BAB TIGA

1011 Words
"Ka... Kamuuuuu,," "Zelina Airani." Ucap Zelin pelan sambil menjabat tangan Vathan. Keduanya pun bersalaman cukup lama dengan tatapan yang sulit di artikan. "Vathan Asvatama." Balas Vathan "Udah kenal kali bang, siapa sih yang gak kenal abang di sekolah kita." Sambar Livia mencoba untuk mencairkan suasana, karena tampak jelas ketegangan diantara kakaknya dan sahabatnya yang selesai berkenalan. Akhirnya mereka bertiga memulai acara makan siang dalam diam, melihat ketegangan antara sahabat dan kakaknya Livia jadi merasa ada yang aneh dan curiga ada sesuatu hal yang terjadi. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa benar sang kakak selama ini menjadi penguntit Zelin. "Kalian janjian ya pake kaos polos warna Navy? Udah kayak orang pacar aja." Livia memulai pembicaraan, karena tidak betah terus menerus saling diam. "Uhuuukkk,,, uhuuukkk." Vathan tersedak makanannya mendengar ucapan Livia. Adiknya itu memang selalu terus terang dalam berbicara. "Minum kak." Zelin memberikan segelas air pada Vathan, yang langsung diterima Vathan dengan cepat. Karena lelaki itu merasakan perih teramat sangan di tenggorokannya. "Makasih." Ucap Vathan saat tenggorokannya sudah lebih baik. "Sama-sama." "Oh jangan-jangan abang tadi ngintip Zelin diruang keluarga ya? Terus pake baju sama celana yang sama biar dikira kebetulan, eh bilang deh Wah kita jodoh kali ya." Ucap Livia dengan nada menggoda sang kakak. "Gak gitu ya de, ini emang kebetulan. Udah selesain makannya cepetan jangan ngomong mulu, katanya mau belajar." "Iya bang iya." Jawab Livia malas "Oh jadi nama panggilan kamu Zelin?" Tanya Vathan mencoba berbicara dengan gadis disebelahnya "Makan bang selesain jangan ngomong mulu entar keselek lagi." Sarkas Livia Mereka bertiga melanjutkan acara makan siang itu dalam diam, selesai makan Livia meminta Zelin untuk menunggu saja diruang tamu karena ia harus membersihkan meja makan terlebih dahulu. Zelin hanya menurut dan langsung menuju ruang keluarga. Sambil menunggu Livia yang masih di dapur, Zelin hanya sibuk memainkan ponselnya. *** Melihat Livia saat ini sedang sendiri, Vathan dengan langkah lebarnya menghampiri sang adik. Ada hal yang ingin lelaki itu tanyakan. Sebelumnya Vathan melihat ke arah ruang keluarga terlebih dulu, untuk memastikan jika sahabat adiknya tak akan mendengar perbincangan dirinya dengan Livia. "De..." Bisik Vathan di samping telinga adiknya "Yaampun abang ngapain sih, pake bisik-bisik segala lagi ngagetin aja." Kesal Livia pada Vathan yang tiba-tiba berbisik tepat di telinganya, membuat gadis itu merasakan bulu kuduknya seketika berdiri. "Kamu kenapa gak bilang kalo temen kamu yang kesini tuh dia?" Tanya Vathan masih dengan berbisik "Bang gak lagi mau nyuri kan? Kenapa harus bisik-bisik sih?" Sarkas Livia pada Vathan yang masih terus berbisik, membuatnya tak nyaman. "Iiihhhh nih anak ditanya malah balik nanya, kalo ditanya tuh dijawab dulu De. Abis itu baru boleh nanya balik ke Abang." Ujar Vathan menasehati Livia dengan lembut, lelaki itu begitu menyayangi adik satu-satunya ini. Walaupun mereka berdua sering terlibat perselisihan, tetapi tak mengurangi keduanya untuk menunjukan rasa saling menyayangi. "Ya emang kenapa juga aku harus bilang sama abang, siapa temen aku yang mau kesini, kan yang penting udah dapet ijin dari Ibu. Lagian kan temen aku juga perempuan, jadi aku gak mungkin macem-macem." "Iya juga ya kenapa harus bilang." Ucap Vathan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aahhhh jangan-jangan bener ya yang dibilang Zelin?" Goda Livia pada kakaknya "Ehhh emang dia bilang apa?" Tanya Vathan bingung dengan ucapan Livia, walaupun ia menyadari kemana arah pembicaraan Adiknya yang sedikit mencurigai dirinya. Tetapi untuk kali ini ia akan sedikit mengelak, Vathan akan menjaga image lebih dulu untuk pertemuan pertamanya dengan Zelin kali ini. "Kepo,, udah ah awas aku mau belajar. Nanti kalo gak ngerti bantuin ya bang." Livia mengakhiri obrolannya dengan Vathan, karena ia harus segera menyelesaikan beberapa tugas pelajarannya. Gadis itu mencoba berlalu meninggalkan tempatnya berdiri tepat di hadapan Vathan. "Kasih tau dulu dia bilang apa." Vathan mencoba menghalangi jalan Livia menuju ruang keluarga "Entar aja ih, kalo berani tanya sendiri sana. Wleeee." Ledek Livia yang mampu membuat Vathan merasa kesal, namun lelaki itu juga tak akan bisa marah pada adiknya. "RESE." Kesal Vathan. Zelin dan Livia melanjutkan kegiatan belajar mereka hari ini, tapi Livia tiba-tiba menyadari raut wajah sahabatnya yang berubah mendung tak seperti sebelum makan siang tadi. Apa karena dia yang becanda kelewatan tadi ya. Dengan ragu Livia memberanikan diri untuk bertanya, walaupun sedikit ragu tetapi Livia tak ingin terjadi kesalahpahaman antara dirinya dengan Zelin. "Zelin lu kenapa? Kok tiba-tiba jadi sendu gitu mukanya, gue salah ya udah becanda kelewatan kayak tadi? Maaf Zelin gue tadi Cuma coba buat cairin suasana, abisnya lu sama Bang Vathan pada tegang banget kayaknya. Gue minta maaf ya Zelin, jangan marah." Cerocos Livia sambil mengguncang pundak sahabatnya karena Zelin yang semakin menundukan kepalanya. "Zelin ngomong dong." Livia masih yang terus berusaha mendapatkan jawaban dari sahabatnya. Namun tanpa diduga Zelin berhambur memeluk Livia dan nangis histeris. Beberapa detik Livia merasa kaget dengan suasana yang terjadi, namun Livia mencoba tenang. "Lu kenapa? Ayo cerita, kalo lu cuma nangis gini gimana gue bisa tau masalahnya apa. Kalo emang gue salah gue minta maaf." Zelin hanya menggelengkan kepala dalam pelukan Livia dengan tangis yang semakin histeris. Di dalam kamar samar-samar terdengar suara perempuan menangis, Vathan mencoba menajamkan pendengarannya. Mencari asal suara tangisan tersebu dari mana, dan mencoba keluar dari kamar mencari tahu siapa yang sedang menangis begitu pilu menyesakan. Setelah keluar dari kamar suara tangis semakin jelas terdengar, dan sumbernya dari ruang keluarga. Akhirnya Vathan pun memutuskan untuk menghampiri adiknya, namun yang ia lihat sang adik sedang memeluk sahabatnya yang menangis pilu dalam pelukannya. "Kenapa?" Tanya Vathan pada adiknya tanpa suara yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh adiknya. Vathan menghampiri kedua gadis yang sedang saling berpelukan itu. "Zelin kenapa?" Tanya Vathan lembut setelah mendudukan dirinya disamping Livia. Dengan cepat Zelin melepas pelukan tangannya dari tubuh kecil sahabatnya. Dengan cepat Zelin mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Kenapa?" Tanya Vathan lagi. Lelaki itu bingung dengan perubahan emosi yang terjadi pada sahabat adiknya, pasalnya beberapa saat lalu semuanya baik-baik saja. Gadis itu pun tak terlihat seperti memiliki masalah, namun saat ini tiba-tiba saja sudah menangis, dan tak ada yang tahu apa penyebabnya. "Hiks...Hiks..." Hanya suara tangis yang terdengar, Vathan dan Livia pun hanya bisa menunggu Zelin puas dengan tangisnya. Dengan lembut Livia terus mengusap lembut punggung sahabatnya memberi ketenangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD