ketiganya sudah berencana untuk menhabiskan akhir pekan mereka bersama Maya di taman samping rumah sederhana Vathan. Dua gadis cantik sedang mengerjakan tugas sekolah di sebuah kamar mewah dengan fasilitas super lengkap. Duduk berhadapan diatas sofabed berwarna coklat s**u dengan meja lipat masing-masing di depan tubuh mereka. Keduanya sama-sama sibuk dengan buku dan alat tulisnya masing-masing. "Yaampun kok error gini sih? Nyala mati nyala mati terus." Ucap Livia kesal sambil memukul-mukul kalkulator warna pink miliknya. Ya walaupun Livia tipe perempuan yang tidak bisa untuk anggun dalam berbicara, tapi ia merupakan perempuan yang begitu menggilai warna yang sangat identik dengan dihubungkan sebagai warna untuk wanita. "Kenapa sih Lip? Ngedumel aja lo." Tanya Zelin tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ada di hadapannya saat ini. "Kalkulator gue Zelin minta dibanting kayaknya." Kesal Livia pada benda yang menyusahkannya saat mengerjakan tugas saat ini. "Yaudah banting aja." Ucap Zelin ringan tanpa beban "Terus tugas gue gimana?" "Ya kerjain lah, lo buka tuh tas gue. Disana ada kotak warna pink, lo ambil itu buat lo." Ujar Zelin dengan nada perintah. Livia pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh sahabatnya itu, setelah dibuka dan melihat isinya. Wajah yang tadi kusut seketika berbinar memancarkan kebahagiaan. "Ini buat gue Zelin?" Tanya Livia menunjukan kalkulator baru warna pink yang pastinya lebih bagus dari miliknya yang sudah rusak. "Hmmm..." hanya gumaman yang terdengar sebagai jawaban dari Zelin "Seriusan?" Livia masih bertanya untuk meyakinkan "Iya serius, bawel banget sih. Cepetan kerjain tugas lo itu, abis ini gue anterin lo pulang kerumah sambil mau nganterin jaketnya Kak Vathan." "Oke oke gue lanjut ngerjain tugas." Keduanya kembali terlarut dengan kesibukan masing-masing, sambil sesekali saling bertanya mengenai apa yang mereka kerjakan. Terutama Zelin lebih sering bertanya saat ada yang tidak ia pahami. Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, keduanya sudah selesai mengerjakan tugas. Saat ini mereka sedang duduk sambil menikmati puding buatan Bi Imah. "Zelin gak usah anterin gue gak apa-apa, gue bisa naik ojek online kok." Ucap Livia sambil memasukan sesuap puding rasa strawberry kedalam mulutnya "Lo gak boleh nolak atau gue marah!" ucap Zelin dengan nada penuh ancaman "Lagian kalo alasan lo mau kembaliin jaketnya Bang Vathan kan bisa lo titip ke gue." "Udah ah jangan bawel cepetan abisin pudingnya terus kita pulang kerumah lo. Kasian Mang Iyan kelamaan nunggu." "Iiihhh atau jangan-jangan lo kangen ya sama bang Vathan karna hari ini gak ketemu." Ujar Livia penuh selidik "Yeeyyyyy gak gitu, udah buruan gue duluan kedepan. Piringnya tinggal aja disitu nanti diberesin Mba Tuti." Ucap Zelin sambil melangkahkan kaki terlebih dahulu meninggalkan sahabatnya yang masih betah duduk. "Mba Tuti?" Tanya Livia bingung sambil menyusul langkah Zelin yang sudah sampai dipintu rumah itu. "Iya yang kerja disini bagian cuci piring." Jawab Zelin santai "Yaampun kerja dirumah aja ada bagian-bagiannya." Ucap Livia dalam hati, sekarang gadis itu lebih menjaga ucapannya. Selalu memikirkan kalimat yang akan diucapkannya, karena ia tidak mau meninggung perasaan Zelin untuk kesekian kalinya. Walaupun Zelin selalu menjelaskan kalau ia tak pernah tersinggung oleh ucapan Livia, namun apa salahnya berubah menjadi lebih baik dalam berucap untuk menjaga perasaan sahabat yang ia sayang. Empat puluh lima menit waktu yang ditempuh untuk sampai kerumah Livia, kedua gadis yang ada didalam mobil pun segera turun. Mereka masuk ke dalam rumah yang nampak sangat sepi, bahkan lampu ruang tamu pun masih gelap. Livia berjalan terlebih dahulu dan menyalakan lampu ruang tamunya. Lalu mempersilahkan Zelin untuk duduk dulu di sofa yang ada disana, karena ia mau ke kamarnya untuk meletakan tas sekolah dan berganti pakaian. Setelah itu ia akan melihat kakaknya yang sepertinya ada dikamar. Selesai dengan kegiatannya di kamar Livia pun masuk ke kamar kakaknya yang tidak tertutup rapat. "Bang,,,." Panggil Livia "Iyaa de, kamu baru pulang?" Tanya Vathan lemah "Iya ade baru sampe bang, didepan ada Zelin mau nganterin jaket abang katanya." Livia menghampiri kakaknya yang masih berbaring diatas kasur, karena sepenglihatan Livia sang kakak nampak lebih pucat dari terakhir kali ia lihat. Gadis itu duduk disamping sang kakak, memegang dahi kakaknya yang saat ini masih memejamkan mata walaupun tidak sedang tidur. "Loh kok demamnya tambah tinggi sih bang?" "Iya kepalanya juga tambah pusing de, kalo Zelin mau kembaliin jaket suruh masuk kesini aja bareng kamu. Badan abang lemes banget de, gak kuat buat keluar." "Kita ke dokter aja yuk." Ajak Livia mengguncang tangan Vathan "Gak usah, besok juga sembuh de. Abang Cuma butuh istirahat aja, udah sana kamu kedepan kasian Zelin sendirian." Ujar Vathan pada adiknya yang sedang menatap dengan penuh kekhawatiran. "Yaudah ade kedepan dulu panggil Zelin ya, nanti aku ajak kesini." Ujar Livia sambil bangun dari duduknya dan melangkahkan kaki meninggalkan sang kakak. Diruang tamu Zelin masih duduk dengan jaket warna hitam terlipat rapi dan wangi dipangkuannya. Jaket yang dua hari lalu dipinjamkan oleh Vathan saat mereka dalam perjalanan pulang dengan cuaca yang sedikit mendung dan angin begitu kencang. Bahkan setelah mengantar Zelin pulang sampai rumah Vathan kembail kerumahnya melewati hujan yang begitu deras tanpa memakai jaket. Dan sial bagi Vathan karena jas hujannya yang tertinggal dirumah. Melihat Livia berjalan menghampirinya Zelin hanya tersenyum manis pada sahabatnya itu. "Kak Vathan mana Lip?" tanya Zelin to the point "Gak sabaran banget nyariin abang, lo disuruh ke kamarnya aja. Dia masih gak enak badan, pusing katanya kalo jalan kesini." "Gak mau ah masa gue masuk-masuk kamar cowok." "Masuknya sama gue, yang penting pintu kamarnya dibuka. Gue percaya walaupun abang punya perasaan sama lo, dia gak akan berani macem-macem." "Oh gitu, iya juga sih ya. Yaudah ayok." Ujar Zelin dengan begitu semangat "Biasa aja kali, semangat amat mau ketemu gebetan." Ledek Livia pada sahabatnya "Ish biasa aja tau ini juga, lo aja mikirnya berlebihan." Livia dan Zelin berjalan masuk ke kamar Vathan, lelaki itu masih dengan posisi berbaringnya dan memejamkan mata. "Bang, ada Zelin ini merem mulu. Gak lagi tidur juga." Ucap Livia sarkas Vathan membuka matanya seraya tersenyum manis, walaupun wajahnya pucat saat ini tak mengurangi ketampanan laki-laki itu. Livia menggeser kursi belajar milik Vathan dan meletakan disamping ranjangnya. Supaya Zelin bisa duduk tepat disamping sang kakak. Ya saat ini masih kakak, gak tau nanti. "Aku tinggal ke dapur ya bang, Zelin jangan di apa-apain. Berani macem-macem aku aduin ke ibu." Ancam Livia "Kok ditinggal, katanya mau disini." Ujar Zelin dengan nada kesal "Gue mau bikinin Mang Iyan minum, sama buat lo juga. Kasian Mang Iyan nunggu didepan, masa Cuma minum aja gak gue sediain sih." "Yaudah sana de, gak akan abang apa-apain sahabat kamu ini. Sehat aja abang gak pernah macem-macem, apalagi sekarang lagi sakit gini." "Sok manja depan gebetan." Sindir Livia pada Vathan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD