Didalam kelas Zelin dan Livia sedang membahas tugas yang diberikan oleh guru mereka, karena Zelin yang tak paham selalu mendapatkan penjelasan ulang dari Livia. Sampai terdengar bunyi bel menunjukan jam istirhat, kedua gadis itupun merapikan buku-buku mereka dan memasukannya ke laci meja mereka masing-masing. Setelahnya kedua gadis itu keluar dari kelasnya dan berjalan menuju kantin sekolah yang terletak dilantai 3, sedangkan kelas mereka ada dilantai dua.
"Lip..." ucap Zelin berbisik pada Livia
"Liv bukan Lip ya tolong!" balas Livia sarkas
"Ah gue lebih suka sebut Lip daripada Liv."
"Terserah deh Jelina."
"Nama gue Zelina dipanggil Zelin bukan Jelina." Kesal Zelin sambil berjalan terlebih dulu meninggalkan Livia yang hanya menggelengkan kepala melihat tingkah temannya
"Dia boleh ganti nama gue, gue gak boleh. Yaampun temen gue begini banget sih, untung sayang." Bisik Livia pada dirinya sendiri sambil berjalan lebih cepat mengejar langkah Zelin menuju kantin.
Setelah membeli beberapa cemilan dan minuman ringan Zelin dan Livia mencari tempat duduk, dan akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di bangku yang ada disudut ruangan. Dengan duduk berhadapan mereka menikmati cemilan masing-masing.
"Zel, tadi kan pas lagi jalan kesini lu bisik-bisik manggil gue, sebenernya lu mau nanya apa?" Livia membuka pembicaraan karena teringat sahabatnya tadi seperti ada yang ingin dibicarakan namun mereka malah berdebat perihat nama.
"Oh ya Lip gue jadi inget, beberapa hari ini kok tiap kita ke kantin gue kayak ngerasa ada yang ngikutin ya". Ucap Zelin sambil memasukan sepotong snack kedalam mulutnya.
"Diikutin gimana sih, lu tau orangnya?" tanya Livia dengan wajah penasaran
"Ketua Osis sekolah ini Lip, Kak Varo." Bisik Zelin pelan takut ada yang mendengar, karena dia gak mau dianggap terlalu percaya diri. Tapi yang ia rasakan begitu adanya, selama empat hari ini Vathan selalu ada didekat Zelin. Begitupun hari ini, saat tadi dijalan menuju kantin lagi-lagi Vathan mengikuti Zelin namun belum sampai kantin tiba-tiba terdengar nama Vathan dipanggil ke ruang osis.
"Hahahahaha...." Livia tertawa sampai kedua sudut matanya mengeluarkan cairan bening karena terlalu geli mendengar pernyataan sahabat yang ada didepannya.
"Kok lu malah ngetawain gue kayak gitu sih, kan gue lagi cerita serius." Menanggapi dengan kesal karena sahabatnya masih terus saja tertawa.
"Bang Vathan jadi penguntit maksudnya?" Tanya Livia sambil meredakan tawanya
"Bang Vathan?" Beo Zelin dengan tatapan bingung ke arah Livia.
"Iya Zel, Bang Vathan ketua osis kita yang terkenal pendiam dan dingin. Itu Abang gue, kakak kandung gue."
"Haaahhhhhhh." Zelin membelalakan matanya karena terkejut.
"Biasa aja woy!" sarkas Livia melihat keterkejutan sahabat didepannya itu
"Kok lu gak pernah cerita sih Lip kalo Kak Vathan ketua osis itu kakak lu? Selama ini lu Cuma cerita punya kakak laki-laki, dan setiap cerita gak pernah sebut namanya." Sungut Zelin kesal dengan tatapan tajam kearah Livia.
"Cie... Cie... Mau kepo soal Bang Vathan ya?" Goda Livia
"Yeee bukannya gitu Lip, berarti kan gue keGRan selama ini, kirain dia ikutin gue. Ternyata lagi ngikutin adenya." Ucap Zelin dengan suara sangat pelan nyaris tak terdengar karena malu
"Gak mungkin dia ngikutin gue, buat apa juga kan. Lagian gue udah gede, tapi kalo emang lu ngerasa selama ini dia ngikutin lu nanti pas dirumah gue kita tanya aja langsung sama orangnya."
"Ih jangan gue malu, kalo beneran gue keGRan mau di taro dimana coba nih muka gue?"
"Pindahin ke belakang mukanya biar ketutup rambut. Hahahaha."
"Pokoknya jangan ditanyain Lip gue malu." Ucap Zelin dengan nada memohon.
"Ya udah iya enggak. Kita balik ke kelas aja yuk, sebentar lagi jam istirahat abis. Ngobrolnya nanti lagi aja pas dirumah gue, apalagi kalo mau bahas Bang Vathan sekalian ada orangnya." Lagi-lagi Livia menggoda Zelin yang hanya dibalas Zelin dengan tatapan tajam permusuhan. Walaupun begitu mereka tetap jalan bersama menuju kelas.
***
Zelin sudah dirumah Livia siang ini, mereka berdua sedang duduk diatas karpet bulu di ruang keluarga rumah itu. Zelin yang siang ini nampak cantik menggunakan celana jeans selutut dengan kaos oversize warna navy, dengan rambut dicepol asal buat penampilannya terlihat santai namun manis. Mereka duduk bersampingan dengan segudang buku dihadapan mereka diatas meja lipat kecil milik Livia. Dengan penuh kesabaran Livia mengajarkan materi yang tidak di pahami sahabat disampingnya ini. Sampai terdengar suara motor baru saja masuk ke halaman rumah dan keduanya langsung saling berpandangan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gak usah gugup gitu kali Zel mau ketemu Bang Vathan." Goda Livia melihat kegelisahan gadis di sampingnya saat ini.
"Ih enggak ya biasa aja." Jawab Zelin ketus sambil kembali mengarahkan pandangannya ke buku-buku yang ada di hadapan mereka.
"Udah ajarin lagi gue yang ini, atau gue pulang!" Sarkas Zelin dengan nada penuh ancaman
Belum sempat Livia menjawab ucapan sahabatnya terdengar pintu rumah dibuka, Livia pun bangun dari tempat duduknya untuk melihat benar atau tidak kalau abangnya yang pulang. Ia pun menghampiri Vathan yang sedang membuka sepatu sambil duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
"Temen mu gak jadi belajar bareng disini de?" Tanya Vathan yang masih sibuk membuka tali sepatunya.
"Jadi kok bang, itu orangnya ada diruang keluarga. Gak apa-apa kan disana belajarnya?"
"Ya gak apa-apa lah de, tapi kok sepi?"
"Cuma satu orang bang, lagian kan mau belajar bareng bukan mau demo!" sahut Livia sarkas.
"Oh ya udah kamu lanjut belajar sana, abang mau ke kamar ganti baju terus makan siang. Kamu udah makan kan?" Ucap Vathan sambil berjalan menuju kamarnya yang berada di dekat ruang keluarga.
"Aku belom makan siang bang, aku sengaja nunggu abang pulang. Aku pengen ngajak temen ku makan bareng tapi malu bang." Bisik Livia di telinga sang kakak
"Kenapa malu?" Tanya Vathan bingung.
"Temenku anak orang kaya, dia doyan gak ya masakan ibu?" Lirih Livia yang merasa bingung karena dirumahnya selalu tersedia makanan sederhana ala rumahan saja.
"Kamu tenang aja, abang yakin temen kamu pasti suka. Masakan ibu kan yang terbaik, masa iya temen kamu mau nolak makanan yang dimasak ibu. Enaknya kan melebihi masakan di restoran bintang lima." Ucap Vathan percaya diri sekaligus menunjukan pada adiknya untuk tidak perlu memaksakan keadaan didepan siapapun termasuk teman atau sahabat kita sendiri. Jika benar sahabat yang baik pasti mau menerima bagaimana pun kondisi sahabatnya.
"Ya udah abang ganti baju deh sana, aku sama temen aku tunggu abang di meja makan ya."
Livia pun berjalan menuju ruang keluarga untuk mengajak Zelin makan siang bersama, walaupun dengan sedikit paksaan karena Zelin yang terus menolak. Bukan menolak karena hanya tersedia makanan sederhana tapi karena ia malu terlalu percaya diri berpikir Vathan menjadi penguntit dirinya. Tapi Livia dengan penuh perjuangan berhasil memaksa Zelin, tentunya dengan ancaman akan menceritakan pada Vathan jika Zelin merasa sering diikuti akhir-akhir ini. Ancaman itu pun berhasil membawa Zelin untuk makan siang bersama. Sebenarnya Zelin juga sangat merindukan hangatnya makan siang bersama. Karena ia saja lupa kapan terakhir kali makan siang bersama kedua orangtuanya.
Vathan keluar dari kamar dengan setelan sangat santai hari ini, celana jeans selutut dan kaos polos berkerah warna navy. Entah pertanda apa Vathan dan Zelin memakai kaos warna senada tanpa janjian. Vathan berjalan menuju meja makan, terlihat seorang gadis duduk dengan posisi membelakanginya.
"Abang mah gak usah ditungguin de, bukannya makan aja duluan." Ucap Vathan sambil menarik kursi yang ada dihadapannya lalu duduk tepat disamping sahabat adiknya.
"Kenalan dulu kali bang sama temen aku." Jawab Livia dengan nada menggoda dan mata menatap geli pada sahabatnya yang semakin menundukan kepalanya.
"Oh ada sesi kenalan dulu nih?" Tanya Vathan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Livia
"Vathan." Ucap Vathan seraya menoleh ke sampingnya sambil mengulurkan tangan. Saat sang gadis menoleh Vathan pun terkejut dan membelalakan matanya, tidak menyangka bahwa sahabat sang adik yang hari ini datang kerumahnya untuk belajar bersama adalah gadis pujaannya. Gadis yang sudah membuat jantungnya berdegub tak karuan, gadis yang selama ini ia ikuti diam-diam hanya untuk melihat senyum manisnya.
"Ka... Kamuuuuu,," Cicit Vathan gugup menatap Zee masih dengan perasaan terkejut.