BAB DUA BELAS

2466 Words
Jam sudah menunjukan pukul empat sore, Zelin terbangun dari tidurnya. Perlahan Zelin mengerjapkan matanya berkali-kali sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku. Lalu ia mengingat apa terjadi beberapa jam yang lalu, setelah menyadarinya Zelin merasa bingung karena sekarang ia sudah ada dikamar tidurnya. Pasalnya tadi ia tertidur dikursi taman ditemani Vathan. Dengan cepat Zelin menuruni tempat tidurnya lalu berlari keluar untuk mencari kekasihnya, ia menggerutu dalam hati dan mengatakan akan sangat marah pada kekasihnya itu jika pulang tidak berpamitan padanya. Saat menuruni anak tangga ia melihat Mba Tuti yang sedang menata piring diatas meja makan. Mungkin mempersiapkan untuk makan malam nanti, walaupun ayah dan bundanya sekarang di Surabaya. Zelin tidak pernah mau makan sendirian, jadi ia selalu mengajak orang-orang yang bekerja dirumahnya untuk makan bersama. Maka dari itu kegiatan menyiapkan makan dan alat makannya tetap berjalan seperti biasa. "Mba Tuti, Kakak udah pulang ya?" Tanya Zelin pada Mba Tuti, ya dia akan tetap menyebut kakak saat berbicara dengan orang lain. Karena takut lawan bicaranya bingung jika ia menyebutkan nama panggilan untuk kekasihnya. "Enggak kok Non, tadi Den Vathan pindahin Non Zelin ke kamar. Terus ijin buat main games di ruang keluarga." "Ohhh berarti sekarang kakak di ruang keluarga?" Tanya Zelin lagi "Lima belas menit lalu dibangunin Non sama Mang Iyan, terus disuruh pindah ke kamar tamu. Soalnya tadi Den Vathan ketiduran pas lagi main games. Jadi sekarang Den Vathannya ada di kamar tamu Non." Ucap Mba Tuti menjelaskan "Oh ya udah Zelin ke kamar tamu dulu ya Mba." "Iya Non, silahkan." Zelin berjalan menuju kamar tamu yang tidak begitu jauh dari ruang keluarga, saat membuka pintu kamar Zelin melihat Vathan yang tertidur nyenyak menghadap kearahnya dibalik selimut tebal. Zelin tersenyum melihat wajah tampan kekasihnya itu, apalagi mengingat statusnya sekarang yang sudah menjadi berpacaran. Walaupun ia masih begitu takut untuk berkomitmen, namun Zelin percaya bahwa Vathan tidak akan pernah menyakitinya. Zelin mendekati ranjang yang ada di kamar itu, dan yang pasti tanpa menutup pintunya. Karena ia selalu ingat pesan bundanya sebelum pergi ke Surabaya. Saat sudah ada dihadapan Vathan, rasanya sangat tidak tega untuk membangunkan laki-laki yang sedang tertidur pulas itu. Zelin ikut berbaring dihadapan Vathan, masuk kedalam selimut bersama lalu menelusupkan tangannya memeluk tubuh Vathan erat, membenamkan kepalanya di d**a bidang kekasihnya. Lima belas menit dengan posisi nyamannya, tanpa sepengetahuan Zelin kekasihnya itu sudah terbangun dari tidurnya. Sedang menatapnya dengan penuh kasih sayang, lalu Vathan menelusupkan tangan kanannya dibawah kepala Zelin untuk dijadikan bantalan kekasihnya. Tangan kirinya memeluk tubuh mungil gadis pujaannya hatinya dan mengusap punggung kekasihnya dengan lembut. "Kava udah bangun?" Tanya Zelin tanpa mengubah posisinya sedikitpun, malah posisinya sekarang semakin membuatnya nyaman. "Udah dari sepuluh menit yang lalu sayang." "Kok gak bilang? Malah diem aja, kirain aku masih tidur." "Kamu nyaman banget peluk-peluk aku, mana mau aku ganggu kenyamanan kamu sayang." Mendengar kalimat yang diucapkan Vathan, Zelin semakin mengeratkan pelukannya. "Aku gak kemana-mana loh sayang, peluknya kenceng banget sih. Kan aku gak pergi, masih disini nemenin kamu. Kalo kamu mau tidur lagi juga aku temenin kok." Ucap Vathan lembut karena tidak mau menyinggung perasaan Zelin yang kadang sangat sensitif. Sejujurnya pelukannya tidak terlalu erat, bahkan Vathan masih bisa bernafas dengan baik. Namun posisinya yang terlalu intim sudah sangat mengganggu benda pusaka yang ada dibalik celananya. Ya Vathan memang sangat baik, laki-laki yang akan terus menjaga orang-orang yang dia sayang. Tapi ia tetap saja laki-laki normal, yang tidak akan kuat jika hasratnya terus digoda seperti sekarang, dan hembusan nafas Zelin tepat di dadanya membuat perasaan Vathan bergejolak. Gadis yang sudah menetap direlung hatinya, yang selalu ia cita-citakan akan menjadi istrinya kelak apa tidak sadar perbuatannya sudah sangat mengganggu kenyamanan laki-laki yang saat ini ia peluk. Zelin melonggarkan pelukannya, namun masih enggan bangun dari tempat tidurnya. "Bu tolongin abang bu, abang gak kuat ini bisa khilaf perkosa anak gadis orang kalo posisinya begini terus. Bi Imah, Mba Tuti, Mang Iyan, ini gak ada yang mau bantuin Vathan apa." Vathan terus saja berucap dalam hati, berharap ada seseorang yang datang untuk memanggil mereka berdua. Tapi sayangnya yang diharapkan tak kunjung datang. Dua puluh menit berlalu Zelin melepaskan pelukan tangannya, menengadahkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan wajah kekasihnya yang sedang tersenyum membalas tatapannya. Vathan membelai pipi Zelin dengan lembut. "Tidurnya nambah ya?" Ucap Vathan menggoda. Zelin membalas ucapan Vathan dengan mengecup cepat bibir kekasihnya. "Nakal ya sayang sekarang cium-cium aku mulu." "Biar gak lupa kalo ada aku yang cinta sama Kava." "Ciieeeee jadi bucin ya,,,, tenang aja sayang aku gak akan pernah lupain kamu. Walaupun seandainya suatu saat nanti jarak memisahkan kita, kamu slalu ada dihati aku sayang." "Kok ngomongnya gitu, Kava mau ninggalin aku ya? Mau pergi jauh dari kehidupan aku ya?" Tanya Zelin dengan raut wajah yang sudah berubah menjadi sendu. Melihat perubahan ekspresi yang ditunjukan Zelin, Vathan menciumi seluruh wajah Zelin dari mulai kening, pipi, hidung, dagu hingga bibirnya berkali. Hal itu membuat Zelin terkekeh karena merasa geli atas apa yang dilakukan Vathan. "Udah Kava udah,, geliiiiiiii jangan cium-cium terus." Ucap Zelin masih disela tawanya yang begitu lepas. "Nah gitu dong ketawa, aku gak suka liat kamu cemberut apalagi sedih. Aku kan tadi Cuma bilang seandainya sayang, karena kita gak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya dalam hidup kita." "Aku gak mau ditinggalin, aku udah terlalu sering ditinggalin Ayah sama Bunda. Aku gak mau Kava ninggalin aku juga, pokoknya kemanapun Kava pergi aku ikut." Ucap Zelin lirih dan matanya sudah berkaca-kaca. "Udah ah gak boleh nangis, kata bunda kalo kamu keseringan nangis nanti kepalanya pusing. Jadi jangan nangis ya sayang, aku masih disini lagi peluk-peluk kamu gini kok. Gak akan kemana-mana." Keduanya kembali berpelukan dengan nyamannya dibalik selimut tebal dengan ruangan yang begitu dingin. Saling menyalurkan rasa cinta dan kasih sayang mereka pada pasangannya. Hanya keheningan yang tercipta di kamar itu, karena keduanya masih sibuk dengan pikirannya masing-masing dan saling memberikan kehangatan dalam sebuah pelukan. "Kava nanti makan malem dulu disini ya." Akhirnya Zelin memecahkan keheningan antara mereka. "Boleh, Livia juga mau makan malem diluar sih sama Zafran. Ibu juga katanya pulang telat." "Livia udah makin deket sama Kak Zafran ya sayang?" Tanya Zelin, sepertinya lidahnya sudah tidak kaku lagi untuk menyematkan sebutan sayang pada Vathan. "Ya kita doain aja, mudah-mudahan hubungan mereka positif. Dan aku berharap Zafran orang yang baik untuk Livia." "Ya mudah-mudahan Kak Zafran orang yang baik kayak pacar aku yang super baik ini." "Jangan terlalu menilai aku sebaik itu sayang, aku takut suatu saat nanti berbuat kesalahan dan kamu gak bisa maafin kesalahan aku. Karna kamu selalu menganggap aku baik, jadi kamu gak bisa terima keburukan aku." Ucap Vathan menatap gadisnya sendu. "Aku udah terlalu jatuh cinta sama Kava, sebesar apapun kesalahan Kava nanti akan slalu aku sediakan ruang maaf yang gak pernah habis." *** Seluruh murid Mallory Vocational Scholl baru saja menyelesaikan Ujian Akhir Semester pertama. Setelah hari ini mereka hanya tinggal menunggu pembagian Raport untuk mengetahui nilai mereka setelah belajar selama satu semester ini. Sepulang dari sekolah tadi Zelin, Livia, Vathan dan Zafran sepakat untuk berkumpul dirumah Vathan. Sekedar untuk menghilangkan penat setelah satu minggu ini menjalani UAS. Mereka juga sedang merencanakan untuk liburan bersama, namun belum pasti tujuannya kemana. Karena mereka juga harus membicarakan pada orang tua masing-masing. Keempat anak itu sedang berkumpul ditaman samping rumah beralaskan tikar anyaman, sambil menikmati cemilan yang sebelumnya mereka beli di minimarket saat di perjalanan pulang tadi. "Bang, ade ke dalem dulu ya mau buat minuman." Ujar Livia "Iya de, nanti kesininya bawain abang bantal ya. Badan abang pegel semua pengen tiduran." "Oke." "Lip, gue ikut." Ujar Zelin dan langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia berlari mengejar Livia yang sudah jalan terlebih dahulu. "Sayaaannggggg,,,, jangan lari-lari." Teriak Vathan, mendengar hal itu Zelin langsung berjalan seperti biasa. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin mensejajarkan jalannya dengan sahabat yang sudah ada didepannya itu. *** "Kak, lumayan susah ya deketin Livia. Tiap diajak jalan kalo bukan buat beli buku pasti slalu nolak." Ungkap Zafran "Ya kan gue udah kasih tau dari awal kalo gak akan mudah dapetin hati dia. Tapi kalo emang lo yakin, berjuang terus lah jangan patah semangat." "Gue gak akan patah semangat kak, gue udah yakin banget sama perasaan gue. Dan gue gak akan main-main buat bisa dapetin hati adek lo. Cuma gue jadi bingung, buku apalagi yang harus beli kalo tiap jalan sama dia harus ke Toko Buku." Ujar Zafran lesu "Hahahahahaha ya itu namanya perjuangan lah." Ucap Vathan santai diiringi gelak tawa "Rese lo kak malah ngetawain gue." Zafran menjeda ucapannya untuk memberanikan diri menanyakan hal yang lebih serius. " Tapi lo restuin gue sama Livia kan kak?" Tanya Zafran ragu "Minta restu kok ragu-ragu gitu! Gue slalu restuin apapun yang bisa buat adek gue bahagia, yang penting lo gak nyakitin dia. Kalo sampe lo nyakitin dia, lo harus siap berhadapan sama gue dan Zelin." "Zelin?" Tanya Zafran mendengar nama sahabat gadis yang ia sukai disebut oleh Vathan "Iya Zelin, dia jauh lebih protektif ke Livia dibanding gue. Dia gak akan pernah rela kalo ada yang nyakitin sahabatnya. Dari awal gue ngasih tau lo lagi usaha buat deketin Livia, dia udah super bawel dan nanya-nanya mulu lo orangnya kayak gimana." "Yaampun ngadepin Livia aja gue masih bingung karna kadang gak bisa ditebak maunya apa, eh ditambah harus ngadepin sahabatnya." Gerutu Zafran pelan namun masih terdengar oleh Vathan "Jadi mau nyerah?" Tanya Vathan "Ya enggak lah kak, gak akan pernah gue nyerah. Apalagi gue udah cukup berusaha sejauh ini, ya walaupun belum ada kejelasan dia suka sama gue apa enggak. Setidaknya akhir-akhir ini dia udah mau gue ajak makan keluar tanpa kakak dan sahabatnya." Ucap Zafran penuh semangat. *** Livia dan Zelin baru saja masuk ke dapur, disana ada Bi Mira yang sedang menyiapkan sayuran untuk makan siang hari ini. Melihat dua gadis itu sedang menyiapkan beberapa gelas, akhirnya Bi Mira menghampiri kedua anak itu. "Non Livia sama Non Zelin mau buat apa?" Tanya Bi Mira saat sudah berada disamping keduanya "Mau buat es sirup bi." Jawab Livia "Yaudah biar bibi yang buatin." "Gak usah bi, biar kita aja yang buat minumannya. Bibi lanjut aja masaknya, Zelin mau buatin minuman khusus buat pacar pake cinta." "Lebay lo, dasar bucin." Ucap Livia sarkas "Yaudah bibi lanjut masak ya Non, kalo butuh bantuan panggil aja." "Oke." Jawab keduanya kompak Lalu keduanya melanjutkan acara mereka membuat minuman, sambil sesekali membicarakan hubungan antara Livia dan Zafran. Livia bukan tak menyadari jika Zafran sedang berusaha mendekatinya, namun ia masih ingin melihat seberapa besar usaha Zafran untuk mendekati dirinya. Jika harus jujur, Livia sudah merasa nyaman dengan kehadiran Zafran dihidupnya. Namun ia masih terus mencoba meyakinkan hatinya agar tak salah langkah dalam mengambil keputusan, ya dengan cara terus melihat Zafran berjuang mendapatkan hatinya. Minuman yang mereka buat pun sudah selesai, Livia langsung meletakan minuman itu diatas nampan. Lalu ia meminta tolong pada Zelin untuk mengambilkan bantal dikamarnya, karena ia ingat permintaan kakaknya untuk membawakan bantal. Zelin dengan senang hati melakukan apa yang diminta Livia. Setelah mengambil bantal Zelin berjalan menghampiri Livia yang sudah menunggunya di pintu samping, pintu dari arah dapur yang langsung terhubung dengan taman. Keduanya berjalan bersampingan menghampiri kedua laki-laki yang sepertinya sedang asik berbincang-bincang. Livia sudah meletakan nampan berisi empat gelas minuman di meja kecil yang ada disamping tempat mereka duduk. Lalu ia duduk disamping Zafran dan Zelin duduk disamping Vathan sambil memberikan bantal yang tadi ia bawa dari dalam rumah. "Punya abang yang ini ya minumannya." Ujar Livia "Kenapa dibedain? Kayaknya warnanya sama aja." Tanya Vathan bingung "Punya abang dibikinin sama kesayangannya abang, bikinnya pake bumbu cinta katanya." Ujar Livia meledek sahabatnya. "Beneran kamu yang buat sayang?" Tanya Vathan mengalihkan pandangan yang sebelumnya menatap adiknya, sekarang menolehkan kepala kesamping kirinya untuk menatap kekasihnya. "Iya aku yang buat, mau coba?" Zelin menawari kekasihnya yang direspon dengan anggukan antusias Vathan. Lalu Zelin mengambil gelas yang tadi ditunjuk oleh Livia lalu memberikannya pada Vathan. "Enak banget sayang, makasih ya." Ucap Vathan antusias lalu mengusap lembut puncak kepala Zelin. "Sama-sama sayang." "LEBAY!!" Ucap Livia sarkas "Mau di sayang-sayang juga?" Tanya Zafran pada Livia "GAK." Jawab Livia singkat "Jangan galak-galak ade, nanti kalo Zafran pergi ade yang nyesel." Ucap Vathan memperingati adiknya. Dan ucapan Vathan mampu membuat Livia terdiam tanpa mampu membalas kalimat kakaknya. Ya karena sudah merasa cukup nyaman dengan kehadiran Zafra, Livia akan berat hati jika Zafran pergi meninggalkannya. "Maaf." Terdengar sendu permintaan maaf yang Livia ucapkan, namun rasanya sedikit membuat hati Zafran merasa bahagia, ia berpikir gadis yang ia sukai tidak mau untuk ditinggalkan. "Aku gak akan pernah ninggalin kamu, walaupun kamu jutek atau galak terus." Bisik Zafran tepat disamping telinga Livia. Dan gadis itu hanya menanggapinya dengan senyum yang mampu membuat hati Zafra berbunga-bunga. Vathan merebahkan tubuhnya dengan menekuk kakinya, Zelin yang melihat posisi kekasihnya dengan cepat menyandarkan tubuhnya pada bagian paha Vathan. Mereka berempat membicarakan rencananya untuk liburan bersama, dan keempatnya sepakat untuk pergi berlibur ke Surabaya. Ya sekalian berlibur mereka akan menemui orang tua Zelin, karena Zelin sudah sangat merindukan Ayah dan Bundanya. Satu jam mereka berbincang santai, sampai angin sore membuat mata mereka dilanda kantuk yang teramat sangat. Vathan yang melihat Zelin sudah menguap dan matanya sudah sayu, laki-laki itu menarik pergelangan tangan kekasihnya. Vathan merebahkan Zelin tepat disampingnya, dengan tangannya yang ia jadikan bantalan. Zelin yang merasa nyaman dengan posisinya langsung memeluk tubuh Vathan dan tak lama terlelap dalam tidurnya. Vathan membalas pelukan kekasihnya dengan erat lalu menyusul Zelin menuju alam mimpi. Zafran masih berbincang dengan Livia, membahas buku yang baru saja mereka beli beberapa minggu lalu. Zafran terus memperhatikan Livia dari samping, memandang gadis cantik yang ia sukai rasanya sangat menyenangkan. Sepertinya Livia juga merasakan kantuk seperti dua orang di hadapan mereka yang sudah tertidur pulas. "Ngantuk?" Tanya Zafran pada Livia, dan gadis itu hanya menganggukan kepalanya. "Masuk aja ke kamar, aku pulang." "Kok pulang? Entar Abang sama Zelin nyariin." "Kak Vathan sama Zelin yang nyariin atau kamu yang gak mau aku tinggal?" "Ih apaan sih." "Yaudah ke dalem sana ambil bantal, tidur disini aku temenin." Livia menuruti apa yang diucapkan Zafran, ia masuk kedalam rumah lalu mengambil bantal dari kamarnya. Lalu kembali lagi ke taman dan meletakannya disamping bantal yang di gunakan Vathan dan Zelin. Ia rebahkan tubuhnya disamping Zelin, melihat Zafran yang masih duduk ditempatnya. Livia meminta Zafran untuk tiduran disebelahnya, dan Zafran dengan senang hati menuruti. Awalnya mereka hanya tiduran bersebelahan, saat kantuk semakin menghampiri Livia, tiba-tiba Zafran mengulurkan tangan kirinya untuk dijadikan bantalan Livia. "Kalo tau mau begini ngapain nyuruh ambil bantal, kan aku gak dibantal tidurannya." Ucap Livia pelan karena matanya yang sudah terpejam. "Ya kan bantalnya buat aku." Jawab Zafran santai, Livia hanya bergumam menanggapi perkataan Zafran. "Gak mau peluk aku kayak Zelin peluk kak Vathan apa?" Entah sadar atau tidak Livia langsung merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Zafran dan tangannya memleuk pinggang Zafran. Laki-laki yang mendapat perlakuan itu hanya tersenyum lalu membalas pelukannya dengan rasa bahagia dihatinya. Tak lama keduanya pun tertidur lelap menyusul dua orang yang sudah lebih dulu memasuki alam mimpi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD