Lima bulan Zelin dan Livia menjalani hari-hari sebagai murid SMK. Mereka yang masih sering melakukan kegiatan belajar bersama setelah pulang sekolah. Livia pun saat ini semakin dekat dengan Zafran walaupun statusnya masih sebagai teman. Bahkan Zafran sudah sering mengajak Livia jalan-jalan ke Mall walaupun harus dengan alasan membeli buku. Karena jika tidak dengan alasan itu Livia akan selalu menolak ajakan Zafran. Hari ini lagi dan lagi Zafran mengajak Livia ke Toko Buku, tapi bukan Toko Buku yang biasa mereka kunjungi. Namun Toko Buku yang lumayan jauh dari sekolah, Livia pun sangat antusian mengiyakan ajakan Zafran. Karena Toko Buku disana jauh lebih lengkap daripada yang ada di Mall.
Sudah jam pulang sekolah, seperti biasa Vathan akan mendatangi ruang kelas Zelin sebelum pulang. Karena biasanya mereka akan berpisah di parkiran sekolah. Vathan yang akan pulang bersama Livia, Zelin yang akan pulang dijemput oleh Mang Iyan.
"Hai sayang, gimana ulangan hariannya hari ini?" Tana Vathan saat sudah sampai di depan kelas adik dan sahabatnya. Kedua gadis kesayangannya itupun sudah setia menunggu kedatangannya
"Lancar dong, kan karna kakak yang slalu semangatin aku." Jawab Zelin bahagia
"Ade juga lancar kan ulangannya?"
"Lancar kayak jalan tol bang."
"Sombong." Ucap Zelin
"Yaudah yuk kita turun, Mang Iyan udah jemput belom sayang?"
"Hari ini kakak anterin aku pulang ya."
"Loh nanti Livia gimana kalo aku anterin kamu?" Tanya Vathan bingung
"Ih gak peka banget, aku minta dianterin pulang ya berarti Livia mau pergi sama gebetannya."
"Bukan gebetan Cuma temen." Potong Livia cepat
"Kok ade gak ijin sama abang kalo mau pergi sama Zafran?" Tanya Vathan pada adiknya yang sudah berjalan lebih dahulu.
Mendengar pertanyaan sang kakak Livia menghentikan langkahnya dan membalikan badannya. "Ya kan tadi ade mau bilang sama abang tapi udah di serobot kesayangannya abang." Ujar Livia dengan nada mengejek pada sahabatnya.
"Kalo abang gak kasih ijin ade buat pergi sama Zafran gimana?"
"Ya tapi ade udah dapet ijin ibu, ade udah telpon ibu tadi. Lagian ya bang kalo abang gak ijinin ade pergi, kesayangan abang itu pulang sama siapa?"
"Yaudah sana pergi, hati-hati dijalan. Gak ngaku gebetan tapi semangat banget diajak pergi. Gak boleh ngelak mulu de entar jadi bucin."
"EMANG BUKAN GEBETAN." Ucap Livia Kesal dan langsung berjalan cepat meninggalkan kakak dan sahabatnya.
***
Livia sudah pergi bersama Zafran ke Toko Buku yang dimaksud. Saat ini motor Vathan baru saja memasuki halaman rumah Zelin.
"Mampir dulu yuk kak." Ajak Zelin
"Boleh?" Tanya Vathan menatap gadis dihadapannya yang sedang membuka helm.
"Boleh lah sayang." Setelah mengucapkan itu Zelin langsung berlari dan masuk kedalam rumah.
"Sayang kamu bilang apa tadi." Teriak Vathan berusaha mengejar Zelin.
Sampai di ruang tamu Vathan melihat Zelin sedang duduk menyandarkan kepalanya di sofa seraya memejamkan mata. "Sayang kamu bilang apa tadi?" Tanya Vathan dan langsung duduk disamping Zelin. Mendengar suara Vathan yang bertanya tepat disampingnya, Zelin langsung membuka matanya dan menoleh ke sisi kirinya. Melihat senyum berkembang di sudut bibir Vathan, Zelin langsung melingkarkan kedua tangannya pinggang Vathan dari samping.
"Kangen kak." Gumam Zelin pelan namun masih terdengar oleh Vathan.
"Ini kan aku ada disini sayang." Vathan membelai punggung Zelin dengan penuh kasih sayang dan sesekali mengecup puncak kepala gadis yang begitu nyaman memeluk tubuhnya.
"Jangan tinggalin aku."
"Kenapa ngomong gitu?"
"Tadi jam istirahat aku liat kakak deket-deketan duduknya sama Kak Elea, aku takut kakak suka sama dia." Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Zelin, Vathan melonggarkan tangan gadis yang sedang memeluknya. Lalu menangkup kedua pipi Zelin agar menatapnya, Vathan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dengan cepat ia mengecup bibir gadis pujaan hatinya.
"Itu gak akan pernah terjadi sayang, kamu gak usah khawatir. Aku sama Elea Cuma temen biasa, lagian dia udah punya pacar kok. Malah aku yang masih jomblo, gadis cantik di hadapan aku ini Cuma bilang sayang tapi gak mau jadi pacar." Vathan mengungkapkan kalimat panjangnya dengan lembut namun sesekali dengan nada candaan untuk menggoda Zelin.
"Ya udah sekarang kita pacaran." Ucap Zelin cepat lalu berdiri dan meninggalkan Vathan duduk sendiri di sofa ruang tamu. Vathan yang mendengar perkaraan Zelin merasa kaget dan diam terpaku ditempat duduknya. Setelah kesadarannya kembali dari acara melamunnya, Vathan meninggalkan ruang tamu. Saat akan menaiki tangga laki-laki itu bertemu dengan Bi Imah.
"Loh ada Den Vathan, kok Non Zelin gak bilang. Kan Bibi jadi gak siapin minuman." Ucap Bi Imah yang sedang berdiri dekat meja makan
"Gak apa-apa bi, nanti kalo mau minum Vathan bisa ambil sendiri. Zelin dikamarnya apa dimana?" Tanya Vathan pada Bi Imah
"Iya Den tadi lari langsung masuk ke kamar, bibi tanya mau dimasakin apa buat makan siang aja gak dijawab."
"Yaudah Vathan susulin Zelin ke kamarnya boleh kan bi?"
"Boleh Den tapi pintu kamarnya jangan ditutup ya. Pesan Bu Aira begitu, kalo Den Vathan mau kekamar Non Zelin pintu kamarnya gak boleh ditutup."
"Oke bi siap." Ucap Vathan semangat
"Tapi Den Vathan sama Non Zelin gak lagi berantem kan?" Akhirnya Bi Imah berani menanyakan hal yang sangat ingin ia ketahui sejak melihat anak majikannya langsung lari masuk ke kamar tanpa menjawab pertanyaan darinya. Pasalnya selama ia bekerja, Zelin tidak pernah bersikap seperti itu.
"Enggak dong bi, Bi Imah tenang aja ya. Vathan gak akan pernah buat Zelin marah apalagi harus berantem. Vathan susulin Zelin ke kamar dulu ya bi."
"Iya Den silahkan." Setelah itu Vathan langsung menaiki anak tangga dan menuju kamar Zelin. Sampai didepan pintu kamar yang tidak tertutup rapat itu, Vathan bisa melihat jika Zelin baru saja keluar dari kamar mandi. Mungkin habis berganti pakaian, karena gadisnya itu kini sudah dengan pakaian santainya.
"Sayang,,, sayang,,, aku boleh masuk gak?" Tanya Vathan
"Iya kak masuk aja, pintunya buka lebar ya. Pesan dari bunda begitu."
Vathan melangkahkan kaki masuk ke kamar Zelin, ini pengalaman pertamanya masuk ke kamar Zelin sendirian. Karena biasanya ia akan masuk ke kamar itu bersama Livia. Zelin sedang duduk di sofa yang ada dikamar itu sambil memainkan ponselnya.
"Sayang kok ninggalin aku sendirian tadi, gak bilang lagi mau ngapain." Ucap Vathan setelah duduk disamping Zelin
"Maaf, abisnya aku malu. Masa udah nolak kakak eh malah aku yang ngajak pacaran."
"Ya gak apa-apa dong sayang, itu tandanya kamu udah siap berkomitmen sama aku. Dan aku yakin itu juga karena kamu cemburu kan tadi aku duduk deket Elea." Vathan mencoba menggoda gadis yang saat ini sudah merubah posisi bersandar dipundaknya.
"Udah tau aku cemburu bukan geser tadi duduknya."
"Kesayangan aku kalo cemburu gemesin banget sih." Vathan merangkul pundak Zelin dan mengusapnya lembut. "Dari awal kita kan udah saling janji untuk saling percaya, dan sejak saat itu kita juga udah mengklaim kalo aku milik kamu dan kamu milik aku. Gak akan ada yang bisa misahin kita sayang." Ucap Vathan sambil terus membelai puncak kepala Zelin. Mendengar kalimat panjang Vathan, Zelin menegakan duduknya dan langsung menatap Vathan. Lama mereka saling tatap dan Vathan semakin mendekatkan wajah mereka. Hanya beberapa inci jarak wajah keduanya, bahkan mereka bisa saling merasakan hembusan nafas orang yang ada dihadapannya. Zelin memejamkan matanya menikmati kedekatan intim mereka.
"NON ZELIN, DEN VATHAN AYOK TURUN MAKAN SIANG DULU. BIBI UDAH SIAPIN MAKANAN." Tiba-tiba terdengar suara teriakan Bi Imah dengan begitu lantang dari ruang makan, keduanya pun langsung menjauhkan diri masing-masing dari posisi sebelumnya. Bahkan Zelin langsung berdiri dan hendak keluar dari kamarnya.
"IYA BI INI AKU SAMA KAKAK MAU TURUN." Zelin menjawab ucapan Bi Imah dengan sama lantangnya.
"Sayaaaang,,,," Panggil Vathan saat melihat Zelin sudah keluar dari kamarnya. Zelin yang mendengar panggilan Vathan langsung menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Vathan lalu mengerutkan dahinya karena bingung. Pasalnya ekspresi yang Vathan tunjukan baru pertama kali ia lihat, ekspresi seperti anak kecil yang sedang merajuk karena keinginannya tidak dipenuhi.
"Iya kenapa kak? Ayo turun kita makan siang, Bi Imah udah manggil kan." Ucap Zelin dengan nada gugup. Ya karena Zelin takut melakukan kesalahan karena Vathan memanggilnya dengan nada kesal.
"Kamu kebiasaan banget pergi langsung gitu aja, katanya pacar. Masa aku ditinggal, sayang gak sih?" Ujar Vathan dengan nada merajuk sambil berjalan menghampiri Zelin lalu merangkulnya dari sisi sebelah kiri gadis itu.
"Ya sayang dong pacar, sayang banget malah." Ucap Zelin malu-malu.
Mendengar ungkapan Zelin yang begitu menyayanginya, dengan tiba-tiba Vathan menarik tubuh gadis yang ia cintai lalu disandarkan pada dinding samping pintu kamar. Dengan tatapan penuh cinta Vathan mendekatkan wajahnya dengan Zelin, dengan cepat ia melumat bibir gadis pujaannya. Secara naluri Zelin langsung melingkarkan kedua tangannya pada tengkuk Vathan, dengan sedikit berjinjit karena tinggi badan mereka yang lumayan berbeda jauh. Bahkan saat ini Zelin langsung membalas lumatan-lumatan itu dengan hasrat yang menggebu-gebu. Tidak kaku seperti pertama kali mereka melakukannya dirumah Vathan, ya semenjak saat itu mereka sudah tidak pernah melakukan hal itu lagi. Karena Vathan tidak mau Zelin berpikir ia menjalin hubungan hanya karena nafsu, namun mendengar ucapan sayang tadi Vathan sudah tidak bisa menahan hasratnya untuk mencium bibir gadis yang sekarang sudah menjadi kekasihnya.
Terus saling melumat dengan hasrat yang menggebu-gebu, keduanya memejamkan mata menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Tangan kanan Vathan menarik tengkuk Zelin untuk memperdalam ciuman mereka, dan tangan kirinya ia lingkarkan dipinggang Zelin untuk merapatkan tubuh mereka. Saat ini sudah tidak ada jarak antara keduanya, sangat menikmati apa yang mereka lakukan. Bahkan Vathan dengan sengaja menggigit kecil bibir bawah kekasihnya, dan itu membuat Zelin membuka mulutnya. Dengan cepat Vathan menelusupkan lidahnya, mencari keberadaan lidah Zelin dan begitu menikmati rasa manis yang pada bibir kekasihnya. Cukup lama mereka melakukan kegiatan itu dengan menyalurkan seluruh rasa cinta dan kasih sayangnya. Sampai mereka rasa paru-parunya sudah membutuhkan asupan oksigen dan mereka menyudahi ciuman itu. Zelin nampak sangat terengah-engah, lalu ia menarik nafas sedalam-dalamnya. Menghisap oksigen sebanyak-banyaknya.
Vathan menatap Zelin dengan sedikit senyum geli karena pasalnya wajah Zelin sudah memerah, dan ia pastikan kekasihnya itu akan mengatakan bahwa dirinya merasa malu atas apa yang sudah terjadi barusan. Sebelum Zelin mengatakan itu, Vathan sudah membawa tubuh gadis mungil itu kedalam pelukannya, kekasihnya pun membalas pelukan itu penuh cinta. Vathan membelai punggung Zelin dengan lembut seraya mengecup puncak kepalanya berulang kali.
"Maaf ya sayang, sakit ya bibirnya aku gigit?" Tanya Vathan frontal yang dibalas dengan pukulan pelan dibagian punggungnya
"Mau lagi?" Tanya Vathan lagi. Namun kali ini Zelin langsung melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, lalu mengecup cepat bibir Vathan dan langsung berlari meninggalkan Vathan, menuruni anak tangga dan akan menuju ruang makan.
***
"Non Zelin sakit?" Tanya Bi Imah saat Zelin sudah duduk disalah satu kursi yang ada disana
"Enggak bi, emang kenapa?"
"Itu bibirnya kok pucet banget ya, mana bengkak lagi."
Zelin yang mendengar perkataan Bi Imah langsung membelalakan matanya dan meraba bibirnya untuk mengetahui bengkak atau tidak. Lalu menatap tajam pada Vathan yang baru saja duduk disampingnya.
"Bengkak kan ya Den bibirnya Non Zelin?" Tanya Bi Imah pada Vathan yang terdengar seperti pernyataan.
"Iya bi itu tadi digigit semut." Jawab Vathan santai.
"Kok digigit semut bengkaknya merata ya den, gak ada bentolnya gitu."
"Udah ah bi, Zelin sama kakak mau makan dulu. Bibir Zelin juga gak kenapa napa kok." Sebelum Vathan menjawab dengan lebih ngawur lagi, Zelin sudah menghadang dengan kalimat meyakinkan pada Bi Imah. Bi Imah yang mendengar itu pun hanya menganggukan kepala lalu pergi meninggalkan keduanya setelah mempersilahkan makan.
Vathan dan Zelin menikmati makan siang mereka dalam diam, sibuk menyelami pikirannya masing-masing. Setelah makan siang keduanya menuju taman dan duduk di kursi panjang yang ada disana. Sebenarnya tadi Zelin mengajak Vathan kembali ke kamarnya karena selesai makan ia merasakan kantuk teramat sangat. Namun Vathan menolak dengan alasan takut khilaf lagi seperti tadi jika mereka berduaan dikamar. Zelin yang paham pun akhirnya setuju untuk ditaman saja menikmati angin segar dan segelas jus melon buatan Bi Imah. Zelin yang merebahkan dirinya diatas kursi panjang, dengan kepalanya yang berada diatas paha Vathan mulai memejamkan mata menikmati usapan lembut kekasihnya. Ya sekarang mereka sudah resmi dengan status yang baru sebagai sepasang kekasih.
"Sayang,,," Ucap Vathan masih terus membelai lembut kepala Zelin.
"Hmm..."
"Kalo kamu ngantuk tidur aja dikamar, aku nunggu di ruang keluarga bisa sambil main games. Tiduran disini nanti badan kamu sakit sayang."
Zelin tak memberi tanggapan atas ucapan Vathan, namun ia malah memiringkan tubuhnya. Menelusupkan wajahnya tepat diperut Vathan, lalu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang kekasihnya. Beberapa kali membenarkan posisi mencari tempat ternyaman. Vathan hanya terkekeh melihat kelakuan Zelin.
"Kalo begini modelannya mah, gue bisa khilaf disini juga. Sama aja boong gue ngehindar buat gak dikamar." Ucap Vathan yang tentu saja hanya dalam hatinya.
"Kak Vathan." Ucap Zelin yang samar-samar terdengar, namun pergerakan mulutnya sangat bisa dirasakan oleh Vathan karena wajahnya yang benar-benar menempel pada bagian tubuh laki-laki itu.
"Kok pake nama lagi sih manggilnya, waktu itu janji mau manggilnya kakak tanpa embel-embel nama biar gak kayak yang lain." Protes Vathan namun tetap dengan nada yang lembut.
"Aku udah mempertimbangkan panggilan ke kakak."
"Apa sayang? Kamu mau panggil aku apa? Sayang? Yang? Ay? Honey? Atau apa?" Tanya Vathan beruntun. Namun Zelin hanya menggelengkan kepala setiap Vathan menyebutkan beberapa nama panggilan yang biasa digunakan oleh sepasang kekasih.
"Kava? Aku boleh gak panggilnya Kava?" Tanya Zelin
"Kava?"
"Iya Kava." Lalu Zelin melepaskan pelukan tangannya, mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang agar bisa menatap wajah kekasihnya. "Kalo Kak Vathan kan nanti sama kayak adek-adek kelasnya yang lain, kalo kakak nanti jadi kayak adek kakak. Status kita kan sekarang udah pacaran, jadi aku maunya manggil Kava. Beda dari yang lain dan Cuma aku yang boleh pake sebutan itu, gimana?" Zelin menjelaskan sekaligus meminta persetujuan
"Apapun sayang,, apapun,, panggilan apapun dari kamu buat aku. Aku pasti suka, jadi sekarang kita udah resmi pacaran nih?" Vathan menggoda kekasihnya
"Ah tau ah..." Kesal Zelin lalu mengubah lagi posisi tidurnya seperti semula, menghirup aroma menyejukan yang menyeruak dari kemeja sekolah yang dikenakan Vathan. Seakan menjadi Aroma Therapi pengantar tidur untuk Zelin, karena hanya berselang beberapa menit Zelin sudah tertidur lelap. Vathan masih terus dengan setia mengusap kepala kekasihnya penuh kasih sayang.
"Apapun itu yang membuat kamu bahagia, aku akan jauh lebih bahagia untuk mengabulkan keinginan kamu sayang." Ucap Vathan pada kekasihnya yang saat ini sudah memasuki alam mimpi.