Setelah dua hari lalu pembagian raport sekolah, hari ini Zelin, Livia, Vathan dan Zafran akan pergi liburan ke Surabaya sesuai rencana. Mereka berempat akan berangkat menggunakan mobil milik Zelin yang biasa dipakai Mang Iyan untuk mengantar jemput Zelin sekolah. Awalnya Abraham dan Aira meminta Mang Iyan yang mengantarkan mereka ke Surabaya, namun mobilnya hanya mampu membawa empat orang. Jadi liburan kali ini Vathan dan Zafran yang akan bergantian mengendarai mobil itu. Tentunya didukung Vathan dan Zafran yang sudah memiliki Surat Ijin Mengemudi ( SIM ).
Mereka sudah berkumpul dirumah Livia, Maya sedang sibuk menyiapkan bekal untuk anak-anaknya dijalan. Dan pastinya sedang memberi wejangan kepada semuanya untuk terus berhati-hati dijalan terutama Vathan dan Zafran yang akan mengendarai mobil.
"Abang gak boleh ngebut-ngebut ya, Zafran juga gak boleh. Terus kalo ngerasa cape langsung istirahat. Ade sama Zelin harus terus saling ingetin ya, biar yang nyetir slalu hati-hati." Seperti itulah kurang lebih nasehat yang Maya ungkapkan.
"Iya bu." Jawab keempatnya kompak
"Ade, Zafran sama Abang nanti disana gak boleh ngerepotin Ayah Abraham sama Bunda Aira ya. Mereka disana lagi kerja bukan liburan, jadi sebisa mungkin kalian semua harus mandiri."
"Iya bu." Jawab mereka lagi
Semua bekal sudah siap, mereka sedang duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Mang Iyan untuk mengantarkan mobil yang akan dipakai hari ini. Sepuluh menit menunggu Mang Iyan pun datang, semuanya langsung keluar untuk bersiap berangkat. Bi Mira sedang membantu membawakan bekal makanan dan cemilan yang sudah disiapkan oleh Maya tadi.
"Mang semua kondisi mobil udah di cek kan?" Tanya Zelin
"Udah Non, Insyaallah gak akan ada kendala. Barang bawaannya mana biar Mang Iyan masukin bagasi." Ucap Mang Iyan
"Udah Mang gak usah biar Vathan sama Zafran aja."
"Gak apa-apa Den, biar Mang Iyan bantu."
Para lelaki sibuk memasukan barang bawaan mereka kedalam bagasi mobil, belum lagi bawaan para perempuan yang sangat banyak untuk diperjalanan. Bahkan Zelin dan Livia sudah membawa bantal dan selimut yang akan mereka pakai untuk tidur jika ngantuk melanda. Ya karena mereka melakukan perjalanan malam. Itu semua dengan alasan lebih lancar tidak terlalu macet.
"Hati-hati ya kesayangan-kesayangannya ibu, gak boleh nakal dan slalu jaga kesehatan ya." Ucap Maya sambil bergantian memeluk Zelin dan Livia.
"Non ini Jus yang tadi diminta." Ucap Bi Mira
"Makasih ya bi." Jawab Zelin sambil menerima satu botol jus dari tangan Bi Mira
"Iya Non sama-sama."
"Oya Bi Mira libur aja selama anak-anak pergi, kan nanti dirumah juga gak ada siapa-siapa." Ujar Maya
"Tapi bu, nanti,,,,,," Bi Mira tak melanjutkan kalimatnya karena ragu
"Tenang aja, gajiannya tetep full kok. Uang jajan dari saya juga tetep saya kasih." Maya yang mampu membaca raut wajah Bi Mira pun langsung menjelaskan
"Makasih banyak ya bu. Non Zelin sama Non Livia hati-hati dijalan ya."
"Iya bi." Jawab Livia dan Zelin bersamaan
Vathan, Zafran dan Mang Iyan berjalan menghampiri Maya, Livia, Zelin dan Bi Mira.
"Yuk kita berangkat, semuanya udah siap. Sayang ada yang mau dibawa lagi gak?" Zelin hanya menggelengkan kepalanya, ia terkadang masih malu dipanggil sayang jika didepan Maya.
"Yaudah kalian semua hati-hati ya, inget semua pesan ibu. Mang Iyan sama Bi Mira nanti pulang bawa motornya Vathan aja. Selama anak-anak liburan, Mang Iyan pake aja motornya."
"Makasih banyak bu." Jawab Mang Iyan
Keempat anak itupun langsung masuk kedalam mobil, Vathan duduk dibalik kemudi dan Zafran disebelahnya. Ya para perempuan sepakat untuk duduk dikursi penumpang, Vathan dan Zelin yang paham Livia belum terlalu nyaman untuk bersebelahan dengan Zafran didepan Ibu hanya menurut saja.
"Kita berangkat ya Bu, Mang Iyan, Bi Mira. Assalamualaikum." Pamit Vathan diikuti ketiga yang lainnya mengucapkan salam dan melambaikan tangan.
"Walaikumsalam, hati-hati dijalan." Jawab ketiga orang yang disebut oleh Vathan kompak.
"Kalo udah sampe kabarin ibu ya." Tambah Maya
"Iya bu pasti." Vathan pun sudah menjalankan kendaraannya meninggalkan halaman rumahnya.
Dua jam sudah mereka dalam perjalanan, masih dengan kehebohan para perempuan yang membahas banyak hal. Vathan dan Zafran dengan senang hati menanggapi dan mendengarkan semua obrolan para gadis kesayangannya.
"Kava," Panggil Zelin
"Iya sayang, kenapa?" Vathan menjawab walaupun matanya tetap fokus pada jalanan didepannya.
"Nanti didepan cari tempat berhenti atau pom bensin ya, aku kebelet pipis."
"Oke sayang, tapi masih bisa nahan kan?"
"Bisa kok, udah Kava fokus sama jalanan aja."
"Iya sayang."
Livia dan Zafran sedang menunggu dalam mobil, karena Vathan tidak mengijinkan jika Zelin ke toilet diantar Livia. Bukan untuk mengambil kesempatan, karena sekarang sudah jam sepuluh malam. Ia tak mau kekasih dan adiknya kenapa-napa karena keluar dari mobil berduaan. Hanya ada keheningan yang menemani Zafran dan Livia.
"Ngantuk ya?" Tanya Zafran sambil menoleh ke belakang melihat Livia yang sudah menyandarkan kepalanya pada jendela mobil.
"Iya kak, aku gak biasa tidur larut malam, jadi jam segini aja udah ngantuk."
"Yaudah tidur aja, aku ambilin bantal yang di bagasi ya."
"Makasih ya kak."
"Iya sama-sama sayang." Lalu Zafran turun untuk mengambil bantal di bagasi belakang, setelah itu memberikan bantal itu pada Livia.
"Ka Zafran ketularan abang nih, sayang-sayang mulu. MODUS!" Ucap Livia ketus
"Hahahahaha, kamu gemesin banget sih kalo lagi kesel gitu."
Saat Zafran hendak kembali masuk kedalam mobil, didepan pintunya sudah ada Zelin berdiri disana. Zafran hanya menatap Zelin bingung.
"Kak Zafran dibelakang ya, aku mau didepan nemenin Kava. Boleh?"
"Oke deh kalo gitu."
Mereka melanjutkan perjalanan, kali ini Zelin yang duduk disamping Vathan sedang bergelayut manja dilengan kekasihnya. Vathan tidak protes sedikitpun, ia merasa bahagia Zelin mampu bersikap manja padanya. Di kursi penumpang bagian belakang, Livia sudah tertidur nyenyak. Zafran yang melihat posisi tidur Livia tidak nyaman, mengambil alih bantal yang Livia letakan pada jendela mobil lalu dipindahkan di pangkuannya. Dengan perlahan dan hati-hati, Zafran memposisikan kepala Livia untuk tidur diatas pangkuannya. Dan tak lupa Zafran membenarkan posisi kaki Livia agar lebih nyaman. Setelah beberapa menit Zelin pun terlelap dalam tidurnya, karena menyadari posisi kekasihnya sangat tidak nyaman. Akhirnya Vathan membawa mobilnya masuk ke rest area, membenarkan posisi Zelin untuk tidur lebih nyaman dengan memundurkan sandaran jok penumpang. Lalu ia pun mulai memejamkan mata sejenak untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Namun Zafran masih terus terjaga menatap gadis yang ia cintai sedang tertidur pulas di pangkuannya.
"Semoga aku bisa dengan cepat mendapatkan hatimu Livia." Ucap Zafran dalam hati.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua belas jam, Vathan, Zelin, Livia dan Zafran sudah sampai dirumah orangtua Zelin di Surabaya. Keempatnya baru saja masuk ke ruang tamu dan sedang menunggu Mba Tri membuatkan minuman. Abraham dan Aira tidak ada dirumah karena sudah berangkat kerja, namun mereka sudah mempersiapkan semua keperluan anak dan sahabat-sahabatnya.
Duduk di sofa menyandarkan kepala lalu memejamkan mata, itu yang sedang dilakukan Vathan dan Zafran saat ini. Zelin merebahkan dirinya diatas sofa dengan paha Vathan yang dijadikan bantalan. Berbeda dengan Zelin, Livia saat ini sedang ke toilet ditemani oleh Mba Tri.
"Mba biar Livia aja yang bawa minumannya kedepan." Ucap Livia saat melihat Mba Tri memegang nampan berisi minuman sedang berdiri tidak jauh dari toilet. Mungkin Mba Tri memang menunggu Livia karena tadi Livia yang minta ditemani.
"Gak usah Non, biar mba aja." Mba Tri menolak tawaran Livia dengan halus.
"Gak apa-apa Mba, lagian kan sekalian Livia kedepan." Livia langsung mengambil alih nampan dari tangan Mba Tri.
"Makasih ya Non."
"Iya sama-sama mba, makasih juga udah dibuatin minuman." Lalu Livia langsung berjalan menuju ruang tamu.
Rumah disini memang tak sebesar dan semewah rumah Zelin di Jakarta, ya mungkin karena untuk sementara aja. Saat sampai diruang tamu ia melihat ketiga orang yang datang bersamanya hari ini memejamkan mata. Lalu ia meletakan nampan berisi minuman tersebut diatas meja yang berada didepannya.
"Kok pada tidur semua sih?" Ucap Livia entah pada siapa.
"Abang gak tidur ade, Cuma merem aja." Jawab Vathan masih dengan memejamkan matanya.
"Gue juga gak tidur kok." Zelin langsung bangkit dari posisi tidurnya lalu disamping Vathan, dan menyandarkan kepalanya pada bahu kekasihnya.
"Yaudah pada minum, udah dibuatin teh anget tuh sama Mba Tri." Ujar Livia
Vathan yang mendengar ucapan Livia langsung membuka matanya, lalu menegakan posisi duduknya. Livia melihat Zafran masih memejamkan mata, dengan perlahan menggoyangkan pergelangan tangan lelaki itu. Zafran terbangun dari tidurnya, mengerjapkan matanya berkali-kali memulihkan kesadarannya. Livia langsung mengambilnya satu cangkir teh hangat dan dibertikan pada Zafran.
"Makasih." Ucap Zafran sambil menerima cangkir berisi teh hangat dari tangan Livia
"Iya kak sama-sama."
Vathan mengambil secangkir teh dari atas nampan yang di meja, saat Zelin juga akan mengambil cangkir lainnya. Vathan menarik pergelangan tangan Zelin, lalu mengajaknya duduk kembali di sofa.
"Ini aja sayang bareng aku." Ucap Vathan lembut, lalu menyodorkan cangkir yang ia pegang dengan tangan kirinya. Membantu dengan lembut kekasihnya untuk minum. "Pelan-pelan sayang, masih panas." Tambah Vathan saat cangkir teh sudah semakin dekat dengan bibir Zelin.
"Lagian kan aku bisa ambil sendiri." Ucap Zelin setelah selesai meminum beberapa teguk teh hangat.
"Gak apa-apa sayang, selama aku bisa lakuin apapun buat kamu pasti aku lakukan dengan senang hati. Walaupun hal kecil kayak barusan." Jawab Vathan menanggapi ucapan Zelin lalu mengusap lembut rambut panjang kekasihnya.
"Yaudah Kava juga minum dong tehnya."
"Iya sayang ini mau minum." Lalu Vathan meminum teh dari cangkir sisa Zelin.
***
Mba Tri sudah menyiapkan sarapan untuk mereka, ya walaupun untuk ukuran sarapan jam sembilan sudah terlambat. Namun mereka tetap menikmatinya karena perjalanan yang melelahkan cukup menguras energi. Sambil sarapan mereka membahas akan kemana saja selama di Surabaya, namun hari ini Vathan lebih menyarankan untuk istirahat terlebih dahulu. Selain badannya juga merasa lelah, ia tak mau adik, kekasih, dan laki-laki yang sedang berjuang mendapatkan adiknya itu sakit. Karena selama perjalanan pasti semuanya tidak beristirahat dengan cukup.
"Mba Tri,,," Panggil Zelin
"Iya Non." Mba Tri yang sedang di dapur pun langsung menghampiri meja makan.
"Hari ini kita gak ada acara kemana-mana, sekarang kita mau tidur. Kamar buat kita yang mana Mba?" Tanya Zelin
"Tadi Ibu telpon, katanya kamar tamu buat yang laki-laki. Nah yang perempuan disuruh tidur dikamar Ibu sama Bapak. Soalnya disini Cuma ada satu kamar tamu Non."
Zelin yang mendengar jawaban Mba Tri langsung menoleh kearah tiga orang disisi kiri dan depannya.
"Gak bisa gitu Mba, gak sopan kalo tidur dikamar Ayah Bunda. Saya juga gak akan ijinin adik saya tidur disana, mungkin kalo Zelin gak masalah." Vathan menjelaskan pada Mba Tri
"Aduh Den, saya Cuma menyampaikan pesan Ibu." Jawab Mba Tri dengan perasaan bingung.
"Yaudah Mba Tri gak apa-apa, aku telpon bunda aja deh kalo gitu." Ujar Zelin
Zelin mengambil ponselnya yang tergeletak di meja makan, lalu langsung mencoba menelpon ibundanya. Semoga saja tidak mengganggu pekerjaan sang bunda. Sepertinya Aira memang tidak sibuk, karena panggilan pertama Zelin sudah mendapat jawaban.
"Halo anak cantik bunda, udah sarapan sayang? Tadi kata Mba Tri, kamu sama yang lainnya lagi sarapan." Terdengar suara merdu sang bunda dari seberang telpon.
"Halo bun, iya aku baru selesai sarapan nih. Bun, aku sama yang lain nginep di hotel deket sini aja ya."
"Loh kenapa gitu?"
"Kamar tamunya Cuma ada satu bun, Kak Vathan juga gak ngijinin kalo aku sama Livia tidur dikamar ayah bunda. Lagian kalo kita disana, ayah sama bunda tidur dimana?"
"Yaudah itu kamar tamu kan luas sayang, kamu minta bantuan Mba Tri buat ambil kasur lipat yang ada dikamar bunda. Itu muat kok buat dua orang kasurnya, gak apa-apa kan kalian tidur disana berempat?" Ucap Aira menjelaskan pada sang putri agar tetap dirumah itu.
"Oh gitu yaudah bun iya. Aku matiin telponnya ya bun, sampai ketemu nanti sore. Zelin sayang Bunda, salam buat ayah ya."
"Iya sayang, kamu istirahat ya. Pasti cape kan abis perjalanan jauh. Bye." Sambung telpon pun langsung terputus. Zelin menjelaskan pada semuanya apa yang Aira sampaikan.
Vathan dan Zafran baru saja selesai membantu Mba Tri memasang kasur lipat dikamar tamu. Mba Tri segera kembali ke belakang, sedangkan Vathan dan Zafran menghampiri Zelin dan Livia yang sedang duduk diteras melihat pemandangan yang terhampar luas tepat didepan rumah. Vathan langsung memeluk kekasihnya dari belakang.
"Udah rapi sayang kamarnya, istirahat yuk." Ucap Vathan dan Zelin hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Masih mau duduk disini apa ikut kekamar bareng Kak Vathan sama Zelin?" Tanya Zafran pada Livia yang sudah duduk disamping gadis itu. Sedangkan Vathan dan Zelin sudah berpamitan masuk ke kamar duluan. Vathan benar-benar tidak tidur selama perjalanan, di rest area pun hanya tertidur sebentar karena harus melanjutkan perjalanan.
"Ayok ke kamar aja kak, aku juga ngantuk. Badan aku pada sakit semua pengen tiduran." Ucap Livia dan langsung berdiri diikuti oleh Zafran
Livia dan Zafran masuk ke kamar tamu, pemandangan pertama yang Livia lihat adalah sang kakak yang sudah memejamkan mata dengan posisi tidur miring dan saling memeluk dengan Zelin. Oia saat merapikan kamar tadi, Vathan dan Zafran sepakat untuk menurunkan kasur yang ada di atas ranjang. Jadi kedua kasur dikamar itu setara tingginya. Ranjang pun sudah dibongkar rakitannya dan di simpan di gudang.
"Abang kok sama Zelin sih bukan sama Kak Zafran." Ucap Livia kesal
"Udah Ade sama Zafran aja, abang udah posisi nyaman jangan diganggu." Sahut Vathan tetap dengan memejamkan matanya. Karena Vathan sebenarnya belum tertidur
"Kalo kamu gak mau sama aku, aku dikarpet aja gapapa." Bisik Zafran
"Ya gak gitu dong kak, ya udah ayok kita tidur aja. Kak Zafran pasti ngantuk juga kan." Zafran hanya menganggukan kepala mendengar perkataan Livia. Lalu keduanya merebahkan diri diatas kasur yang sama dibatasi bantal guling diantara mereka. Hanya selang beberapa menit saja keempatnya sudah masuk ke alam tidur dan menyelami mimpinya masing-masing.