BAB SEPULUH

2267 Words
Siang ini seperti biasa jika akhir pekan Zelin akan bermalam dirumah Livia, Bi Mira juga sudah dua bulan bekerja dirumah itu. Zelin, Livia dan Maya sedang menonton film di ruang keluarga. Karena ini hari minggu Bi Mira akan pulang lebih cepat, karena ada Maya dirumah jadi Bi Mira tidak akan memasak untuk keluarga dirumah itu. Maya baru saja selesai membuat cookies dan akan membawa untuk ketiga anaknya. Saat masuk ke dalam ruang keluarga, ia melihat Livia dan Zelin yang sangat fokus menatap layar Televisi. Namun ada yang sangat menarik perhatian Maya dan membuatnya sangat geram. "Abaaannnnnggggggg, yaampun ini anak gadis ibu kenapa kamu peluk-peluk terus?" Ucap Maya kesal sambil menjewer telinga anak laki-lakinya. "Aduuhhh,,,, aduuuhhhh,, sakit bu sakit. Kenapa di jewer sih bu?" Ucap Vathan sambil meringis merasakan panas ditelinganya, tapi tak sedikitpun melepaskan pelukan tangannya dari pinggang ramping Zelin "Ya lagian abang tuh peluk-peluk Zelin terus, kalo Zelin nginep disini juga malah ikut tidur di kamar ade. Mana kalo tidur abang kekepin mulu. Awas kalo berani macem-macem lebih dari peluk." Ujar Maya penuh nada ancaman pada putranya seraya meletakan cookies di meja kecil yang ada di depan Livia "Ade juga abangnya peluk-peluk Zelin didiemin aja." "Tadi ade udah bilangin abang bu, jangan peluk-peluk Zelin terus entar dimarahin ibu. Eh kata abang kangen katanya, yaudah ah ade lanjut nonton aja." Jawab Livia "Udah geser sana kak, udah diomelin ibu juga ih peluk-peluk mulu." Protes Zelin seraya mencoba meloloskan diri dari pelukan Vathan. Namun yang terjadi Vathan semakin mengeratkan pelukannya, lalu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Zelin. Menghirup aroma Lavender yang menyeruak dari rambut gadis yang sangat ia cintai. "Kangen sayaanggggg." Gumam Vathan "Dasar bucin!" Sarkas Livia "Yaudah itu cookiesnya di makan, ibu mau tidur siang dulu ya. Ade nanti bangunin ibu jam setengah empat ya de." Maya berlalu meninggalkan ketiganya Setengah jam berlalu, film yang diputar pun telah selesai. Livia pamit pada Zelin dan kakaknya untuk ke kamar karena ada tugas sekolah yang belum ia selesaikan. Sebenarnya itu hanya alasan saja, mana mungkin Livia belum menyelesaikan tugas. Itu ia lakukan karena ingin memberi ruang privasi untuk dua orang yang sedang di mabuk cinta itu. Karena wajar saja Vathan mengungkapkan kerinduan terhadap Zelin. Dua bulan terakhir laki-laki itu tengah disibukan dengan tugas sekolah, ditambah ia harus membantu proses pemilihan ketua osis baru yang akan menggantikan dirinya. Diruang keluarga hanya ada Zelin dan Vathan dengan posisi Vathan yang menidurkan kepalanya dipangkuan Zelin, menenggelamkan kepalanya di perut ramping gadisnya. Zelin mengusap kepala Vathan dengan lembut, ia sangat tahu Vathan lelah akhir-akhir ini. Walaupun ia melayangkan protes saat di depan ibu seperti tadi, itu semata-mata karena ia merasa malu. Sesungguhnya ia pun sangat merasakan kerinduan yang mendalam terhadap laki-laki yang sudah berhasil menguasai relung hatinya beberapa bulan ini. "Kaaakkkkk.." "Hmm..." Vathan menengadahkan kepalanya menatap Zelin "I Love You." Ucap Zelin dengan senyum manisnya Mendengar ucapan cinta dari Zelin, Vathan dengan cepat bangkit dari tidurnya dan duduk disamping Zelin. Walaupun mereka sudah sering mengatakan hal itu, namun hal yang sangat jarang Zelin mengungkapkan terlebih dahulu. Biasanya Zelin hanya akan membalas ungkapan cinta dari Vathan. Vathan merangkul pundak Zelin dan membawa kepala Zelin untuk bersandar di dadanya. Zelin hanya menurut saja dan langsung melingkarkan kedua tangannya dipinggang Vathan. "I Love You Too Sayang." Vathan mengecup puncak kepala Zelin berkali-kali "Jangan pernah bosen apalagi berpaling dari Zelin ya kak." "Gak akan pernah sayang, aku udah sebucin ini masa iya kamu masih berpikir aku berpaling ke perempuan lain. Itu gak akan pernah terjadi sayang." Ungkap Vathan seraya mengelus kepala Zelin dengan lembut dan Zelin membalas dengan mengeratkan pelukannya. "Kangen kak." "Tumben, tadi aja dipeluk marah-marah." "Gak marah tapi kan malu ada ibu." "Oh sekarang gak ada ibu ya jadi berani peluk-peluk aku?" Zelin dengan cepat melepas pelukan tangannya dari pinggang Vathan, menjauhkan sedikit tubuhnya dari Vathan. Zelin merengut kesal pada Vathan yang meledek dirinya, melihat ekspresi lucu Zelin dengan cepat mengecup bibir Zelin yang sedang cemberut. "Iihhh malah cium, aku kan lagi kesel." Ucap Zelin dan hendak melayangkan pukulan pada Vathan. Namun dengan cepat Vathan menangkap pergelangan tangan Zelin, lalu di kecupnya berkali-kali. Vathan mendekatkan wajahnya dengan wajah Zelin, mengecup lama bibir gadis yang ia cintai. Semakin lama Vathan melumat bibir Zelin, menikmati rasa manis bibir itu. Zelin yang mendapat serangan mendadak hanya mampu membelalakan matanya. "Balas sayang,,," Gumam Vathan disela ciumannya seraya menarik tengkuk Zelin untuk memperdalam ciumannya. Mendengar ucapan Vathan, Zelin langsung memejamkan matanya. Membalas ciuman itu, menyalurkan rasa rindunya dengan saling mencecap penuh cinta. Zelin kembali melingkarkan tangannya dipinggang Vathan dan merapatkan tubuh mereka. Cukup lama mereka berciuman sampai pada Zelin melepaskan ciuman itu lalu menundukan kepalanya. "Kenapa nunduk sayang?" Ujar Vathan sambil mengangkat dagu Zelin agar menatap padanya. "Malu,,," Cicit Zelin nyaris tak terdengar Dengan senyum berkembang, Vathan membawa Zelin masuk kedalam pelukannya, mengusap lembut punggung gadisnya. Yang dapat ia pastikan wajah Zelin sudah sangat memerah. Vathan memindahkan Zelin duduk di pangkuannya dengan posisi menyamping, membawa tangan gadis itu melingkar dilehernya. Lalu Vathan memeluk pinggang Zelin dan menyandarkan kepala Zelin di dadanya. "Udah gak usah malu, maaf bikin kamu kaget. Sekarang kita tidur siang ya." Ujar Vathan "Posisinya harus begini?" Tanya Zelin "Iya sayang, rasanya nyaman tidur sambil peluk kamu." "Kalo nanti ada ibu gimana?" "Ya paling kuping aku dijewer atau kepala aku dijitak. Aku rela sayang, yang penting bisa peluk kamu terus." "Bucin banget sih kak." "Kapan panggilan kak akan berubah jadi sayang atau panggilan lain?" "Setelah kejadian tadi akan ku pertimbangkan." Zelin semakin menenggelamkan kepalanya di d**a Vathan. "Kejadian apa sayang?" Tanya Vathan menggoda "Ah tak usah dibahas, aku mau tidur aja. Kalo kakak pegel pindahin aku ke kamar ya." "Yaudah tidur, posisi kita gak akan berubah sampe kamu bangun sayang." "Hmm,,," Hanya gumaman yang terdengar, tak lama Zelin sudah tertidur dalam pelukan Vathan dengan begitu nyaman. Vathan menyandarkan tubuhnya pada sofa yang ada dibelakang tubuhnya, dan mulai memejamkan mata sambil terus memeluk gadis yang ia cintai. *** Hari ini Mallory Vocational High Scholl disibukan dengan kegiatan penyerahan jabatan ketua osis, yang sebelumnya dijabat oleh Vathan Asvatama akan diserahkan pada Zafran Anggara. Zafra siswa kelas dua dari jurusan Multimedia, siswa yang tak kalah tampan dari ketua osis sebelumnya. Setelah acara penyerahan jabatan, siswa-siswi membubarkan diri dari aula dan segera menuju kelas masing-masing. Namun tidak dengan Vathan dan Zafran karena masih ada beberapa hal yang harus mereka bahas. Livia yang merasa memiliki keperluan pada sang kakak, ingin menghampiri kakaknya namun ragu. Karena gadis itu takut mengganggu kesibukan Vathan. Zelin memperhatikan gerak-gerik Livia lalu mengerutkan dahinya karena bingung. "Lo kenapa sih Lip?" Tanya Zelin karena tak bisa menebak apa yang dipikirkan sahabatnya "Gue mau nemuin abang tapi takut ganggu." Jawab Livia "Mau ngapain emang?" Tanya Zelin lagi "Nanti pulang sekolah mau minta anterin ke toko buku." "Kok tumben gak minta temenin gue?" "Gue kesel kalo pergi sama lo, gue gak pernah boleh bayar apapun yang gue beli. Jadi gue males pergi beli keperluan gue bareng sama lo." Sarkas Livia Zelin yang mendengar ucapan Livia langsung mengerucutkan bibirnya, dan segera berjalan cepat menghampiri Vathan. Livia yang melihat itupun menyusul langkah sahabatnya dengan tatapan kesal. "Ngadu lagi deh nih pasti." Gumam Livia Vathan sudah memperhatikan Zelin dari kejauhan tadi, saat melihat gadisnya berjalan mendekat kearahnya merasa ia sangat bahagia. Namun seketika Vathan menatap bingung karena Zelin yang cemberut. Zelin sudah berdiri disamping Vathan dan langsung menduduki bangku kosong yang ada disampingnya. "Aku ganggu kakak?" Tanya Zelin to the point. Livia sudah berdiri dihadapan Zelin samping Zafran dengan wajah lesu karena pasti akan kena teguran sang kakak yang sangat bucin itu. "Enggak sayang, ada apa? Kok belom balik ke kelas buat ambil tas. Emang gak pulang? Apa mau nungguin aku dulu nanti aku anter pulang." Tanya Vathan lembut menatap gadisnya yang masih saja cemberut, dan secara tiba-tiba air matanya keluar begitu saja membasahi pipinya. Namun Zelin masih enggan untuk berbicara, akhirnya Livia menjelaskan obrolan dirinya dengan Zelin tadi. Vathan yang paham dengan hati Zelin yang mudah tersinggung jika membahas masalah uang, akhirnya menjelaskan semuanya baik-baik. Menjadi penengah antara gadis yang ia cintai dan adiknya. Livia pun meminta maaf pada Livia jika ucapannya meninggung perasaan sahabatnya, ia juga berjanji tidak akan mengulang ucapannya tadi. "Jadi ade mau ke toko buku?" Tanya Vathan pada adiknya "Iya,, abang bisa anter?" "Tunggu abang selesai jelasin semua tugas ke Zafran ya de. Kamu mau ikut sayang?" Tanya laki-laki itu pada gadis yang masih setia duduk disampingnya. "Mana bisa naik motor bertiga sih kak." Sahutnya "Eh iya ya sayang, yaudah kamu pulang duluan aja nanti minta jemput Mang Iyan. Abis anter Livia aku kerumah kamu ya." Ujar Vathan pada Zelin "Oke deh." Jawab Zelin sambil mengacungkan jempol tanda setuju "Sorry nih kak Vathan, kalo gue mau ikut ke Toko Buku boleh? Kebetulan ada buku yang mau gue cari juga. Kan kita jadi bisa berangkat bareng dua motor." Zafran mengemukakan pendapatnya setelah tadi hanya memperhatikan interaksi tiga orang disekelilingnya. "Ya boleh-boleh aja lah, lagian kan Toko Bukunya terbuka untuk umum." "Nah jadi nanti Kak Vathan bisa tetep sama pacarnya, adeknya biar sama gue. BTW kita belom kenalan nih." Lalu Zafran mengulurkan tangannya pada Livia dan Zelin bergantian, merekapun saling berkenalan menyebutkan nama masing-masing. "Gue mah terserah para cewek-cewek aja." Ujar Vathan setelah ketiga orang didepan dan sampingnya berkenalan "Gue terserah lo aja Lip, mau apa enggak nanti naik motor sama Kak Zafran." Livia yang merasa harus memberi keputusan final sedikit berpikir sebelum memberikan jawaban. Dan akhirnya Livia menyetujui siang ini mereka akan pergi ke Toko Buku bersama, dengan syarat ia tidak mau apapun yang dibeli dibayarkan oleh Zelin. Awalnya Zelin sempat protes, namun lagi-lagi Vathan menjadi penengah antara dua gadis kesayangannya. Vathan dan Zafran kembali membahas tugas-tugas apa saja yang harus di kuasai oleh ketua osis, Vathan benar-benar menjelaskan dengan baik dan Zafran mendengarkan semuanya dengan seksama agar kedepannya tidak ada kesalahan. Vathan dan Zafran saat ini sedang di parkiran, berdiri disamping motornya masing-masing menunggu Zelin dan Livia yang sedang mengganti baju seragam mereka dengan kaos olahraga yang hari ini tidak jadi dipakai karena kegiatan belajar mengajar ditiadakan. "Kak Vathan gue mau nanya sesuatu yang lebih privasi boleh gak?" Tanya Zafran pada laki-laki yang sedang duduk diatas motornya sambil memainkan gadget, mungkin sedang mengirim pesan pada kekasihnya yang lama sekali berganti pakaian. "Ya boleh-boleh aja sih, tanya aja. Ada apa emang?" Jawab Vathan santai "Livia tuh ade kandung lo kak?" "Iyalah. Kenapa? Lo naksir adek gue ya?" Tanya Vathan penuh selidik. "Sorry kak, gak boleh ya? Atau Livia udah punya cowok? Apa ada cowok yang lagi deket sama dia?" Pertanyaan beruntun keluar begitu saja dari mulut Zafran "Gue mah gak akan ngelarang kalo lo deketin adek gue baik-baik, cuma dia anaknya ceplas-ceplos dan kadang ucapan-ucapannya agak sedikit bar-bar dan sarkas. Dia masih jomblo, dan lagi gak deket sama siapa-siapa." Vathan menjeda ucapannya lalu melirik pada dua gadis yang sedang berjalan menuju kearahnya dan Zafran "Gue Cuma mau bilang lo harus usaha keras dan gak baperan sama ucapan adek gue kalo lo mau dapetin dia. Oya satu lagi jangan pernah lo sakitin adek gue walaupun hanya seujung rambutnya." Ucap Vathan cepat namun penuh penekanan dan peringatan pada Zafran. "Oke kak thanks, gue bakal usaha terus. Kalo emang berhasil gue janji gak akan nyakitin adek lo." "Gak usah janji tapi buktiin aja." Zafran sudah tak menanggapi kalimat terakhir Vathan, karena Livia dan Zelin sudah berdiri dihadapannya. Setelah itu mereka berempat berangkat ke Mall, karena Toko Buku yang Livia maksud ada disalah satu Mall di Jakarta. Siang itu hingga sore menjelang keempat anak remaja menghabiskan waktu di Mall, setelah membeli buku mereka makan siang dan berkeliling untuk melihat-lihat barangkali ada barang yang mereka inginkan. Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, Vathan pun akhirnya mengajak mereka semua pulang. Mengingat besok hari libur, Zelin mengajak Vathan, Livia dan Zafran mampir kerumahnya untuk makan malam bersama. Livia dan Vathan dengan senang hati menerima ajakan Zelin, ya karena keduanya sudah berjanji akan selalu menemani Zelin saat merasa kesepian dirumah. "Kak Zafran gimana mau ikut kerumah Zelin atau langsung pulang? Kalo mau langsung pulang gak apa-apa aku bisa naik ojek online." Tanya Livia pada Zafran yang berdiri disampingnya. "Ya ikut ajalah, masa iya cowok ngebiarin cewek naik ojek padahal dia bisa nganterin." Vathan yang menjawab pertanyaan Livia "Ih abang apaan sih, emang nanya abang!" Ketus Livia "Iya emang aku mau ikut, yaudah yuk kita jalan sekarang aja nanti keburu maghrib." Ujar Zafran Akhirnya mereka berangkat kerumah Zelin, dan sebelumnya Zelin sudah menelpon Bi Imah untuk menyediakan makan malam untuk teman dan sahabatnya itu. Sampai dirumah Zelin pun mereka langsung menuju taman belakang dekat kolam, menikmati jus jeruk dan beberapa cemilan sambil menunggu makan malam yang sedang disiapkan Bi Imah. "Sayang kita duduk di ayunan aja yuk." Bisik Vathan tepat ditelinga Zelin "Enggak ah enakan disini." "Zafran lagi mau PDKT sama Livia, kalo kita disini pasti canggung." "Oh gitu, yaudah ayo." Zelin dan Vathan berdiri dari tempat duduknya. "Abang sama Zelin mau kemana?" "Mau duduk di ayunan." Jawab Zelin "Ikuuutttttt." "Enggak." Jawab Vathan dan Zelin bersamaan "Udah kamu disini aja jangan gangguin yang pacaran, nanti kamu jadi nyamuk." Ungkap Zafran "Isshhh nyebelin, yaudah sana pergi. Dasar manusia-manusia bucin." Kesal Livia lalu merengut melihat Vathan dan Zelin benar-benar meninggalkan dirinya hanya berduaan dengan Zafran. Karena pasalnya semenjak tadi di Mall mereka berempat tak pernah terpisah, bahkan saat jalan pun Livia selalu menggandeng tangan Zelin. Sekalinya terpisah hanya saat dikendaraan, itu pun kondisi yang sangat tidak nyaman karena tak tahu harus membicarakan apa. Entah karena gugup atau gimana, Zafran sangat kaku untuk diajak berbincang. "Jangan cemberut nanti jadi tambah cantik." Ucap Zafran "GAK USAH MODUS." Ucap Livia sarkas dengan nada sedikit membentak. Mendengar ucapan Livia, Zafran hanya menanggapi dengan tatapan terkejut. Karena niatnya ia hanya ingin bercanda, namun candaannya memancing emosi Livia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD